Lift turun terlalu lambat.
Setidaknya, begitulah yang Aruna rasakan.
Di dalam lift yang penuh oleh karyawan Aksara Nexus Teknologi, udara terasa lebih sempit daripada biasanya. Semua orang berdiri rapi dengan kartu identitas menggantung di leher masing-masing. Ada yang sibuk merapikan kerah kemeja, ada yang mengecek rambut lewat pantulan dinding lift, ada pula yang menatap layar ponsel meski jelas tidak benar-benar membaca apa pun.
Aruna berdiri di antara Nena dan Fitri. Tangannya menggenggam tali tas terlalu erat. Jari-jarinya dingin. Di kepalanya, simbol kecil yang tadi ia lihat di dokumen internal masih berputar seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Garis melengkung menyerupai huruf A yang terpotong. Satu titik kecil di bawahnya. Simbol yang pernah digambar Aray Mahendra di sudut buku catatan lusuhnya. Simbol yang kini muncul di dokumen CEO Aksara Nexus Teknologi.
Tidak. Aruna menarik napas pelan.
Ia tidak boleh menyimpulkan apa pun sebelum melihat sendiri. Mungkin simbol itu hanya mirip. Mungkin ia terlalu tegang. Mungkin otaknya sengaja mengaitkan hal-hal kecil dengan masa lalu karena Damian sudah lebih dulu muncul hari ini. Mungkin semua ini hanya kebetulan yang terlalu kejam bentuknya.
“Run,” bisik Nena di sampingnya.
Aruna menoleh pelan. “Hm?”
“Kamu pucat banget.”
“Aku baik-baik saja.”
“Itu jawabanmu sejak tadi, dan sejak tadi juga mukamu tidak mendukung pernyataan itu.”
Aruna berusaha tersenyum, tetapi bibirnya terasa kaku. “Aku cuma gugup. Hari pertama, langsung penyambutan CEO. Wajar, kan?”
Nena memandangnya dengan ragu. “Wajar. Tapi gugupmu lebih mirip orang mau ketemu masa lalu yang belum bayar utang.”
Fitri yang berdiri di sisi lain Aruna menoleh singkat. “Nena.”
“Oke, aku diam.”
Namun Nena tidak benar-benar diam. Ia mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik lagi, “Kalau nanti kamu merasa mau jatuh, pegang lenganku. Aku mungkin tidak kuat menahanmu, tapi setidaknya kita jatuh bersama secara dramatis.”
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang divisi, Aruna hampir tertawa.
“Hentikan,” bisiknya.
“Bagus. Masih bisa senyum. Berarti belum darurat.”
Lift berdenting. Pintu terbuka di lantai dasar.
Seketika suara dari lobi utama menyambut mereka. Lebih ramai dari yang Aruna bayangkan. Langkah kaki, bisikan karyawan, instruksi staf manajemen, dan suara sepatu yang bergerak cepat di lantai marmer bercampur menjadi satu.
Aruna keluar bersama rombongan divisinya.
Lobi Aksara Nexus Teknologi yang tadi pagi terasa megah kini berubah menjadi tempat penyambutan resmi. Beberapa staf keamanan berjaga di dekat pintu utama. Tim sekretariat berdiri dengan tablet di tangan, mengarahkan setiap divisi untuk menempati barisan masing-masing. Di dekat dinding marmer, logo perusahaan tampak berkilau di bawah cahaya lampu.
AKSARA NEXUS TEKNOLOGI
Di bawah logo itu, sebuah standing banner besar dipasang.
Welcome Back, Mr. A. Mahendra
Di sudut banner, simbol itu kembali terlihat.
Kecil.
Elegan.
Namun cukup untuk membuat d**a Aruna seperti dihantam sesuatu dari dalam.
Ia berhenti setengah langkah.
Nena yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. “Run?”
Aruna cepat-cepat menunduk. “Tidak apa-apa.”
Fitri mengikuti arah pandang Aruna ke banner, lalu kembali menatapnya. Tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan tenang yang seolah berkata bahwa ia melihat semuanya.
“Divisi administrasi proyek di sisi kiri!” seru salah satu staf sekretariat.
Nena menyentuh siku Aruna. “Ayo. Kita di sana.”
Aruna mengangguk. Mereka berjalan menuju barisan divisi. Karyawan mulai berjejer rapi. Beberapa orang berdiri tegak dengan wajah tegang. Beberapa lainnya tampak bersemangat, terutama staf perempuan yang berkali-kali saling berbisik tentang CEO muda yang katanya tampan.
“Katanya beliau jarang banget turun langsung begini.”
“Aku cuma pernah lihat dari jauh waktu town hall tahun lalu.”
