INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[10:26 AM]
Pagi setelah melihat saldo pinjaman mencapai lima miliar, aku mencoba menganggap rutinitas kantor tidak berubah. Aku tetap menangani nasabah tim tiga dan menyelesaikan laporan. Di luar kantor, rekening pribadiku bergerak naik-turun. Aku belum pernah menyatukan catatan transaksi dengan data perusahaan.
Panggilan dari Julian masuk ke meja kerjaku saat aku sedang meninjau pesanan beli seorang nasabah. Aku mengangkat gagang telepon dan memastikan rekamannya aktif.
“Pak Arsenio, ada pesanan beli Tirtamas dari nasabah Anda yang belum dieksekusi?” tanyanya.
Aku melihat antrean transaksi. “Ada pesanan yang masih menunggu harga sesuai instruksi nasabah.”
“Jangan jalankan dulu.”
“Nasabah sudah memberi instruksi beli. Ada alasan tertentu untuk menahannya?”
“Kalau pesanan itu masuk sekarang, harga Tirtamas tidak akan turun seperti yang kami butuhkan.”
Aku menatap layar. “Siapa yang dimaksud dengan kami?”
Julian mengabaikan pertanyaan itu. “Tahan saja beberapa menit. Nanti saya beri tahu kapan.”
“Saya tidak bisa menahan pesanan nasabah tanpa alasan yang sah.”
“Ini bukan pesanan besar.”
“Jumlahnya tidak mengubah kewajiban saya.”
Suara Julian menjadi lebih datar. “Anda sudah menerima modal dari kami. Jangan pura-pura hubungan kita tidak berubah.”
Tanganku terasa dingin di gagang telepon. Untuk pertama kalinya, ia menghubungkan dana pinjaman dengan tindakan yang diminta dari pekerjaanku.
“Saya menerima pinjaman pribadi dengan kontrak tertulis. Itu tidak memberi Anda hak mengatur pesanan nasabah.”
“Kalau Anda ingin mempertahankan keuntungan yang sudah dibuat, Anda perlu memahami siapa yang membantu Anda.”
Aku menutup mikrofon dan memberi tahu Pak Reyhan bahwa seorang nasabah memintaku menahan pesanan beli tanpa dasar. Aku tidak menyebutkan nama Julian dulu; aku hanya meminta arahan. Reyhan menyuruhku mengikuti instruksi nasabah dan melaporkan panggilan tersebut kepada kepatuhan.
Aku kembali ke gagang. “Saya tidak akan menahan pesanan itu demi menjatuhkan harga. Jika Anda punya instruksi yang sah sebagai nasabah, sampaikan melalui jalur resmi.”
Julian terdiam beberapa detik. “Pikirkan baik-baik, Arsenio.”
“Saya sudah memutuskan.”
Ia memutus panggilan. Aku menjalankan pesanan beli sesuai harga dan urutan yang ditentukan nasabah, lalu menyimpan catatan panggilan. Aku tahu aku baru saja menolak permintaan yang bisa mengganggu hubunganku dengan Julian dan Hartanto. Namun menuruti permintaan itu akan berarti menggunakan posisiku untuk merugikan nasabah.
***
[10:48 AM]
Aku melaporkan panggilan Julian kepada Bu Sekar dan Pak Reyhan. Aku mencatat bahwa ia memintaku menahan pesanan beli Tirtamas agar harga turun, lalu mengaitkan permintaan itu dengan pinjaman yang aku terima.
Sekar meneleponku kembali. “Apakah pesanan nasabah sudah dijalankan sesuai instruksi?”
“Sudah, Bu. Saya tidak menahannya.”
“Apakah Julian menyebut nama pihak lain atau memberi instruksi transaksi tertentu?”
“Tidak selain meminta saya menahan pesanan itu.”
“Jangan menghubunginya untuk berdebat. Simpan rekaman dan jangan mengubah catatan transaksi.”
“Saya mengerti.”
Pak Reyhan memintaku menulis laporan kejadian sementara. Aku membuat kronologi dari waktu panggilan, isi permintaan, sampai pesanan nasabah dieksekusi. Aku tidak menambahkan dugaan bahwa Julian sedang mengatur harga; aku hanya menulis kalimat yang benar-benar aku dengar.
Saka berdiri di ujung meja dan menatapku saat aku mengirim laporan. “Masih berurusan sama Julian?”
“Saya sedang melaporkan panggilan nasabah kepada kepatuhan.”
“Nasabah atau teman?”
“Dalam panggilan tadi, ia menghubungi saya sebagai nasabah. Permintaannya tidak sesuai prosedur.”
Saka tampak ingin bertanya lebih jauh, tetapi Pak Reyhan menyuruhnya kembali ke mejanya. Aku tidak ingin informasi itu menyebar ke seluruh lantai. Sekar harus memutuskan apakah rekaman tersebut perlu diteruskan ke tim investigasi.
Setelah laporan diterima, aku duduk kembali. Ada rasa lega karena aku menolak permintaan itu. Namun di baliknya muncul ketakutan yang belum pernah aku rasakan saat menghadapi masalah dengan Saka: pinjaman tiga miliar bukan hanya angka di rekening. Julian baru saja menggunakannya sebagai alasan untuk menuntut sesuatu.
Aku tidak tahu apakah Hartanto berpikir sama. Aku juga belum tahu apakah perjanjian pinjaman melindungiku dari tekanan seperti itu. Yang aku tahu, aku tidak akan mengorbankan pesanan nasabah untuk menjaga hubungan dengan mereka.
