Berdiri di depan pintu, Dion dengan gelisah menunggu pintu itu terbuka. Ia harus menjelaskan beberapa hal pada istrinya, Renata. Tentang mengapa, dia terlambat hari ini atau mengapa ponselnya tidak aktif.
Klik
Pintu terbuka.
Renata telah berdiri di depan pintu, tanpa senyuman seperti biasanya, maupun amarah, layaknya istri marah bila suami terlambat pulang, seperti dirinya saat ini. Wajah itu tampak datar, tanpa ekspresi, menbuat hati Dion berdebar kencang.
Hanya beberapa detik, kemudian Renata membalikkan badannya, masuk kembali ke dalam kamar.
Dion melirik jam ditangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam. Padahal, seharusnya dia pulang jam 5 sore tadi.
Dia tahu, Renata pasti berpikiran macam-macam tentang dirinya sekarang, dan dia tidak ingin itu terjadi, karena itu berbagai alasan sudah tersusun di kepalanya.
Cepat-cepat dikuncinya pintu itu kembali, sebelum akhirnya dia menyusul Renata kekamar.
"Sayang, maafkan mas ya. Mas tadi banyak pekerjaan jadi harus lembur." kata Dion sambil duduk di samping Renata. Renata tidak bergiming, hanya saja tatapannya terlihat marah dan sedih. Sangat jelas di mata Renata bahwa dia terluka.
Achh, Dion mengutuk menyesali dirinya, yang lagi-lagi terjebak dalam rayuan Vivian, padahal Dion sudah berjanji pada Renata, tidak akan berhubungan lagi dengan gadis itu.
Dion tau, saat ini jalan satu-satunya adalah dirinya harus berbohong demi keutuhan rumah tangganya.
"Sayang, kamu jangan berperasangka buruk seperti ini dong, Tadi mas sedang mengerjakan sebuah proyek. Tomi yang menemani mas tadi..."
"Halo mas Tomi." terdengar Renata menelpon seseorang.
Mati aku, desis Dion terkejut, tidak menyangka Renata menelpon Tomi. Tomi memang sahabat Dion. Tomi dan istrinya, Lucy sering mampir ke rumah, jadi Renata tidak sungkan langsung menelpon Tomi, walaupun sudah tengah malam.
"O jadi mas Tomi sudah dua hari keluar kota ya" tanya Renata pada orang diseberang hp. Renata melirik Dion yang terlihat salah tingkah.
"Baiklah mas Tomi terima kasih, maaf sudah menganggu malam-malam." kata Renata sambil menutup percakapannya.
Renata meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menatap Dion lekat-lekat.
"Ada yang ingin kamu sampaikan mas?."
Dion menjadi gelisah, tidak tau harus berkata apa. Dia tidak mungkin jujur, tentang apa yang telah di laluinya malam tadi.
Melihat tidak ada tanda-tanda Dion membuka suara, Renata kembali bertanya.
"Apakah dia Vivian, mas?."
Dion semakin frustasi, keringat dingin membasahi tubuh, padahal AC di kamarnya hidup
"Jawab aku mas!." seru Renata setengah berteriak. Dion kaget.
"A akku...aku"
"Apakah kau menyukai Vivian, mencintainya. Kalau begitu lebih baik kita berpisah saja." kata Renata lantang sambil berdiri.
Dion terperanjat.
"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu. Mas sangat mencintai kamu. Mas tadi hanya....." Dion tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Hanya apa mas. Mengapa tidak kau lanjutkan perkataanmu." seru Renata semakin panas.
"Mas hanya kasihan sama dia." akhirnya Dion berterus terang, walau tidak semuanya. Ada bagian yang harus di sembunyikannya.
Walaupun dari awal Renata sudah menebaknya, namun rasa sakit hati dan kecewa tidak bisa di sembunyikan mendengar pengakuan suami yang sangat di cintainya. Tetapi dia berusaha untuk kuat dan tegar. Walau hatinya saat ini sudah hancur.
"Oh ya..., ternyata suamiku ini telah menjadi pria penghibur untuk wanita kesepian ya." tuturnya.
"Re, jaga omonganmu!." bentak Dion, merasa tersinggung. Walaupun di dalam hati, dia mengakui telah bersalah, tetapi jiwa kelelakiannya tidak terima di "cap" sebagai pria penghibur.
