"Tidak mas Dion, kita tidak boleh putus, Lebih baik aku mati saja, dari pada harus kehilanganmu." jerit Vivian histeris.
Sesaat setelah Dion memberikan jawaban atas pertanyaan Vivian beberapa hari yang lalu. Dion memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Vivian.
Dan seperti biasa, Vivian tidak terima penolakan dan dia akan kembali bereaksi melakukan tindakan histeris, meraung-raung sambil menjerit, bahkan kini mengancam akan melukai dirinya sendiri.
Dion benar-benar sudah kehilangan akal sehat dengan tingkah laku Vivian. Dion merasa sangat tertekan. Vivian pun sepertinya, sudah mengetahui titik kelemahan Dion. Vivian tahu, Dion sangat takut bila hubungan mereka terungkap, karena bukan saja pekerjaannya yang terancam, bahkan rumah tangganya bersama Renata juga akan hancur.
Karena itu, Vivian selalu memanfaatkan situasi ini, untuk menguasai Dion. Dion tidak menyangka, kesalahannya ini akan berakibat fatal dalam kehidupannya. Kini Dion benar-benar menyesal.
Beberapa orang yang sedang melintas di depan mereka, menoleh ke arah mereka berdua. Untunglah mereka berada di daerah pinggir pantai, sehingga suara tangisan Vivian tidak jelas terdengar karena berbaur dengan suara deburan ombak di pantai.
Dion memang sengaja mengajak Vivian ketemuan di pantai. Dion ingin memutuskan hubungan cinta mereka secara baik-baik. Dion tidak ingin memberi harapan palsu kepada Vivian, karena sejujurnya, Dionpun sangat mencintai istrinya Renata dan tidak ingin terus menerus menyakiti Renata, dengan kebohongannya.
"Biarkan aku mati saja!!," teriak Vivian sambil menarik rambut dan bajunya kuat-kuat. Dion bangkit dengan kasar. Kekesalannya sudah naik ke ubun-ubun, sehingga kesabarannya hilang.
"Diamlah Vivian, diamlah!!." teriak Dion. Vivian kaget. "Aku sudah muak dengan segala tingkah lakumu. Kau tidak bisa mengancamku terus menerus seperti ini." teriak Dion lagi. Dion terlihat sangat frustasi. "Berkali-kali sudah aku katakan bahwa aku sudah punya istri. Sebelum kau datang, hidup kami baik-baik saja.".
Vivian terdiam, tangisnya mereda. Dia tidak menyangka, trik yang selalu digunakan untuk menjerat Dion, kini tidak ampuh lagi. Dion kelihatannya, sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi pada dirinya.
Rasa takut mulai bergelayut di hatinya, melihat Dion yang emosional. Vivian sangat takut bila Dion benar-benar pergi dari sisinya.Karena itu, Vivian harus berpikir ulang untuk mencari cara menjerat Dion lagi.
"Aku tidak boleh kalah, aku tidak boleh menyerah, kamu harus menjadi.milikku, mas Dion. Baik, untuk hari ini aku akan mengalah. Tapi aku akan menemukan cara yang lebih ampuh untuk menjadikan dirimu milikku" bisik Vivian dalam hati.
Vivian menundukkan kepalanya, sesekali terdengar isakan tangisnya yang belum sepenuhnya reda.
"Tapi mas, kau sudah berjanji bahwa kau akan menikahiku." Vivian masih berusaha meluluhkan hati Dion.
"Mas tidak pernah berjanji untuk menikahimu. Mas hanya berjanji, akan memikirkan tentang kelanjutan hubungan kita. Dan sekarang, mas sudah mengambil keputusan bahwa mas tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
"Kau kejam, mas."
"Mas akan lebih kejam bila memberi harapan palsu padamu, Vi. Kau berhak bahagia dengan pria lain."
Vivian semakin mengurai air mata palsunya. Hatinya benar-benar panas. Otaknya berputar mencari cara untuk menjerat hati Dion lagi.
Sial!!, sepertinya hati Dion sudah mantap untuk berpisah dengan Vivian, dan tangisan Vivian tidaklah lagi bisa meluluhkan hati Dion.
