Tatapan Aruna dan Aray bertemu.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun.
Dalam satu detik yang terasa terlalu panjang, seluruh dunia di sekitar Aruna seperti kehilangan suara. Lobi megah Aksara Nexus Teknologi menghilang. Barisan karyawan, cahaya lampu, pantulan lantai marmer, suara langkah rombongan eksekutif, semuanya runtuh menjadi kabut yang tidak berarti.
Yang tersisa hanya sepasang mata itu.
Mata yang dulu pernah menatapnya dengan hangat.
Aray Mahendra.
Namanya menggema di kepala Aruna seperti hantaman pintu yang tertutup keras. Ia masih berdiri beberapa langkah di depannya, mengenakan setelan gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Wajahnya lebih dewasa daripada yang Aruna ingat. Garis rahangnya lebih tegas, sorot matanya lebih tajam, auranya lebih dingin. Tidak ada lagi jejak mahasiswa sederhana dengan jaket pudar dan motor tua yang sering mogok.
Pria di hadapannya bukan Aray yang dulu.
Pria ini adalah CEO.
Atasannya.
Luka lama yang naik pangkat menjadi kuasa. Napas Aruna tercekat.
Map kecil yang baru ia pungut hampir terlepas lagi dari tangannya. Ia mencengkeramnya kuat-kuat, seolah hanya benda itu yang bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Aray tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Aruna. Datar. Sunyi.
Terlalu lama untuk disebut kebetulan, tetapi terlalu singkat untuk dibaca oleh orang lain sebagai sesuatu yang mencurigakan.
Di samping Aruna, Nena tampak menahan napas. Fitri berdiri diam dengan mata yang bergerak cepat dari Aruna ke Aray, lalu kembali lagi. Dona, beberapa langkah di ujung barisan, menajamkan pandangan. Wanita itu seperti mencium sesuatu yang tidak biasa, meski belum tahu bentuknya.
Aruna menunduk cepat.
Terlambat. Aray sudah melihatnya. Tentu saja Aray sudah melihatnya. Mungkin sejak tadi. Mungkin sejak di pantri bersama Damian. Mungkin sejak ia menginjakkan kaki di perusahaan ini. Pikiran itu membuat perut Aruna terasa dingin.
Apakah ini kebetulan?
Atau sejak awal ia memang sudah masuk ke tempat yang disiapkan untuk menghukumnya?
“Pak?” suara sekretaris eksekutif terdengar hati-hati.
Aray belum menjawab. Ia masih berdiri di depan barisan divisi administrasi proyek, tepat di depan Aruna yang kini menunduk terlalu dalam. Keheningan kecil itu mulai terasa aneh. Beberapa staf saling melirik, bingung mengapa CEO mereka berhenti lebih lama daripada sebelumnya.
Manajer divisi tampak gugup. “Ada yang perlu kami siapkan, Pak?”
Aruna menggigit bibir bagian dalam.
Katakan sesuatu.
Pergi.
Jangan berdiri di sini.
Jangan lihat aku.
Jangan sebut namaku.
Jangan hancurkan aku di depan semua orang.
Doa-doa itu berdesakan di d**a Aruna, tetapi tidak satu pun keluar dari mulutnya.
Aray akhirnya mengalihkan pandangan dari Aruna. Gerakan kecil itu seperti udara yang tiba-tiba dikembalikan ke paru-paru Aruna, meski napasnya masih patah-patah.
“Tidak,” jawab Aray.
Suaranya rendah. Tenang. Dingin.
“Lanjutkan prosedur penyambutan!”
Sekretarisnya langsung mengangguk. “Baik, Pak.”
Rombongan eksekutif bergerak lagi. Namun langkah Aray tidak benar-benar menjauh. Ia justru berhenti di titik tengah lobi, tempat seluruh karyawan bisa melihatnya dengan jelas. Para direktur dan manajer berdiri di belakangnya. Cahaya dari dinding kaca jatuh di sisi wajahnya, membuat ekspresinya terlihat semakin tegas.
Aruna masih menunduk. Ia tidak berani melihat. Namun ia bisa merasakan kehadiran Aray memenuhi seluruh ruangan.
