Braak...
Vivian melempar tasnya ke atas meja dengan kasar. Beberapa orang yang berada di dekat ruang kantornya terlihat kaget dan heran, melihat Vivian yang tampak sangat gusar. Vivian mengabaikan pandangan itu.
"Bre....ek" rutuknya perlahan.
"Kamu kenapa sih Vi. Datang-datang marah-marah, Kesambet orang utan ya." kata Rani sahabatnya, yang sedang berada di depan komputer.
Vivian hanya diam saja, wajahnya terlihat masam, melebihi asemnya belimbing wuluh. Huh
Hatinya di penuhi amarah, dia masih teringat atas penghinaan yang diterimanya tadi di cafe tempat dia dan Dion bertemu.
"Renata, aku akan membalasmu" desisnya perlahan.
Gadis yang berusia 23 tahun ini, tidak menyangka akan bertemu dengan Renata, istri dari pria yang sangat di cintainya sejak dahulu.
Kalau saja dia tidak ingat Dion, ingin rasanya Vivian membalas penghinaan Renata. Tetapi dia tidak ingin Dion, kekasihnya saat ini mencapnya sebagai wanita bar-bar. Karena itu, dia berusaha sabar. Vivian ingin terlihat manis di depan Dion.
Dion, seorang pria tampan, yang sangat digilainya semasa SMA dulu. Dion sebagai kakak kelas, telah menarik perhatian seorang gadis kaya, cantik dan modern, Vivian.
Banyak yang mendambakan cinta Vivian. Tetapi Vivian tidak memperdulikannya, yang ada di hatinya hanyalah si pemuda jagoan basket yaitu, Dion.
Tapi sayang, Dion tidak pernah tertarik pada Vivian. Padahal Vivian sudah melakukan bermacam cara, agar pria pujaan hatinya mau bersamanya.
Tetapi Dion hanya tertarik pada dunia olah raga basket saja, hari-harinya selalu bermain basket.
Hingga suatu hari, Vivian mendapat kabar bahwa Dion telah pindah sekolah. Karena prestasinya dibidang olah raga. Dion telah berhasil meraih sebuah beasiswa di negara kanguru yaitu Australia.
Vivian yang telah cinta mati, tentu saja tidak menyerah. Dengan kekayaan yang dimiliki orang tuanya, dia kemudian memutuskan untuk pindah sekolah ke Australia juga, demi mengejar cinta sang pujaan hati.
Tapi sayang, sebelum Vivian berhasil meraih cinta Dion, pria itu kembali menghilang tanpa berita.
Vivian sudah berusaha mencari keberadaan Dion, tapi hasilnya nihil. Dion hilang bak ditelan bumi. Lagi-lagi Vivian patah hati.
Walau terasa sulit, Vivian tetap melanjutkan pendidikannya di negara kanguru tersebut, dengan harapan suatu hari akan bertemu Dion lagi.
Hingga akhirnya, Vivian berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kembali pulang ke tanah air, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan besar di kotanya.
Namun siapa sangka, di perusahaan ini, Vivian bertemu kembali dengan pujaan hatinya, Dion, yang kini telah menjabat sebagai Manajer di perusahaan besar tersebut.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Cinta Vivian tumbuh kembali.
Ternyata selama ini Dion menghilang, di karenakan terjadi sebuah kecelakaan yang telah merengut jiwa orang tuanya.
Dion sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, memutuskan pulang kembali ke Indonesia untuk bekerja, demi membiayai adik-adiknya agar tidak putus sekolah.
Vivian merasa sedikit kecewa, karena mengetahui Dion telah berkeluarga. Tetapi Vivian bertekad, walau apa pun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan lagi cinta pertamanya, Dion.
Karena itu, Vivian sangat antusias untuk meraih hati sang mantan pemain basket itu.
Awalnya, Dion terlihat acuh dan cuek. Tapi Vivian yang telah berpengalaman di luar negeri, mampu membuat hati Dion luluh juga.
Vivian yang cantik, modis, agresif dan pinter pada akhirnya berhasil meluluh lantakkan hati Dion.
Dion yang pada awalnya sangat setia pada pasangannya yaitu Renata, tapi kini hatinya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta dari wanita lain, yaitu Vivian.
"Vivian.." panggilan Rani membuyarkan lamunannya. "Di panggil pak Dion tuh, ke ruangannya"
Vivian yang awalnya terlihat lesu, kembali terlihat bersemangat.
"Huh, mendengar nama pak Dion, langsung deh semangat lagi" ledek Rani, Vivian hanya cengengesan.
"Hati-hati loh Vi, pak Dion sudah punya istri" Rani memperingatinya, sepertinya Rani belum mengetahui tentang hubungan mereka.
