INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[11:20 AM]
Keesokan harinya, aku menelepon Julian dan mengatakan bahwa aku bersedia meninjau dokumen pinjaman. Kami menjadwalkan pertemuan dengan Hartanto pada malam itu. Aku tahu seharusnya aku memberi tahu Bu Sekar bahwa aku sedang mempertimbangkan kembali tawaran yang telah aku tolak. Aku menunda laporan itu dengan alasan belum menandatangani apa pun.
Aku berkata kepada diri sendiri bahwa aku hanya meminta dokumen, bukan menerima dana. Alasan itu terdengar cukup masuk akal untuk membuatku melanjutkan, meski aku tahu aku sedang menghindari aturan yang sudah aku setujui.
Hartanto membawa perjanjian dengan jumlah pokok tiga miliar rupiah, jadwal pembayaran, bunga, dan sumber dana perusahaan yang tercantum. Aku membacanya perlahan dan membawa salinan untuk diperiksa pihak independen sebelum menandatangani.
Tidak ada syarat untuk membeli saham tertentu, memberikan data kantor, atau mengatur transaksi nasabah. Aku mengirim dokumen itu kepada penasihat hukum pribadi dan menunggu konfirmasi bahwa klausulnya dapat dipahami. Setelah pemeriksaan, aku meminta beberapa penjelasan tertulis. Beberapa hari kemudian, setelah seluruh syarat dijelaskan dan diperbaiki, aku memutuskan menerima pinjaman tersebut.
Aku sempat membuka kanal kepatuhan untuk melaporkan keputusan itu. Namun sebelum mengetik, aku teringat bahwa Sekar sebelumnya sudah memintaku tidak menanggapi tawaran tanpa memberi tahu mereka. Aku takut ia akan menghentikan semuanya. Aku menutup layar dan menyebutnya penundaan, bukan penyembunyian.
Setelah seluruh dokumen ditandatangani, tiga miliar rupiah masuk ke rekening investasi terpisah atas namaku. Aku memeriksa jumlahnya dan membandingkannya dengan kontrak. Angkanya sama sampai rupiah terakhir.
Aku menutup aplikasi setelah memastikan catatan transfer tersimpan. Jumlah itu membuat dadaku terasa sesak, bukan lega. Aku baru saja menerima tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada yang pernah aku pegang.
***
The Capital Residence, Jakarta Pusat – September 2021
[8:45 PM]
Dana tiga miliar itu berada di rekening investasi terpisah. Aku tidak memindahkan sepeser pun ke rekening gaji dan tidak memasukkan dana pribadi ke dalamnya. Aku membuat tabel sederhana untuk mencatat setiap transaksi, sumber keputusan, dan biaya yang timbul.
Di atas kertas, semua tampak teratur. Namun kepalaku terus kembali kepada satu pertanyaan: apakah aku menerima pinjaman itu karena yakin bisa mengelolanya, atau karena aku takut hidup dengan penghasilan yang terbatas?
Aku mengingat ayah yang memilih keraton, ibu yang meninggalkanku demi hidup yang ia anggap lebih baik, dan diriku yang selalu mengatakan bahwa uang adalah tujuan. Barangkali aku menggunakan angka untuk menutupi hal-hal yang tidak bisa aku jelaskan kepada diri sendiri.
Ponselku menyala dengan pemberitahuan saldo. Aku memeriksanya, lalu mematikan layar. Tidak ada rasa senang yang bisa aku kenali. Tidak ada ledakan bahagia seperti yang aku bayangkan saat pertama kali membayangkan memiliki modal besar.
Yang ada hanya tanggung jawab dan sedikit ketakutan.
Aku menelepon Dokter Zui Madrim di Amerika untuk menanyakan jadwal konsultasi lanjutan. Aku belum membuat janji, tetapi setidaknya aku mulai mencari tahu pilihan yang tersedia. Biayanya masih perlu dihitung dan aku tidak akan menggunakan uang pinjaman untuk perawatan pribadi tanpa memeriksa kontraknya.
Setelah panggilan berakhir, aku kembali ke tabel transaksi. Aku menulis satu aturan tambahan: tidak ada transaksi sebelum analisis selesai dan alasan pembelian dicatat. Aku tidak akan mengejar keuntungan untuk membuktikan bahwa keputusan menerima pinjaman itu benar.
Aku menyimpan tabel tersebut di perangkat pribadi yang tidak terhubung dengan data perusahaan. Besok aku akan mulai meninjau pasar menggunakan informasi publik dan prosedur yang berlaku.
Saldo besar itu masih di sana. Aku menatapnya lagi, menunggu perasaan yang seharusnya datang. Tidak ada.