“Selamat pagi,” ucap Aray akhirnya.
Serentak karyawan menjawab, “Selamat pagi, Pak.”
Aruna ikut menggerakkan bibir, tetapi suaranya nyaris tidak keluar.
Aray berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuhnya. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi hangat. Tidak ada ekspresi ramah seorang pemimpin yang baru kembali dari perjalanan dinas.
“Saya tidak akan berbicara panjang,” katanya. “Saya tahu setiap divisi punya pekerjaan yang lebih penting daripada berdiri terlalu lama di lobi.”
Beberapa karyawan tersenyum canggung, tetapi tidak ada yang berani tertawa.
“Selama satu bulan saya berada di luar negeri, beberapa proyek strategis tetap berjalan. Saya sudah menerima laporan awal. Ada perkembangan baik. Ada juga kesalahan yang tidak seharusnya terjadi.”
Suasana lobi semakin tegang. Aruna mendengar seseorang di belakangnya menelan ludah.
“Bagi saya,” lanjut Aray, “kesalahan dalam proses bukan masalah selama ada tanggung jawab untuk memperbaiki. Yang tidak saya toleransi adalah kelalaian yang disamarkan sebagai alasan.”
Kalimat itu menusuk ke banyak arah. Tetapi bagi Aruna, entah kenapa, rasanya seperti ditujukan tepat ke dadanya.
Kelalaian. Alasan.
Lima tahun lalu, Aray juga tidak memberinya ruang untuk menjelaskan. Ia sudah lebih dulu percaya pada tuduhan, pada rumor, pada Damian, pada luka yang dibisikkan orang lain ke telinganya.
Aruna menekan kukunya ke telapak tangan.
Jangan ingat!
Tidak di sini.
Tidak sekarang.
“Mulai minggu ini, saya akan meninjau ulang beberapa alur kerja lintas divisi,” kata Aray. “Saya harap setiap tim memastikan dokumen, data, dan laporan berada dalam kondisi siap diperiksa kapan pun.”
Dona berdiri lebih tegak. Dari sudut mata, Aruna bisa melihat wanita itu memasang wajah serius yang dibuat-buat. Seolah ucapan CEO adalah panggilan perang yang ingin ia menangkan.
“Untuk karyawan baru,” Aray melanjutkan.
Jantung Aruna berhenti sesaat. Ia tidak mengangkat wajah. Tidak boleh.
“Kalian masuk ke perusahaan ini bukan untuk diperlakukan istimewa,” kata Aray datar. “Tetapi bukan juga untuk dijatuhkan sebelum diberi kesempatan belajar. Pahami sistem. Jaga integritas. Dan jangan membuat perusahaan menyesal telah memilih kalian.”
Aruna membeku. Kalimat itu formal. Bisa ditujukan kepada siapa saja.
Namun bagian “bukan juga untuk dijatuhkan” membuat Fitri menoleh sangat singkat ke arah Dona. Nena melirik Aruna dengan ekspresi seolah ingin berkata, itu untukmu atau untuk semua orang?
Aruna sendiri tidak tahu. Ia tidak mau tahu. Ia hanya ingin acara ini selesai.
Aray menyapu pandangan ke seluruh karyawan. Kali ini, Aruna merasakan matanya lewat di atas barisan mereka, tetapi ia tetap menunduk. Ia menatap ujung sepatunya sendiri, memaksa diri menghitung napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jangan jatuh. Jangan menangis. Jangan terlihat hancur.
“Selamat bekerja,” ujar Aray. “Pastikan hari ini berjalan lebih baik daripada laporan yang saya terima semalam.”
Tidak ada yang tahu apakah itu candaan. Karena Aray tidak tersenyum. Namun beberapa staf tetap tertawa kecil dengan gugup.
Sekretaris eksekutif segera maju. “Terima kasih, Pak Aray. Selanjutnya Bapak akan menuju ruang meeting utama untuk briefing manajemen.
Pak Aray.
Nama itu akhirnya terdengar jelas di lobi. Bukan Pak Mahendra lagi. Bukan A. Mahendra. Bukan simbol. Bukan kemungkinan. Tenggorokan Aruna terasa kering.
