INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[9:40 AM]
Hari pertama tanpa akses transaksi terasa lebih panjang daripada biasanya. Aku masih datang ke kantor, tetapi hanya untuk menjawab pertanyaan pemeriksaan dan menyerahkan catatan yang diminta. Aku tidak boleh membuka layar nasabah atau memberi instruksi perdagangan.
Bu Sekar mengirim undangan sidang etik untuk siang berikutnya. Pak Wirasetya, Pak Reyhan, dan perwakilan sumber daya manusia akan hadir. Aku diminta menjelaskan rekomendasi Evalean yang pernah aku berikan, pesanan 1.500 lot milik Julian, pinjaman Hartanto, serta alasanku berbohong mengenai kiriman dari London.
Pengacara keluarga Tjana membaca daftar pertanyaan bersamaku. Ia tidak menyusun jawaban; ia hanya mengingatkan agar aku membedakan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, dan apa yang masih aku duga.
“Jangan berusaha membuat diri Anda tampak bersih,” katanya. “Jelaskan tindakan Anda, termasuk yang keliru.”
“Saya sudah mengakui soal pinjaman dan kebohongan itu.”
“Bagus. Tapi Anda juga harus menerima bahwa tindakan menyalin file bisa dinilai sebagai pelanggaran.”
Aku mengangguk. Aku tidak lagi ingin mengubah bagian buruk dari cerita hanya karena takut pada akibatnya.
Di lorong, Saka sedang berbicara dengan seorang staf. Ia berhenti ketika melihatku. Sejak harga Tirtamas jatuh, ia tampak lebih pendiam. Aku tahu ia ikut rugi, tetapi itu tidak otomatis membuat hubungan kami membaik.
“Besok saya akan hadir,” katanya. “Saya punya sesuatu yang perlu saya luruskan.”
“Urusan apa?”
“Dengar saja di sana.”
Ia berjalan pergi sebelum aku sempat bertanya lagi. Aku tidak tahu apakah ia akan mengulang tuduhan lama atau justru mencabutnya. Aku menuliskan ucapannya di catatan waktu, lalu mengirim kabar kepada Sekar.
Malamnya, aku mengumpulkan kronologi dari hari jatuhnya Evalean sampai ancaman yang datang ke apartemen. Aku tidak menambahkan angka yang tidak aku ingat. Di ujung halaman, aku menulis satu kalimat untuk diri sendiri: aku pernah membuat keputusan yang salah, tetapi aku tidak akan mengarang keputusan yang tidak pernah aku buat.
***
[1:15 PM]
Sidang etik berlangsung di ruang rapat yang sama tempatku menyerahkan kartu akses. Bu Sekar membuka pertemuan dengan menjelaskan bahwa sidang ini menilai kepatuhanku terhadap prosedur, bukan menggantikan pemeriksaan otoritas.
Pak Wirasetya duduk di ujung meja. Pak Reyhan berada di sampingnya. Aku menceritakan semuanya berurutan: rekomendasi Evalean berdasarkan informasi yang tersedia saat itu, peringatan Julian, pesanan 1.500 lot yang ia berikan, pinjaman Hartanto, pencatatan namaku di Grahatama, serta kebohongan tentang ibuku.
Aku juga menyampaikan bahwa aku menyalin ringkasan aliran dana tanpa izin. Aku tidak membenarkannya. Aku mengatakan lokasi flashdisk dan bahwa aku belum menyentuhnya sejak pengacara memintaku menunggu instruksi.
Bu Sekar memutar log panggilan resmi dari hari Evalean jatuh. Suaraku terdengar menyarankan agar pesanan besar itu ditahan sampai risiko pasar diperiksa. Julian menolak dan meminta transaksi tetap dijalankan. Rekaman itu tidak menghapus tanggung jawabku atas rekomendasi terdahulu, tetapi menunjukkan bahwa aku tidak mendorong penjualan 1.500 lot tersebut.
Setelah rekaman selesai, Saka meminta bicara.
