Rasa terbakar di tenggorokan Sekar perlahan meredup, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar cepat ke seluruh sarafnya. Kesadarannya timbul tenggelam seperti lilin yang ditiup angin malam. Ia bisa merasakan tubuhnya yang tak berdaya diangkat secara kasar, diseret melintasi lantai kayu vila yang berderit, lalu diempaskan begitu saja ke kursi belakang mobil. Suara pintu yang dibanting dengan keras terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinganya yang kian berdengung. Di depannya, siluet Bram dan Ratih tampak samar di balik kaca depan yang mulai berembun. Mobil kembali melaju, membelah jalanan setapak yang semakin menanjak ke arah jantung Gunung Kawi yang diselimuti misteri.
Tidak ada kata yang terucap di dalam kabin mobil yang sempit itu. Hanya ada keheningan yang mencekam dan dingin, ditemani suara deru mesin mobil yang dipaksa mendaki tanjakan curam berkerikil. Sekar mencoba menggerakkan ujung jarinya, mencoba memanggil sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, namun tubuhnya benar-benar lumpuh total. Obat bius yang dicampurkan Bram telah mengunci seluruh sistem motoriknya dengan sempurna. Obat itu menyisakan indra pendengaran dan penglihatan Sekar yang justru menjadi lebih tajam secara mengerikan. Dari sela-sela matanya yang setengah terpejam, Sekar melihat pepohonan raksasa di luar jendela seolah bergerak hidup. Ranting-rantingnya melambai ganjil dalam kegelapan, seakan menyambut kedatangan Sekar sebagai tumbal baru yang sudah lama dinantikan.
Di kursi depan, Bram sesekali melirik kaca spion tengah dengan wajah yang tegang. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya meskipun suhu di luar sangat rendah. Tangannya yang mencengkeram kemudi tampak memutih pada bagian buku-buku jarinya. Di sebelahnya, Ratih sibuk memeriksa sebuah kantong kain hitam yang diletakkan di atas pangkuannya. Ratih mengeluarkan beberapa perlengkapan ritual dari sana, memastikannya satu per satu dengan ketelitian yang dingin. Wajah wanita selingkuhan itu tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun; yang ada hanyalah sepasang mata yang berbinar penuh ambisi gila untuk merebut segala kemewahan duniawi yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Apakah kita sudah hampir sampai, Ratih?" tanya Bram dengan suara yang sedikit bergetar. Ia mencoba menutupi ketakutannya, namun getaran itu tidak bisa menipu Sekar. Ratih menoleh sekilas, lalu mengulas senyum sinis yang sarat akan racun. "Tenang, Mas. Sebentar lagi kita sampai di pelataran utama. Jangan biarkan rasa takutmu merusak segalanya sekarang. Ingatlah apa yang akan kita dapatkan setelah malam ini. Perusahaan yang hampir bangkrut itu akan kembali berjaya, dan semua musuh bisnismu akan berlutut di bawah kakimu," bisik Ratih penuh manipulasi.
Mendengar kata-kata Ratih, Bram tampak menarik napas dalam-dalam, mencoba mengukuhkan kembali hatinya yang sempat goyah. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mobil hitam itu melaju lebih cepat menerobos kabut tebal yang mulai turun dari puncak gunung. Sekar yang berbaring lemah di kursi belakang merasakan dadanya semakin sesak. Air mata keputusasaan perlahan menetes dari sudut matanya, membasahi jok kulit mobil yang dingin. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia cintai dengan sepenuh jiwa tega menukarkan nyawanya demi seonggok harta kekayaan bersama wanita lain.
Mobil akhirnya melambat dan berhenti di sebuah pelataran tanah tandus yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan bambu. Tempat itu dikelilingi oleh pohon-pohon beringin tua yang memiliki akar gantung lebat menjuntai ke bawah seperti tirai-tirai gaib. Hawa dingin yang sangat ekstrem langsung menyergap masuk ke dalam kabin begitu Bram membuka pintu mobil. Tanpa sedikit pun rasa iba, Bram menarik kaki Sekar dan menyeret tubuhnya keluar dari kursi belakang dengan kasar. Kepala Sekar terkulai tak berdaya, membentur permukaan tanah yang lembap dan berbau busuk. Rasa sakit menjalar di kepalanya, namun tubuhnya tetap menolak untuk bergerak.