Nena menoleh sangat pelan ke arahnya. Kali ini wajah Nena tidak lagi bercanda. Ia mulai mengerti bahwa nama itu bukan sekadar nama yang membuat Aruna gugup. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih menyakitkan, tersembunyi di balik reaksi Aruna.
Fitri tidak bicara, tetapi posisinya bergeser sedikit lebih dekat, seolah siap menahan Aruna jika tubuh perempuan itu benar-benar menyerah.
Aruna ingin bergerak bersama karyawan lain. Ia ingin mengikuti arus kembali ke lift, masuk ke divisi, duduk di kursinya, dan berpura-pura tidak baru saja melihat pria itu. Namun kakinya terasa terpaku.
Rombongan eksekutif mulai berjalan menuju ruang meeting utama. Para karyawan membuka jalan. Aray melangkah dengan tenang, melewati barisan tanpa menoleh ke kanan atau kiri.
Seolah Aruna tidak ada. Seolah pertemuan lima tahun lalu tidak pernah terjadi. Seolah perempuan yang dulu ia cintai, tuduh, dan tinggalkan dengan sumpah dendam tidak sedang berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah pucat.
Rasa sakit yang aneh menyelinap ke d**a Aruna. Ia seharusnya lega.
Aray tidak membongkar masa lalu mereka.
Aray tidak menyebut namanya.
Aray tidak mempermalukannya.
Aray bahkan tidak menunjukkan bahwa mereka saling mengenal.
Namun justru sikap itu membuat luka lama bergerak lagi. Karena diabaikan oleh seseorang yang dulu pernah menjadikanmu dunianya ternyata tidak kalah menyakitkan daripada dimaki.
“Run,” bisik Nena pelan. “Kamu kenal dia?”
Aruna tidak menjawab. Kalau ia membuka mulut, ia takut yang keluar bukan jawaban, melainkan isak.
Dona lewat tidak jauh dari mereka bersama dua staf lain. Tatapannya tajam dan penuh rasa ingin tahu.
“Aneh,” gumam Dona, cukup pelan tetapi sengaja. “Pak Aray berhenti lama sekali tadi.”
Nena langsung menatapnya. “Mungkin beliau sedang memastikan kamu tidak bikin drama di lobi.”
Dona tersenyum tipis. “Atau mungkin ada seseorang yang menarik perhatian beliau.”
Aruna tetap diam.
Fitri akhirnya berkata, “Kita kembali ke divisi.”
Nada Fitri tenang, tetapi tegas. Ia seperti menutup kesempatan Dona untuk menggali lebih jauh.
Nena mengangguk. “Ayo, Run.”
Aruna memaksa kakinya bergerak.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Ia mengikuti Nena dan Fitri menuju sisi lobi, tempat para karyawan mulai bergerak ke arah lift. Aruna menjaga pandangannya tetap lurus ke depan. Ia tidak ingin melihat ke arah Aray lagi. Tidak ingin memastikan apakah pria itu benar-benar sudah pergi.
Namun saat ia melewati dekat koridor menuju ruang meeting utama, langkahnya mendadak melambat. Bukan karena ia mau. Melainkan karena rombongan eksekutif tertahan sesaat di depan pintu meeting. Seorang staf manajemen tampak menyerahkan tablet kepada sekretaris, membuat barisan kecil itu berhenti.
Aruna berada terlalu dekat. Terlalu dekat untuk bersembunyi. Ia menunduk, berharap bisa lewat begitu saja di belakang Nena.
Namun aroma parfum maskulin itu kembali menyentuh hidungnya.
Samar...Mahal... Tetapi di balik wangi yang lebih matang dan asing, ada sesuatu yang membuat ingatannya terseret ke masa lalu. Aroma hujan di jaket Aray. Kopi pahit di kantin kampus. Kertas catatan yang penuh coretan simbol kecil berbentuk A.
Aruna menahan napas. Ia hampir berhasil melewati rombongan itu ketika suara rendah terdengar tepat di sampingnya.
“Berhenti!”
Satu kata.
Tidak keras.
