"Mamah akan sembuh kalau ada cucu!" sahut Deswita datar.
Gerakan memijat lengan ibu mertuanya, seketika dihentikkan Aziza. Ia sedikit menunduk.
Burhan memandang Aziza. Lelaki itu bingung harus berkata apa.
"Mah, jangan memaksa Aziza." Jatmiko orang pertama yang bersuara. "Aziza masih butuh waktu."
"Tapi, sampai kapan, Pah? Sampai Mamah ma ti? Sekarang saja, Mamah masuk rumah sakit karena terus memikirkan Aziza yang belum mengijinkan Burhan menikah lagi."
"Mah ...." Burhan berusaha menenangkan Deswita.
Deswita mengabaikan Burhan yang terus menenangkannya.
Suasana mendadak hening di ruangan inap itu. Hanya terdengar helaan napas masing-masing dan jarum jam yang terus berjalan.
"Baiklah, Aziza akan mengijinkan Mas Burhan menikah lagi, Mah." Akhirnya, Aziza bersuara setelah beberapa saat hening.
Deswita langsung menoleh ke arah menantunya. Seulas senyum ia ciptakan. "Benar, Za?"
Aziza tersenyum tipis disertai anggukan. "Asalkan aku dan Mas Burhan berpisah dulu, Mah."
Senyum di bibir Deswita lenyap. "Za, kamu jangan main-main!"
"Aziza tidak main-main, Mah." Aziza menggeleng. "Sebenarnya, Aziza sudah ingin berpisah setelah tahu Mas Burhan meminta ijin menikah lagi . Tapi, Mas Burhan melarang."
"Za, kita akan tetap bersama!" tegas Burhan.
Aziza melirik suaminya. "Iya, Mas. Kita akan tetap bersama menjadi teman biasa nantinya."
Hatinya Burhan merasa sakit mendengar kata 'teman biasa' dari bibir Aziza.
"Kalian tidak harus berpisah. Kalian akan tetap menjadi suami istri. Burhan hanya menikah lagi, Za. Bukan meninggalkanmu." Deswita masih berusaha agar menantunya membatalkan niatan untuk bercerai.
"Maaf, Mah. Aziza tidak bisa. Aziza tidak siap nanti melihat Mas Burhan duduk di pelaminan bersama wanita lain."
"Calon madumu wanita baik-baik, Za. Bukan orang jahat. Mamah mencarikan istri lagi untuk Burhan tentu tidak sembarangan." Suara Deswita merendah. "Mamah sudah ada calon untuk Burhan. Namanya Citra. Dia anak teman Mamah waktu Mamah SMA. Citra yakin dia akan jadi teman yang baik untuk kamu."
Aziza tersenyum dalam hati. Teman baik? Ya, bisa saja akan menjadi teman baik. Akan tetapi, Aziza tak siap berbagi suami.
"Za ...." Deswita memegang tangan menantunya. "Mamah juga yakin kamu bisa menjadi kakak madu yang baik. Kamu wanita baik-baik, Za. Nanti akan terbiasa dengan kehadiran Citra."
"Aziza rela melepas Mas Burhan untuk wanita lain, Mah."
"Za, Mamah tidak mau melepaskanmu. Kamu menantu kesayangan mamah!"
Aziza menarik bibirnya ke samping. Menantu kesayangan? Kalau kesayangan kenapa harus mendatangkan menantu lain?
"Nanti Citra yang akan menggantikan Aziza, Mah. Kata Mamah, dia wanita baik-baik. Citra pasti bisa menjadi menantu yang baik, Mah.''
"Za ...." Suara Deswita mengiba. "Apa kamu sudah tidak cinta dengan putra Mamah."
"Aziza mencintai Mas Burhan, Mah. Tapi, terkadang cinta itu juga harus berkorban. Aku rela mengorbankan perasaan, asal Mamah bisa bahagia dan Mas Burhan bisa menikah lagi." Aziza menjeda kalimatnya. Ia melirik ke arah Burhan. "Mas Burhan pasti juga senang, Mah, menikah lagi. Apalagi sudah pernah berbalas pesan dengan Citra sebelumnya," tambahnya. Ada senyum tipis di bibir Aziza.
Burhan salah tingkah. Ia meneguk ludahnya yang mendadak terasa pahit.
"Mamah yang menyuruh Burhan dan Citra saling mengenal, Za." Deswita kembali bersuara.
Aziza menahan nyeri di hati. Deswita yang telah merencanakan semuanya. Lalu, Burhan pun menyambutnya. Ingin rasanya Aziza berteriak marah. Akan tetapi, ia harus menahan amarahnya. Meski harus mati-matian berperang dengan gejolak di hatinya.
