Burhan tak menyerah begitu saja meski Aziza masih bersikap dingin kepadanya. Segala upaya akan Burhan lakukan agar Aziza kembali seperti sedia kala. Jika Azizanya sudah kembali, Burhan akan membujuk agar istrinya mengikuti permintaan Deswita.
Burhan bangun lebih pagi demi bisa berkutat di dapur—memasak menu sarapan hari ini. Sudah satu minggu lebih Aziza tidur di kamar yang berbeda dengan Burhan. Ketika Aziza meminta pindah kamar yang entah sampai kapan, Burhan hanya pasrah.
Untuk sementara, lelaki itu berusaha menuruti semua keinginan Aziza. Berharap setelah ini istrinya kembali seperti sedia kala. Walaupun Burhan sadar, itu semua tak mudah. Akan tetapi, bukan berarti lelaki itu akan menyerah. Sama seperti dulu, Burhan tak menyerah untuk mendapatkan cinta Aziza. Kegigihannya berhasil.
"Kamu lagi ngapain, Mas?" tanya Aziza begitu tiba di dapur. Dahinya mengerut mendapati suaminya sepagi ini sudah berkutat di depan kompor.
Mendengar suara istrinya, sontak saja membuat Burhan membalikkan badan. "Selamat pagi, Sayang," sapanya dengan senyum lebar. "Aku lagi masak buat sarapan kita nanti."
Aziza melangkah mendekati suaminya. "Biar aku saja, Mas," ucapnya seraya berusaha mengambil sutil dari tangan Burhan.
Namun, dengan sigap Burhan menjauhkan tangannya dari jangkauan Aziza. "Biar aku saja yang memasak, Za. Kamu duduk saja. Tunggu di meja makan, ya. Oke?"
Aziza menghela napas ketika Burhan menarik pelan tangannya, kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan.
Selama mereka menikah, Burhan memang tak segan terjun langsung ke dapur. Lelaki itu akan ringan tangan membantu pekerjaan domestik dan dapur. Tentu, Aziza yang memintanya terlebih dahulu jika dirinya kewalahan. Lalu, Burhan dengan sigap akan membantunya.
Bagi Aziza, Burhan akan meningkat ketampanannya jika tengah berada di dapur. Aziza selalu tersenyum memandangnya. Akan tetapi, pagi ini Aziza biasa saja. Semua sikap suaminya tak menyentuh hatinya.
Hati Aziza telanjur kecewa. Jika Burhan tengah kembali mengambil hatinya, tak serta merta Aziz akan luluh begitu saja. Separuh hatinya memang masih dimiliki Burhan. Akan tetapi, separuh hati yang lain sudah bukan milik Burhan.
"Sarapan sudah siap!" Suara Burhan menarik kesadaran Aziza.
Wanita yang pagi ini mengenakan dress selutut itu memandang suaminya. Burhan tengah tersenyum kepadanya. Aziza kemudian beralih menatap makanan yang terhidang di meja: nasi goreng sea food dan telor mata sapi. Salah satu makanan kesukaan Aziza.
Mungkin, Burhan memang sengaja memasak untuk Aziza. Padahal, wanita itu tahu, Burhan tidak begitu suka dengan nasi goreng sea food. Lelaki itu lebih suka nasi goreng biasa tanpa ada tambahan kecuali sayur dan telur.
"Ayo makan! Jangan dilihat terus," seru Burhan. "Aku jamin masakanku enak. Karena memasaknya penuh cinta dan kasih sayang." Burhan mencoba bergurai.
Namun, gurauannya tak mendapat respon dari istrinya. Aziza masih terdiam. Bahkan, raut wajahnya terkesan datar.
Burhan kemudian mengambil piring, lalu diisi dengan nasi berwarna cokelat itu. Setelah itu mengangsurkannya kepada Aziza.
Aziza menerima piring yang diangsurkan suaminya. "Terima kasih." Hanya itu yang keluar dari bibir Aziza.
Ada sejumput kecewa di hati Burhan. Aziza langsung menyantap makanannya setelah sebelumnya berdoa terlebih dahulu.
Dulu, Aziza merasa senang ketika makan masakan suaminya. Ia akan memuji dan berkomentar jika masakan Burhan kurang gurih atau kurang bumbu. Lalu, Burhan akan dengan senang hati mendengarkannya.
Aziza mengunyah pelan makanannya. Nasi goreng buatan suaminya seharusnya nikmat, tapi entah rasanya seperti hambar. Mungkin karena suasana hati Aziza yang tengah dirundung pilu.