***
[2:03 PM]
Setelah laporanku dikirim, aku mengirim pesan melalui jalur resmi kepada Hartanto. Aku mengatakan bahwa Julian telah mengaitkan pinjaman dengan permintaan untuk menahan pesanan nasabah dan aku menolak melakukannya. Aku meminta semua komunikasi selanjutnya tentang kontrak disampaikan tertulis.
Hartanto menelepon balik. “Saya ingin menjelaskan sebelum Anda membuat kesimpulan.”
“Saya hanya menyampaikan apa yang terjadi.”
“Bisa kita bicara malam ini? Saya punya dokumen yang perlu Anda lihat.”
Aku tidak langsung menjawab. Bu Sekar telah memintaku untuk tidak melakukan penyelidikan sendiri, tetapi pembicaraan itu menyangkut pinjaman yang telah aku terima dan kemungkinan penyalahgunaan namaku.
“Saya akan melaporkan pertemuan itu terlebih dahulu.”
“Silakan. Saya tidak meminta Anda menyembunyikannya.”
Aku meminta Sekar arahan. Ia mengizinkanku menerima dokumen yang secara langsung berkaitan dengan kontrakku, tetapi melarangku menandatangani atau mengubah apa pun. Ia meminta salinan diserahkan ke bagian kepatuhan.
Aku mengirim pemberitahuan kepada Hartanto bahwa aku bersedia melihat dokumen tersebut dengan syarat tidak ada pembahasan pesanan nasabah. Kami menjadwalkan pertemuan di ruang kantor Grahatama Capital setelah jam kerja.
Sebelum pergi, aku membuka salinan kontrak pinjaman yang sudah aku simpan. Semua klausul yang aku tinjau menyebut pinjaman tiga miliar rupiah. Tidak ada bagian yang memberi mereka kuasa atas transaksiku di INASDAQ.
Aku juga melihat riwayat transaksi Evalean yang terkait dengan hari kejatuhan. Namaku tercatat sebagai pialang yang mengeksekusi pesanan Julian, bukan sebagai pemilik saham. Aku tidak tahu dokumen apa yang ingin Hartanto tunjukkan, tetapi aku tidak akan menandatangani penjelasan yang berbeda dari fakta.
Pak Reyhan mengetahui aku akan bertemu Hartanto. “Jangan pergi sendirian kalau kamu merasa terancam.”
“Saya akan bertemu di kantor mereka dan sudah memberi tahu kepatuhan.”
“Kalau percakapan berubah jadi tekanan, tinggalkan.”
Aku mengangguk. Aku membawa salinan kontrak dan catatan kejadian, tanpa membawa data perusahaan. Aku ingin tahu mengapa Julian menganggap pinjaman itu memberinya hak memberi instruksi kepadaku.
***
Grahatama Capital, Jakarta – September 2021
[7:18 PM]
Hartanto menemuiku di ruang rapat kecil. Ia meletakkan dua map di atas meja, lalu mengatakan bahwa dokumen tersebut berkaitan dengan pencatatan modal dan transaksi yang sudah berlangsung. Aku memastikan tidak ada orang lain di ruangan, kemudian mengingatkan bahwa aku tidak akan menandatangani apa pun.
“Baca dulu,” katanya.
Map pertama memuat catatan dana pinjaman tiga miliar rupiah. Di bagian klasifikasi, dana itu tidak ditulis sebagai pinjaman pribadi, melainkan sebagai investasi atas namaku di Grahatama Capital.
Aku membaca baris itu berulang kali. “Ini tidak sesuai kontrak yang saya tandatangani.”
“Secara administrasi, dana harus ditempatkan di bawah akun investasi.”
“Kontrak saya menyebut pinjaman. Saya tidak pernah menyetujui investasi di perusahaan Anda.”
Hartanto tidak menjawab. Ia membuka map kedua. Di dalamnya ada ringkasan transaksi Evalean. Namaku tercatat sebagai salah satu penjual besar pada hari harga saham itu jatuh.
“Saya tidak menjual saham Evalean untuk rekening pribadi,” kataku. “Saya mengeksekusi pesanan Julian sebagai pialang.”
“Catatan pasar menunjukkan transaksi yang Anda proses.”
“Menjalankan pesanan nasabah tidak sama dengan memiliki saham atau menjadi penjualnya.”
Aku menutup map itu dan tidak menyentuh pena yang ada di meja. Catatan tersebut bisa membuatku tampak sebagai investor yang ikut melepas saham, padahal aku tidak pernah memiliki posisi Evalean. Aku mulai memahami mengapa Julian memintaku menahan pesanan Tirtamas. Mereka mungkin ingin aku terus melakukan hal-hal yang bisa membuat catatan mereka tampak seperti bukti bahwa aku bagian dari operasi mereka.
“Kenapa nama saya dicatat sebagai investor?”
Hartanto menyilangkan tangan. “Kalau Anda terus bekerja sama, struktur itu bisa dijelaskan.”
“Saya tidak bekerja sama untuk mengatur harga.”
“Jangan buru-buru membuat masalah menjadi lebih besar.”
Aku mengeluarkan ponsel dan memotret halaman yang berkaitan dengan kontrakku saja. Aku tidak memotret data lain. “Saya akan menyerahkan ini kepada kepatuhan.”
Hartanto menatapku, kali ini tanpa senyum. “Kalau Anda keluar sekarang, Anda juga tercatat di dalamnya.”
Aku berdiri. Kalimat itu terdengar seperti ancaman, tetapi dokumen yang ia tunjukkan membuat ancaman tersebut nyata. Aku tidak tahu apakah catatan itu cukup untuk menjeratku, tetapi aku tahu aku perlu melaporkannya segera.