Aziza tak ingin bergerak lebih lamban. Pagi ini, wanita itu sudah ijin tak berangkat mengajar. Ia ingin mengurus gugatan perceraiannya dengan Burhan.
"Za, kamu mau ke mana?" tanya Burhan ketika mendapati istrinya keluar dari kamar, tapi tidak mengenakan seragam guru. "Kenapa pakai gamis bukam seragam?" Dahi lelaki itu berkerut.
"Aku mau ke pengadilan. Mengurus gugatan cerai, Mas," jawab Aziza tenang. Sebenarnya, Aziza ingin berangkat sedikit lebih siang. Akan tetapi, ia sedang malas di rumah. Ia ingin menghirup udara pagi sembari mencari sarapan.
"Za, kamu jangan main-main!" Burhan tak menyangka istrinya akan bergerak cepat. "Aku tidak akan menceraikan kamu, Aziza!" ucapnya tajam.
"Aku sudah bilang, Mas. Aku yang akan menggugat cerai Mas Burhan kalau Mas tidak segera menjatuhkan talak."
Burhan menggeleng. "Tidak ada perpisahan di antara kita, Za. Aku tidak akan mengijinkanmu keluar hari ini!"
"Mas, kamu jangan egois!"
Burhan menarik tangan istrinya menuju kamar mereka. Aziza meronta—berusaha melepaskan cekalan suaminya. Akan tetapi, cekalan itu begitu erat. Bahkan, pergelangan Aziza terasa sakit.
"Kamu tidak boleh keluar rumah, Za. Di rumah saja. Aku tidak mengijinkanmu keluar. Ingat itu." Burhan mendudukkan Aziza di tepi kasur. "Jangan pernah mencoba untuk kabur!" kata Burhan datar.
Aziza langsung bangkit, mengikuti langkah suaminya yang keluar dari kamar. Akan tetapi terlambat. Burhan lebih dulu menutup pintu, lalu menguncinya dari luar.
"Mas, buka! Mas Burhan!" Aziza memeganf knop pintu, lalu diputar-putar.
"Maaf, Za. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak mau kita berpisah!" Burhan bersuara dari luar kamar.
"Mas Burhan, jangan egois!" Aziza berseru lagi. Tangisnya kini pecah. Ia menyandarkan badan di daun pintu, lalu tubuhnya merosot ke bawah. "Mas ... kamu egois. Kamu tega Mas ...."
Aziza menekuk lutut—memeluk dirinya. Tangis tak kunjung reda. Bahkan bertambah kencang.
***
Aziza membuka matanya perlahan. Telinganya terusik dengan suara gemericik air dari kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Muncul sosok lelaki yang tampak segar.
"Hai, Sayang. Kamu sudah bangun?" Burhan tersenyum manis ke arah istrinya. Ia mendapati istrinya sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
Aziza tak membalas sapaan suaminya. Akan tetapi, ia heran kenapa suaminya sudah berada di rumah? Aziza melirik jam yang bertengger di atas pintu kamar. Jam setengah lima.
Aziza memilih mengabaikan suaminya. Ia segera beringsit turun dari kasur. Ia belum menunaikan salat Ashar. Tidurnya terlalu pulas sehingga tak mendengar suara azan.
"Za, mata kamu bengkak! Kamu habis menangis?" Burhan terkejut ketika jarak dengan Aziza kini hanya satu jengkal. "Za ...."
Aziza tak menghiraukan panggilan suaminya. Ia lebih memilih menuju kamar mandi.
***
"Za, tadi aku beli martabak manis kesukaan kamu." Burhan memandang istrinya yang sudah berjalan ke arah dapur sudah tampak segar. Akan tetapi, bengkak di matanya masih terlihat.
Aziza hanya melengos. Ia menuju kabinet dapur. Wanita itu merasa lapar. Agar mempersingkat waktu, Aziza ingin memasak mie instan. Sedari pagi, perutnya belum terisi makanan. Hanya makan cokelat batang—simpanan camilan di laci meja kamar. Semua karena Burhan. Aziza nyaris seharian dikurung dalam kamar.
"Za, kamu tidak mau makan martabaknya? Mumpung masih hangat. Kamu biasanya langsung makan kalau aku belikan martabak." Burhan kembali bersuara karena Aziza sibuk dengan mie instannya yang hampir matang.
"Aku makan mie instant saja, Mas."Aziza tak menoleh sedikitpun ke arah suaminya. Ia merasa enggan.
Burhan menghela napas pendek. Nada suara istrinya terdengar datar. Lelaki itu tahu, Aziza masih marah kepadanya.