“Serius setampan itu?”
“Lebih dingin daripada tampan, menurutku.”
“Justru itu yang bikin menarik.”
Aruna menunduk semakin dalam.
Setiap kalimat tentang CEO seperti ditujukan langsung ke dadanya.
Di ujung barisan, Dona berdiri dengan postur sempurna. Blouse merah marunnya sudah dirapikan, rambutnya tertata kembali, dan lipstiknya tampak baru dipulas. Saat melihat Aruna masuk barisan, ia tersenyum tipis.
“Jangan tegang begitu, Aruna,” ucap Dona pelan, tetapi cukup jelas didengar orang terdekat. “Kamu kan cuma karyawan baru. Kemungkinan besar Pak Mahendra bahkan tidak akan sadar kamu ada.”
Aruna tidak menoleh. Ia berharap itu benar. Sungguh, ia berharap dirinya tidak terlihat. Tidak dikenali. Tidak dianggap ada.
Nena menyahut dengan nada manis, “Kadang tidak dilihat CEO itu berkah, Dona. Tidak semua orang butuh validasi dari lantai eksekutif.”
Dona melirik Nena, tetapi tidak membalas. Mungkin karena suasana terlalu resmi, atau karena ia tidak ingin terlihat buruk saat CEO datang.
Aruna berdiri di barisan belakang, setengah terlindung oleh beberapa karyawan lain. Posisi itu sedikit membuatnya lega. Jika CEO hanya berjalan melewati barisan depan, ia mungkin tidak perlu melihat wajahnya dengan jelas.
Ia hanya perlu menunduk. Ia hanya perlu melewati beberapa menit. Setelah itu, semuanya akan selesai.
Namun tubuhnya tidak percaya pada pikirannya sendiri.
Jantungnya terus berdetak keras. Telapak tangannya berkeringat dingin. Napasnya pendek-pendek, seolah udara di lobi sudah habis dibagi untuk terlalu banyak orang.
Aruna menatap lantai marmer di bawah sepatunya. Lantai itu begitu mengilap sampai ia bisa melihat bayangan samar wajahnya sendiri. Pucat. Tegang. Seperti seseorang yang sedang menunggu vonis.
Bukan dia.
Tidak mungkin dia.
Aray tidak mungkin berdiri di sini sebagai CEO.
Namun semakin sering ia mengulang kalimat itu, semakin lemah keyakinannya terdengar.
Di sisi kanan lobi, beberapa orang dari manajemen mulai berdiri lebih tegak. Seorang sekretaris eksekutif berbicara cepat melalui earpiece. Staf keamanan di dekat pintu utama bergerak, membuka akses masuk dari area parkir basement.
Bisikan di lobi langsung menurun.
Suasana berubah. Bukan karena pengumuman. Bukan karena perintah. Melainkan karena semua orang tiba-tiba merasakan sesuatu yang sama: rombongan eksekutif sudah mendekat.
Aruna tetap menunduk. Dari sudut matanya, ia melihat sepatu-sepatu formal memasuki lobi. Beberapa pasang langkah bergerak teratur. Ada suara rendah seorang pria memberi laporan. Ada suara sekretaris menjawab singkat. Ada aroma parfum maskulin yang samar namun tajam, bercampur dengan udara dingin lobi.
Lalu langkah itu terdengar. Satu langkah yang lebih pelan daripada yang lain, tetapi justru membuat semua orang seperti menahan napas.
Tok.
Tok.
Tok.
Sepatu kulit mahal menyentuh lantai marmer dengan irama yang tenang dan mutlak. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Tidak perlu membuktikan kuasa karena seluruh ruangan sudah lebih dulu memberikannya.
Aruna merasakan tengkuknya meremang. Ia belum melihat wajah pria itu. Belum mendengar suaranya. Namun aura rombongan itu sudah cukup membuat dadanya sesak.
“Selamat datang kembali, Pak,” terdengar suara salah satu direktur.
Tidak ada jawaban panjang. Hanya gumaman rendah yang terlalu samar untuk dikenali.
Aruna menggigit bagian dalam bibirnya.
Jangan dengarkan.
Jangan angkat wajah.
Jangan cari tahu.
Namun tubuh manusia memang kadang paling sulit diajak patuh saat ketakutan berada di puncaknya.
Rombongan itu mulai bergerak melewati barisan karyawan.
Dari posisi menunduk, Aruna melihat beberapa pasang sepatu berjalan perlahan. Sepatu sekretaris. Sepatu staf keamanan. Sepatu para direktur.
Lalu sepasang sepatu hitam berhenti beberapa meter dari barisannya.
Hening...
