The Capital Residence, Jakarta Pusat – September 2021
[8:26 AM]
Aku mengetahui penggerebekan itu dari panggilan Pak Reyhan. Otoritas pasar modal datang ke kantor Grahatama Capital untuk mengamankan dokumen dan meminta keterangan. Hartanto dibawa untuk diperiksa. Julian tidak ditemukan.
“Jangan pergi ke sana,” kata Pak Reyhan. “Anda sedang dinonaktifkan. Biarkan penyidik bekerja.”
“Saya tidak berniat ke sana.”
Aku tetap membuka berita yang mulai muncul di beberapa media. Foto petugas membawa kotak dokumen memenuhi layar. Judulnya menyebut dugaan pengaturan transaksi dan aliran dana melalui perusahaan investasi. Nama Hartanto tercantum dalam laporan, tetapi belum ada kesimpulan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas seluruh rangkaian itu.
Bu Sekar memintaku datang ke kantor siang hari untuk menyampaikan keterangan tambahan. Sebelum berangkat, aku memberi tahu pengacara dan Irene. Tidak seorang pun menyuruhku memberi komentar kepada wartawan.
Di Treasury Tower, suasananya tegang. Beberapa pegawai mengerumuni layar berita. Saka berdiri jauh dari mereka, tangan terlipat di dada. Ia tidak lagi melontarkan tuduhan, tetapi jelas tidak percaya semua masalah ini akan selesai hanya karena Hartanto dibawa untuk diperiksa.
“Julian belum ditemukan,” katanya ketika aku lewat.
“Saya tahu.”
“Kalau dia menghilang, bukti yang dia punya juga bisa hilang.”
“Rekaman dan catatan yang sudah dilaporkan tidak bergantung pada saya mengejarnya.”
Saka memandangku seolah ingin membantah, tetapi kali ini ia hanya mengangguk.
Siang itu aku memberikan keterangan tambahan tentang pertemuan di Medals dan hotel. Aku menjelaskan tawaran Baskara tanpa menyatakan bahwa itu bukti kejahatan. Aku tidak ingin mengubah ucapan seseorang menjadi kesimpulan yang belum bisa aku dukung.
Dalam perjalanan pulang, Irene mengirim pesan bahwa Oliver mendengar Julian mungkin terlihat di sekitar Senopati. Aku tidak langsung membalas. Aku sudah berjanji kepada Sekar dan pengacara untuk tidak bertindak sendiri.
Namun malamnya, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya hanya alamat Lola dan waktu: “Kalau ingin mendengar sisi Julian, datang sendiri.”
Aku menunjukkan pesan itu kepada pengacara. Ia menyarankanku tidak datang sendirian dan meminta lokasi dibagikan kepada Sekar. Aku tahu keputusan itu masih berisiko. Aku juga tahu Julian bisa menghilang lagi sebelum ada kesempatan bertanya.
***
Lola Espiritu y Libacion, Senopati, Jakarta Selatan – September 2021
[9:18 PM]
Aku tidak datang sendiri. Pak Reyhan mengantarku, tetapi menunggu di luar bar bersama pengacara yang mengatur agar Sekar mengetahui lokasi kami. Aku mengirim pesan saat tiba dan berjanji tidak akan mendekati Julian jika ada tanda bahwa keadaan tidak aman.
Lola jauh lebih lengang daripada malam ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Musik mengalun pelan. Beberapa meja kosong, dan lampu di sudut ruangan membuat botol-botol di belakang bar berkilau seperti benda yang tidak pernah disentuh.
Aku tidak melihat Julian pada awalnya. Aku duduk dekat pintu, memesan air mineral, lalu memeriksa pesan di ponsel. Tidak ada kabar dari nomor yang mengundangku.
Pelayan yang mengenaliku bertanya apakah aku mencari seseorang. Aku mengatakan hanya menunggu. Ia tidak mendesak, tetapi matanya sempat beralih ke ruang privat di bagian belakang.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Julian duduk sendirian di salah satu sofa, tanpa jas dan dengan segelas minuman yang hampir tidak disentuh. Ia tampak lebih lelah daripada yang pernah aku lihat. Teleponnya tergeletak di meja, layarnya mati. Tidak ada Hartanto, tidak ada orang-orang Grahatama, dan tidak ada senyum tenang yang biasa ia gunakan untuk mengendalikan percakapan.