Di dekat mereka, Ratih berjalan dengan langkah angkuh sambil memegangi seikat kembang telon serta sebuah mangkuk kuningan kecil yang penuh ukiran aksara Jawa kuno. "Cepat bawa dia ke atas batu datar itu, Bram. Waktunya hampir tiba. Sebelum kabut hitam dari puncak tertinggi turun dan menutupi tempat ini sepenuhnya," desak Ratih kian tidak sabar. Bram mengangguk cepat. Dengan napas yang memburu akibat ketakutan spiritual yang hebat, ia menyeret istrinya menuju sebuah batu ceper besar yang terletak di tengah-tengah pelataran. Permukaan batu itu tampak menghitam, dipenuhi guratan bekas aliran darah dari ritual pesugihan masa lalu. Di tempat terlarang inilah, perjanjian hitam akan segera disempurnakan.
Sekar hanya bisa menangis tanpa suara di dalam hatinya yang hancur. Pria yang selama lima tahun ini selalu ia hormati, kini justru menjadi sosok algojo yang menuntunnya menuju liang kubur yang gelap. "Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Mas?" bisik jiwa Sekar yang menjerit pilu, namun bibirnya tetap terkunci rapat oleh kekuatan obat bius yang kejam. Bram mengempaskan tubuh Sekar di atas batu datar yang dingin itu. Ratih segera mendekat, menaburkan kelopak bunga mawar merah dan melati putih di sekeliling tubuh Sekar, membentuk sebuah lingkaran mistis. Wewangian bunga yang bercampur dengan bau anyir mendadak menguar hebat, membuat udara terasa sangat pekat.
Angin gunung bertiup semakin kencang, menghasilkan suara gemuruh yang bergaung keras dari tebing-tebing curam. Bram mengeluarkan sebilah pisau belati kecil dari balik jaketnya. Tangannya gemetar hebat saat mengarahkan mata pisau yang tajam itu ke telapak tangan kanan Sekar. "Maafkan aku, Sekar. Perusahaan kita benar-benar di ambang kehancuran, dan ini adalah satu-satunya jalan agar aku bisa tetap kaya. Kamu harus berkorban demi masa depanku dan Ratih," ucap Bram dengan mata yang melotot penuh kegilaan. Dengan satu gerakan cepat, Bram menggoreskan mata belati itu. Darah segar langsung mengalir deras, ditampung oleh Ratih ke dalam mangkuk kuningan.
Rasa sakit yang tajam sempat membuat kesadaran Sekar tersentak pulih selama beberapa detik. Ia mencoba menjerit, namun yang keluar hanyalah suara erangan lirih yang langsung tersapu oleh suara angin. Ratih tertawa puas melihat mangkuk kuningan itu kini terisi penuh oleh darah hangat Sekar. Wanita itu kemudian melangkah mundur, mengangkat mangkuk tersebut tinggi-tinggi ke arah puncak Gunung Kawi yang telah tertutup kabut hitam. Ratih mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang bernada berat dan sarat hawa magis. Cahaya dari lampu senter yang mereka bawa seolah meredup, dihisap habis oleh kegelapan.
Bumi di bawah kaki mereka terasa bergetar halus. Dari balik semak-semak hitam, muncul sekelompok bayangan tak berwujud yang merayap mendekati batu pelataran. Bau busuk bangkai yang menyengat langsung memenuhi udara. Namun, rasa takut Bram segera dikalahkan oleh rasa serakah. Ia melihat bayangan-bayangan hitam itu mulai menjilati tetesan darah Sekar yang tumpah di atas batu, pertanda bahwa persembahan mereka telah diterima dengan baik. "Perjanjian telah disepakati! Kekayaan akan menjadi milikmu, Bram!" teriak Ratih di tengah gemuruh angin yang kian menggila.
