Aziza menoleh ke arah meja ketika ponsel suaminya berdenting lebih dari satu kali. Wanita itu pun meraih benda pipih itu—menggeser layar untuk membukanya.
[Mas, sudah sampai rumah belum?]
[Kalau sudah sampai kabarin, yah.]
Aziza mengerutkan kening, kemudian beralih ke atas melihat pengirim pesan itu. Nomor itu disimpan dengan emotikon bunga mawar. Siapa dia? Kerutan di dahi Aziza kian dalam.
Karena penasaran, Aziza kemudian bergulir ke bawah—membaca pesan-pesan terdahulu. Rahang Aziza mengeras membaca pesan Burhan, suaminya, dengan wanita itu.
Kalimat suaminya begitu manis dengan wanita itu. Bahkan, nyaris sama manisnya dengan sikapnya terhadap Aziza selama ini. Apa selama ini suaminya bersikap manis juga kepada wanita di luar sana?
Sejak awal menikah, Aziza dan suami memang membuat kesepakatan agar masing-masing memperbolehkan memegang ponsel pasangannya. Aziza maupun Burhan juga tak mengunci ponsel. Kedua insan itu berusaha agar terbuka satu sama lain.
Namun, entah mungkin kali ini Burhan lupa tidak menghapus pesan bersama wanita itu.
Aziza mendongak ketika suaminya keluar dari kamar mandi. Lelaki itu tampak segar. Aziza memandang Burhan yang tengah menggosok-gosokan handuk di kepala. Setelah pulang bekerja beberapa saat tadi, suaminya langsung membersihkan diri.
Suaminya memang tampan. Aziza mengakui itu. Bahkan, rekan guru di sekolah pernah memuji Burhan ketika mengantar Aziza pergi ke sekolah. Wanita itu biasanya hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis.
"Ayo, Sayang. Kita makan. Aku sudah lapar." Burhan menarik tangan istrinya keluar kamar setelah meletakkan handuk di gantungan. Burhan akan makan jika tubuh sudah diguyur dengan air.
Aziza hanya menurut seperti biasa. Hanya saja, wanita itu tanpa ekspresi. Lengkungan tak terbit dari bibirnya.
Burhan sempat heran ketika istrinya hanya memasang wajah datar dan diam seribu bahasa. Biasanya, Aziza akan tersenyum manis ketika lelaki itu mengajaknya makan.
Kedua insan itu menikmati makan dengan hening. Burhan berkali-kali melirik istrinya yang makan dengan tatapan fokus ke piring. Hari-hari sebelumnya, Aziza dan Burhan makan bersama sembari saling memandang satu sama lain. Tentu senyum juga terbit di kedua bibir masing-masing. Akan tetapi, malam ini ada yang berubah.
Burhan pun mencoba mencairkan kebekuan setelah makanan telah tandas. "Masakanmu selalu enak, Sayang," pujinya.
Aziza hanya melirik sekilas dan tersenyum tipis, kemudian meneruskan makan.
Lagi, Burhan merasa heran. Ketika dipuji, Aziza akan tersenyum lebar. Bahkan, akan memberi tahu menu-menu baru yang akan dimasak di hari esoknya.
Aziza kerap mencari resep makanan di Youtobe. Semua itu dilakukan agar Burhan tak bosan makan masakan itu-itu saja.
***
Azia meraih ponsel suaminya yang berada di kasur. Benda pipih itu berdenting. Pesan dari nomor yang sama seperti sore tadi.
[Mas, kenapa pesanku tidak dibalas? Kamu sibuk, ya?]
[Aku kangen, Mas.]
Aziza menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak. Ia berharap dengan meraup udara, sesaknya bisa terurai. Hatinya sakit ketika mengetahui bahwa suaminya dirindukan wanita selain dirinya.
Tepat ketika layar ponsel mengelap, Burhan memasuki kamar. Aziza tak membalas pesan itu. Akan tetapi, ia kini mendekatinya suaminya.
"Mas, wanita ini siapa?" Aziza mengangsurkan ponsel suaminya yang sudah dinyalakan layarnya. Kini, tampak jelas percakapan Burhan dengan wanita yang diberi nama emotikon bunga mawar.
Burhan terkejut. Tubuhnya seperkian detik mematung. "Sayang, aku bisa jelasin," ucapnya dengan gusar. "Aku akan jelasin, tapi kamu jangan marah, ya."
Aziza terdiam. Sebenarnya ia malas mendengarkan ucapan suaminya. Hanya saja, logikanya tetap membutuhkan penjelasan.
