Pukul 05.00 Burhan keluar dari kantor. Langkahnya begitu lebar menuju parkiran. Ia ingin segera bertemu dengan Deswita. Satu jam yang lalu, Deswita menelfonnya—menyuruh putranya singgah sebentar ke rumah.
Begitu tiba di kediaman kedua orangtuanya, Burhan langsung menuju kamar Deswita. Wanita paruh baya itu tersenyum menatap putranya datang.
Burhan menanyakan kondisi kesehatan Deswita. Setelah itu Burhan membawa Deswita menuju ruang tamu menggunakan kursi roda. Detik berikutnya, ibu dan anak itu terlibat obrolan ringan. Tak lama kemudian, Jatmiko—suami Deswita—turut bergabung.
"Bagaimana, Han, apa istrimu sudah mengijinkan?" tanya Deswita ketika Burhan menyudahi obrolan tentang kondisi cafe yang menurun pendapatannya bulan ini. Kini sudah satu minggu berlalu sejak Aziza datang ke rumah Deswita.
Burhan menarik napas berat. "Belum, Mah," sahutnya. Kini, lelaki itu ingin membatalkan janji yang telanjur diucapkan—Burhan menyanggupi bahwa ia mau menikah lagi. Akan tetapi, Burhan khawatir dengan kondisi wanita yang telah melahirkannnya tiga puluh tahun yang lalu.
Burhan tak kuasa menolak permintaan Deswita kala itu. Akhirnya, dengan berat hati, Burhan mengiakan keinginan mamahnya. Meski ia tahu, istrinya akan kecewa terhadapnya.
"Aziza sulit diluluhkan, Mah. Dulu, waktu Burhan mengajak Aziza menikah. Burhan juga sempat ditolak dua kali." Burhan teringat perjuangannya dulu mengambil hati Aziza yang menurutnya tak mudah.
Selama ini, Deswita belum sepenuhnya tahu jika menantunya adalah perempuan yang sulit diluluhkan hatinya.
"Sulit bukan berarti tidak bisa, kan? Bujuk lagi istrimu, Han. Semua demi Mamah. Mamah tahu, Aziza wanita baik. Dia pasti rela kamu menikah lagi." Deswita menangkup tangan putranya.
"Sudah, Mah, jangan terlalu dipikirkan. Aziza mungkin masih perlu waktu untuk memikirkan semuanya." Kali ini, Jatmiko turut bersuara.
Deswita menarik napas berat. "Tapi, sampai kapan, Pah? Kita sudah tidak muda lagi. Apa Papah tidak mau menggendong cucu?"
Jatmiko hanya menanggai dengan gumaman. Lelaki paruh baya itu tak terlalu memikirkan, walaupun dalam hati tentu ada keinginan kelak mempunyai cucu.
"Pernikahan dua tahun, normalnya sudah mempunyai anak kalau tidak menunda momongan. Burhan dan Aziza tidak menundanya." Deswita kembali mengeluarkan keresahannya. "Pokoknya, kamu harus terus membujuk istri kamu, ya, Han. Secepatnya, ya. Kedua orangtua Citra juga sudah sering bertanya kapan kamu menikahi anaknya."
***
Burhan tiba di rumah jam setengah tujuh malam. Ia menunaikan salat Megrib di rumah kedua orangtuanya tadi.
Kepulangan Burhan tak ada yang menyambut. Sudah satu minggu ini, istrinya tak lagi membukakan pintu untuknya. Tepat setelah Burhan meminta ijin menikah lagi yang keempat kali.
Burhan merindukan senyum manis Aziza ketika menyambutnya pulang dari kantor. Selama mereka menikah, Aziza selalu menyambut kepulangan suaminya dengan wajah berseri-seri. Tentu senyum merekah dari bibirnya juga. Burhan akan memuji kecantikannya ketika Aziza tengah tersenyum.
"Kamu bertambah cantik kalau tersenyum." Itu pujian yang dilontarkan Burhan untuk istrinya.
Setelah menutup pintu depan, Burhan berjalan menuju meja makan. Ia menghela napas. Tak ada kopi atau pun teh yang terhidang di meja. Biasanya, Aziza akan membuatkan minuman untuknya setipa pulang dari kantor. Lalu, Burhan akan setia menanti di kursi makan sembari melepas dasi.
Burhan membuka tudung saji. Masakan Aziza pasti sudah dingin. Sebenarnya, Burhan merasa lapar. Akan tetapi, karena tak ada Aziza yang menyambut pulang. Ia malas makan malam.