***
INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[8:17 AM]
Selama sepuluh hari berikutnya, aku membagi perhatian antara pekerjaan di tim tiga dan rekening investasi pribadi yang sudah aku laporkan. Aku tidak menggunakan komputer kantor untuk transaksi pribadi, dan tidak membawa informasi nasabah ke dalam analisisku.
Pada awal periode itu, Julian menelepon melalui jalur yang tercatat. Ia tidak menyebut nama saham. Ia hanya berkata bahwa sektor logistik mungkin menjadi perhatian pasar dalam waktu dekat.
Aku tidak langsung bertindak. Aku mencatat ucapan itu dan melaporkannya kepada Bu Sekar. Ia mengingatkan bahwa petunjuk umum tetap dapat memengaruhi keputusanku, jadi setiap pembelian harus didukung analisis publik yang aku susun sendiri.
Aku meneliti laporan terbuka, membaca pengumuman perusahaan, memeriksa likuiditas, lalu membandingkan beberapa emiten dalam sektor itu. Aku tidak membeli hanya karena Julian menyebut sektor. Aku memilih satu saham setelah memeriksa data yang dapat diakses semua investor.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan hasil yang naik-turun. Ada posisi yang bergerak sesuai perkiraan, ada pula yang hampir tidak berubah. Aku menutup transaksi yang tidak lagi sesuai dengan rencana dan mencatat kerugiannya, meski angka merah membuatku ingin menunggu lebih lama.
Modal pinjaman tetap berada di rekening terpisah. Setiap transaksi memiliki alasan tertulis. Aku tidak menyembunyikan sumber dana dan tidak menggunakan nama nasabah untuk mencari keuntungan pribadi.
Di luar rekening pinjaman, tabunganku sendiri sekitar dua ratus juta rupiah. Aku memutarnya di rekening lain dengan analisisku sendiri, tanpa petunjuk Julian. Dua rekening itu tidak pernah dicampur.
Pada hari kesepuluh, saldo rekening pinjaman mencapai lima miliar rupiah. Aku memeriksa riwayat transaksi dan menghitung kembali biaya, bunga, serta posisi terbuka. Hasil itu bukan semata-mata keuntungan bersih sebelum semua kewajiban diperhitungkan, tetapi angka di layar tetap jauh lebih besar daripada modal awal.
Aku menutup aplikasi dan kembali melihat papan harga kantor. Aku tahu angka itu tidak menjelaskan apakah aku lebih bahagia atau lebih aman.
***
The Capital Residence, Jakarta Pusat – September 2021
[10:32 PM]
Malam itu aku duduk sendirian di apartemen, membuka dua rekening investasi secara bergantian. Rekening pinjaman menunjukkan lima miliar rupiah. Rekening tabungan pribadi menunjukkan sekitar dua ratus juta yang aku putar berdasarkan analisis sendiri.
Aku memastikan keduanya tetap terpisah. Modal pinjaman berkembang melalui beberapa keputusan yang aku ambil setelah meneliti informasi publik, dibantu satu petunjuk umum dari Julian tentang sektor logistik. Tabunganku sendiri tidak memakai petunjuk itu. Aku tidak ingin kelak salah mengingat sumber dari setiap hasil.
Aku memeriksa kontrak pinjaman lagi. Ada bunga dan jatuh tempo. Lima miliar di layar bukan uang yang seluruhnya menjadi milikku. Sebagiannya harus dikembalikan, dan sebagian hasilnya belum tentu aman sampai semua posisi ditutup.
Aku menutup aplikasi, lalu membukanya kembali beberapa menit kemudian. Angkanya tidak berubah. Biasanya aku akan merasa puas melihat saldo sebesar itu. Aku sudah membayangkan hidup tanpa perlu memikirkan gaji tiga ratus dolar atau komisi yang naik turun.
Namun tidak ada rasa senang yang bisa aku kenali.
Mungkin aku lelah. Mungkin aku takut kehilangan semuanya. Atau mungkin uang memang tidak mampu memberiku perasaan yang selama ini aku kira akan datang bersamanya.
Aku menyandarkan kepala ke kursi dan memandang layar yang sudah gelap. Aku telah memperoleh lebih banyak uang dalam sepuluh hari daripada yang pernah aku bayangkan, tetapi pertanyaan tentang diriku sendiri belum berubah.
Aku memasukkan laptop ke dalam tas dan mematikan lampu. Besok aku akan kembali bekerja, kembali mencatat, dan memastikan setiap keputusan tetap bisa aku pertanggungjawabkan.
Saldo itu akan tetap ada saat pagi datang. Perasaan yang aku tunggu belum juga muncul.