Nasi goreng berserta bebek goreng sambal hitam sudah siap di sajikan. Aroma rempahnya sudah menyebar kemana-mana.
Vivian menatap masakan yang tersaji di atas meja dengan puas. Semua sudah lengkap.
Vivian sengaja mencoba resep masakan favorit Dion, yang diketahui dari Renata, di saat pertemuan di cafe beberapa hari yang lalu.
"Bagus Renata, kini aku akan membuat mas Dion semakin betah bersamaku. Kini bukan cuma kamu yang bisa menyajikan masakan spesialis ini buat mas Dion. Aku juga bisa menyajikan masakan ini bahkan lebih spesial dari yang kamu sajikan." desis Vivian tersenyum penuh arti. "Aku akan membuat mas Dio melupakanmu."
Dengan perasaan bahagia, Vivian segera bersiap-siap dengan penampilan mautnya, menunggu kedatangan Dion.
Hanya butuh waktu setengah jam, Vivian sudah siap dengan dandanan yang memukau para pria. Vivian tersenyum puas melihat penampilannya di cermin.
"Mas Dion, aku menunggumu." desis Vivian. "Kau harus menjadi milikku, seperti malam kemarin dan selamanya."
Terlihat senyum di bibir Vivian, dia teringat kejadian semalam. Dimana dia dan Dion telah menghabiskan waktu bersama.
Vivian sengaja menggoda Dion, sehingga Dion melupakan waktu untuk pulang. Vivian yang telah berpengalaman dengan mudah menarik Dion kepelukannya lagi.
Dan Vivian juga yang telah mensilentkan ponsel Dion dengan kode rahasianya. Karena Vivian tidak ingin, Renata menjadi penghalang hubungan mereka, sampai Vivian mendapatkan kepastian dari Dion.
Dan tadi pagi, dikantor Dion meminta agar Vivian memberitahu kode rahasia, tapi Vivian menolaknya, dia berjanji akan memberitahu kode rahasia itu bila Dion mau datang kerumahnya jam 8 malam. Awalnya Dion tidak setuju memenuhi permintaan Vivian. Tetapi melihat beberapa pasang mata menatap mereka, dengan pandangan aneh, Dion terpaksa mengalah.
Vivian melirik jam yang berada di sudut kamar, hampir jam 8 malam. Vivian kembali memastikan dandanannya di depan kaca, perfect.
Ting ting
Dengan senyum yang terpasang di wajahnya, Vivian membuka pintu. Dion sudah berdiri di depan pintu.
"Mas, ayo masuk dulu." Vivian meraih tangan Dion dan menariknya ke dalam rumah.
"Vi, mas hanya sebentar. Tolong beritahu kode rahasia ponsel mas. Banyak hal penting disana".elak Dion di saat Vivian hendak memeluknya.
Vivian menatap Dion dengan mata dan wajah yang menggoda.
"Mas, kenapa harus buru-buru. Kita makan dulu ya, aku sudah menyiapkan semuanya."
"Vi, mas tidak bisa lama-lama disini, Rena..."
"Mas pasti tidak tegakan mengecewakan aku. Aku sudah lima jam loh menyiapkan ini semua." kata Vivian tidak memperdulikan penolakan Dion, bahkan Vivian menunjuk meja makan yang telah tersaji masakan yang menggugah selera.
Dion membelalakkan matanya. "Kau yang masak semua ini?. Vivian mengangguk dengan wajah memelas.
"Apakah kau tidak menghargai usahaku untuk menyenangkan hatimu."
Dion menghela napas.
"Mas, aku sengaja belajar masak kesukaanmu. Nasi goreng beserta bebek goreng sambal hitam kan?. lima jam loh mas, aku menyiapkan ini semua". seru Vivian dengan bangga.
"Jadi, ini alasannya tadi di kantor kamu meminta izin untuk cepat pulang." tanya Dion, Vivian mengangguk.
"Dan kamu tidak akan mengecewakan aku yang ingin membuatmu bahagiakan." rajuk Vivian manja.
"Tapi Vi, ini ide siapa nasi goreng. bebek gareng sambal hitam." tanya Dion tidak percaya.
"Bukan kah ini masakan kesukaanmu?."
"Dari mana kamu tahu itu masakan kesukaanku?."
"Loh, saat itu Renata..." Vivian jadi bingung, mengapa Dion justru bertanya seperti itu. Dion seperti teringat sesuatu, seketika tawanya pecah memenuhi ruangan. Vivian tambah bingung.
"Kenapa mas."
"Maksudmu Renata yang mengatakan itu semua?" seru Dion tidak percaya disela-sela tawanya. Vivian mengangguk.
"Kamu percaya?" Dion kembali tertawa.
"Apa ada yang salah, mas?" Vivian semakin bingung
Dion menghentikan tawanya dan menatap Vivian dengan serius.
"Vivian, aku itu tidak bisa makan bebek. Aku alergi dengan masakan ini."
"Maksudmu..?!." Vivian terlihat bingung. "Tapi saat itu Renata memesan 2 porsi nasi goreng pakai bebek sambal hitam."
"Iya, Renata memang memesan itu, tetapi setelah kau pergi, Renata menyuruh pelayan membungkus masakan itu untuk di bagikan ke pengemis di jalanan."
