Setelah jam pulang tiba, Aziza bergegas keluar dari ruang guru. Aziza begitu tergesa, meski sebenarnya ia malas bertandang ke rumah ibu mertuanya.
Selama perjalanan menuju rumah Deswita, jantung Aziza bertalu-talu. Hatinya pun direda gelisah. Entah, apa yang membuatnya begitu cemas. Apa karena khawatir jika Deswita memaksa agar mengijinkan Burhan menikah lagi?
Aziza tiba di kedua kedua orangtua Burhan tepat jam setengah tiga sore. Aziza turun dari sepeda motor. Ia menghela napas panjang, berharap resah di hatinya segera lenyap.
Aziza memandang bangunan berlantai dua di hadapannya. Rumah mertuanya tergolong mewah meski bukan berasal dari keluarga konglomerat.
Burhan berasal dari keluarga berada. Kedua orangtua Burhan mempunyai sebuah cafe. Akan tetapi, beberapa bulan belakangan ini sedang sepi pengunjung. Itu info yang Aziza dapat dari Burhan.
Biasanya, Burhan setiap akhir pekan akan datang ke cafe guna mengecek kondisi di sana. Sesekali Aziza juga ikut serta.
Dulu, Aziza sempat heran kenapa Burhan menginginkannya agar menjadi pendamping hidupnya. Jika bisa memilih, Burhan bisa memilih wanita yang strata sosialnya sama dengannya. Bukan memilih Aziza yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.
Aziza bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena beasiswa tidak mampu. Akan tetapi, ia bersyukur karena bisa menjadi seorang sarjana. Impian sejak Aziza masih duduk di bangku SMP.
Burhan memilih Aziza sebagai pendamping hidul bukan berdasarkan strata. Kedua orangtuanya juga tak mempermasalahkan dengan siapa Burhan menikah. Asal wanita yang akan dijadikan istri adalah perempuan baik-baik.
Ketika Burhan membawa Aziza ke rumahnya kala itu. Aziza disambut baik oleh kedua orangtua Burhan. Bahkan, Deswita langsung menyukainya meski baru pertama kali bertemu. Burhan yang melihat itu begitu senang karena Deswita sudah seakan sudah memberikan lampu hijau.
"Mbak Aziza!"
Wanita itu sedikit berjengit. Aziza segera menarik kesadaran. Ia kemudian menoleh ke samping kiri. "Pak Yatno," sapanya seraya tersenyum ramah.
"Sendirian ke sini, Mbak?" tanya lelaki paruh baya itu. Yatno adalah orang yang bekerja di rumah Deswita. Ia ditugaskan untuk membersihkan halaman. Sementara istrinya ditugaskan untuk memasak dan membersihkan dalam rumah.
"Iya, Pak. Mas Burhan belum pulang, masih bekerja. Jadi ke sini sendiri." Tadi, sebelum pergi ke rumah mertuanya. Aziza sempat meminta ijjn kepada suaminya. "Mamah ada, kan, di dalam, Pak," tanyanya.
"Ada, Mbak. Langsung masuk saja."
Aziza mengangguk. Ia kemudian berpamitan untuk memasuki kediaman kedua orangtua suaminya. Sesampainya di depan pintu, Aziza disambut oleh istri Yatno.
"Langsung ke kamar ibu saja, Mbak. Tadi, ibu Deswita sempat berpesan kalau Mbak Aziza sudah datang langsung disuruh ke dalam."
Aziza tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Langkah Aziza begitu berat menuju kamar Deswita. Biasanya, Aziza akan begitu senang jika ingin bertemu ibu mertuanya karena Deswita selalu menyambutnya ramah.
Terlebih, Aziza sudah tidak mempunyai seorang ibu. Kedua orangtuanya mengalami kecelakaan ketika Aziza duduk di bangku SMA.
Kala itu, ia begitu terpukul. Keluarganya hanya tersisa kakak perempuannya. Aziza anak terakhir dari dua bersaudara. Akan tetapi, Aziza tak begitu dekat dengan kakaknya. Saudaranya itu selalu ikut campur dengan kehidupa. Aziza.
Entah, apa yang membuat kakak perempuannya begitu. Mungkin karena Aziza bisa mengenyam pendidikan hingga kuliah. Sementara kakaknya hanya sampai SMA.
Aziza pernah dijodohkan oleh kakaknya dengan duda tiga anak karena waktu itu Aziza sudah berusia 24 tahun. Usia yang dikatakan tua oleh kakaknya. Akan tetapi, Aziza dengan tegas langsung menolak. Kakak perempuannya berkata Aziza terlalu pilih-pilih. Hingga akhirnya, Burhan datang melamar. Lelaki itu menyelamatkan dirinya dari perjodohan kakaknya.
