Pagi harinya, suasana rumah terasa begitu mencekam meski matahari bersinar terik. Sekar duduk di meja makan, menatap cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis. Di hadapannya, Bram duduk dengan setelan jas rapi, seolah-olah ketegangan sepertiga malam tadi tidak pernah terjadi. Tidak ada sisa bau anyir atau wewangian melati yang tercium, digantikan oleh aroma parfum maskulin yang mahal. Namun, pandangan mata Bram tetap sama: dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Sekar mencoba bersikap biasa, menyembunyikan getaran di tangannya saat meletakkan piring roti di dekat suaminya.
"Sekar, batalkan semua acaramu minggu ini," ujar Bram tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Suaranya datar, namun mengandung nada perintah yang tidak menerima bantahan. Sekar tersentak kecil, menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah suaminya dengan saksama, mencari tahu arti di balik perintah mendadak itu. "Ada apa, Mas? Bisnis atau hal lain?" tanya Sekar dengan nada selembut mungkin, mencoba memancing informasi. Bram meletakkan ponselnya ke meja dengan ketukan yang cukup keras, membuat cangkir kopi di dekatnya sedikit bergetar, lalu menatap Sekar lekat-lekat.
"Kita akan pergi berlibur. Hanya kita berdua," kata Bram, menyunggingkan senyum tipis yang terlihat sangat dipaksakan di kedua sudut bibirnya. Sekar tertegun. Kata "berlibur" harusnya menjadi angin segar bagi pernikahan mereka yang gersang, tetapi ingatan tentang foto di dalam tas Bram semalam langsung melintas di benaknya. Gerbang batu lereng Gunung Kawi. Jantung Sekar mulai berdegup kencang karena cemas. "Berlibur ke mana, Mas?" tanya Sekar lagi. Bram meminum kopinya perlahan sebelum menjawab, "Ke sebuah vila pribadi di lereng Kawi. Udara di sana bagus untuk menenangkan pikiranmu yang belakangan ini sering kacau."
Mendengar nama gunung itu disebut langsung dari mulut Bram, darah Sekar rasanya mendadak surut. Firasat buruknya kian menguat, berbisik bahwa ini bukanlah liburan biasa melainkan sebuah jebakan. Namun, Sekar sadar ia tidak boleh menunjukkan kecurigaannya sekarang. Ia harus berpura-pura naif agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh suaminya. "Benarkah, Mas? Terima kasih. Aku memang butuh suasana baru," dusta Sekar sambil membalas senyuman Bram, meski hatinya terasa diremas kuat. Bram mengangguk puas, mengira istrinya yang penurut telah masuk ke dalam perangkap dengan mudah.
Dua hari berlalu dengan cepat dalam kepura-puraan yang menyiksa. Sepanjang waktu itu, Sekar diam-diam mengemas barang-barangnya dengan perasaan waswas. Ia juga memperhatikan bahwa Bram sering melakukan panggilan telepon rahasia di balkon luar saat malam hari. Dari balik tirai kamar, Sekar sempat mendengar suaminya berbisik lirih kepada seseorang di seberang telepon. "Semua sudah siap. Waktunya tepat malam Jumat Kliwon nanti. Pastikan tempatnya sudah steril," ucap Bram dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Sekar mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan air mata yang hampir tumpah mendengar rencana busuk itu.
Hari keberangkatan pun tiba. Mobil hitam milik Bram membelah jalanan kota Malang menuju arah selatan, menanjak perlahan mendekati kawasan pegunungan. Semakin jauh mereka berkendara, pemandangan kota berganti dengan deretan pohon besar dan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti jalanan. Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya ditemani suara mesin yang menderu pelan. Bram fokus menyetir dengan tatapan lurus ke depan, sementara Sekar melempar pandangannya ke luar jendela. Pikirannya kalut, membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya di atas gunung sana nanti.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, menyisakan warna jingga keunguan yang tampak mistis di langit barat. Mobil mereka berbelok memasuki jalanan berbatu yang lebih sempit, dikelilingi oleh hutan bambu yang lebat di kanan dan kirinya. Gesekan daun bambu yang tertiup angin menghasilkan suara gemerisik yang aneh, terdengar seperti bisikan orang yang sedang merintih sedih. Sekar mengeratkan pegangan pada sabuk pengamannya. Hawa dingin di luar mobil mulai menembus kaca jendela, membuat kulit kuduknya meremang tanpa sebab. Ia merasa seolah sedang berjalan menuju gerbang kematian.