"Maaf, Mah. Aziza tetap ingin berpisah." Aziza kembali menatap suaminya. "Talak aku sekarang, Mas!"
"Za, aku tidak akan menceraikan kamu!" Burhan berkata dengan tegas!
"Kalau kamu tidak mau menalakku, maka aku yang akan menggugat cerai kamu, Mas. Aku akan segera mengurusnya di pengadilan." Nada suara Aziza tampak tenang. Ia hanya tak mau terlihat lemah di depan orang-orang yang telah menorehkan luka di hatinya. "Aku pergi dulu. Semoga lekas sehat, ya, Mah," ujarnya kemudian melenggang pergi.
"Han, kejar Aziza! Mamah tidak mau kehilangan Aziza!" Deswita berseru kepada putranya. Air matanya luruh seketika. Sementara Jatmiko berusaha menenangkannya.
"Za, tunggu! Jangan pergi, Za!" Burhan mengejar langkah istrinya yang sudah tiba di ambang pintu.
Namun, Aziza mengabaikan panggilan suaminya. Ia berjalan cepat agar bisa segera keluar dari ruangan rawat inap. Berada di sana, hanya akan membuat hatinya bergejolak.
Aziza terlalu ceroboh, sehingga begitu keluar dari ruangan Deswita. Ia menabrak tubuh seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja." Aziza menatap seorang lelaki di hadapannya sebentar. Lantas, menunduk.
Lelaki itu hanya bergumam setelah menatap wajah Aziza, kemudian melenggang pergi.
"Aziza!" Burhan memanggil istrinya yang berhenti.
Mendengar namanya dipanggil, Aziza segera mengayunkan langkah. Ia enggan berbincang dengan Burhan.
"Za, tunggu!" Burhan mencekal tangan isrrinya. Ia berhasil menyusul langkah Aziza. "Kamu mau kenapa, Za. Aku tidak akan melepaskanmu!"
Aziza meronta. "Lepas, Mas!"
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Aziza Pramesti!"
"Aku yang akan melepaskanmu, Mas!"
Burhan tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa lepas dari aku, Za."
"Aku bisa melepaskanmu, Mas. Aku sudah rela melepaskanmu bersanding dengan wanita lain. Penuhilah permintaan mamah kamu, Mas. Aku sudah rela kamu menikah lagi." Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya lolos juga dari sarangnya. Hatinya Aziza hancur ketika mengatakan itu. Nyatanya berusaha untuk bersikap baik-baik saja tidaklah mudah.
Merelakan orang yang dicintai untuk bersanding dengan wanita lain, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski Aziza sudah berkata 'rela', tetap saja hatinya belum sepenuhnya ikhlas. Ia hanya berusaha menutupi kepiluan hatinya di hadapan orang lain.
Burhan mengetatkan rahang.
"Kita bisa berpisah dengan baik-baik, Mas." Aziza melepaskan tangan ketika cekalan Burhan mengendur.
Burhan menatap kepergian istrinya dengan hati hancur. Apakah Azizanya akan ssgera pergi?
***
Aziza keluar dari gedung rumah sakit dengan air mata berderai. Ia sudah berusaha menyekanya, tapi matanya terus saja mengeluaran cairan bening.
Hati Aziza hancur. Pernikahan yang diimpikan akan langgeng hingga akhir hayat, nyatanya sebentar lagi akan tamat. Aziza bukan tak mau mempertahankan rumah tangganya. Ia hanya tak siap Burhan mendatangkan ratu kedua di singgasananya.
Selama ini, Aziza tak pernah berpikir jika Burhan akan menikah lagi. Burhan suami baik. Deswita juga ibu mertua yang memperlakukannya dengan baik kepada Aziza. Akan tetapi, nyatanya mereka menorehkan luka di hati Aziza.
Namun, Aziza tak mau membenci Burhan atau pun Deswita. Hanya saja, kecewa dan sakit itu begitu melekat di jiwanya.
Sesampainya di area parkir, Aziza menghela napas panjang. Dadanya seperti ada yang menghimpitnya dengan beban berat. Ia berharap udara yang dihirup bisa mengurai sesak di dadanya.
Setelah bisa mengendalikkan diri, Aziza berjalan menuju sepeda motornya. Ia ingin segera tiba di rumah. Menghadapi Burhan dan Deswita membuat tenaganya terkuras. Terlebih Aziza baru saja menumpahkan tangis, tetapi hatinya sedikit lebih lapang.
Tanpa Aziza sadari, sejak ia berdiri di area parkiran. Ada mata yang mengawasi dari dalam mobil.
***