"Mas Dion." desis Renata perlahan, matanya terbelalak besar, seakan tak percaya dengan penglihatannya.
Dion, sang suami berjalan dengan mesra bersama dengan seorang wanita, cantik.
Bukan hanya itu saja, wanita tersebut menggelayut manja, dilengan Dion. Mereka tampak tertawa bahagia sambil memasuki sebuah cafe.
Renata segera membatalkan niatnya, yang rencana mau pulang setelah selesai berbelanja di supermarket.
Perasaan cemburu, marah dan sedih mulai menguasai hatinya. Tetapi dia berusaha tetap bersikap tenang.
"Tenang, Renata tenang" bisiknya pada dirinya sendiri.
Setelah menghembus napasnya, perlahan dia juga memasuki cafe tersebut, dan Renata sengaja memilih tempat duduk di sudut ruangan yang agak tertutup, sehingga dengan leluasa dia bisa mengamati tingkah laku mereka berdua.
Dion dan wanita tersebut tampak berbicara sangat akrab, sesekali Dion mengusap mesra rambut wanita itu.
Lagi-lagi mata Renata terbelalak, darahnya mendidih.
"Awas kau mas." desis Renata geram, dikepal kedua tangannya sambil menahan ledakan dihatinya.
Tampaknya Dion dan wanita tersebut tidak menyadari, ada sepasang mata yang sangat tajam dan siap menerkam mereka berdua.
Apalagi di saat sang wanita menyandarkan kepalanya ke bahu Dion dengan manja, dan Dion membalasnya dengan memberikan pelukan mesra.
Karena tidak kuat melihat pemandangan di depannya, Renata segera bangkit sambil menenteng belanjaannya dengan cepat dan berjalan ke meja dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu.
Brraakk...
Renata membantingkan tentengan belanjaannya ke meja dengan keras.
Dua sejoli terlonjak kaget.
Dan tampak orang-orang yang berada disekitarnya pun ikut kaget. Mereka menatap Renata, Dion dan wanita itu dengan pandangan heran serta penuh tanda tanya.
Beberapa belanjaannya tampak terlempar keluar dan jatuh ke lantai.
Tapi Renata tidak peduli. Matanya menatap tajam dan tegang ke wanita di sebelah Dion. Wanita itu bergelimit ngeri, sehingga tanpa sadar semakin merapatkan badannya ke tubuh Dion
Dan Dion tampak terpaku diam di tempat, dengan mulut menganga.
Namun beberapa detik kemudian, wajah Renata berubah menjadi tenang kembali. Senyum manis menghiasi bibirnya.
"Hai sayang, rupanya kau disini ya!." suara Renata tampak tenang. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Re... Renata?!." Dion yang baru tersadar dari kagetnya, segera melepaskan pelukan wanita itu dengan cepat, lalu berdiri.
Mata wanita tersebut, menatap Dion dengan pandangan tidak senang, sambil ikutan berdiri juga.
Tapi Renata tidak peduli, dengan gerakan sedikit kasar di tariknya tangan wanita itu agar menjauh dari suaminya, Dion. Dan dengan cepat pula Renata berpindah kesamping Dion.
Belum sempat Dion membuka mulut, sambil menggelayut mesra, Renata berkata "Mas wanita ini siapa ya?." Dion menahan napas.
"Dia.. dia teman sekantorku, Vivian." jawab Dion perlahan, terlihat pasrah.
"Oh, hanya sebatas teman?." kata Renata dengan pandangan menghina. Dia mengulurkan tangan sambil berkata "Perkenalkan, aku Renata istri sah mas Dion Renaldi."
Wajah wanita yang bernama Vivian itu tampak memerah, dia membawa pandangannya berputar antara Dion dan Renata. Tampak Dion memberi isyarat pada Vivian.Sehingga Vivian memilih untuk diam saja.
Hingga beberapa detik kemudian, Renata menarik tangannya kembali, dengan suara santai dia kembali berkata. "Baiklah, mari kita minum dan makan bersama.".
Renata perlahan menarik tangan Dion. Dion terlihat pasrah mengikuti Renata yang duduk di sampingnya. Dion tampak semakin tertekan.
"Kau masih ingin tetap berdiri?." tanya Renata kepada Vivian.
Dengan wajah yang sulit dilukiskan, Vivian menarik sebuah kursi dan kini duduk berhadapan dengan Renata dan Dion.
Pandangan matanya tampak tajam menatap Dion, tapi Dion terlihat tidak berdaya.
