Keesokan harinya, sikap Aziza cenderung dingin. Bahkan, menjadi lebih pendiam. Ketika Burhan bertanya, hanya akan dijawab satu atau dua kata saja. Tentu Burhan merasakan kecewa karena perubahan sikap istrinya.
Burhan tahu diri. Lelaki itu memang merasa bersalah karena telah membuat hati istrinua sakit dan kecewa. Akan tetapi, Burhan tak mau tinggal diam. Ia ingin mengembalikkan istrinya seperti sedia kala. Ceria.
Setelah menikmati makan pagi, Aziza langsung beranjak menuju wastafel untuk mencuci piring bekas makannya.
Sementara, Burhan belum selesai sarapan. Biasanya, jika lelaki itu belum selesai menghabiskan makanannya. Aziza akan tetap duduk di kursi, menunggu suaminya selesai. Akan tetapi, kali ini Aziza memilih bangkit. Ia menghindar. Aziza merasa enggan berdekatan dengan suaminya.
Makan pagi ini, Azizapun merasa terpaksa duduk satu meja dengan suaminya.
Tadi malam pun, Aziza tidur tidak memeluk suaminya. Ia memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aziza juga tak membalas dekapan ketika Burhan mendekapnya.
Dalam dekapan Burhan, Aziza menangis. Tentu, suaminya tak tahu. Lelaki itu terlalu pulas tidurnya.
"Za, kamu mau ke mana?" tanya Burhan ketika istrinya sudah selesai mencuci piring bekas sarapan. Lelaki itu langsung bangkit dari kursi, lalu mencuci cepat piring miliknya di wastafel. Setelah selesai, Burhan kembali bertanya kepada istrinya," Kamu masih marah, Za?"
Aziza bergeming.
"Aku minta maaf, Za." Burhan melangkah mendekati istrinya. Jarak mereka kini hanya satu jengkal. "Tolong, Za, maakan aku. Aku tidak berniat menyakiti kamu," ucapnya. Intonasinya terdengar mengiba.
Sementara, Aziza tersenyum tipis. Ia kemudian membalikkan tubuh. "Aku kecewa sama kamu, Mas. Kamu sudah menghianati pernikahan ini. Di mana janji kamu dulu katanya akan menjaga hati?"
"Za, aku hanya mengikuti perintah mamah. Aku tidak berniat mengingkari janjiku dulu. Aku juga baru berkenalan dengan Citra belum."
"Jadi namanya Citra?" Alis Aziza terangkat sebelah.
Burhan mengangguk pelan. "Iya, namanya Citra," ungkapnya. "Kami baru pendekatan, Za. Dan kalau kamu mengizinkan, aku ingin menikahinya demi mamah."
Aziza tertawa sumbang. Hatinya kembali nyeri mendengar penuturan sang suami. Apa lelaki itu tak memkirkan perasaan Aziza?
"Mudah sekali, ya, Mas kamu meminta ijin? Sudah ketahuan berbalas pesan dengan wanita lain, lalu sekarang meminta ijin untuk menikah lagi. Di mana hati kamu, Mas?" Aziza berkata penuh penekanan di kalimat akhir.
"Za, aku menikah bukan atas permintaanku."
"Kalau bukan demi mamah. Apa kamu mau menikah dengan wanita itu, Mas?" Aziza menatap nyalang suaminya.
Burhan terdiam. Butuh beberapa detik lelaki itu mencari jawaban yang tepat. Burhan kemudian menggeleng. " Tidak, Za. Aku mencintaimu," sahutnya. Lelaki itu tak sedang berbohong. Ia memang mencintai Aziza.
"Kalau kamu mencintaiku, seharusnya kamu tidak berbalas pesan dengan kata-mata manis dengan wanita lain, Mas!" Aziza mendesis.
"Ya, Za. Aku akui, aku memang salah. Aku minta maaf karena telah menyakiti kamu." Burhan meraih tangan istrinya.
Aziza langsung menepisnya pelan. "Kalau kamu mencintaiku, seharusnya kamu bisa menolak permintaan mamah baik-baik, Mas. Mamah pasti akan mengerti. Toh, kita semua sehat."
Setelah mengatakan itu, Aziza melenggang pergi.
Burhan langsung mengejar langkah istrinya. "Za, tunggu!"
Langkah Aziza yang nyaris tiba di ambang pintu kamar terhenti.
"Aku tidak bisa menolak langsung permintaan mamah, Za." Burhan kembali bersuara. "Aku takut kesehatan mamah menurun. Kamu tahu, kan, akhir-akhir mamah keadaannya mulai memburuk. Mohon mengertilah, Za. Aku janji akan berbuat adil."
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa. Aku tidak siap dimadu karena aku tidak mau. Hatiku tak seluas samudera. Kesabaranku tak setinggi gunung. Dari awal pun, cara kamu sudah salah, Mas. Kamu sudah melanggar janji."