“Saya menuduh Arsenio sudah tahu harga akan jatuh,” katanya. “Saya mencabut tuduhan itu. Saya ikut mendengar log panggilan tadi. Dia menyarankan hold, dan Julian yang menolak.”
Ruangan hening. Saka mengusap wajahnya sebelum melanjutkan.
“Waktu saya menuduh lo di lantai bursa, saya cuma melihat angka di layar dan ingin ada orang yang disalahkan. Saya tidak punya bukti. Saya juga ikut kehilangan uang di Tirtamas belakangan ini, jadi saya tahu rasanya marah. Tapi itu bukan alasan untuk memelintir fakta.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku pernah membenci Saka karena kata-katanya, tetapi pengakuan itu tidak langsung membuat semua rasa kesal hilang.
Pak Wirasetya mencatat kesaksiannya. Sidang berakhir dengan keputusan bahwa akses transaksiku tetap dinonaktifkan sampai pemeriksaan eksternal selesai. Tidak ada pembebasan ataupun pemecatan hari itu.
Di luar ruang rapat, Saka menunggu sebentar.
“Gue tetap nggak suka sama lo,” katanya.
“Saya juga tidak minta kamu suka.”
“Tapi tuduhan gue salah.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum mengejek. Ia pergi, meninggalkanku dengan satu hal yang jarang aku dapatkan di kantor: pengakuan yang tidak disertai permintaan agar aku melupakan semuanya.
***
Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[4:05 PM]
Kesaksian Saka mengubah nada pemeriksaan internal, tetapi belum mengubah statusku. Aku masih dilarang menyentuh transaksi. Bu Sekar mengatakan laporan perusahaan bersama bukti yang tersedia akan diteruskan kepada otoritas pasar modal.
“Apakah semua bukti sudah cukup?” tanyaku.
“Penyelidik yang akan menilai itu,” jawabnya. “Tugas kita menyerahkan catatan yang benar dan menjaga agar tidak ada yang diubah.”
Pengacara mendampingiku membuat pernyataan tambahan. Aku menjelaskan bahwa Julian memutar rekaman yang menyebut Baskara Tirtayasa di Medals Psychology Center. Aku tidak mengaku memiliki salinan rekaman itu, sebab memang tidak memilikinya. Aku juga menuliskan bahwa Julian mengetahui aku menyalin file Grahatama.
Ketika pembicaraan sampai pada flashdisk, tim kepatuhan menghubungi penasihat hukum perusahaan untuk menentukan cara mengamankannya. Aku diminta membiarkannya di tempat dan tidak menyambungkan ke komputer mana pun. Pengacara keluarga Tjana hadir saat instruksi tertulis dibuat. Aku menandatangani berita acara bahwa benda itu akan diserahkan melalui jalur resmi.
“Saya tidak tahu apakah isi file itu bisa dipakai,” kataku.
“Bukan Anda yang menentukan,” jawab Sekar. “Yang penting, Anda tidak mengubahnya lagi.”
Menjelang malam, Pak Reyhan menerima telepon dari kantor pusat. Ia tidak memberi tahu isi pembicaraan secara rinci, tetapi setelah menutup telepon ia meminta semua orang menyimpan dokumen kerja yang terkait dengan Evalean dan Tirtamas. Perusahaan menerima pemberitahuan resmi untuk menjaga catatan transaksi.
Di luar gedung, aku melihat Hartanto keluar dari mobil di seberang jalan. Ia menatap ke arah pintu masuk sebentar, lalu kembali masuk ke kendaraannya. Aku tidak mendekatinya. Aku mengirimkan waktu dan lokasi itu kepada Sekar.
Malam itu, berita singkat muncul di ponselku tentang pemeriksaan sejumlah perusahaan investasi yang terkait dengan transaksi saham. Nama Grahatama belum disebut. Aku membagikan tautannya kepada pengacara dan berhenti membaca komentar orang-orang yang mulai menebak siapa dalangnya.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak mencoba mengejar jawaban dengan mendatangi orang yang aku curigai. Aku menunggu jalur resmi bergerak, meski menunggu terasa seperti membiarkan nasibku ditentukan orang lain.