"Tidak mas Dion. Aku tidak sanggup berpisah denganmu. Jadikan aku istri kedua. Aku janji, tidak akan menganggu istrimu Renata. Bahkan aku rela akan merahasiakan hubungan kita." Vivian setengah memohon, walau hati kecilnya menolak, tapi untuk saat ini tidak ada cara lain.
"Tidak Vivian, mas tidak mau hidup dalam kebohongan. Perselingkuhan kita selama ini pun sudah sangat meresahkan. Mas ingin hidup tenang," kata Dion.
"Tapi aku tidak tenang mas, kau jangan egois. Kau harus melihat pengorbananku selama ini."
"Vivian sadarlah, kau masih muda. Masa depanmu masih panjang, ayolah, kau jangan seperti ini."
"Hidupku memang sudah hancur, mas. Aku hanya bisa kuat, bila berada di sampingmu."
"Itu tidak mungkin Vivian, mas tidak mau menyakiti hati kalian berdua bila mas melakukan poligami. Karena mas takut tidak bisa berbuat adil, dan pasti kita semua menderita. Lagi pula, Renata pasti tidak mau bila di madu."
"Tapi mas..."
"Cukup Vivian, jangan memaksa mas melakukan hal yang tidak mungkin mas lakukan. Hargai dirimu sebagai seorang wanita. Pria bukan hanya mas satu-satunya di dunia ini. Masih banyak pria lain. yang lebih baik dari mas."
*****
Sore ini, Dion membeli seikat bunga mawar putih untuk Renata. Dion sangat hafal bahwa Renata sangat menyukai bunga mawar putih. Ada perasaan lega bersemayam di hatinya. Sudah lama dia tidak merasa perasaan lega ini.
"Sayang mas berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan mas lagi. Hati mas, akan selalu milikmu." bisik Dion sambil mencium bunga itu, ada sekelumit perasaan haru hadir dihatinya.
Setelah sekian lama dia melupakan keromantisan ini, ada rasa debar di hatinya. Ah, semoga belum terlambat untuk memperbaiki semua kesalahannya, doa Dion dalam hati.
Dengan cepat, Dion melajukan mobilnya untuk segera pulang, menemui sang istri tercinta, Renata.
"Hei, kau sudah pulang, mas." Renata terkejut melihat Dion sudah berada di depan. Dan lebih terkejut lagi melihat bunga di tangan Dion.
"Kau tidak suka, mas pulang cepat, sayang." bisik Dion mesra di telinga Renata. Wajah Renata langsung memerah, dengan cepat dia membalas pelukan Dion.
"Tentu saja aku senang, mas. tetapi..."
"Mas sudah mengajukan cuti selama satu minggu. Besok pagi kita pergi mengulang kembali bulan madu kita, ya."
"Hah, benarkah...?!."
"Kau tidak percaya?. Ini 2 tiket menuju ke Bali." dengan senyum manis, Dion menunjukkan tiket itu.
"Ya Allah mas, kau romantis sekali. Aku senang sekali." Renata menitikkan air matanya. Renata kembali merasakan sikap Dion sudah seperti dahulu. Romantis dan penuh kejutan.
Dengan perasaan haru, Dion memeluk kembali tubuh wanita kesayangannya.
"Mudah-mudahan, kali ini Allah mendengarkan do'a kita, agar menghadirkan buah hati kita ya sayang."
"Aamiiin, Insyaalah mas. Allah pasti mendengarkan do'a umatnya yang sabar."
"Sudah ah. Ayo kita masuk. Mas sudah lapar. kau masak apa hari ini?." kata Dion sambil menggandeng tangan Renata masuk ke dalam rumah.
Dari ujung jalan, ada sepasang mata memandang mereka dengan tajam. Mata itu dingin penuh kebencian.
Beberapa detik kemudian. wanita bercadar itu menekan tombol di ponselnya.
"Halo, carikan aku informasi tentang Dion Renaldi. Laporkan tentang semua kegiatannya."
"Baik nona, info tentang Dion Renaldi akan segera di laporkan."
"Aku tidak mau ada yang terlewatkan."
"Baik nona Vivian."
Vivian menutup ponselnya perlahan. Dari sudut matanya tampak jelas bahwa mata itu penuh dendam.
"Kau harus merasakan penderitaan seperti yang aku alami, Renata. Kau telah mencuri, yang seharusnya menjadi milikku."