Sinta dipanggil ke ruang kecil, kop HR, bukan restoran. Promosi: kepala sekretariat CEO. Prosedur. Bukan hadiah huruf. Bukan hadiah palu. Nirwa: 'Angka. Loyalitas yang sudah teruji. Bukan kultus. Kalau Ibu jadi judul, saya cabut. Kerja. Kaku. Sabun.' Sinta hampir tersenyum, lalu tidak. Senyum judul. 'Siap. Kopi?' Nirwa: 'Pahit. Bukan pesta jabatan.' Mereka tidak berfoto. Foto duet. Duet ditolak. Sinta ketik kanal: tidak ada perubahan jabatan CEO; sekretariat prosedur; kerja. Kaku. Nirwa ke papan. Palet. Lestari kaku: tertahan tetap, jangan longgar karena 'tim Ibu rapi'. 'Rapi prosedur. Prosedur bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Pemisahan. Ketukan. Kerja.
Pagi itu telur di meja. Ia tidur di utama semalam, hampir enam. Cukup. Cukup untuk tidak merayakan ranjang. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Di mobil Sinta tidak tanya ranjang. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Huruf sudah. Lemari sudah. Jabatan Sinta prosedur. Hari ini truk. Truk noda. Noda jujur.
Siang Dodi: portal lapar 'tim ratu'. 'Ibu jangan isi. Isi naskah. IR diam. Kerja.' Nirwa: 'Tidak isi. Truk.' Intan: tidak ada kertas baru. 'Ibu kering. Jangan belas. Jangan rujuk. Makan selevel boleh. Darurat tidak.' Nirwa pantry, air. 'Kering. Bukan darurat. Nasi. Kelas. Rel. Kerja.' Tutup. Empat mata 'menyusun narasi suksesi asisten' ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun. Pak Harun truk. *Bagus.* Ia tidak ke Bekasi. Promosi bukan alasan pawai.
Sore Sinta ragu di ambang, map lain. 'Bu. Majalah bisnis. Wawancara sampul. Judul draf: ratu yang merebut tahta. Saya bisa tolak. Format spektakel.' Nirwa diam. Diam bukan jeda. Jeda gagal dulu. Diam pikir. Pikir bukan darurat. Ia tidak tertawa dulu. Tertawa nanti, di gelap, kalau ia mau. 'Tahan. Jangan jawab hari ini. Jangan rilis judul. Saya yang putuskan. Kerja. Palet dulu.' Sinta: 'Siap.' Nirwa kopi pahit. Pahit jujur. Judul itu naskah. Naskah Arman dulu: ratu merebut. Merebut seolah tahta pindah. Tahta tidak pindah. Mereka yang salah menghitung. Menghitung nanti. Nanti malam. Malam bukan hari ini. Hari ini delay. Delay ia buka. Buka kerja. Kepala ritel pilih suku cadang. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi sampul. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Setelah Sinta pergi ia ke jendela, kota senja, napas empat. Judul merebut adalah warung yang sama dengan sapu, dengan bebas, dengan pulih. Warung tidak. Gedung iya. Gedung palet. Palet ia jaga. Jaga cukup untuk tidak menjawab di sore yang masih kerja. Kerja dua belas ribu. Dua belas ribu huruf seberang. Huruf jangan dicampur sampul. Campur makan malam. Makan malam sudah mati. Ia paraf satu angka. Angka delay. Delay jujur. Jujur lebih mahal daripada merebut. Merebut naskah. Naskah ditolak. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Lutut menurut. Enam akan ditagih. Tagih ia coba. Coba cukup. Cukup untuk menahan judul. Tahan kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Masih di kop. Kop yang sama. Sama sejak ayah. Ayah bisik Rahmi. Rahmi sudah. Sudah. Ia tidak jual bisik ke majalah. Majalah antri. Antri sah. Sah bukan tolak selamanya. Selamanya naskah. Naskah ditolak. Putusan nanti. Nanti gelap. Gelap jaket. Jaket belum. Belum malam ini. Malam ini nasi. Nasi Dina. Dina bukan sampul. Sampul ditahan. Tahan. Ya.
Sore kelas tidak. Sabtu kemarin jelek, kanvas dinding. Dina pesan: *Nasi.* Nirwa: *Nasi. Tidak sampul. Tidak huruf. Tidak jabatan.* Warung. Sambal. Teman SMA Dina tidak datang. Dua orang. Tidak saham. Tidak saksi. Dina: 'Kamu kelihatan rumah. Rumah bukan koran.' Nirwa: 'Rumah. Belum tenang. Dekat. Tidak darurat.' Dina bayar. Nirwa tidak rebut. Pulang. Meja makan. Teh. Cuci. Kunci. Cincin laci. Ranjang utama. Daftar: *Sinta prosedur; judul sampul ditahan; bukan darurat; huruf jangan rilis; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *nasi. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak jawab sampul hari ini. Saya papan. Cinta bukan darurat. Tahta tidak saya rebut. Tahta saya jaga. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai. Damai dekat. Dekat rumah. Rumah lebih tenang. Tenang belum selesai. Selesai nanti. Nanti bukan klip.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar yang dulu delapan tahun, sekarang seorang. Sendirian. Bukan kesepian. Bukan rujuk. Bukan pasangan baru. Yang milik malam ini: judul yang ditahan, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak judul merebut. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Satu dada. Masih.
Di warung Nirwa hampir bilang sampul. Hampir judul. Ia telan nasi. Nasi lebih jujur. Dina tidak menunggu pengakuan. Tidak menunggu belas sah. Belas yang tidak sah: 'kamu hebat, kamu merebut'. Tidak ada. Ada sambal. Sambal kecil. Kecil cukup. Nirwa angguk. Angguk manusia. Manusia warung. Warung boleh. Ia pulang sebelum nasi jadi wawancara. Wawancara naskah. Naskah ditolak. Dina: 'Lain kali. Tidak harus cerita.' Nirwa: 'Tidak harus. Terima kasih tidak tanya.' Radio mati. Rumah. Utuh. Utuh bukan raja. Raja palsu sudah. Sudah. Cinta bukan darurat. Darurat ditolak. Tidak. Ya.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Sampul bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Judul ditahan. Tahan kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Masih. Bukan darurat. Tidak. Ya.
Sebelum lift ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak menjawab sampul di kepala. Kepala palet. Palet truk. Truk jujur. Jujur Senin. Judul ditahan. Tahan sah. Sah bukan tolak selamanya. Putusan gelap. Gelap nanti. Nanti jaket. Jaket belum. Belum pagi ini. Pagi ini kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Bukan darurat. Tidak. Masih. Ya.
Rumah malam itu besar, kurang perang. Kurang bukan nol. Nol naskah. Naskah ditolak. Ia tidak nyala TV. TV ratu. Mejanya ranjang yang ia coba. Coba cukup. Cukup untuk tidak menjawab sampul di gelap. Gelap nanti. Nanti jaket. Jaket belum. Belum malam ini. Malam ini tidur. Coba enam. Coba cukup. Kerja. Palet. Truk. Jujur. Masih.