Renata tersenyum aneh, sambil mengangkat tangannya memberi isyarat pada seorang pemuda yang berdiri dekat pintu samping cafe.
Dengan tergopoh-gopoh pemuda tersebut mendatangi meja Renata, sambil mengeluarkan daftar menu makanan dan meletakkan di hadapan Renata.
"Permisi ibu, ini menu makanan dan minuman disini." kata pemuda tersebut dengan sopan. Matanya sesekali melirik Vivian. Mungkin dia merasa lucu atau merasa kasihan dengan nasib Vivian, entahlah.
"Baiklah, saya mau pesan nasi goreng pakai bebek goreng sambal hitam, dua ya, itu makanan kesukaan suami saya," ujar Renata sambil menatap Vivian dengan tajam.
Vivian membuang mukanya dengan kesal.
"Cuma dua bu?." tanya pemuda itu.
"Iya cuma dua, kami sebagai suami istri tidak memerlukan orang lain untuk menemani makan siang kami." sahut Renata seakan memperingati Vivian. Vivian mendongakkan kepalanya, kaget.
"Re..." Dion mencoba protes. Tetapi Renata dengan cepat mendelik ke arah Dion, membuat Dion membatalkan protesnya.
"Dan kau... mau tunggu apa lagi. Apa kau mau melihat kemesraan suami istri." usir Renata kejam, masih menatap tajam ke arah Vivian yang duduk dihadapannya.
Gadis yang bernama Vivian tersebut tampak melotot, mukanya bersembur merah padam tanda menahan amarah di hatinya, lalu dengan gerakan kasar dia berdiri sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati di jalan ya." seru Renata santai mengiringi kepergian Vivian.
Vivian terhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Renata dan Dion dengan marah, tetapi Renata melambaikan tangannya sambil tersenyuman manis. Vivian melongos kesal dan berlalu pergi.
"Vivian tunggu.." Dion mencoba mencegah, tetapi gerakan Renata lebih cepat.
"Mas. temani aku makan dulu." Renata menahan tubuh Dion.
"Tetapi Re, Vivian.."
"Seberapa berharganya seorang Vivian dengan aku mas, istrimu,"
"Tetapi tadi itu sebenarnya kami sedang ada pekerjaan." Dion tampak terbata-bata.
"Pekerjaan yang bagaimana mas, kerjaan berpelukkan mesra." sahut Renata tetap berusaha tenang.
"Jangan salah paham, kami hanya sebatas teman kantor."
"Hmm, benarkah?."
"Renata, jangan bersikap seperti anak kecil. Kami tidak ada hubungan apa-apa." Dion mencoba menjelaskan.
Renata menatap Dion tajam.
"Apakah seorang pria dan wanita yang berjalan dengan mesra sambil berpelukan, bisa dibilang hanya sekedar berteman?."
"Re..."
"Mas, apakah seperti yang kalian lakukan tadi itu adalah hal yang wajar?."
Dion terdiam.
"Kalau menurut mas itu adalah hal yang wajar, yach gk apa-apa. Berarti aku juga boleh melakukan hal yang sama." kata Renata kesal.
Dion terdongak kaget mendengar penuturan Renata. Dia dengan segera meraih tangan istrinya.
"Jangan pernah lakukan itu." tegasnya. Renata melepaskan tangan suami sedikit kasar.
"Loh, bukan kah mas itu imam ku. Aku wajib mengikuti apa yang dikerjakan oleh imamku,"
"Gak, gak, gak boleh. Mas minta maaf" Dion kembali meraih tangan istrinya serta menggenggam tangan itu erat-erat.
Renata tertawa di dalam hati, tetapi hatinya masih kesal, dia tetap berpura-pura lugu.
"Jadi gimana dong, bukankah kata pak ustadz seorang suami itu adalah imam untuk anak istrinya, aku jadi bingung."
"Sayang, dengar ya. Mas minta maaf, tadi itu mas khilaf. Mas berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." kata Dion tampak bersungguh-sungguh.
"Apakah janji itu bisa aku pegang, mas." tanya Renata kemudian, seakan tidak percaya.
"Sayang, seorang pria itu perkataannya yang di pegang. Bila dia mengingkari sebuah janji, maka dia bukanlah pria sejati." suara Dion terdengar tegas.
"Baiklah, mas. Aku percaya padamu." sahut Renata perlahan. Walaupun, sebenarnya di dalam hati dia sangat kecewa atas peristiwa tadi. Tapi dia mencoba bersabar dan tidak mau menyerah begitu saja pada sang pelakor.
Seorang pelayan datang mengantarkan makanan ke hadapan mereka.