Tetapi cukup membuat kaki Aruna membeku.
Nena dan Fitri ikut berhenti. Beberapa karyawan di sekitar mereka menoleh. Sekretaris eksekutif tampak bingung, tetapi tidak berani bertanya.
Aruna menatap lantai.
Tidak.
Jangan!
Aray berdiri di sampingnya, hanya berjarak satu lengan. Dari sudut pandangannya, Aruna bisa melihat ujung jas gelap pria itu. Tangannya berada di sisi tubuh, tenang, seolah ia tidak baru saja menghentikan dunia kecil Aruna dengan satu kata.
“Divisi administrasi proyek?” tanya Aray.
Fitri menjawab lebih cepat sebelum Aruna bisa bernapas. “Betul, Pak.”
“Staf baru?”
Aruna merasakan semua mata tertuju padanya.
Nena menegang. Dona, yang sudah beberapa langkah di depan, langsung berhenti dan menoleh. Senyumnya perlahan muncul, seolah ia baru saja menemukan adegan yang sangat menarik.
Aruna tahu ia harus menjawab. Ia harus profesional. Ia harus menjadi karyawan baru biasa di depan CEO perusahaan.
Perlahan, ia mengangkat wajah sedikit. Tidak sampai menatap mata Aray. Hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.
“Iya, Pak,” ucapnya.
Dua kata itu nyaris menghancurkan tenggorokannya.
Pak.
Ia memanggil Aray dengan sebutan itu.
Pria yang dulu pernah memintanya memanggil nama tanpa jarak.
Pria yang dulu pernah berkata, jangan panggil aku terlalu formal, nanti aku merasa jauh.
Kini jarak itu tidak hanya ada.
Jarak itu berdiri sebagai jabatan.
Sebagai kuasa. Sebagai luka yang tidak tahu cara pulang.
Aray diam sesaat. Lalu berkata dengan suara datar, “Pelajari sistem dengan benar. Jangan membuat kesalahan yang sama dua kali!”
Kalimat itu terdengar seperti instruksi biasa. Semua orang mungkin memahaminya begitu. Namun Aruna menangkap sesuatu di bawahnya.
Kesalahan yang sama.
Apakah itu tentang pekerjaan?
Atau tentang masa lalu?
Aruna tidak berani menebak.
“Baik, Pak,” jawabnya pelan.
Aray menatapnya satu detik lebih lama.
Lalu ia mengalihkan pandangan pada Fitri. “Pastikan staf baru mendapat arahan sesuai prosedur.”
Fitri mengangguk. “Baik, Pak.”
Dona yang mendengar itu tampak sedikit mengeras, tetapi cepat-cepat menutupinya dengan senyum.
Aray kembali berjalan menuju ruang meeting. Rombongan eksekutif mengikutinya. Ketegangan di sekitar Aruna perlahan mencair, tetapi tubuhnya masih membeku.
Nena menarik napas pelan. “Oke. Itu tadi… intens.”
Fitri menatap Aruna. “Kamu masih sanggup berdiri?”
Aruna mengangguk, meski ia tidak yakin.
“Ayo,” kata Fitri pelan. “Kita naik.”
Aruna melangkah lagi. Ia pikir semua sudah selesai. Ia pikir Aray akan masuk ke ruang meeting dan membiarkannya pergi dengan sisa napas yang masih ia punya.
Namun ketika ia melewati pintu meeting, Aray yang berdiri di ambang pintu tiba-tiba sedikit menoleh.
Tidak cukup untuk menarik perhatian banyak orang.
Tidak cukup untuk terlihat seperti percakapan.
Hanya cukup untuk membuat Aruna mendengar suara rendah yang nyaris menyatu dengan udara.
“Lama tidak bertemu, Aruna.”
Langkah Aruna terhenti. Darahnya seolah membeku.
Ia tidak menoleh. Ia tidak sanggup.
Di belakangnya, pintu ruang meeting tertutup perlahan. Dan bersama bunyi pintu itu, Aruna akhirnya mengerti satu hal yang paling ia takutkan sejak pagi.
Aray mengenalinya.
Aray mengingatnya.
Dan ia memilih menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkannya.