INASDAQ Sekuritas, Treasury Tower, Jakarta Pusat – September 2021
[9:06 AM]
Bu Sekar memanggilku ke ruang kepatuhan pagi berikutnya. Ia mengatakan tim kepatuhan sedang meninjau arus dana besar yang masuk ke rekening investasi pribadiku. Aku tahu pertanyaan itu akan datang. Aku sudah menyiapkan jawaban yang seharusnya tidak pernah aku siapkan.
“Dana tiga miliar itu berasal dari mana?” tanyanya.
Aku bisa mengatakan pinjaman dari Hartanto dan menyerahkan kontrak. Aku bisa menjelaskan catatan Grahatama yang baru aku lihat. Namun aku teringat peringatan Hartanto bahwa namaku sudah tercatat sebagai investor dan penjual Evalean. Ketakutan mengalahkan akal sehat.
“Itu kiriman uang dari ibu saya di London,” jawabku.
Sekar memandangku lama. “Ibu Anda mengirim tiga miliar rupiah?”
“Iya, Bu. Untuk membantu saya.”
“Bisa Anda buktikan?”
“Bisa. Saya akan meminta dokumennya.”
Sekar menutup berkas di hadapannya. “Saya tidak percaya begitu saja, Arsenio. Jumlahnya besar, dan Anda sebelumnya melaporkan tawaran pinjaman dari Hartanto. Sekarang dana masuk setelah Anda mengatakan menolak.”
Aku tidak menjawab. Kebohongan itu baru saja aku ucapkan, tetapi sudah terasa berat di mulut.
“Besok siang, bawa bukti asal dana dan dokumen pendukung. Jangan melakukan transaksi baru sampai sumber dana ini jelas.”
“Baik, Bu.”
“Kalau Anda tidak bisa membuktikannya, saya akan meneruskan pemeriksaan ini. Jangan mengubah catatan dan jangan meminta siapa pun membuat dokumen untuk Anda.”
Aku mengangguk. Pertemuan selesai, tetapi aku tetap duduk beberapa detik setelah Sekar berdiri. Aku telah berbohong untuk pertama kalinya dalam pemeriksaan ini. Kini aku punya waktu kurang dari satu hari untuk membuktikan cerita yang bahkan tidak benar.
Saat kembali ke meja, aku teringat map Hartanto. Namaku tercatat dalam sesuatu yang tidak aku setujui, dan kebohonganku kepada Sekar membuat posisiku jauh lebih buruk.
***
[10:17 AM]
Aku kembali ke meja setelah bertemu Bu Sekar dengan satu hari tersisa untuk menyerahkan bukti asal dana. Aku tidak punya bukti kiriman dari ibuku karena cerita itu bohong. Yang aku punya justru kontrak pinjaman Hartanto dan catatan Grahatama Capital yang menunjukkan hal lain.
Aku membuka salinan kontrak yang tersimpan di rumah, lalu membaca nama perusahaan dan jumlahnya lagi. Tidak ada satu pun dokumen yang bisa membuktikan bahwa ibuku mengirim tiga miliar rupiah. Jika aku meminta Hartanto membuat surat palsu, kebohongan itu akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.
Ponselku beberapa kali bergetar. Aku mengabaikannya sampai pekerjaan mendesak selesai. Aku tidak tahu apakah Sekar sudah memeriksa lebih jauh atau menunggu bukti yang aku janjikan. Tenggatnya besok siang.
Pak Reyhan menyadari aku tidak fokus. “Kamu baik-baik saja?”
“Saya sedang menyelesaikan urusan pribadi.”
“Kalau ada masalah yang memengaruhi pekerjaan, katakan.”
“Saya akan mengatakannya jika perlu.”
Ia tidak memaksa. Aku kembali memeriksa angka di layar, tetapi pikiranku tertahan pada jawaban yang aku berikan kepada Sekar. Kiriman dari London. Kalimat itu keluar mudah, dan justru itu yang membuatku takut.
Aku bisa mengaku sekarang dan menjelaskan pinjaman dari Hartanto. Namun aku sudah melihat dokumen yang menempatkan namaku di Grahatama sebagai investor dan penjual Evalean. Jika aku mengaku sebelum memahami semua itu, aku takut mereka akan menganggapku ikut mengatur transaksi.
Alasan itu terdengar seperti pembenaran. Aku mengetahuinya, tetapi tetap menggenggamnya karena tidak punya pilihan lain yang terasa aman.
Saat jam makan siang, aku menyimpan kontrak dan foto dokumen di folder terenkripsi di laptop pribadi. Aku tidak mengirimkannya ke siapa pun. Bukti itu belum cukup menjelaskan apa yang terjadi, tetapi setidaknya aku tidak akan kehilangannya.
Tenggat semakin dekat. Aku harus menemukan cara membuktikan asal dana tanpa membuat posisiku lebih buruk.
***
The Capital Residence, Jakarta Pusat – September 2021
[8:36 PM]
Malam itu aku sedang memeriksa ulang dokumen Hartanto ketika bel apartemen berbunyi. Aku tidak sedang menunggu siapa pun. Aku menutup laptop dan melihat layar interkom.
Irene berdiri di depan pintu bersama Oliver.
Aku membuka pintu sedikit. “Ada apa?”
“Kami perlu bicara,” kata Oliver.
Aku menatap Irene. Wajahnya tegang, berbeda dari pertemuan singkat kami di kantor. “Oliver mendengar sesuatu dari kenalannya,” katanya. “Tentang Grahatama Capital.”
Aku membuka pintu lebih lebar, tetapi tidak langsung mempersilakan mereka masuk. “Apa yang dia dengar?”
Oliver menjawab bahwa sebuah catatan investasi mencantumkan namaku sebagai investor di Grahatama. Ia belum melihat dokumen aslinya, tetapi sumbernya cukup dekat dengan perusahaan untuk membuatnya khawatir.
“Siapa sumbernya?”
“Gue nggak bisa kasih nama tanpa izin orangnya.”
“Kalau begitu, saya juga tidak bisa memastikan ceritanya benar.”
Irene melangkah masuk setelah aku menggeser badan. Oliver mengikutinya. Aku menutup pintu dan mengarahkan mereka ke ruang tamu.
Di atas meja ada salinan kontrak pinjaman dan foto beberapa halaman dokumen yang aku ambil dari ruang Hartanto. Irene melihatnya sebelum aku sempat memasukkannya ke dalam map.
“Kamu benar-benar terlibat dengan mereka?” tanyanya.
“Saya menerima pinjaman.”
“Pinjaman?” Oliver mengulang. “Lo bilang ke perusahaan soal ini?”
Aku tidak menjawab segera. Kebohongan kepada Sekar sudah cukup berat; sekarang aku juga harus menjelaskan keputusan yang sengaja aku sembunyikan.
“Saya sedang mengurusnya.”
Irene menatapku dengan kecewa. “Kamu seharusnya bilang.”
Aku mengambil map dari meja. “Kita bicara kalau sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Sen, itu alasan yang sama yang kamu pakai setiap kali ada masalah.”
Aku tahu mereka datang untuk membantu, tetapi aku belum siap membiarkan orang lain masuk ke urusan yang bisa menyeret nama mereka. Aku mengundang mereka duduk, namun suasana ruangan sudah berubah menjadi konfrontasi.
***
[8:49 PM]
“Jangan bicara seolah-olah aku baru saja mengkhianatimu,” kata Irene. “Aku tahu namamu tercatat di Grahatama, dan kamu mengaku menerima pinjaman. Apa lagi yang kamu sembunyikan?”
“Tidak semua hal bisa saya ceritakan sebelum saya tahu risikonya.”
“Kalau kamu terus menutup diri, bagaimana kami bisa membantu?”
Oliver meletakkan kedua telapak tangannya di lutut. “Gue nggak datang buat menghakimi lo. Kontak gue bilang nama lo muncul di daftar investor dan transaksi Evalean. Itu bisa membuat lo terlihat seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar.”
“Saya tahu.”
“Lo tahu, tapi masih menutupinya dari Sekar?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak ingin mengakui bahwa aku berbohong kepada Sekar. Tidak di depan mereka, setidaknya belum.
Irene berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauh. “Kamu menerima uang tiga miliar dari orang-orang yang mengaku mengendalikan pasar, lalu namamu muncul sebagai investor mereka. Kamu masih bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan?”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Kalau begitu berhenti bertindak seolah kamu bisa membereskan semuanya sendirian.”
Oliver mengatakan keluarga Tjana memiliki pengacara yang dapat meninjau kontrak dan catatan perusahaan. Ia menegaskan bahwa aku tidak harus menerima bantuan itu, tetapi aku setidaknya perlu bicara dengan seseorang yang memahami risiko.
“Saya tidak mau melibatkan keluarga Tjana,” kataku.
“Kenapa?” Irene bertanya.
“Karena ini urusan saya. Saya tidak ingin bantuan itu berubah menjadi utang lain.”
“Ini bukan pinjaman,” katanya. “Aku menawarkan pengacara keluarga.”
“Saya tetap menolak.”
Irene menggeleng. “Keras kepala sekali.”
“Saya sedang mencoba melindungi kalian dari masalah ini.”
“Dengan berbohong kepada semua orang?”
Aku menatapnya. Kalimat itu mengenai tepat di bagian yang sejak tadi aku hindari.
Oliver berdiri dan meminta Irene menenangkan diri. Namun Irene tidak berhenti. Ia mengatakan bahwa aku bukan satu-satunya orang yang akan menanggung akibat jika nama mereka ikut terseret, lalu memintaku menunjukkan semua dokumen yang aku miliki.
“Saya akan menyerahkannya kepada kepatuhan,” jawabku. “Bukan kepada siapa pun yang tidak berwenang.”
Wajah Irene berubah. Ia mengira aku sedang menolak dirinya, bukan sekadar menjaga dokumen. Aku juga tidak menjelaskan lebih jauh.
Oliver mengajaknya pulang. Sebelum keluar, Irene berkata bahwa ia tidak akan berhenti peduli hanya karena aku menolaknya. Aku tidak menjawab.
Pintu tertutup. Apartemen kembali sunyi, tetapi pertengkaran itu masih bergema di kepalaku. Aku kehilangan kesempatan menerima bantuan yang mungkin berguna, dan aku tetap belum memiliki bukti untuk menjelaskan semuanya.