Aziza hendak meraih tangan Aziza. Akan tetapi, istrinya lebih dulu membuka pintu kamar, lalu menutupnya rapat. Aziza juga menguncinya dari dalam.
Burhan menyugar rambutnya pelan. Lelaki itu meraup wajahnya kasar. Sejak kemarin belum menemukan titik terang. Meluluhkan hati Aziza tidaklah mudah.
Dulu, Burhan juga merasa kesulitan ketika hendak mengajak Aziza untuk hidup bersama. Wanita itu sempat menolaknya dua kali. Akan tetapi, karena upaya Burhan yang begitu gigih. Akhirnya, Aziza menerimanya. Tentu Burhan senang sekali kala itu. Aziza adalah wanita idamannya yang selama ini dicari.
Burhan berjalan menuju ruang tamu. Lelaki itu mengempaskan tubuh di sofa. Masih pagi, tapi kepala Burhan sudah terasa pening. Terlebih, Deswanti kerap menghubunginya—terus bertanya apakah Aziza mengijinkannya untuk menikah lagi.
Burhan sudah telanjur mengiakan permintaan Deswanti. Mau tak mau, Burhan terpaksa harus lebih keras berusaha meluluhkan hati Aziza.
***
Hari berikutnya, Aziza menjadi lebih pendiam. Bahkan, wanita itu kerap makan sendirian di rumah. Setiap selesai memasak, Aziza akan menikmati makan.
Aziza akan selalu makan satu meja dengan suaminya. Terkadang, ia rela menahan lapar agar bisa makan bersama dengan Burhan. Akan tetapi, kali ini Aziza lebih memilih mengabaikan Burhan.
Seperti pagi ini, makanan telah matang. Aziza langsung sarapan tanpa menunggu suaminya di meja makan. Setelah selesai, Aziza langsung bergegas ke kamar. Ia ingin berangkat ke sekolah lebih pagi.
Aziza mengajar di salah satu SMP negeri di kota Kebumen. Burhan tak melarang istrinya untuk tetap bekerja meski telah menikah. Akan tetapi, lelaki itu juga tak melarang jika Aziza ingin menjadi ibu rumah tangga.
Toh, meski Aziza bekerja. Wanita itu jam dua siang sudah berada di rumah. Kecuali jika ada acara dan mengajar ekstrakurikuler di sekolah. Maka, Aziza pulang terlambat. Walaupun pulang senja, wanita itu lebih dulu tiba di rumah daripada suaminya. Aziza bisa bersiap menyambut suaminya pulang dari kantor.
Burhan tiba di rumah pukul lima sore. Lelaki itu bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan swasta di kotanya.
Aziza begitu bahagia karena suaminya tak melarang bekerja. Selama ini, Burhan juga begitu memperlakukannya dengan baik. Akan tetapi, kali ini Aziza kecewa. Burhan meminta ijin untuk menikah lagi dengan alasan permintaan Deswita.
Dalam hidup Aziza, tak ada kata poligami. Wanita itu tidak menentang suami tidak beristri lebih dari satu. Hanya saja, Aziza tak siap jika suaminya menghadirkan wanita lain dalam rumah tangganya.
Aziza memperbolehkan poligami, asal bukan suaminya. Wanita itu tak ingin dimadu. Mengiikhlaskan Burhan menikah lagi tidaklah mudah. Hati Aziza tak selapang itu.
Ponsel Aziza bergetar. Ia segera meraih benda itu. Menarik segala pikiran tentang suaminya.
Aziza menghela napas ketika melihat siapa yang menelfon. Ia tak langsung mengangkat telepon. Aziza tengah meredam kecewa yang hadir karena teringat permintaan Deswita.
"Assalamu'alaikum. Halo, Mah," sapa Aziza ketika telepon sudah tersambung.
"Wa'alaikumussalam. Za, nanti setelah pulang mengajar. Mampir ke sini, ya, Za. Ada yang ingin mamah bicarakan."
Seperkian detik Aziza terdiam. Aziza tahu ibu mertuanya akan membahas tentang apa nanti.
"Iya, Mah. Nanti Aziza mampir ke sana. Mamah mau dibawakan makanan apa?" Meski kecewa mendera, Aziza berusaha tetap perhatian kepada ibu mertuanya.
Selama ini, Aziza selalu diperlakukan baik oleh Deswita. Aziza sudah menganggap wanita paruh baya itu sebagai ibu kandungnya sendiri.
Disayang oleh Deswita, membut Aziza menemukan kasih sayang seorang ibu. Kedua orangtua Aziza telah meninggal sejak dirinya duduk di bangku SMA.
"Tidak usah, Za. Mamah hanya ingin kamu ke sini." Suara Deswita di seberang telepon menarik kesadaran Aziza. Entah, beberapa terakhir ini Aziza kerap melamun.
Aziza menutup telepon setelah Deswita mengakhiri panggilan. Aziza menghela napas panjang. Detik berikutnya, ia sibuk memikirkan cara bagaimana nanti menolak permintaan Deswita. Tanpa menyakiti hati wanita paruh baya itu.
***