Burhan menoleh ke belakang—tangannya terulur meraih sesuatu dari kursi penumpang bagian belakang. "Buat kamu, Za." Burhan mengangsurkan bouqet mawar merah dan kotak hitam berukuran kecil.
Aziza melirik sekilas ke arah Burhan. Mulutnya terkunci rapat. Ia seakan ragu menerima pemberian Burhan.
"Buat kamu, Za." Burhan mengulang kembali ucapannya.
"Terima kasih." Hanya itu yang lolos dari bibir Aziza. Ia meletakkan bunga kesukaannya dan kota persegi di pangkuan.
Mobil melaju dengan pelan. Burhan tersenyum. Sesekali lelaki itu melirik istrinya yang memandang lurus jalanan siang hari ini.
"Tidak dibuka kotaknya?" Burhan memecah keheningan beberapa menit di antara mereka.
"Nanti saja di rumah." Aziza menjawab datar.
Burhan menghela napas. Sspertinya ia memang harus berusaha lebih keras lagi. Padahal sebelumnya, Aziza akan begitu senang jika diberi bunga mawar merah. Walaupun di rumah sudah menanam sendiri.
Bunga mawar yang dikasih Burhan, biasanya diletakkan di vas kaca. Lalu, Aziza meletakkannya di kamar mereka. Aziza juga menghidu aroma bunga itu dalam-dalam.
"Kamu sudah makan, Za?" Burhan mencoba kembali bersuara.
"Sudah."
"Aku belum." Burhan menoleh sebentar ke arah Aziza. "Makan siang dulu, ya."
"Aku sudah makan, Mas. Langsung pulang saja."
"Aku belum makan, Za. Tadi tidak sempat makan Banyak kerjaan." Padahal, bukan karena sibuk. Aknan tetapi, memang beberapa terakhir ini Burhan kerap melewatkan makan siang. Kepalanya dipenuhi nama Aziza. Istrinya masih bersikap dingin kepadanya yang membuat Burhan melakukan sesuatu menjadi malas. "Temani aku makan, ya," ujarnya kembali.
Aziza bergeming.
Beberapa menit kemudian, Burhan membelokkan mobilnya di halaman rumah makan. Lelaki itu melepas sabuk pengaman setelah mematikan mesin, lantas menoleh ke arah istrinya. "Ayo, Za!"
Aziza menarik napas pendek. "Aku tunggu di mobil saja, Mas."
"Za ... please, temani aku makan."
Aziza langsung melepas sabuk pengaman. Ia malas berdebat dan mendengar suara permohonan suaminya. Sehingga Aziza memilih menuruti permintaan lelaki itu.
"Kamu tidak pesanan makanan, Za?" tanya Burhan ketika sudah tiba di dalam rumah makan. Ia baru saja menyebutkan menu makan siangnya yang terlambat kepada pelayan.
"Aku sudah makan."
"Setidaknya pesan makanan apa, Za. Masa aku makan sendiri? Kamu mau jadi penonton aku makan?" Alis Burhan terangkat sebelah.
Aziza melirik sekilas ke arah suaminya. Lantas, tatapannya berpaling ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat mereka.
"Jus alpukat saja, Mbak."
Pelayan itu hanya mengangguk, lalu mencatat pesanan Aziza. Setelah itu berpamitan.
Selama menunggu pesanan datang, Aziza pura-pura sibuk dengan ponselnya. Meski sebenarnya ia malas. Akan tetapi, tak ada cara lain selain memilih benda itu untuk dimainkan.
Aziza membuka salah satu medsos. Ia sudah lama tidak membuka aplikasi i********:. Dulu, sebelum menikah, Aziza kerap aktif bermain di sana.
Burhan berkali-kali melirik istrinya yang sibuk dengan ponsel. Ia merasa diabaikan. "Lagi berbalas pesan sama siapa, sih, Za?"
Aziza refleks mendongak.
"Dari tadi kamu sibuk dengan Handpohone."
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Ya, kan, ada aku di sini. Lagi berbalas pesan sama siapa, sih?"
Aziza tersenyum. "Yang penting, aku tidak sedang berbalas pesan dengan lelaki lain, Mas."
Burhan terdiam.
"Kalau sudah menikah, harus pintar menjaga hati pasangannya. Bukan berbalas pesan dengan orang luar dengan alasan perkenalan." Aziza sengaja berkata dengan kalimat penuh penekanan di kalimat akhir.
Tenggorokan Burhan tercekat. Ucapan Aziza begitu menyindirnya. "Za aku—"
Kalimat Burhan seketika terhenti karena seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka. Burhan mendengkus pelan.
***
"Assalamu'alaikum. Halo, Pah?" Burhan menempelkan ponsel ke telinga ketika benda pipih miliknya berdering menampilkan nama 'Papah'.
''Wa'alaikumussalam. Han, kesehatan mamah menurun."
