Lola Espiritu y Libacion, Senopati, Jakarta Selatan – September 2021
[9:46 PM]
Pengacara menghubungi Bu Sekar dan petugas yang menangani laporan Grahatama. Kami tidak pindah ke ruang tertutup. Julian tetap duduk di sofa dekat pintu, sementara aku berdiri beberapa langkah darinya.
Tidak lama kemudian, dua petugas datang. Mereka meminta Julian menjelaskan maksudnya menyerahkan bukti dan memastikan ia datang tanpa paksaan. Julian menjawab bahwa ia ingin memberikan catatan transaksi serta bersedia memberi keterangan.
Ia mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul hitam dari tasnya, tetapi tidak menyerahkannya langsung kepadaku. Pengacara meminta agar benda itu tidak berpindah tangan tanpa dicatat. Salah satu petugas memotret posisi buku, mencatat waktu, lalu meminta Julian menjelaskan asal-usulnya.
“Ini daftar akun yang dipakai Baskara dan orang-orangnya,” katanya. “Saya mulai mencatat setelah perusahaan saya dijatuhkan. Ada tanggal, kode rekening, dan nama perantara.”
“Apakah semua catatan ini dibuat pada saat transaksi berlangsung?” tanya petugas.
“Sebagian. Sebagian lagi saya susun setelahnya dari dokumen yang saya kumpulkan.”
Ia tidak mencoba menyebut buku itu bukti yang sempurna. Ia mengatakan beberapa bagian perlu diverifikasi dengan data bank dan dokumen Grahatama. Nama Baskara muncul berkali-kali, tetapi banyak entri menggunakan kode.
Petugas menuliskan penjelasan Julian dan meminta ia tidak mengubah atau menambah isi buku. Setelah prosedur awal selesai, Julian mendorong buku itu ke tengah meja agar diserahkan melalui jalur resmi. Aku tidak menyentuhnya.
“Kenapa tidak menyerahkannya sejak awal?” tanyaku.
“Karena saya ingin memastikan Baskara jatuh.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang saya harus menjawab untuk bagian yang saya lakukan.”
Petugas meminta Julian ikut ke kantor untuk memberi keterangan dan menjalani proses berikutnya. Ia mengangguk tanpa menawar. Sebelum berdiri, ia menatapku.
“Saya tidak meminta kau memaafkan saya.”
“Bagus. Karena saya belum tahu apakah saya bisa.”
Julian mengikuti petugas keluar. Buku catatan itu dimasukkan ke kantong bukti dan disegel. Aku meminta nomor tanda terima, lalu menyerahkannya kepada pengacara agar catatan rantainya jelas.
***
Kantor Otoritas Pasar Modal, Jakarta – September 2021
[11:18 AM]
Aku tidak ikut ke kantor ketika Julian dibawa. Aku menunggu di Lola bersama pengacara dan Pak Reyhan sampai petugas memberi tahu bahwa keterangan awalnya sudah dicatat. Buku hitam itu berada dalam penguasaan mereka, bukan di tanganku.
Pagi berikutnya, aku dipanggil untuk menyerahkan salinan kronologi dan memastikan bahwa flashdisk dari Grahatama telah diamankan sesuai berita acara. Pengacara datang bersamaku. Bu Sekar juga hadir sebagai perwakilan kepatuhan.
Petugas menunjukkan tanda terima buku catatan Julian dan daftar barang yang sudah disegel. Aku membacanya dari awal sampai akhir. Nomor, waktu, serta kondisi segel dicatat. Aku tidak mengomentari isi yang belum diverifikasi.
“Apakah Anda mengenali kode akun ini?” tanya petugas.
“Saya mengenali beberapa nomor yang pernah saya lihat pada ringkasan Grahatama. Saya tidak bisa memastikan pemiliknya.”
“Apakah Anda akan membantu mencocokkan dengan dokumen perusahaan?”
“Jika diminta secara resmi dan melalui perusahaan.”
Petugas mencatat jawaban itu. Mereka menerima kronologiku tentang pertemuan di Medals, tawaran Baskara, dan pengakuan Julian di Lola. Aku menegaskan bahwa aku tidak memiliki rekaman Julian sendiri. Yang aku dengar adalah rekaman yang ia putar, dan aku tidak akan menyebutnya sebagai salinan yang aku simpan.
Aku menyerahkan juga bukti pengembalian pinjaman tiga miliar, permintaan pembatasan dua miliar, serta pesan ancaman. Pengacara memastikan setiap dokumen memiliki tanda terima. Untuk flashdisk, petugas mencatat bahwa aku menyalin file tanpa izin dan menerimanya melalui berita acara pengamanan, termasuk pernyataan tentang tindakanku sendiri.
Tidak ada yang mengatakan bahwa semua itu akan langsung membersihkan namaku. Pemeriksaan masih berjalan; sebagian catatan Julian harus dicocokkan dengan sumber lain.
Saat kami keluar, aku merasa seperti baru menyerahkan sebagian besar hidupku ke dalam map dan kantong bersegel. Aku tidak tahu apa yang akan ditemukan di dalamnya. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berhenti menahan bukti demi mengendalikan cerita.
Ponselku menyala dengan panggilan dari nomor yang tidak tersimpan. Aku hampir mengabaikannya, tetapi sebuah pesan masuk menyusul: “Baskara meminta Anda datang malam ini. Kali ini, tanpa Julian.”