"Kau marah mas, lalu sebutan apa yang pantas untuk pria seperti kamu," seru Renata sengit.
Dion tersadar, tidak seharusnya dia membentak Renata tadi. Dia memang bersalah. Dirinya memang pantas dihina, karena telah melukai hati istrinya. Dan Dion mencoba memperbaikinya.
"Re, maafkan mas ya. Mas memang salah.Tadi itu, Vivian hanya meminta tolong karena kawan sekamarnya belum pulang. Jadi kami hanya duduk-duduk aja sampai kawannya pulang." Dion berkata dengan lembut, mencoba menjelaskan walau dia tidak yakin itu akan berhasil.1
"Duduk-duduk aja tetapi ponsel di matikan." sindir Renata tajam.
Astaga, Dion baru teringat ponselnya belum di aktifkan lagi.
"I... ituu tadi baterainya habis." kilah Dion.
"Benarkah?, coba aku lihat ponselmu mas yang habis baterai."
Ups sial, rutuknya dalam hati, dia kesal atas kecerobohannya hari ini. Mengapa dia tidak mengaktifkan ponselnya kembali sebelum pulang tadi dan menghapus pesan-pesan maut dari Vivian.
Pandangan mata Renata seperti menunggu Dion mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tapi Dion mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mas, aku mau lihat ponsel mu." paksa Renata.
"Re.. mas... hp tidak..."
"Kau keberatan aku meminjam ponselmu?." Renata semakin tidak sabaran.
"Tentu saja tidak, sayang. Hanya...."
"Mana ponselmu, mas"
Tamatlah riwayatku, desis Dion pasrah di kala ponselnya telah berada di tangan Renata. Ku pasrahkan hidup matiku di tanganmu, tuhan. Tiada henti-hentinya Dion berdo'a dalam hati.
Ups...sepertinya Tuhan sedang berada di pihaknya. Atau tepatnya, setan sedang melindunginya, entahlah...
"Tuh kan, apa mas bilang, ponselnya tidak hidupkan." seru Dion kembali bersemangat, karena melihat Renata gagal menghidupkan ponselnya.
Renata dengan wajah kesal mengembalikan ponsel itu. Dion menerimanya dengan senang hati. Padahal di dalam hati, dia sangat heran, bagaimana bisa ponsel keluaran terbaru tahun ini bermasalah.
Dia sangat yakin, ponselnya tidak rusak. Hanya saja, tadi di saat bersama Vivian, dia sengaja mengsilent ponselnya.
Tetapi apapun itu, untuk saat ini, dia merasa lega. Dirinya sudah terbebas dari mara bahaya.
"Sekarang kau percayakan, mas tidak berbohong."
"Aku tetap kecewa padamu, mas. Seorang pria yang sudah beristri, bagaimana bisa menemani seorang gadis, di malam hari lagi."
Glek
"Memangnya kali ngapain aja selama 6 jam. Jangan bilang kalian mampu duduk-duduk aja selama itu." tanya Renata. lagi.
Dion kembali terdiam. Entah mengapa, tiba-tiba otaknya blank. Padahal tadi dia sudah menyusun kata-kata untuk menutupi kebohongannya sebelum sampai di rumah.
"Mas, ingatlah. Kau sedang mempertaruhkan rumah tanggamu sendiri." tegas Renata.
"Re, jangan ngomong seperti itu. Mas tidak mungkin bisa berpisah darimu."
"Ingat mas, aku tidak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan. Bila dirimu kedapatan berselingkuh, berarti perkawinan kita berakhir."
Dion terperanjat, ada ketakutan di dalam hatinya. Dia tidak mau kehilangan Renata, wanita yang sudah memberi banyak inspirasi dan semangat dalam hidupnya.
"Re, jangan seperti itu." Dion mencoba memeluk Renata, tetapi Renata menepis tangan Dion.
Dion menelan salivanya.
"Seorang pria di pegang dari ucapannya, bila dia mengingkari ucapan itu, berarti dia bukan pria sejati." kata Renata, mengulang kembali perkataan Dion yang lalu.
Sebuah tamparan yang keras bagi Dion, Ucapan Renata telah membuka pikirannya, dia seperti tersadar dari mimpinya.
"Aku berharap, kau masih pria sejati itu. Setidaknya pria yang masih punya harga diri."