"Sekarang mamah di mana, Pah?" tanya Burhan cepat.
"Di rumah sakit."
"Rumah sakit mana, Pah?"
Jatmiko kemudian menyebutkan nama rumah sakit di mana istrinya dirawat.
Burhan meletakkan kembali ponsel di meja k,.etika Jatmiko memutus panggilan. Burhan melirik arloji di tamgan kanannya. Jarum pendek menunjuk ke angka tiga. Burhan bergegas bangkit setelah membereskan meja. Ia ingin ijin pulang cepat.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Burhan berkali-kali membunyikan klakson. Entah, menjelang sore jalanan lumayan padat. Padahal baru jam tiga, tapi sudah macet. Di depan sana, kendaraan tampak mengular ke belakang.
Burhan membuka kaca mobil, kemudian bertanya ke pengendara sepeda motor di sebelahnya. "Di depan sana ada apa, ya, Pak? Jam segini tumben macet."
"Ada kecelakaan katanya, Mas."
Burhan menghela napas. Mau tak mau, ia harus menunggu arus lalu lintas kembali normal.
Burhan bernapas lega ketika perlahan kendaraan di depannya mulai melaju. Lelaki itu sudah tak sabar ingin segera tiba di rumah sakit.
Jam setengah empat sore, Burhan tiba di rumah sakit. Ia melangkah lebar menuju resepsionis menanyakan di mana Deswita dirawat. Setelah mendapatkan info ruangan wanita paruh baya itu, Burhan berlari kecil.
"Mamah!" seru Burhan ketika membuka pintu ruangan di mana Deswita di sana. Lelaki berjalan cepat ke arah wanita paruh baya itu.
Deswita tersenyum menatap kedatangan putranya.
"Mamah ...."
Deswita mengusap pelan kepala Burhan yang bersandar di lengannya.
"Aziza mana?"
Burhan langsung mengangkat wajah. "Astaghfirullah, aku lupa belum kasih kabar, Mah. Tadi, Burhan langsung ke sini," tukasnya. "Sebentar, Burhan telfon dulu Aziza. Biar dia ke sini."
Burhan merogoh ponsel di saku celana. Ia kemudian mencari nama istrinya untuk dihubungi.
"Assalamu'alaikum. Halo, Za."
"..."
"Mamah masuk rumah sakit, Za."
"..."
"Ya, hati-hati."
Burhan memasukkan kembali ponsel di saku celananya. Ia kembali mendekat ke arah Deswita yang tampak pucat.
"Mah, jangan banyak berpikir yang berat-berat, ya. Mamah pasti habis berpikir yang berat-berat. Makanya kesehatannya menurun." Burhan menangkup tangan Deswita.
"Mamah membayangkan punya cucu, Han." Pandangan Deswita menerawang ke atas. Ada senyum dari bibirnya yang pucat. Detik berikutnya, senyumnya lenyap. Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah putranya. "Aziza belum mengijinkan kamu menikah lagi?"
"Belum, Mah."
Deswita memalingkan wajah. Tatapannya redup. Raut wajahnya kembali mendung.
"Mah ...."
"Apa susahnya, sih, memberi ijin? Mamah yakin, kamu bisa berbuat adil, Han." Suara Deswita bernada datar. Mimik wajahnya tampak masam.
"Mah, sudah, ya jangan berpikir itu dulu. Sekarang, Mamah fokus saja dengan kesehatan Mamah biar segera sembuh." Burhan mencoba menghibur wanita paruh baya itu.
"Mamah jangan terlalu memaksa Aziza. Mungkin dia masih butuh waktu." Jatmiko yang duduk di sofa, kini berdiri. Ia melangkah mendekati ke arah istrinya.
Deswita bergeming. Ia memilih bungkam. Keinginannya untuk segera mempunyai seakan musnah.
Burhan dan Deswita menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu dibuka dari luar.
Burhan tersenyum melihat kedatangan istrinya. Aziza tampak cantik mengenakan gamis kuning gading. Emtah, Burhan merasa akhir-akhir ini Aziza kecantikannya berlipat.
Aziza mencium tangan Jatmiko, Burhan, lalu Deswita. Akan tetapi, tak ada senyum ramah dari bibir ibu mertuanya. Aziza sempat mengernyit. Tak biasanya Deswita mengabaikan kehadirannya.
Mendadak Aziza merasa canggung. Akan tetapi, ia tetap mengajak berbincang ibu mertuanya. Meski hanya ditanggapi dengan nada datar.
"Mamah jangan berpikir yang berat-berat, ya, Mah." Aziza mulai memijit lengan Deswita.
Deswita enggan menyahut meski ia menikmati pijatan menantunya.
"Biar Mamah cepat sembuh." Aziza kembali bersuara.
"Mamah akan sembuh kalau ada cucu!"
***