Setelah beberapa menit menumpahkan air mata, Aziza menghela napas dalam—mengisi rongga dadanya dengan udara karena sesak. "Baiklah, Mas. Karena kamu terus meminta ijin. Aku juga tidak mau membuat mamah terus bersedih. Aku mengijinkan kamu untuk menikah lagi dengan syarat kita harus berpisah dulu," ucapnya dengan tenang. Meski mati-matian ia menahan tangis. Aziza tak mau terlihat lemah. Akan tetapi, pertahanannga runtuh. Air matanya tak bisa dicegah.
"Za, aku tidak mau berpisah! Aku mencintaimu, Aziza. Aku janji akan berbuat adil. Jika aku menikah dengan Citra nanti. Aku tidak akan menyuruh Citra tinggal di sini. Citra bisa tinggal di rumah lain. Aku sudah menyiapkan rumah untuk dia."
Aziza tertawa sumbang. Tawa yang membuat hatinya bertambah nyeri. "Sudah seberapa jauh kamu mempersiapkan semuanya, Mas? Rumah sudah disiapkan. Lalu, apa lagi yang sudah dipersiapkan, Mas?"
"Itu hanya rumah sederhana, Za. Rumahnya kecil. Rumah ini jauh lebib besar dan luas."
Aziza tersenyum tipis. Detiknya berikutnya, ia melenggang pergi meninggalkan Burhan.
Lelaki itu berusaha mengejar langkah istrinya sembari memanggil namanya. Burhan menghentikkan langkah ketika Aziza mengempaskan tubuh di salah satu kursi yang berada di taman.
Aziza membutuhkan udara segar agar amarah di dadanya bisa hilang. Tatapan Aziza mengarah pada mawar yang kini telah dengan mekar sempurna.
"Za, aku mohon. Jangan minta berpisah. Aku mencintaimu. Kamu pasti mencintaiku, kan? Kamu tidak ingat janji awal kita menikah? Kita akan menua bersama." Jarak Burhan dengan istrinya hanya dua jengkal.
Aziza menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir deras. Wanita itu sudah berusaha menahannya, tapi tak bisa. Tangisnya mewakili perasaan Aziza. Biarlah, ia dianggap lemah dan cengeng oleh Burhan. Ia tak peduli karena dengan menumpahkan tangis, Aziza merasa sedikit lapang.
"Kita akan tetap bersama sampai tua nanti, Za. Mau yang akan memisahkan kita." Suara Burhan kembali terdengar.
"Maaf, Mas, aku melanggar janji. Itu semua juga karena kesalahanmu. Dari awal, kamu ingin menikah, tapi caranya sudah salah. Kamu sudah berselingkuh, Mas."
"Za, dengarkan aku dulu." Burhan menangkup pipi istrinya. Ia menatap mata istrinya yang memerah. Burhan bisa melihat ada banyak luka dari sorot matanya. "Pegang kata-kataku. Aku janji akan berbuat adil. Aku akan berusaha sebisa mungkin, Za."
Aziza menyingkirkan tangan suaminya. "Maaf, Mas. Aku tetap tidak bisa. Aku tetap ingin berpisah. Aku mau kita berpisah secara baik-bik, Mas. Tolong, talak aku sekarang, Mas!"
"Tidak!" sergah Burhan cepat. "Aku tidak mau, Za." Nada suara kali ini terdengar datar.
"Baik, kalau kamu tidak mau, Mas. Aku yang akan menggugat cerai kamu!"
***
Malam harinya, Burhan menghubungi Deswita melalui telepon. Lelaki itu sudah lelah meminta ijin kepada Aziza. Tidak ada titik terang. Malah, berakhir istrinya meminta berpisah.
"Tolong, bujuk Aziza, Han. Kalian jangan berpisah. Mamah tidak mau kehilangan menantu sebaik istrimu." Suara Deswita terdengar sedih di ujung telepon.
"Burhan sudah membujuk dia berkali-kali, Mah. Tapi, Aziza tetap tidak mau. Dia malah minta berpisah. Aziza mengijinkan aku menikah lagi dengan syarat kita harus berpisah lebih dulu." Burhan menyampaikan keresahannya. Ia tampak frustasi.
"Sekarang, biarkan Aziza tenang dulu. Nanti, kamu bujuk Aziza lagi, Han. Aziza pasti mau. Mamah mohon, ya."