Akhirnya, sebuah bangunan tua bergaya kolonial terlihat di ujung jalan berbatu tersebut. Vila itu berdiri terisolasi dari pemukiman warga, dikelilingi halaman luas yang ditumbuhi rumput liar yang tinggi. Dindingnya yang putih sudah mulai berlumut dan kusam dimakan usia. Bram menghentikan mobilnya tepat di depan beranda yang gelap. "Kita sudah sampai," ucap Bram pendek, lalu mematikan mesin mobil. Keheningan hutan langsung menyergap indra pendengaran mereka begitu mesin mati. Sekar menatap bangunan di hadapannya dengan perasaan ngeri yang semakin membuncah di dalam d**a.
Bram turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Sekar, sebuah sikap manis yang terasa sangat palsu dan penuh kepura-puraan. "Ayo masuk, di luar sangat dingin," ajak Bram sambil meraih tas pakaian mereka dari bagasi belakang. Sekar melangkah turun dengan hati-hati, merasakan tanah di bawah kakinya terasa sangat lembap dan dingin. Saat melintasi beranda, Sekar mencium bau yang sangat ia kenal dari malam itu: wewangian melati yang pekat bercampur dengan bau kemenyan yang dibakar. Bau itu merayap keluar dari celah pintu utama vila yang tampak tertutup rapat.
Bram membuka pintu jati besar itu dengan kunci kuningan yang sudah berkarat. Suara engsel pintu yang berderit nyaring memecah keheningan malam, menggema ke dalam ruangan yang luas dan gelap gulita. Bram meraba dinding sejenak lalu menyalakan sakelar lampu. Cahaya kekuningan yang temaram segera menerangi ruang tamu yang dipenuhi dengan furnitur kayu kuno berlapis debu tipis. Di sudut ruangan, terdapat sebuah cermin besar berkaki kayu dengan ukiran berbentuk sulur tanaman yang tampak ganjil. Sekar berjalan masuk dengan langkah lambat, merasa diawasi oleh ribuan mata tak kasat mata.
"Kamarmu ada di lantai atas, Sekar. Pergilah istirahat lebih dulu, aku harus memeriksa meteran listrik di belakang," kata Bram sambil meletakkan tas di dekat tangga. Sekar hanya mengangguk pelan tanpa suara. Ia membawa langkahnya menaiki anak tangga kayu yang berdecit setiap kali dipijak. Suasana di lantai dua tidak kalah mencekam, dengan lorong panjang yang berujung pada sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lereng gunung yang gelap. Sekar memasuki kamar utama dan langsung mengunci pintunya dari dalam, mencoba mencari sedikit rasa aman.
Di dalam kamar, Sekar duduk di tepi ranjang ber-kanopi tua yang tampak usang. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar dengan menarik napas dalam-dalam. Namun, ketenangannya buyar saat ia mendengar suara langkah kaki halus dari arah luar jendela kamar. Langkah kaki itu terdengar seperti menyeret sesuatu di atas tanah basah. Sekar memberanikan diri mendekati jendela, menyibak sedikit tirai renda yang berdebu. Di bawah sana, di antara kegelapan halaman samping vila, ia melihat siluet dua orang sedang berdiri berdekatan dan berbisik dengan gestur tubuh yang mencurigakan.
Cahaya bulan yang temaram membantu Sekar mengenali siluet tubuh tersebut. Salah satunya jelas adalah Bram, suaminya. Namun, sosok di sebelahnya adalah seorang wanita berambut panjang dengan gaun merah yang ketat. Itu adalah Ratih, wanita yang ada di dalam foto instan yang Sekar temukan malam itu. Sekar menutup mulutnya dengan kedua tangan agar jeritan syoknya tidak lolos. Mereka berdua tampak sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, sesekali menunjuk ke arah kamar tempat Sekar berada sekarang. Pengkhianatan ini benar-benar nyata dan terjadi di depan matanya sendiri.