Burhan memutuskan mengambil botol minum dari lemarin pendingin, lalu menuangnya kd gelas yang sebelumnya diambil dari rak. Burhan menandaskan satu gelas air putih.
Burhan mencari keberadaan istrinya. Di kamar tak ada. Lelaki itu lantas bernapas lega ketika mendapati Aziza tengah duduk di kursi samping rumah.
"Za ...." Suara Burhan membuat Aziza refleks menoleh.
Tak ada senyuman di wajah ayu istrinya.
Burhan mengikis jarak. "Kamu lagi ngapain?" tayanya. Lelaki itu sebenarnya tahu istrinya tengah menikmati minuman kesukaannya—cokelat hangat—sembari memandang tanaman mawar yang mulai mekar. Burhan kemudian mengambil menarik kursi yang berseberangan dengan Aziza untuk diduduki.
Aziza baru saja hendak bangkit, tapi dengan gerakan cepat, Burhan msncekalnya.
"Sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini, Za?" Burhan memandang istrinya dengan tatapan sendu. "Za, aku mohon jangan diam seperti ini. Kembalilah seperti Aziza yang dulu. Yang selalu ceria dan tersenyum."
Aziza menoleh ke arah sang suami. "Seharusnya kamu tahu, Mas, aku seperti ini karena kesalahanmu," desisnya. "Kamu tahu, kan, Mas hati yang sudah tersakiti akan sulit kembali seperti semula. Kalaupun bisa, tidak akan kembali utuh seperti sedia kala."
"Za, aku sudah minta maaf. Aku tahu aku salah!"
"Kalau aku memaafkanmu. Apakah kamu tetap akan menuruti permintaan mamah, Mas?" Intonasi Aziza terdengar lirih.
Burhan terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Aziza begitu sulit.
"Apa kamu lupa, Mas? Sejak awal menikah, aku sudah bilang tidak ada poligami dalam pernikahan kita. Apapun yang terjadi, kita hadapi sama-sama. Kamu pun setuju waktu itu."
"Za, aku tidak lupa. Aku ingat semua itu. Aku melakukan ini demi mamah. Mamah hanya ingin punya cucu." Burhan menjeda kalimatnya. Tangannya menangkup kedua tangan Aziza yang berada di pangkuan. "Aku anak tunggal, Za. Kalau aku punya saudara, mungkin mamah tidak akan menyuruhku menikah lagi."
Aziza memilih diam. Ia enggan menanggapi ucapan suaminya. Aziza bukan melupakan Burhan yang anak tunggal. Hanya saja, Aziza tetap pada pendiriannya—tak ingin dimadu. Wanitaana yang ikhlas jika suaminya menikah lagi? Jika ada, mungkin wanita itu memiliki hati seluas samudera. Aziza tak memiliki itu.
Mengetahui suaminya berbalas pesan manis dengan wanita lain saja langsung membuat hati Aziza terasa perih. Apalagi jika Burhan benar ingin menikah lagi. Aziza tak siap. Bahkan, tak sanggup membayangkannya.
"Apa mamah kamu tahu, Mas, bahwa wanita sejatinya tak mau dimadu? Kalau ada, populasinya pasti hanya sedikit." Aziz bersuara setelah beberapa saat sibuk dengan isi kepalanya sendiri.
"Karena mamah merasa kalau aku bisa berbuat adil nantinya, Za. Makanya, mamah menyuruhku menikah lagi."
Aziza beranjak. Ia lelah. Lelah karena Burhan terus saja meminta ijin menikah lagi. Aziza kemudian bangkit sembari membasa mug yang sudah kosong isinya.
"Za, kamu mau ke mana?" tanya Burhan cepat.
Aziza menghentikkan langkah. "Aku lelah, Mas. Aku ingin ke kamar."
"Za, kita belum selesai bicara."
"Lebih baik kamu segera mandi, Mas. Keburu malam."
Sepeninggal Aziza, Burhan menrik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Lelaki itu sebdnarnya juga lelah membujuk istrinya. Entah, dengan cara apa ia meluluhkan hati Aziza.
Berpisah? Tidak! Burhan sontak menggeleng keras. Ia tak mau bercerai dengan istrinya. Aziza adalah wanita yang ia cintai sepenuh hati. Membayangkan perpisahan hanya membuat Burhan dilanda gelisah.
***