Seorang manajer divisi memberi salam dengan suara agak gugup. CEO tampaknya mendengarkan laporan singkat. Suaranya masih rendah, sesekali hanya menjawab dengan kalimat pendek.
“Lanjutkan!”
Satu kata. Namun satu kata itu cukup membuat napas Aruna terhenti.
Suara itu…
Tidak. Aruna menutup matanya sebentar. Tidak mungkin. Lima tahun bisa mengubah banyak hal. Suara orang bisa terdengar mirip. Ia sedang panik. Ia sedang menghubungkan semuanya karena takut.
Tetapi suara itu menyentuh bagian ingatannya yang paling dalam.
Suara yang dulu pernah memanggil namanya di depan perpustakaan.
Suara yang pernah tertawa saat motor tua mogok di tengah hujan.
Suara yang pernah berbisik dingin di hari terakhir mereka bertemu.
Rombongan kembali bergerak.
Tok.
Tok.
Tok.
Langkah itu semakin dekat.
Aruna menunduk lebih dalam. Rambutnya yang jatuh ke sisi wajah menjadi tirai tipis yang ia harap bisa menyembunyikannya. Ia menggenggam ujung blazer, memaksa tubuhnya tetap diam.
Di sampingnya, Nena tampak menyadari ketegangan itu. Tangan Nena bergerak pelan, menyentuh pergelangan Aruna sebentar. Hanya sentuhan kecil. Namun cukup untuk mengingatkan bahwa Aruna tidak sepenuhnya sendirian.
Fitri berdiri tenang di sisi lain, tetapi matanya mengarah pada Aruna, bukan pada CEO.
Dona, sebaliknya, menatap rombongan eksekutif dengan mata berbinar. Seolah kehadiran CEO adalah panggung baru yang ingin ia masuki.
“Pak Mahendra,” suara sekretaris terdengar lagi. “Setelah ini, jadwal Bapak adalah briefing singkat di ruang utama.”
Langkah itu berhenti. Tepat di depan barisan divisi administrasi proyek.
Aruna berhenti bernapas. Ia bisa melihat ujung sepatu hitam itu dari bawah pandangannya. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk membuat seluruh tubuhnya menegang.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bicara. Lalu suara rendah itu terdengar lagi.
“Divisi administrasi proyek?”
Manajer mereka menjawab cepat, “Betul, Pak.”
“Staf baru sudah masuk?”
Aruna merasa darahnya membeku.
Kenapa pertanyaan itu?
Kenapa hari ini?
Kenapa di depan barisan ini?
Manajer menjawab, “Sudah, Pak. Mulai hari ini.”
“Bagus.”
Hanya itu. Namun Aruna merasa satu kata itu jatuh tepat ke kepalanya.
Rombongan kembali bergerak. Sepatu hitam itu melangkah melewati barisannya dengan tenang. Tidak berhenti lagi. Tidak menoleh. Tidak melakukan apa pun yang mencurigakan.
Aruna hampir mengira ia selamat. Hampir.
Sampai seseorang di belakangnya tidak sengaja menyenggol bahunya saat mencoba merapikan barisan. Tubuh Aruna bergeser sedikit. Map kecil yang ia bawa jatuh dari tangannya.
Plak...
Suara map menyentuh lantai marmer terdengar terlalu jelas di tengah suasana hening.
Aruna membeku.
Nena hendak membungkuk membantu, tetapi Aruna lebih dulu bergerak refleks. Ia menunduk mengambil map itu dengan tangan gemetar.
“Maaf,” bisiknya.
Namun saat ia berdiri kembali, entah karena panik atau karena naluri yang tidak bisa ditahan, matanya terangkat.
Hanya sedikit.
Cukup sedikit untuk melihat punggung setelan gelap yang baru saja melewatinya.
Cukup sedikit untuk melihat garis rahang pria itu saat ia menoleh setengah badan, mungkin karena mendengar suara map jatuh.
Waktu berhenti. Dunia lenyap dari sekeliling Aruna.
Tidak ada lobi. Tidak ada karyawan. Tidak ada Nena, Fitri, Dona, atau rombongan eksekutif.
Hanya wajah itu.
Wajah yang lima tahun berusaha ia hapus dari ingatan, tetapi ternyata masih tersimpan utuh di tempat paling menyakitkan.
Lebih dewasa. Lebih dingin. Lebih asing. Namun tetap wajah yang sama. Mata tajam itu bertemu matanya. Dan seluruh udara di d**a Aruna runtuh seketika.
Aray.
Aray Mahendra.
Pria yang paling ia takuti untuk ditemui kembali. Kini berdiri di depannya.
Sebagai CEO Aksara Nexus Teknologi.