Rasa melayang yang mengerikan itu berakhir dengan hantaman telak yang memutus seluruh untai kewarasan Sekar. Ketika tubuhnya menghantam dasar jurang yang dipenuhi batuan kali yang tajam, dunia di sekitarnya seolah meledak dalam rasa sakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Bunyi berderak dari tulang-tulang rusuknya yang patah terdengar begitu dekat dan nyata di telinganya, disusul oleh sensasi dingin serta anyir saat darah segar mulai menyembur dari sela-sela bibirnya. Sekar terbaring telentang dalam posisi yang ganjil, menatap langit malam Gunung Kawi yang kian terhalang oleh pekatnya kabut hitam yang bergulung-gulung dari puncak tertinggi.
Setiap detik yang berlalu kini terasa berjalan sangat lambat, meregang bagaikan siksaan abadi yang tak kunjung usai. Sekar mencoba menarik napas demi mengisi rongga dadanya yang hancur, namun tubuhnya menolak untuk bekerja dengan benar. Setiap kali ia mencoba menghirup udara malam yang sedingin es, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang dihujamkan bersamaan ke dalam paru-parunya. Napasnya terenggut, tersendat di pangkal tenggorokan bersama gumpalan darah hangat yang terus mendesak keluar. Udara di sekitarnya terasa begitu mahal dan langka, sementara bayang-bayang kematian sudah berdiri sangat dekat di sisi tubuhnya yang kuyu. Ia terperangkap dalam jeruji raganya sendiri yang kini telah berubah menjadi rongsokan tak berdaya di atas tanah yang lembap.
Dari atas tebing yang curam dan menjulang tinggi, sayup-sayup suara deru mesin mobil Bram terdengar kian menjauh. Suara itu perlahan mengabur, lalu menghilang sepenuhnya, tenggelam di balik gemuruh angin gunung yang meniupkan aroma mistis ke seluruh penjuru lereng. Bersamaan dengan hilangnya suara mobil itu, benteng pertahanan batin Sekar runtuh tanpa sisa. Air mata keputusasaan yang hangat mengalir dari sudut matanya, membasahi pipinya yang berlumur tanah kering dan darah pekat. Rasa sakit fisik yang mendera seluruh tubuhnya ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa perih yang mengoyak-ngoyak hatinya. Pria yang selama lima tahun ini ia layani dengan penuh pengabdian dan ketulusan, pria yang selalu ia sebut namanya dalam setiap doa sepertiga malamnya, telah membuangnya seperti seonggok sampah yang tak berharga demi pesugihan harta.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, kilasan memori masa lalu mendadak berputar di benak Sekar yang kian meredup. Ia mengingat kembali hari pernikahan mereka, saat Bram menggenggam tangannya di depan altar dan berjanji dengan suara mantap untuk selalu melindungi dan menyayanginya dalam suka maupun duka. Ia mengingat masa-masa sulit ketika bisnis Bram merangkak dari bawah, di mana Sekar rela menjual seluruh perhiasan warisan ibunya demi membantu modal sang suami. Semua kenangan manis itu kini berubah menjadi duri yang menusuk kesadarannya. Segala pengorbanan dan kesetiaan yang ia berikan selama ini ternyata hanya dibalas dengan pengkhianatan yang paling keji dan berdarah. Bram tidak pernah benar-benar mencintainya; dirinya hanyalah bidak catur yang dilemparkan ke dalam jurang kematian setelah tujuannya tercapai.
"Kenapa... Mas... Apa salahku padamu...?" bisik Sekar di dalam relung benaknya yang kian menggelap. Jiwanya merintih pilu, memanggil nama suaminya dengan sisa-sisa energi kehidupan yang tersisa di ujung kesadaran. Namun, tentu saja tidak ada jawaban yang datang dari kegelapan jurang yang pekat. Hanya ada suara gesekan daun-daun bambu yang bergoyang tertiup angin malam, terdengar seperti suara tawa ejekan yang nyaring atas kenaifannya selama ini. Sekar menyadari dengan sangat terlambat bahwa kebaikannya telah dimanfaatkan oleh keserakahan yang tak berdasar. Di mata Bram dan Ratih, dirinya hanyalah sesembahan yang harus dikorbankan agar mereka bisa melangkah ke puncak kemewahan duniawi yang palsu.