Dan Dion memang menginginkan hubungan cinta mereka tetap di rahasiakan, karena Dion tidak mau hubungannya dengan Vivian diketahui orang, yang bisa mempengaruhi jabatannya sebagai manajer.
"Terlambat sayang, kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih" batin Vivian sambil tersenyum, walau hatinya masih galau.
Di depan ruangan Dion.
Tok tok tok
"Ya, masuk" terdengar suara berat Dion. Jantung Vivian berdesir kencang. perlahan di bukanya pintu. Tampak Dion berdiri di dekat meja kerjanya. Setelah memastikan pintu ruang tertutup lagi, Vivian menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Dion dan memeluknya erat-erat.
"Jangan tinggalkan aku ya mas, aku tidak mau berpisah dari kamu" lirihnya.
Dion terlihat mematung sejenak, sejujurnya dia pun sebenarnya sudah mulai menyayangi Vivian.
Perhatian, senyuman serta tutur bahasa Vivian, telah mampu membuat jiwa lelakinya melayang.
Tetapi dia pun tidak bisa melupakan kebaikan hati Renata, istri yang sudah dinikahinya dua tahun yang lalu.
Renata telah banyak membantu dirinya dan adik-adiknya di masa-masa yang sulit dulu.
Wanita periang, lucu yang selalu mampu membuat hari-harinya ceria. Karena itu dia tidak mau menyakiti hati Renata. Walau pun saat ini Renata belum memberikan keturunan bagi Dion.
Ach, Dion melepaskan pelukan Vivian, dia melangkah menjauhi Vivian.
"Maafkan mas, Vi. Mas tidak bisa menerima cintamu lagi. Kamu taukan, mas sudah punya istri." kata Dion, pada wanita yang baru sebulan di pacarinya. Vivian terperanjat.
"Tidak, mas. Aku tidak mau berpisah. Aku tidak sanggup." seru Vivian ketakutan dan memeluk Dion lagi.
"Dengar Vivian, hubungan kita ini salah. Mas sudah punya keluarga, yang sangat mas cintai" Dion mencoba memberi pengertian pada Vivian, dia pun merasa bersalah telah memberi harapan pada gadis ini.
"Kata-katamu itu sangat menyakitkan, mas" jawab Vivian berlinang air mata menatap Dion. "Apakah cinta kita selama ini tidak berarti buatmu, mas. Apakah cinta kita hanya nafsu belaka. Aku sangat mencintaimu. Lebih baik aku mati. dari pada aku kehilangan kamu."
Dion frustasi, dia menyesal telah bermain api, yang membuat hidupnya terjebak dalam lingkaran hati. Karena itu, dia ingin mengakhiri semuanya.
"Vivian, kamu gadis yang sangat cantik, pinter. Kamu pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari mas"
"Aku tidak mau!" jerit Vivian sambil menangis histeris. Dion terkejut, dengan cepat dia menbungkamkan mulut Vivian dengan kedua tangannya supaya tangisan Vivian tidak terdengar keluar dan Vivian bisa segera menghentikan tangisannya.
Tetapi bukannya diam, tangisan Vivian semakin menjadi-jadi.
Dion semakin panik, tidak menyangka Vivian sehisteris itu. Dion takut, hubungannya dengan Vivian akan ketahuan. Karena dia tau, konsekuensi yang akan dia terima bila hubungan ini terbongkar.
Dion berusaha menghentikan tangisan Vivian dengan memberikan rayuan terbaiknya, yang tujuannya agar Vivian berhenti menangis. Masalah lain, nanti dipikirkan, yang penting gadis ini tidak membuat masalah di dalam kantor, itu yang saat ini di pikiran Dion.
"Baiklah, sayang, baiklah, kamu tenang ya, kita bisa bicarakan ini baik-baik" bujuk Dion berusaha menghentikan tangisan Vivian.
Dion berusaha sekuat tenaga membujuk Vivian. Untunglah usahanya berhasil, tidak lama kemudian, tangisan Vivian mereda.
"Tetapi aku tidak mau kita putus, mas" kata Vivian di sela-sela sisa tangisannya.
"Baiklah, tetapi kamu jangan menangis lagi ya." bujuk Dion lega.
"Tetapi mas janji ya, hubungan kita tidak putus." lirih Vivian dalam pelukan Dion.
Dion mengangguk pasrah, sekilas wajah Renata hadir dihadapannya.
"Maafkan mas, sayang. Mas janji akan memperbaikinya lagi." desisnya perlahan pada bayangan itu, sambil memejamkan mata. Vivian tersenyum bahagia.