"Za, aku tahu kamu dari pagi belum makan. Kenapa hanya masak mie instan?" Burhan melihat Aziza menuang makanan cepat saji itu ke dalam mangkuk.
"Terserah aku, Mas. Aku mau makan atau tidak bukan urusan kamu juga!" ucap Aziza santai. Wanita itu tahu, sikapnya salah karena membantah ucapan suaminya. Akan tetapi, AziAza tak dapat menahan amarahnya.
Burhan terkejut mendengar jawaban istrinya. Selama mereka menikah, Aziza tak pernah membantah. Baru kali ini Aziza berkata tajam kepadanya.
Aziza memang wanita tegas. Akan tetapi, ia bisa menempatkan diri kapan bersikap tegas dan lembut kepada seseorang.
Burhan terus menatap Aziza yang berjalan menjauh dari dapur hingga punggung istrinya hilang dari balik dinding. Aziza lebih memilih makan di ruang tamu daripada berada satu meja dengan suaminya.
Mau tak mau, Burhan hanya membiarkannya. Lelaki itu tak ingin mengganggu Aziza makan.
***
Burhan meraih ponsel yang berada di dekat laptop. Malam ini, ia lembur karena sore tadi pulang lebih awal dari biasanya. Burhan ijin pulang cepat karena khawatir dengan istrinya yang dikunci di dalam kamar. Makanya, lelaki itu membawa pekerjaan ke rumah.
Burhan menarik napas ketika melihat siapa yang menelfonnya malam ini. Lelaki itu berprasanga Deswita pasti bertanya mengenai Aziza.
"Assalamu'alaikum. Halo, Mah," sapa Burhan ketika sudah menggeser icon warna hijau. Ia menempelkan ponsel ke telinga.
"Wa'alaikumussalam. Bagaimana Aziza, Han? Dia sudah mengijinkan kamu?"
Benar dugaan Burhan. Setiap Deswita menelfonnya. Wanita itu akan menanyakan menantunya.
"Burhan masih berusaha membujuk Aziza, Mah."
Burhan mendengar helaan napas Deswita dari seberang telepon. Burhan tahu, jika Deswita begitu, maka wanita itu sudah lelah.
"Aziza ingin menggugat cerai Burhan, Mah. Aziza tadi pagi hampir pergi ke Pengadilan jika Burhan tidak mencegahnya." Burhan sengaja tidak mengatakan jika Aziza dikunci di kamar.
"Jangan, Han! Jangan bercerai. Mamah tidak mau kalian berpisah."
"Burhan juga tidak mau berpish dengan Aziza, Mah. Burhan mencintai Aziza, Mah."
Beberapa saat hening. Burhan kembali mendengar helaan napas Deswita.
"Mah, bagaimana kalau Burhan tidak menikah dengan Citra? Batalkan saja perjodohannya."
"Tidak, Han! Mamah sudah telanjur janji sama kedua orangtua Citra. Kamu tahu, kan, ibunya Citra teman Mamah waktu SMA. Citra baik orangnya, sama seperti Aziza. Citra mau dimadu. Dia rela dijadikan yang kedua. Sekarang, hanya tinggal istri kamu yang belum mau. Ternyata Aziza alot orangnya!" Nada suara Deswita terdengar kesal di kalimat terakhir.
Apa yang dikatakan Deswita benar. Burhan pun menilai Citra adalah wanita baik dan lembut seperti istrinya. Hanya saja, Aziza lebih tegas dalam bersikap. Citra maupun Aziza pun sama-sama berparas cantik. Akan tetapi, bagi Burhan, Aziza lebih cantik dari Citra.
"Han!"
"Iya, Mah?" Burhan segera menarik kesadaran.
"Atau, kamu menikah diam-diam saja tanpa sepengetahuan Aziza?"
"Tidak, Mah! Burhan tidak mau menikah tanpa ijin Aziza. Burhan akan menjadi orang jahat jika menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Aziza."
"Tapi, Aziza keras kepala, Han. Kamu pasti lelah membujuk dia terus. Mamah di sini juga menunggu keputusan istri kamu."
"Mah, jangan terlalu berpikir yang berat-berat. Ingat kondisi Mamah. Mamah harus sehat. Burhan tutup dulu, ya, Mah. Burhan mau lembur malam ini. Assalamu'alaikum."
Burhan menutup telepon, setelah Deswita menjawab salamnya. Burhan tahu Deswita tengah kesal karena nada suaranya terdengar malas di seberang telepon.
***