Malam kian larut menembus sepertiga malam, dan hawa dingin di dasar jurang mulai terasa berbeda dari sebelumnya. Hawa dingin ini tidak lagi berasal dari tiupan angin pegunungan yang normal, melainkan sebuah sensasi beku yang mati rasa, yang merayap perlahan dari ujung-ujung jari kakinya menuju ke atas tubuh. Saraf-saraf tubuhnya mulai berhenti berfungsi satu per satu. Pandangan mata Sekar yang semula buram kini mulai menggelap di bagian tepinya, menyisakan lingkaran cahaya kecil di tengah yang kian menyusut seiring waktu. Detak jantungnya yang semula berpacu liar akibat syok dan rasa sakit, kini melambat secara drastis. Deg... Deg... Deg... Jarak antar-detakan terasa semakin jauh dan renggang, sebuah pertanda sahih bahwa sisa kehidupan fana sedang merembes keluar dari raganya yang kian mendingin.
Di tengah kondisi sakaratul maut yang mencekam dan sunyi itu, Sekar mulai mengalami ilusi visual yang luar biasa mengerikan. Di sekeliling tempatnya terbaring pasrah, kegelapan malam seolah memadat dan mewujud menjadi siluet-siluet hitam yang berkerumun mendekat. Mereka memiliki bentuk yang cacat dan mengerikan; beberapa menyerupai manusia tanpa wajah dengan kulit yang melepuh, dan yang lain tampak seperti binatang melata berukuran raksasa dengan mata yang menyala merah di kegelapan. Bau busuk bangkai yang teramat sangat menyengat dan memuakkan mendadak memenuhi indra penciumannya yang kian melemah. Makhluk-makhluk tak kasat mata penghuni dasar jurang itu mulai merayap mendekat, berbisik-bisik dengan suara yang menyerupai gemerisik ular di atas daun kering. Mereka seolah sedang mengantre dengan sabar, bersiap untuk memperebutkan dan mencabik-cabik jiwa Sekar yang sebentar lagi akan terlepas sepenuhnya dari raga yang hancur.
Ketakutan yang luar biasa sempat membuat Sekar ingin bergerak, mencoba merangkak pergi menjauhi kerumunan entitas mengerikan itu, namun jangankan menggerakkan tubuhnya yang patah, untuk sekadar berkedip pun ia sudah tidak memiliki daya lagi. Dadanya terasa semakin datar dan kaku, menolak untuk menampung oksigen sama sekali. Oksigen di sekitar pelataran batu itu seolah-olah telah diisap habis oleh keberadaan makhluk-makhluk kegelapan tersebut. Sekar benar-benar berada di titik nadir kehidupannya yang paling bawah. Jiwanya sudah berada di ujung tenggorokan, siap untuk ditarik masuk ke dalam keabadian yang dingin dan melupakan segala penderitaan dunia yang kejam ini. Ia merasa inilah akhir dari garis takdirnya, mati sebagai korban pesugihan yang terlupakan di dasar Gunung Kawi.
Namun, tepat di saat napas terakhirnya hampir terenggut sepenuhnya dan matanya bersiap tertutup untuk selamanya, sebuah perubahan besar terjadi di dasar jurang tersebut. Semua siluet makhluk gaib yang semula berkerumun di sekeliling Sekar mendadak menyurut mundur dengan tergesa-gesa. Mereka merayap kembali ke balik kegelapan dengan gestur ketakutan yang amat sangat, seolah-olah mereka baru saja melihat kedatangan sesuatu yang jauh lebih berkuasa, kuno, dan mengerikan daripada mereka semua. Keheningan yang mutlak dan mati langsung menyergap tempat itu dalam sekejap. Angin gunung yang semula menderu kencang tiba-tiba berhenti total, menyisakan atmosfer yang teramat sangat pekat, berat, hingga terasa menghimpit d**a yang hancur.
Dari kegelapan yang paling dalam di balik dinding-dinding tebing batu yang curam, muncul seberkas hawa hitam yang tebal dan bergulung-gulung seperti asap dupa yang pekat. Bersamaan dengan munculnya hawa hitam tersebut, suara langkah kaki yang sangat berat dan berirama lambat terdengar mendekati tubuh Sekar. Setiap kali langkah kaki tak kasat mata itu menapak ke tanah, batuan kali di sekitar tempat Sekar terbaring terasa bergetar halus seolah menyambut sang penguasa kegelapan. Sekar yang matanya sudah setengah tertutup hanya bisa merasakan bahwa sesosok entitas raksasa dengan energi kuno yang teramat sangat besar kini sedang berdiri tepat di atas kepalanya, menatap ke bawah ke arah tubuhnya yang hancur bersimbah darah dengan pandangan yang tak terjelaskan oleh logika manusia.