Aku teringat rekaman di Medals, tawaran Baskara, serta file yang masih menunggu untuk diserahkan kepada penyelidik. Julian telah menghilang setelah penggerebekan, sementara namanya muncul di setiap bagian cerita yang belum terjawab.
Pak Reyhan mengirim pesan dari luar: “Kami di dekat pintu. Jangan masuk ke ruang tertutup.”
Aku membalas bahwa aku melihat Julian dan akan tetap di area umum. Lalu aku berdiri. Julian mengangkat kepala, melihatku, dan wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan.
Ia menggeser gelasnya ke samping, seolah sudah menunggu sejak tadi.
Aku berhenti beberapa langkah darinya. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan, tetapi aku ingat pesan pengacara: dengarkan, jangan mengancam, jangan mengambil apa pun.
Julian menatapku lama. “Kau akhirnya datang.”
Aku tidak duduk. “Kita perlu bicara.”
***
[9:21 PM]
Julian tidak mempersilakanku duduk. Aku pun tidak meminta. Pak Reyhan dan pengacara menunggu di dekat pintu, masih dalam pandanganku.
“Kau menghilang setelah Grahatama digeledah,” kataku.
“Kalau saya tinggal, mereka akan mengajukan pertanyaan yang belum siap saya jawab.”
“Sekarang kau siap?”
“Tidak. Tapi saya lelah lari.”
Aku berdiri di seberang meja. “Kenapa kau mendekati saya?”
Julian memutar gelasnya tanpa meminumnya. Ia mengatakan bahwa bertahun-tahun lalu, Baskara Tirtayasa menghancurkan perusahaan investasi kecil yang ia bangun bersama beberapa rekan. Akses modal mereka diputus, para klien berpindah, dan sebuah transaksi yang mereka tolak tetap dilakukan dengan nama perusahaan mereka. Ketika semuanya runtuh, Julian kehilangan pekerjaan, reputasi, dan sebagian besar tabungannya.
“Lalu kau menjadi psikolog,” kataku.
“Saya mencoba membangun hidup yang tidak bergantung pada pasar. Saya juga mulai mempelajari orang-orang yang membuat perusahaan saya jatuh.”
“Dan akhirnya kau menjadi bagian dari permainan mereka.”
Julian menunduk. “Saya meyakinkan diri bahwa saya hanya masuk untuk mengumpulkan bukti. Lama-lama saya menikmati kuasa yang datang bersama informasi.”
Ia mengaku memilihku karena posisiku sebagai pialang memberinya akses pada peristiwa yang ingin ia pantau. Peringatannya tentang Evalean, pesanan 1.500 lot, dan ajakannya bertemu Hartanto bukan kebetulan. Ia ingin namaku masuk ke dalam jaringan Grahatama, lalu memanfaatkan kedekatan itu untuk memperoleh bukti yang bisa menjatuhkan Baskara.
“Jadi kau memakai saya.”
“Ya.”
Jawaban itu membuat kemarahanku lebih tajam daripada alasan panjang mana pun.
“Kau tahu saya bisa kehilangan pekerjaan dan nama baik.”
“Saya tahu.”
“Dan tetap melakukannya.”
“Saya bilang kepada diri sendiri bahwa kalau Baskara jatuh, semua itu akan sepadan.” Ia menatapku. “Ternyata itu hanya cara lain untuk membenarkan tindakan saya.”
Aku teringat bagaimana ia berbicara tentang risiko, selalu seolah-olah manusia hanyalah angka yang bisa dipindahkan. “Apa yang kau inginkan dari saya sekarang?”
“Kesempatan untuk menyerahkan bukti yang saya punya. Setelah itu, saya akan menyerahkan diri.”
Aku tidak menjawab. Aku meminta ia berhenti bicara sampai pengacara dan petugas yang berwenang hadir. Julian mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mengendalikan akhir percakapan.