***
Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[2:37 PM]
Pesan Baskara yang aku terima pagi itu memintaku datang malam ini. Aku meneruskan undangan itu kepada pengacara, Bu Sekar, dan Pak Reyhan. Tidak ada alamat lengkap, hanya nama rumah Baskara dan waktu pertemuan. Pengacara menyarankanku menolak atau meminta undangan resmi melalui penyidik. Aku meminta agar pertemuan dijadwalkan esok pagi supaya semua pihak mengetahui lokasi dan waktunya.
Namun Baskara menelepon sebelum aku sempat membalas. Suaranya terdengar tenang.
“Arsenio, saya ingin memberi Anda kesempatan terakhir untuk menjelaskan pilihan Anda.”
“Saya sudah menyerahkan keterangan kepada otoritas.”
“Justru karena itu kita perlu bicara. Anda tidak harus datang. Tapi bila Anda ingin memahami posisi Anda, datanglah besok pagi.”
“Apakah Hartanto ada di sana?”
“Tidak.”
“Julian?”
“Dia sudah membuat pilihannya.”
Aku tidak langsung menyetujuinya. Aku memastikan bahwa pertemuan dijadwalkan esok pagi, lalu mengakhiri panggilan. Pengacara mengatakan jangan menerima pertemuan tanpa koordinasi dengan petugas. Sekar menyampaikan bahwa perusahaan tidak dapat melindungiku di luar proses resmi.
Sore harinya, aku diminta menandatangani berita acara tambahan tentang penyalinan file. Aku mengakui bahwa aku mengambil salinan tanpa izin. Aku tidak mengurangi bagian itu meskipun tahu pengakuan tersebut bisa memperberat pemeriksaan internal.
Setelah rapat, Irene menunggu di dekat lift. Ia tahu Baskara menghubungiku karena aku meneruskan pesannya kepadanya.
“Kamu tidak harus membuktikan keberanian dengan datang,” katanya.
“Saya tahu.”
“Kalau tetap pergi, jangan pergi sendiri.”
“Saya belum memutuskan.”
Kami berpisah tanpa pertengkaran. Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan dua pilihan yang sama-sama membuatku tidak nyaman: membiarkan Baskara terus mengatur narasi tentangku, atau bertemu dengannya dengan orang-orang yang tahu lokasi dan waktunya.
Malam itu aku mengirim jawaban bahwa aku bersedia datang esok hari, dengan syarat pengacara mengetahui alamat dan jadwalnya. Baskara membalas singkat: “Saya hanya ingin bicara.”
Aku tidak percaya kalimat itu cukup untuk membuatku aman. Namun aku juga tidak mau memasuki pertemuan tersebut tanpa persiapan.
***
Kediaman Baskara Tirtayasa, Jakarta Selatan – September 2021 (Keesokan harinya)
[10:14 AM]
Aku tiba bersama pengacara, yang menunggu di mobil di luar pagar. Bu Sekar dan petugas yang menangani laporan mengetahui alamat serta waktu pertemuan. Aku masuk setelah penjaga memeriksa namaku dan mengantar ke ruang tamu yang menghadap taman.
Baskara berdiri di dekat jendela. Ia tidak menawarkan minuman.
“Anda sudah menyerahkan buku Julian,” katanya.
“Saya menyerahkan benda yang diserahkan Julian kepada petugas. Mereka yang memeriksanya.”
“Dan Anda percaya buku itu akan menyelamatkan Anda?”
“Saya tidak datang untuk meminta diselamatkan.”
Baskara menatapku lama, lalu mengulangi tawarannya: tempat di dalam Lingkaran, perlindungan, dan akses kepada kekayaan yang tidak akan aku dapatkan sebagai pialang biasa. Ia menyebutnya kesempatan untuk berhenti menjadi pion dan mulai menentukan arah.
“Saya sudah menolak,” kataku.
“Belum. Anda mengatakan akan berpikir.”
“Sekarang saya sudah memutuskan.”
Aku menolak bergabung. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan membantu siapa pun mengatur transaksi atau menyembunyikan aliran dana. Baskara tidak mengangkat suara. Ia hanya tersenyum kecil.
“Kalau begitu, Anda akan memahami bagaimana rasanya ketika orang lain menentukan cerita tentang Anda.”
Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Aku keluar dan memberi kabar kepada pengacara bahwa aku sudah berada di luar. Ketika mobil mulai bergerak, ponselku dipenuhi notifikasi.
Sebuah media daring menerbitkan artikel yang menyebutku sebagai dalang jatuhnya Evalean. Artikel itu menggunakan salinan transaksi yang pernah aku proses dan menghilangkan konteks bahwa pesanan 1.500 lot berasal dari Julian. Namaku ditulis besar di judul. Dalam beberapa menit, fotoku menyebar ke berbagai akun.
Aku menelepon pengacara dan meminta ia menyimpan tautan serta tangkapan layar. Bu Sekar memintaku tidak membalas media atau menghubungi Baskara. Pak Reyhan mengabari bahwa wartawan sudah berkumpul di lobi Treasury Tower.
Ketika mobil mendekati gedung, aku melihat kamera dan mikrofon di depan pintu masuk. Beberapa wartawan mengenali kendaraan kami dan bergerak mendekat.
Aku tidak tahu berapa banyak orang yang sudah percaya pada tuduhan itu. Aku hanya tahu kali ini, aku tidak akan bisa melewati lobi tanpa menjawab pertanyaan mereka.