Detik itu juga, sebuah suara yang sangat berat, dalam, dan bergaung kuat seperti gema runtuhnya bukit-bukit batu purba mendadak meledak di dalam ruang kesadaran Sekar. Suara itu tidak melewati lubang telinganya yang sudah tersumbat darah, melainkan langsung menghantam inti jiwanya yang sedang berada di ambang batas kematian. "Wahai wanita yang napasnya telah terenggut oleh pengkhianatan darah dagingnya sendiri... Apakah kau memilih untuk menutup mata dan membiarkan jiwamu menjadi santapan kegelapan dengan sukarela di tempat terkutuk ini? Ataukah kau bersedia menyerahkan sisa eksistensimu yang hancur ini untuk menukar sebuah kesempatan emas membalas dendam yang paling hitam?" tanya suara gaib itu, memecah keheningan sakaratul maut Sekar dengan wibawa mistis yang pekat.
Tawaran itu bagaikan bensin yang disiramkan ke atas bara api yang hampir padam di dalam hati Sekar. Bisikan dari entitas itu seolah membangunkan sesuatu yang tertidur di dalam jiwanya. Di ambang kematiannya yang paling kritis, sisa-sisa rasa cinta, belas kasihan, kesedihan, dan kepatuhan yang selama ini ia miliki terhadap Bram hangus terbakar tanpa bekas dalam hitungan detik. Perasaan-perasaan suci itu kini bertransformasi menjadi sebuah kebencian murni yang hitam, dingin, dan membakar hebat. Rasa sakit akibat dikhianati melahirkan kekuatan baru yang menolak untuk menyerah pada kematian begitu saja. Sekar menolak untuk mati sebagai korban yang kalah dan terlupakan, sementara para pembunuhnya bersenang-senang menghabiskan harta dan menikmati kehidupan mewah di atas penderitaannya di kota sana.
Sekar mulai menyadari bahwa jika ia mati malam ini, maka Bram dan Ratih akan memenangkan segalanya. Mereka akan hidup bahagia di atas penderitaan dan darahnya yang tumpah di Gunung Kawi. Pikiran itu membuat jiwanya bergejolak hebat, memicu luapan amarah yang luar biasa besar hingga mampu menembus rasa sakit fisik yang melumpuhkannya. Kematian tidak boleh menjadi akhir baginya; kematian harus menjadi awal dari petaka bagi mereka yang telah menorehkan luka ini. Jiwanya yang semula rapuh kini mengeras bagaikan batu karang, siap menerima konsekuensi apa pun yang ditawarkan oleh kegelapan, asalkan ia bisa melihat kehancuran orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Di dalam batinnya yang sudah tidak lagi memiliki ikatan dengan kemanusiaan dan norma dunia, Sekar mengerahkan seluruh sisa kesadaran dan energinya untuk menjawab suara gaib tersebut. Ia berbicara langsung dari lubuk jiwanya dengan nada yang teramat dingin, tajam, dan penuh dengan racun kemarahan yang membara: "Aku menolak mati secara mengenaskan di tempat ini... Aku menolak membiarkan mereka menang atas darahku! Berikan aku kekuatan, pinjamkan aku napasmu, dan aku bersumpah akan memastikan hidup mereka berdua hancur berkeping-keping dengan cara yang paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini...!"
Mendengar jawaban yang penuh dengan gejolak dendam hitam dan ketetapan hati yang bulat itu, entitas kuno penunggu Gunung Kawi mengeluarkan suara tawa yang bergemuruh rendah. Suara tawa kepuasan yang teramat mengerikan itu membuat seluruh dasar jurang dan dinding-dinding tebing batu di sekeliling mereka bergetar hebat seolah terjadi gempa bumi. Asap hitam pekat yang melingkupi tempat itu mulai bergerak turun dengan sangat cepat, merayap dan membungkus seluruh tubuh Sekar yang bersimbah darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Asap itu memadat, membentuk sebuah kepompong kegelapan yang raksasa yang menyembunyikan wujud Sekar dari dunia luar. Proses pengikatan perjanjian gaib yang mistis dan mengikat jiwa telah resmi dimulai di bawah saksi bisu kegelapan Gunung Kawi. Napas Sekar yang sempat terenggut kini telah mati, siap digantikan oleh napas hitam kutukan yang akan membawa teror tiada akhir bagi mereka yang telah berani berkhianat demi harta pesugihan.