"Dia ... wanita pilihan mamah," tukas Burhan setelah mengumpulkan keberanian. Lelaki itu merasa inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu istrinya.
Aziza mengernyit.
Burhan memegang kedua bahu istrinya. "Aku akan jujur. Tapi, kamu jangan marah, ya, Sayang. Mamah memperkenalkan wanita itu agar aku mengenalnya lebih dekat. Mamah ingin ... aku menikah lagi," ucapnya. Ada kelegaan yang dirasakan Burhan setelah mengucapkannya. Selama ini, ia menunggu waktu yang tepat. Meski Burhan tahu, pasti Aziza akan kecewa setelah mengetahui hal ini.
Jantung Aziza berhenti berdetak beberapa detik. Setelah bisa mengendalikan diri, wanita itu berkata, "Alasan mamah menyuruh kamu menikah lagi apa, Mas? Tolong jelaskan!" tanyanya dengan pelan, tapi penuh penekanan. Napas Aziza mulai memburu.
Selama ini Deswita, ibu mertuanya selalu bersikap baik kepadanya. Lalu, tanpa ada angin, ibu mertuanya menginginkan putranya agar menikah lagi. Apa selama ini sikap baik Deswita hanya kepura-puraan?
"Mamah sudah tidak muda, Za. Mamah sering sakit. Apalagi sekarang mamah terkena sakit jantung. Mamah ingin segera punya cucu. Karena ... kamu belum hamil sampai sekarang. Makanya mamah ingin aku menikah lagi, Za." Burhan menjelaskan dengan nada kehati-hatian. Berharap istrinya bisa memahami.
Aziza membeku. Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Dirinya memang tak kunjung hamil. Padahal, pernikahan mereka sudah memasuki usia dua tahun.
"Lalu, kamu mau, Mas? Apa kamu tidak bilang bahwa kita sehat? Kita sudah pernah periksa, hasilnya baik-baik saja. Kita hanya sedang menunggu waktu kapan Allah kasih. Kita harus lebih bersabar. Allah belum menitipkan amanah kepada kita." Suara Aziza terdengar menggebu. Hatinya kalut.
"Aku belum jawab, Za. Aku masih mempertimbangkan karena aku belum ijin sama kamu." Burhan memandang iba istrinya.
"Belum jawab, tapi kamu dan wanita itu sudah saling berbalas pesan dengan kata-kata manis, Mas!" Aziza mendesis. "Sama seperti kamu bersikap manis kepadaku selama ini." Amarah Aziza mulai naik. Akan tetapi, wanita itu berusaha agar tidak berkata keras di hadapan suaminya.
"Za, itu hanya proses perkenalan saja." Burhan membela diri.
Aziza tersenyum miring. "Perkenalan, Mas? Kalau hanya perkenalan kenapa pesannya begitu manis seperti sepasang kekasih? Lalu, kalau Mas Burhan menolak permintaan mamah. Mas Burhan tidak perlu berbalas pesan dengan wanita itu. Tidak perlu beralasan sebagai perkenalan. Ini sama saja Mas Burhan sudah setuju untuk menikah lagi." Napas Aziza naik turun. Kesabarannya mulai terkikis.
"Aziza ...." Burhan berusaha meraih tangan istrinya.
Aziza segera menepis sebelum Burhan memegang tangannya. "Kamu sama saja sudah berselingkuh, Mas!" ucapnya tajam.
"Za, aku tidak berselingkuh!"
Aziza tersenyum miris. "Kamu telah melanggar kesepakatan awal pernikahan kita, Mas. Aku kecewa sama kamu, Mas!"
"Sayang, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku hanya mengikuti permintaan mamah." Suara Burhan merendah.
Aziza bergeming.
"Aku hanya berbalas pesan. Tidak lebih."
Aziza menatap lekat suaminya. "Apapun alasannya, aku tetap kecewa sama kamu, Mas. Ternyata sikap manismu kepadaku, kamu bagi dengan wanita lain di luar sana. Kalau ingin mengikuti permintaan mamah, bukan seperti ini caranya, Mas." Aziza menjeda kalimatnya. Amarahnya masih meletup-letup. Lagi, wanita itu merendahkan suaranya. "Sudah berapa lama Mas Burhan menjalin hubungan dengan wanita itu?"
"Baru dua bulan. Kita jarang bertemu, Za. Bertemu baru tiga kali. Itu pun dia yang datang ke rumah mamah."
Hati Aziza kembali nyeri mendengar penjelasan suaminya. Suami dan ibu mertuanya telah menorehkan luka di hatinya.
***