Jam setengah tujuh kurang lima menit, Burhan keluar dari kamar. Ia sudah rapi dengan pakaian kantor. Ia sengaja bersiap lebih pagi karena ingin mengantar istrinya berangkat mengajar.
Burhan sudah sarapan lebih awal tadi jam enam. Seperti biasa, lelaki itu lebih dulu berkutat di dapur. Kini, Aziza sudah jarang memasak. Wanita itu sengaja membiarkan suaminya yang mengambil alih pekerjaan Aziza.
Burhan tersenyum mendapati istrinya keluar dari kamar. Burhan melihatnya dari ruang keluarga. Lelaki itu segera bangkit.
"Ayo, Za, aku antar kamu ke sekolah." Burhan tersenyum manis begitu Aziza berjalan menuju ruang keluarga.
Aziza menghentikkan langkah. Dahinya mengerut. "Terima kasih, Mas. Aku bisa berangkat sendiri," tolaknya. Ia lantas melenggang pergi menuju teras.
Andai rumah tangga mereka dalam kondisi baik. Tentu, Aziza akan sangat senang jika Burhan mengantarnya berangkat mengajar tanpa diminta.
Aziza berangkat mengajar sekitar jam setengah tujuh. Sementara suaminya berangkat ke kantor pukul 07.00 karena masuk jam delapan. Perjalanan juga hanya memakan waktu lima belas menit.
"Za, tunggu!" Burhan menyusul langkah istrinya yang berjalan cepat. "Aku antar, ya, Za," tawarnya lagi. Kini, pasangan suami istri itu sudah berada di teras.
"Aku bisa berangkat ssndiri, Mas." Aziza masih menolak. "Lagian, jam kerja Mas Burhan masuk jam delapan. Kalau berangkat sekarang nanti kepagian sampai kantor."
"Tidak masalah, Za. Nanti aku bisa minum kopi bersama satpam kantor."
Aziza bergeming. Baru saja ia hendak membuka mulut. Burhan lebih dulu bersuara.
"Aku tidak mengijinkanmu berangkat berangkat sendiri, Za!" Bukan tanpa alasan Burhan mengantar istrinya. Lelaki itu hanya ingin merebut kembali hati Aziza. "Kalau kamu tidak mau, aku tidak ijinkan mengijinkanmu pergi mengajar, Za. Akan lebih baik lagi, jika kamu resign," tukasnya.
Aziza tersenyum tipis. Kalimat yang diucapkn Burhan serupa ancaman, tapi Aziza tak gentar. "Resign? Apa kamu tidak ingat, Mas? Sejak awal, kamu sudah setuju dan sepakat kalau setelah menikah aku boleh bekerja. Lalu, sekarang kamu tiba-tiba memutuskan agar aku resign."
Burhan bergeming. Ia sengaja mengancam istrinya agar luluh. Akan tetapi, sepertinya usahanya tak akan berhasil. Istrinya berpendirian kuat.
"Oke, oke. Aku minta maaf, Za. Tapi, aku antar kamu ke sekolah, ya?" Burhan tersenyum lembut. "Ayo!" ucapnya seraya menarik tangan Aziza.
Aziza tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu pun terpaksa mengikuti langkah suaminya menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Untuk sekarang, Aziza berada di bawah kendali Burhan. Karena bagaimanapun, Burhan masih suaminya. Perintah lelaki itu harus ditaati selama masih berada di jalan yang benar.
Sebelum masuk mobil, Aziza mencari kendaraan miliknya. Sepeda motornya tak ada. Apa Burhan sudah merencanakan semuanya? Biasanya, lelaki itu akan mengeluarkan mobil miliknya berikut sepeda motor istrinya dari garasi.
Aziza tak menampik. Keinginan untuk berpisah dengan Burhan tetap ada. Wanita itu masih mencari waktu yang tepat untuk datang mengurus surat gugatan cerainya. Biarlah, untuk sekarang Aziza bergerak lamban. Niat untuk mempercepat perceraian dengan Burhan mendadak terkikis.
Selama perjalanan menuju sekolah, Aziza dan Burhan saling diam. Hanya saja, Burhan sesekali melirik istrinya yang menatap ke luar jendela. Seaakan pemandangan di sana jauh lebih menarik dari suaminya.
Burhan kemudian memutar lagu kesukaan mereka. Lagu romantis yang kerap Aziza dan Burhan nyanyikan bersama ketika tengah santai di rumah.
