Jarum jam dinding baru saja melewati angka dua dini hari. Hawa dingin lereng kota Malang merayap masuk melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Sekar masih terjaga di sudut ranjang, memeluk lututnya sendiri. Kamar tidur yang luas itu terasa begitu lengang, menyisakan suara detak jam yang monoton dan menyiksa telinga. Matanya menatap nanar ke arah pintu utama yang masih terkunci rapat. Bram belum pulang. Ini adalah malam ketiga dalam minggu ini suaminya menghilang tanpa kabar, meninggalkan tanya yang kian mengikis ketabahan hati Sekar.
Suara deru mobil di halaman depan memecah keheningan yang mencekam. Sekar tersentak, bergegas turun dari ranjang tanpa alas kaki. Langkahnya tergesa namun senyap, menuruni anak tangga dengan jantung yang bertalu tidak beraturan. Di balik daun pintu jati yang kokoh, siluet Bram terlihat limbung. Saat kunci diputar dari luar, Sekar segera menarik gagang pintu. Sosok suaminya berdiri di sana. Wajah Bram tampak kuyu, dengan gurat lelah yang dipaksakan. Namun, bukan wajah itu yang membuat napas Sekar mendadak tercekat, melainkan aroma asing yang langsung menyeruak menusuk indra penciumannya.
Bukan aroma alkohol atau asap rokok yang biasa melekat pada pakaian pria pekerja keras. Bau ini sangat spesifik dan pekat. Perpaduan antara wewangian melati yang terlalu menyengat, samar-samar wangi kemenyan yang dibakar, dan aroma anyir yang ganjil. Sekar mematung di ambang pintu, menatap jaket wol yang tersampir di lengan Bram. "Mas baru pulang dari mana?" bisik Sekar, suaranya bergetar menahan gejolak di d**a. Bram tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap Sekar sekilas dengan pandangan dingin yang kosong, seolah-olah wanita di hadapannya hanyalah seonggok pajangan rumah yang tidak berarti.
"Bukan urusanmu, Sekar. Aku lelah," jawab Bram ketus, melangkah lebar melewati istrinya tanpa sedikit pun berniat menyentuh atau sekadar menenangkan. Sekar membalikkan badan, memandangi punggung suaminya yang kian menjauh menuju kamar mandi di lantai bawah. Ada sesuatu yang berbeda dari cara berjalan Bram malam ini; langkahnya terasa lebih berat, seolah membawa beban tak kasat mata yang sangat besar di pundaknya. Sekar berjalan mendekati meja makan, tempat Bram meletakkan tas kerja kulitnya secara sembarangan. Rasa penasaran yang bercampur firasat buruk mulai menuntun jemari Sekar untuk menyentuh tas tersebut.
Ketika jemarinya menyentuh ritsleting tas, rasa dingin yang tidak wajar langsung menjalar hingga ke siku Sekar. Kulitnya meremang seketika. Dengan tangan gemetar, ia membuka kompartemen utama tas kerja itu. Di antara tumpukan berkas perusahaan, Sekar menemukan sebuah bungkusan kain mori kecil yang diikat benang merah. Bau anyir dan wangi melati yang tadi ia cium ternyata bersumber dari benda ini. Di sudut kantong tas yang lain, selembar foto instan terjatuh. Jantung Sekar serasa berhenti berdetak saat melihat gambar Bram sedang merangkul mesra seorang wanita muda di depan sebuah gerbang batu kuno.
Gerbang batu itu sangat familier di telinga masyarakat Jawa Timur; sebuah pelataran sakral di lereng Gunung Kawi. Di balik foto tersebut, tertulis untaian kalimat dengan tinta merah darah: “Perjanjian telah mengikat kita, harta ini milik kita bersama.” Air mata Sekar meleleh tanpa suara, membasahi permukaan foto yang dingin itu. Khianat ini terasa begitu nyata dan menghantam telak harga dirinya sebagai seorang istri. Di kamar mandi, terdengar suara gemercik air yang mendadak berhenti, digantikan oleh suara tawa lirih Bram yang terdengar sangat asing, seperti bukan suara suaminya lagi. Teror baru saja dimulai.
Sekar bergegas mengembalikan foto dan kain mori itu ke dalam tas, lalu melangkah mundur dengan napas memburu. Ia buru-buru menyeka air matanya saat pintu kamar mandi terbuka. Bram keluar dengan handuk kecil yang mengeringkan rambutnya. Pandangan pria itu langsung tertuju pada posisi Sekar yang berdiri terlalu dekat dengan meja makan. Tatapan Bram mendadak berubah tajam dan penuh menyelidik. "Apa yang sedang kamu lakukan di situ?" tanya Bram dengan nada rendah yang mengintimidasi. Langkah kakinya yang berat perlahan mendekat, membuat Sekar terdesak hingga punggungnya membentur pinggiran meja kayu yang dingin.
"Tidak ada, Mas. Aku hanya ingin merapikan tasmu," dusta Sekar, berusaha menjaga agar suaranya tidak gemetar. Bram berhenti tepat di depan Sekar. Jarak yang dekat ini membuat Sekar kembali menghirup aroma anyir ganjil yang ternyata belum sepenuhnya lenyap oleh sabun mandi. Bram meraih tas kerjanya dengan sentakan kasar, lalu memeriksa bagian dalamnya dengan teliti. Setelah memastikan semuanya aman, Bram menatap Sekar dengan senyum sinis yang belum pernah Sekar lihat sebelumnya. "Jangan pernah menyentuh barang-barangku lagi, Sekar. Tugasmu di rumah ini hanya menuruti perintahku, bukan menjadi mata-mata."
Tanpa menunggu respons dari istrinya, Bram membalikkan badan dan berjalan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas. Setiap entakan kakinya di anak tangga kayu terdengar bergaung aneh, seolah ada suara langkah kaki lain yang mengikuti di belakangnya. Sekar memegangi dadanya yang sesak, merosot duduk di lantai dapur yang dingin. Air matanya kini tumpah tanpa kendali. Wanita muda di dalam foto itu, gerbang batu Gunung Kawi, dan gelagat aneh Bram malam ini menyusun sebuah teka-teki mengerikan. Sekar tahu, suaminya tidak hanya sedang bermain api dengan wanita lain, tetapi juga dengan sesuatu yang gaib.
Malam kian larut, namun kantuk enggan menghampiri Sekar. Ia memilih menggelar sajadah di kamar tamu lantai bawah, mencoba mencari ketenangan yang tercerabut dari jiwanya. Namun, saat ia bersujud, telinganya menangkap suara bisikan-bisikan lirih dari arah plafon rumah. Suara itu menyerupai gumaman mantra dalam bahasa Jawa kuno yang berat dan bergaung. Sekar menghentikan salatnya dengan tubuh gemetar hebat. Bulu kuduknya meremang sempurna. Ketika ia memberanikan diri mendongak, ia melihat bercak cairan hitam mirip minyak pekat mulai menetes dari langit-langit, tepat jatuh di atas sejadah putih bersih yang sedang digunakannya.
Sekar terpekik kecil, spontan merangkak mundur menjauhi noda hitam yang mulai menyebarkan bau busuk seperti bangkai. Di lantai atas, terdengar suara Bram terbahak-bahak dalam tidurnya—sebuah tawa kepuasan yang terdengar sangat mengerikan di keheningan sepertiga malam. Sekar memeluk tubuhnya sendiri di sudut kamar, menyadari bahwa rumah yang selama ini menjadi tempat perlindungannya, kini telah berubah menjadi sangkar tak kasat mata yang penuh teror.