Aziza mengetuk pintu kamar Deswita. Tak lama kemudian, terdengar suara dari dalam.
"Masuk!"
Aziza memutar knop pintu. Wanita itu menyunggingkan senyum ketika tatapannya bertemu dengan sorot mata ibu mertuanya. Akan tetapi, senyum Aziza bukanlah senyum kebahagiaan. Itu hanyalah sebuah bentuk pengalihan dirinya yang tengah gelisah.
Sementara, Deswita begitu berbinar melihat kedatangan menantunya.
Aziza meraih tangan ibu mertuanya, lalu dikecupnya takzim. Obrolan santai terjadi di antara mereka. Aziza menanyakan kabar Deswita hingga kegiatan sehari-hari wanita paruh baya itu.
"Ada yang ingin Mamah bicarakan, Za." Deswita kembali bersuara setelah percakapan ringan mereka usai.
Aziza mendongak. Akan tetapi, tangannya tetap bergerak memijat kaki ibu mertuanya. "Bicara apa, Mah?" tanya Aziza. Ia sebenarnya sudah tahu apa yang akan dibahas oleh Deswita. Hanya saja Aziza sekedar basa-basi saja bertanya.
"Mamah sudah tua, Za. Mamah sering sakit-sakitan. Mamah ingin segera menggendong cucu sebelum ... Mamah pergi."
Aziza terdiam beberapa saat, lalu bersuara, "Aku sama Mas Burhan masih berusaha, Mah. Allah belum kasih kami momongan. Kita semua sehat." Aziza tersenyum. Meski senyum itu terasa getir. "Mamah jangan terlalu berpikir yang berat-berat, ya. Mamah harus sehat biar nanti bisa menggendong cucu."
"Sampai kapan, Za? Mamah taku tiba-tiba dipanggil Allah. Mamah hanya ingin cucu. Itu saja." Intonasi Deswita terdengah lirih.
Aziza menunduk. Ia bingung harus menjawab apa.
"Bagaimana kalau Burhan menikah lagi, Za? Kamu tidak keberatan, kan?" Kalimat yang sejak tadi Aziza pikirkan, akhirnya terlontar dari bibir Deswita.
Aziza memejamkan mata sejenak. Walaupun ia sudah mempersiapkan diri akan dihadapkan pertanyaan seperti itu. Tetap saja, Aziza gelisah. Ia harus bisa menemukan jawaban yang tepat demi menjaga perasaan ibu mertuanya.
"Mamah yakin, Burhan bisa berbuat adil, Za." Deswita kembali bersuara karena tak ada sahutan dari menantunya. Wanita paruh baya itu tahu ini berat untuk Aziza.
Kali ini, Aziza memberanikan diri menatap Deswita. Walaupun mati-matian Aziza harus meredam gejolak di dadanya. "Mah, jangan terlalu berpikir yang berat-berat, ya. Sekarang, Mamah fokus saja sama kesehatan Mamah biar lekas sehat," tukas Aziza dengan seulas senyum. Ada kelegaan di hati Aziza setelah mengatakan itu. Meski ia tahu, pembahasan tentang poligami nanti akan terulang lagi.
Detik berikutnya, suasana mendadak hening. Aziza terus memijat kaki ibu mertuanya. Bahkan, kini gerakannya berpindah ke lengan Deswita.
Perlahan, Deswita mulai memejamkan matanya. Akhir-akhir ini, wanita paruh baya itu begitu mudah terlelap. Mungkin efek samping obat yang dikonsumsinya.
Deswita juga terlalu menikmati pijatan menantunya. Sudah sejak awal, wanita paruh baya itu memang menyukai pijatan Aziza.
Burhan juga mengakui itu karena setiap pulang dari kantor, Aziza akan memijat punggungya meski tanpa diminta. Aziza yang menawarkannya sendiri. Tentu Burhan tak menolak. Duduk berjam-jam membuat badannya terasa pegal.
Aziza memandang Deswita yang kini sudah mendengkur halus. Mengapa ibu mertuanya tak mengatakan jika sudah memilihkan wanita yang akan dijadikan istri kedua putranya? Apa Deswita sengaja menyembhnyikan darinya? Aziza ingin bertanya, tapi tak kuasa. Khawatir memancing amarah yang sejak tadi diredamnya mati-matian.
***