Muka Vivian merah padam, emosinya naik ke ubun-ubun. Seketika dia teringat sesuatu, senyuman aneh di bibir Renata. Vivian baru menyadari ternyata Renata telah merencanakan semua ini.
Vivian tidak percaya, dia bisa masuk keperangkap Renata. Vivian terduduk lemas.
Usahanya yang ingin merebut hati Dion telah gagal, kini malah dia terlihat bodoh dan dungu di mata Dion.
"Kalau begitu cepat beritahu, apa kodenya Vi." kata Dion sambil mengeluarkan ponsel di saku celananya. Vivian masih diam, terlihat shock dengan kejadian ini. Dia masih tidak percaya, Renata telah membodohinya.
"Ayolah, Vi. Apa kodenya." Dion terlihat tidak sabaran.
"Tidak!. aku tidak akan memberitahumu!!." kata Vivian setengah marah. Hatinya benar-benar panas.
"Apa maksudmu?!."
"Aku tidak akan memberitahu kode itu, kecuali kalau kau menemani aku malam ini."
"Kau tidak sedang bercanda bukan." Dion berkata dengan sabar, walau sebenarnya hatinya jengkel dengan sifat Vivian yang suka merajuk.
"Aku tidak sedang bercanda. Aku tidak izinkan kau pulang ke rumahmu malam ini." kata Vivian keras kepala. Dion terdongak, tidak percaya.
"Bagaimana mungkin kau tidak mengizinkan aku pulang. Sedangkan kau bukan istriku, Vivian. Kita hanya..."
"Aku tidak peduli!!?." bentak Vivian. "Istrimu yang jal....g itu, harus menerima balasan yang telah mempermainkan aku."
Dion tertawa aneh. "Vivian sadarlah, siapa disini yang jal...g."
"Ma.. maksudmu, kau mau mengatakan bahwa aku..." mata Vivian berkaca-kaca.
Dion berdengus kesal, "Ku harap kau memperhatikan perkataanmu."
"Terus apa maksud istrimu yang telah mempermainkan aku, mas."
"Vivian ayolah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Berikan kodenya."
"Aku bilang tidak!. ya tidak!!."
"Mau mu apa, Vi. Aku sudah capek dengan sifatmu yang egois ini!."
"Aku mau kau tetap disini, temani aku malam ini."
"Sadarlah Vi. kau bukan istriku. Kau seorang gadis. Tidak pantas, aku bermalam disini."
"Maka, jadikan aku istrimu. Jadi istri keduapun aku rela, mas." kata Vivian nekat. Dion terkejut.
"Itu hal tidak mungkin, Vi. Aku tahu pasti, Renata tidak setuju dengan hal ini."
"Mas, bukankan dalam agama ISLAM, poligami itu tidak dilarang. Aku rela mas, asal kau bersikap adil." Dion terdiam sejenak. Vivian melanjutkan lagi.
"Kalau Renata belum siap, kita menikah diam-diam aja. Kita menikah siri dulu. Nanti kalau Renata sudah siap, baru kita beritahu dia. Renata pasti mau memakluminya. Bukankan Renata sangat mencintaimu." rayu Renata, disaat dia melihat Dion yang galau.
"Mas, aku pun sangat mencintaimu, bahkan cintaku melebihi cinta Renata." seru Vivian sendu. "Ingat mas, aku yang duluan mengenalmu. Aku juga yang duluan mencintaimu, dari semenjak SMA sampai sekarang".
Dion terdiam, dia tahu semenjak dulu Vivian sudah jatuh cinta padanya. Tetapi perasaan Dion terhadap Vivian biasa-biasa aja. Sampai sekarangpun, perasaan itu tidak berubah. Walaupun kini hubungan mereka sudah semakin dekat, tetapi itu hanya sebatas suka antara pria dan wanita saja. Dion menghela napas berat.
"Nantilah, Vi. Mas, harus pikirkan dulu, karena hal ini bukan pekara yang biasa." kata Dion.
"Tapi aku ingin suatu kepastian, mas. Aku tidak bisa jauh darimu." rayu Vivian.
"Baiklah, nanti akan mas beritahu kepastiannya. Sekarang beritahu mas dulu tentang kode ini ya." bujuk Dion. Dia tau tidak mudah membujuk Vivian yang keras kepala ini.
Dan Dion melihat hati Vivian sudah melunak, maka dengan segera dia memanfaatkan situasi ini. Vivian dengan segera memberi kode itu.
Shiing..
Layar di ponsel Dion, memberi warna cerah, tanda ponselnya sudah aktif kembali.
"Terima kasih ya Vi."kata Dion lega. Vivian, segera menahan tangan Dion yang hendak pergi.
"Tapi mas, aku masih ingin bersamamu. Nanti aja kau pulang."
"Vivian, bukankah kau ingin Renata mengizinkan kita berpoligami. Naa, sekarang kita jangan memancing amarahnya, bersabarlah dulu ya." bujuk. Dion.
"Baiklah, kau janji ya mas. Akan memberi jawaban secepatnya. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjadi istrimu." kata Vivian manja.
Dion tersenyum dan segera menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah Vivian.