Burhan hanya mengiakan permintaan Deswita. Meski ia ragu apakah Aziza akan luluh atau tidak. Lelaki itu pun mengakhiri panggilan setelah Deswita memberi nasihat agar Burhan bersikap lebih manis dan perhatian kepada istrinya. Semua dilakukan agar Aziza luluh, lalu mengijinkan putranya menikah lagi.
Tanpa diminta, Burhan sudah lebih dulu bersikap manis terhadap istrinya. Akan tetapi, Aziza tetap bersikap dingin. Setahu Burhan, jika wanita diperlakukan baik, maka wanita itu akan membalas kebaikan berkali lipat. Akan tetapi, Aziza tidak begitu. Mungkin karena hatinya sudah telanjur kecewa.
***
Aziza masih seperti memasak di dapur dan melakukan pekerjaan domestik lainnya. Akan tetapi, pagi ini ia kalah cepat dengan suaminya. Burhan lebih dulu berkutat di dapur. Akhirnya, Aziza memilih sarapan di luar sebelum tiba di sekolah.
Hari berikutnya, Aziza juga kalah cepat dengan Burhan. Entah, jam berapa lelaki itu bangun. Alhasil, Aziza ketika pagi hari jarang sarapan di rumah. Ia memilih makan di warung pinggir jalan.
Aziza juga tak harus lelah-lelah di pagi hari menyiapkan makanan. Semua sudah dikerjakan suaminya.
Burhan sudah meminta agar Aziza sarapan saja di rumah, tapi usahanya tak berhasil. Aziza tak mau makan. Bahkan, masakan suaminya dibiarkan dingin di meja makan.
Burhan tak mau menyerah begitu saja. Lelaki itu tetap memasak seperti biasanya. Jika Aziza menolak sarapan, Burhan akan membuat bekal untuk istrinya.
Bahkan, lelaki itu akan meletakkan kotak bekal di sepeda motor istrinya. Berharap, Aziza mau memakannya. Siapa tahu istrinya memang gengsi untuk menikmati masakannya di rumah. Lalu, akan makan di sekolah nanti.
Namun, lagi, Burhan kecewa. Ketika istrinya pulang dari mengajar. Aziza meletakkan kotak bekal di meja makan dengan isi yang masih utuh seperti di pagi hari.
Selain memasak, Burhan juga membersihkan setiap sudut rumah: menyapu dan mengepel. Tak hanya itu, Burhan juga menyiram tanaman di halaman rumah dan bunga mawar milik istrinya. Lelaki itu mengambil alih pekerjaan yang selama ini dilakukan Aziza.
Aziza yang melihat itu merasa kasihan. Akan tetapi, wanita itu juga tak serta merta luluh. Ia tetap meminta berpisah. Aziza siap hidup tanpa Burhan walau nanti akan merasa kehilangan.
"Kamu tidak perlu repot-repot melakukan semua ini, Mas. Aku justru merasa kasihan sama kamu," ucap Aziza ketika Burhan tengah menyapu lantai. "Aku tahu, kamu melakukan semua ini bukan karena kamu ingin meringankan dan membantuku. Tapi, kamu ingin agar aku mengijinkan kamu untuk menikah lagi, kan, Mas?"
Burhan seketika menghentikkan pekerjaannya. Lelaki itu menatap istrinya yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Kamu tak perlu lelah-lelah melakukan semuanya, Mas. Aku sudah rela kamu menikah lagi. Aku rela melepasmu untuk wanita lain." Aziza menjeda kalimatnya. "Penuhi permintaan mamah kamu, Mas. Kasihan beliau."
Lidah Burhan seolah kelu. Ia kesulitan berbicara meski sudah ada kata-kata yang ingin diucapkan, tapi hanya bertahan di tenggorokan.
Hati Burhan pun seolah tercubit. Istrinya berkata dengan tenang, seolah tanpa beban. Bahkan bibir Aziza menyungingkan senyum lembut. Entah, Burhan tak bisa menebak. Apakah ssnyum itu kepalsuan atau hara kepura-puraan.
"Aku rela melepasmu, Mas. Jadi, mari kita berpisah agar kamu tidak lelah melakukan pekerjaan rumah tangga. Mamah kamu pasti bahagia karena setelah ini kamu memenuhi permintaannya. Setelah kita berpisah, aku janji tidak akan mengganggu kehidupan kamu dan istri baru kamu, Mas."
***