Burhan akan memegang gitar dan memainkannya. Sementara, Aziza yang akan menyanyikan lagu. Sesekali Burhan juga turut mendedangkan lagu.
Aziza sempat mematung ketika lagu kesukaan mereka diputar. Akan tetapi, detik berikurnya, wanita itu mencoba untuk bersikap biasa saja. Aziza berusaha abai meski bibirnya berusaha menahan agar tak ikut menyanyi. Burhan terus mendedangkan lagu yang mengusik telinga Aziza.
Perjalanan menuju sskolah hanya memakan waktu sepuluh menit. Selama itu juga Aziza dan Burhan saling diam. Hanya lagu yang mengisi keheningan di antara mereka di dalam mobil.
Aziza melepas sabuk pengaman ketima Burhan mematikan mesin. Burhan sedikit menyerongkan posisi duduknya agar bisa menghadap ke arah istrinya.
Aziza seperti biasa—meraih tangan Burhan, lalu dikecupnya. Wanita langsung menjauhkan tubuh ketika Burhan hendak mencium keningnya.
"Assalamu'alaikum. Terima kasih sudah mengantar." Hanya itu yang lolos dari bibir Aziza. Biasanya ia memberikan kata-kata semangat untuk suaminya sebelum bekerja.
"Wa'alaikumussalam," sahut Burhan. Ada sejumput kecewa di dalam hatinya ketika Aziza tak mau dikecup keningnya.
Begitu turun dari mobil, beberapa guru yang juga baru saja tiba di sekolah menatapnya sembari tersenyum-senyum. Aziza mengabaikan tatapan beberapa guru yang memandangnya dengan pandangan menggoda.
"Wah, Bu Aziza diantar suaminya. Tumben, nih?" celetuk salah satu wanita berbadan tambun. Usianya sepantaran Burhan.
"Iya, Bu Hesti." Aziza tersenyum simpul. "Tadi suaminya yang minta," tambahnya.
"Suaminya Bu Aziza idaman. Sudah ganteng, perhatian lagi sama istri."
Aziza hanya menanggapi dengan seulas senyum. Wanita itu mengakui, Burhan memang lelaki idaman. Ya, itu sebelum suaminya ketahuan berbalas pesan dengan wanita lain.
***
Aziza baru saja selesai mengajar. Kini masuk jam istirahat. Ponsel di meja berdenting, Aziza segera meraihnya. Pesan dari Burhan.
[Nanti pulangnya, aku jemput, ya, Za.]
Tanpa menunggu lama, Aziza langsung mengetik balasan.
[Tidak usah, Mas. Aku bisa pulang pakai ojek online.]
[Aku jemput, Za. Kamu tidak membawa sepeda motor.]
[Kamu kerja, Mas. Aku tidak mau merepotkan.]
[Aku tetap akan jemput, Za. Nanti aku bis ijin sebentar.]
Aziza menghela napas membaca pesan balasan Burhan. Akhir-akhir ini, lelaki itu kerap berkehendak sendiri.
Akhirnya, Aziza memilih mengabaikan pesan suaminya. Wanita itu tak mau berdebat dangan Burhan. Aziza lelah. Hari ini, siswanya ada yang berbuat ulah. Sebagai wali kelas, Aziza harus maju untuk membantu menangani dan menyelesaikan penyebab siswa bertengkar di kelas.
Burhan tak ingkar janji. Tepat ketika Aziza keluar dari pintu gerbang, Burhan tiba. Aziza yang sudah hafal mobil suaminya, hanya menghela napas. Wanita itu tak bisa menghindar.
Begitu melihat Aziza melangkah menuju mobil. Burhan bergegas turun. Lelaki itu ingin membukakan pintu untuk istrinya.
"Silakan tuan putri," ucapnya dengan senyum mengembang sempurna.
Aziza hanya berekspresi datar. Wanita itu kemudian masuk dan duduk di kursi sebelah pengemudi.
Burhan menutup pintu setelah memastikan istrinya sudah duduk dengan nyaman. Burhan kemudian berjalan mengitari mobil, lalu masuk ke dalam.
"Za, aku ada sesuatu untuk kamu." Burhan menoleh ke arah istrinya setelah duduk di kursi pengemudi.
Aziza yang baru saja memasang sabuk pengaman, mendongak. Seperkian detik tatapan mereka bertemu. Akan tetapi, wanita itu segera berpaling ke depan—menatap jalan raya yang ramai siang hari ini. Tatapan Burhan begitu teduh. Aziza tak mau terlena.