"Sekarang, tinggal bagian terakhir agar perjanjian ini bersifat abadi. Buang tubuh wanita ini ke dalam jurang terdalam. Biarkan dia membusuk di sana sebagai tumbal yang sah," perintah Ratih dengan mata dingin. Bram tidak membuang waktu lagi. Ia mengangkat tubuh Sekar yang terasa kian mendingin, lalu berjalan menuju tepi tebing yang curam. Di bawah sana, kegelapan jurang tampak seperti mulut monster raksasa yang terbuka lebar. Sekar membuka matanya yang berat, menatap langsung ke dalam manik mata Bram untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan penuh dendam yang merekam seluruh pengkhianatan pria itu.
"Selamat tinggal, Sekar. Terima kasih atas pengorbananmu," bisik Bram dingin tanpa penyesalan. Tanpa ragu, Bram mendorong tubuh Sekar ke depan, melepaskannya jatuh ke dalam kegelapan jurang yang tak berdasar. Tubuh Sekar meluncur jatuh dengan cepat, menghantam ranting-ranting pohon mati yang tajam sebelum akhirnya terhempas keras di atas dasar jurang yang dipenuhi batuan kali yang keras. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung menghantam seluruh tubuh Sekar. Bunyi berderak dari tulang-tulang rusuknya yang patah terdengar mengerikan. Di atas sana, samar-samar terdengar suara tawa kemenangan dari Bram dan Ratih yang perlahan menjauh.
Di dasar jurang yang sepi, napas Sekar kian memendek dan tersengal-sengal. Darah terus mengalir dari luka di kepalanya, membasahi tanah berbatu tempat ia terbaring pasrah. Pandangan matanya mulai meredup total, menyisakan kegelapan abadi yang siap menjemput jiwanya. Namun, tepat di saat-saat terakhir menjelang embusan napas terakhirnya, keheningan di dasar jurang itu mendadak pecah. Suara gemerisik ranting dan suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mendekat. Hawa dingin yang berkali-kali lipat lebih ekstrem tiba-tiba bertiup menyelimuti seluruh tubuh Sekar, membekukan darahnya secara instan.
Sebuah suara yang sangat berat dan bergetar hebat seperti gema runtuhnya tebing kuno mendadak bergaung keras di dalam kepala Sekar. "Wahai jiwa yang terkhianati dengan keji... Apakah kau menerima kematian yang mengenaskan ini dengan pasrah begitu saja? Ataukah kau memilih untuk menukarkan sisa jiwamu demi sebuah pembalasan dendam yang paling hitam?" tanya suara gaib itu, menggema dari kegelapan. Di ambang batas kematiannya, sisa-sisa rasa cinta Sekar kepada Bram telah menguap sepenuhnya tanpa bekas. Perasaan itu berganti menjadi sebuah dendam hitam yang membakar hebat. Jiwa Sekar menjawab dengan ketegasan yang dingin: "Aku tidak ingin mati... Aku ingin mereka berdua hancur dengan cara yang paling mengerikan...!"
Mendengar jawaban itu, entitas kuno penunggu Gunung Kawi mengeluarkan suara tawa yang bergemuruh rendah. Bayangan hitam yang sangat besar mulai turun, melingkupi tubuh Sekar seperti kepompong kegelapan yang raksasa. "Perjanjian hitam telah disepakati oleh darah dan dendammu, Sekar. Aku akan memberikanmu napas kedua. Namun ingatlah, setiap bagian dari dirimu kini adalah milikku, dan utang pesugihan ini harus dibayar lunas dengan kewarasan dan jiwa dari orang-orang yang telah mengkhianatimu," ucap suara itu sebelum akhirnya segalanya menjadi gelap gulita bagi Sekar.
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju kembali menuju kota Malang, Bram dan Ratih duduk berdampingan dengan senyum kemenangan. Mereka merasa lega karena tugas terberat telah selesai dilaksanakan tanpa ada kendala atau saksi mata. Bram melirik ke arah tas kerjanya, tempat bungkusan kain mori kecil itu berada. Ia bisa merasakan bahwa suasana di dalam mobilnya kini terasa berbeda; ada sebuah aura kemakmuran yang mulai merayap masuk ke dalam kehidupan bisnisnya. Mereka memulai kejayaan di atas darah Sekar, tanpa tahu bahwa gema dari Gunung Kawi telah mulai mengikuti langkah kaki mereka, bersiap untuk menagih utang darah yang paling mengerikan.