Tadi, Aziza ingin menolak sarapan karena Burhan sudah lebih dulu di dapur. Akan tetapi, perut keroncongan karena lambungnya belum diisi makanan sejak semalam. Setelah salat Isya, Aziza langsung terlelap tadi malam.
Makanan di piring Aziza telah tandas. Ia memundurkan kursi ke belakang, lalu bangkit menuju wastagfel guna mencuci piring bekasnya.
"Za, kamu mau ke mana?" tanya Burhan ketika Aziza sudah selesai mencuci piring dan hendak meninggalkan dapur. "Kamu tidak mau duduk dulu menemani aku sarapan? Aku belum selesai makan." Nasi di piring Burhan masih tersisa separuh. Nafsu makannya akhir-akhir menurun. Makanya, lelaki itu lebih lambat ketika makan.
Ketika Burhan belum selesai makan, Aziza akan setia menanti suaminya menghabiskan makanannya. Akan tetapi, kali ini Aziza memilih menghindar. Ia memang sengaja tak mau berlama-lama dengan Burhan.
"Aku sudah selesai sarapan, Mas." Aziza menoleh sekilas ke arah Burhan.
"Za, kamu benar-benar berubah!"
Aziza langsung menghadapkan tubuh agar sejajar dengan suaminya. "Aku berubah karena kamu, Mas," desisnya tajam.
"Za, aku minta maaf. Tapi, sekarang aku sudah tidak pernah membalas pesan Citra lagi."
Mendengar nama Citra membuat hati Aziza kembali perih.
"Lalu, aku langsung percaya begitu saja, Mas?" Aziza tersenyum tipis. "Sayangnya, tidak semudah itu, Mas."
"Kalau kamu tidak percaya. Kamu bisa cek sendiri Handphone-ku, Za!" Suara Burhan terdengar penekanan. Lelaki itu berharap istrinya percaya.
"Meski kamu sudah tidak membalas pesan wanita iti lagi. Tetap saja, Mas, mamag akan terus mendesak kamu untuk tetap menikah dengannya."
"Za ...."
Aziza menatap lekat mata suaminya yang. Dulu, Aziza selalu terpesona menatap bola matanya Burhan. Sorot mata lelaki itu begitu meneduhkan. Akan tetapi, kali ini tatapan suaminya hanya membuat Aziza merasa sakit.
"Aku melakukan semuamya demi mamah, Za. Mamah yang telah melahirkanku. Aku tak mau menyakiti hatinya. Tapi, aku juga tak mau menyakitimu. Makanya, aku berusaha meminta ijin kamu. Aku tidak akan menikah dengan Citra sebelum kamu memberi ijin. Aku ... mencintaimu, Za." Burhan menjeda ucapannya sejenak. Ia menghela napas berat. "Kalau aku jahat, aku sudah menikah dengan Citra tanpa sepengetahuanmu, Za. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku melakukannya demi kamu. Demi menjaga perasaan kamu, Aziza."
Burhan memilih menyudahi sarapannya. Lelaki itu sudah enggan menghabiskan nasi di piring.
"Alasan kamu tidak mau dimadu kenapa, Za?" Burhan kembali bersuara karena istrinya tetap diam.
"Wanita mana yang ikhlas ketika suaminya bersama dengan wanita lain meski itu adalah istri keduanya. Meski kamu bilang akan adil, hati istri lain pasti akan merasakan cemburu, Mas." Sudut hati Aziza terasa nyeri membayangkan suaminya dengan wanita lain. "Aku tidak melarang dan tidak menentang poligami. Asal yang melakukannya bukan suamiku."
Burhan bangkit. Ia mendekat ke arah istrinya.
"Aku tidak melarang kamu untuk berbakti kepada mamah kamu, Mas. Tapi, kenapa harus menikah lagi, Mas!" Tangis Aziza pecah. Sejak kemarin pun ia berusaha untuk tidak menangis, tapi kali ini Azizah rapuh. Ia tidak sekuat apa yang dikatakan orang lain. Aziza dinilai sebagai wanita kuat dan mandiri. Akan tetapi, ia tetaplah manusia biasa—yang bisa sedih, marah, dan kecewa.
Burhan memeluk istrinya dari belakang. Aziza kian tergugu. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara tangis Aziza.
Setelah beberapa menit menumpahkan air mata, Aziza menghela napas dalam—mengisi rongga dadanya dengan udara karena sesak. "Baiklah, Mas. Karena kamu terus meminta ijin. Aku juga tidak mau membuat mamah terus bersedih. Aku mengijinkan kamu untuk menikah lagi dengan syarat kita harus berpisah dulu, Mas."
***