Sekar mencoba menajamkan pendengarannya di balik celah jendela yang sedikit terbuka. Suara angin gunung yang menderu membuat percakapan di bawah terdengar putus-putus, namun beberapa kata beracun berhasil tertangkap oleh telinga Sekar. "Malam ini adalah puncaknya, Bram. Jangan sampai kamu ragu di detik-detik terakhir," ucap Ratih dengan nada suara yang penuh desakan yang licik. Bram tampak mengangguk tegas, memeluk pinggang wanita itu dengan mesra. "Aku tidak akan ragu. Harta dan kejayaan bisnis kita jauh lebih penting daripada wanita lemah itu," balas Bram dengan nada dingin yang kejam.
Mendengar kalimat keji dari suaminya, hati Sekar hancur berkeping-keping menjadi abu. Rasa sakit akibat pengkhianatan itu merayap ke seluruh tubuhnya, berubah menjadi kemarahan yang membakar yang amat sangat dalam. Namun, rasa takut yang lebih besar segera menyusul ketika ia melihat Ratih menyerahkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening kepada Bram. "Campurkan ini ke dalam minumannya sebelum kita membawanya ke pelataran ritual bawah jurang," bisik Ratih diiringi tawa lirih yang terdengar seperti pekikan burung malam yang membawa sial bagi siapa pun yang mendengarnya.
Sekar mundur perlahan dari jendela dengan tubuh yang gemetar hebat karena kombinasi rasa takut dan marah yang meluap. Ia harus melarikan diri sekarang juga sebelum Bram kembali ke kamar ini membawa racun itu. Namun, ketika ia berbalik menuju pintu kamar, terdengar suara langkah kaki berat yang menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Itu adalah langkah kaki Bram yang menuju ke arahnya. Sekar panik, matanya liar mencari tempat bersembunyi atau jalan keluar lain, namun kamar itu terlalu lowong dan jendela di belakangnya terlalu tinggi dari tanah luar.
Kunci pintu kamar mendadak berputar dari luar dengan kasar. Bram ternyata memiliki kunci serep untuk kamar tersebut. Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Bram yang tersenyum lebar dengan segelas air putih di tangan kanannya. Tatapan matanya tampak sangat aneh, kosong namun penuh dengan ambisi yang gila dan mengerikan. "Sekar, kamu belum tidur? Ini, minumlah dulu agar kamu bisa tidur dengan nyenyak malam ini," ujar Bram dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, melangkah mendekati ranjang tempat Sekar berdiri mematung ketakutan.
Sekar menatap gelas yang disodorkan Bram dengan pandangan penuh kengerian yang tidak bisa disembunyikan lagi. Di dalam air bening itu, terdapat zat kematian yang siap merenggut nyawanya demi ambisi pesugihan suaminya. "Aku belum haus, Mas," jawab Sekar dengan suara tercekat di tenggorokan, mencoba menolak dengan halus seraya melangkah mundur perlahan. Senyum di wajah Bram langsung lenyap seketika, digantikan oleh gurat kemarahan yang bengis. "Jangan membantahku, Sekar! Minum ini sekarang juga!" bentak Bram dengan suara menggelegar, mencengkeram rahang Sekar dengan tangan kirinya yang sangat kuat.
Sekar berontak sekuat tenaga, memukul d**a Bram dan mencoba melepaskan cengkeraman menyakitkan pada wajahnya. Namun, kekuatan fisik Bram jauh lebih besar karena didorong oleh ambisi gila yang tak terkendali. Bram memaksa cairan di dalam gelas itu masuk ke dalam mulut Sekar yang terbuka karena jeritan kesakitan. Sebagian cairan tumpah membasahi pakaian Sekar, namun sebagian lagi berhasil tertelan masuk ke dalam tenggorokannya. Rasa panas seperti membakar langsung menjalar dari lidah hingga ke lambung Sekar, membuatnya terbatuk-batuk hebat dengan rasa sakit yang luar biasa menyiksa.
Pandangan mata Sekar mendadak kabur dan buram, kepalanya terasa berputar hebat seperti dihantam benda keras. Tubuhnya lemas tak bertulang, ambruk di atas lantai kayu yang dingin di bawah kaki suaminya. Di ambang kesadarannya yang kian menipis dan menggelap, Sekar melihat siluet Ratih yang masuk ke dalam kamar sambil tersenyum puas menatap tubuhnya yang sekarat. "Kerja bagus, Bram. Sekarang, mari kita bawa dia ke lereng jurang sebelum ritual gaibnya terlewat," ucap Ratih lirih. Kesadaran Sekar benar-benar hilang, terjerat dalam malam pengkhianatan yang paling hitam.