Pagi itu Nirwa tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Yang ia buka: map delay, air dulu, kopi belum. Lorong. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Rahmi sudah. Huruf seberang sudah. Lemari kering. Sinta prosedur. Judul sampul ditahan. Putus sudah. Palu sudah. Isi tidak ia ulang. Nama ia di kop. Rantai jujur. Kelas jelek. Nasi Dina. Rel sekali. Makan bukan darurat. Sendirian. Bukan kesepian. Sinta di ambang, tidak tanya sampul. Tidak tanya belas sah. Lestari lima menit: tertahan tetap, jangan longgar. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku. Hari ini truk. Bukan sampul.' Lestari: 'Saya kaku.' Pemisahan. Ketukan. Kerja.
Pagi itu telur di meja makan, lampu kecil. Ia tidak nyala kristal. Kristal tidak perlu. Tidak perlu bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Di mobil radio mati. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang bukan kata yang ia kejar. Kejar truk. Truk noda. Noda jujur. Jujur cukup. Siang delay. Palet. IR diam. Pasar datar. Dodi: tidak ada rilis. Nirwa: 'Truk.' Intan tidak telepon. Tidak telepon belas sah. Empat mata ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun. Pak Harun truk. *Terima kasih.* Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul merebut.
Sore ada sisa acara hari jadi yang tertunda — jaket tertinggal di ruang CEO. Ia hampir minta Sinta ambil. Hampir kultus. Kultus ditolak. Ia sendiri. Malam. Gedung sepi. Lampu lorong. Tengah. Tidak meratakan, meski tidak ada dua cuaca. Cuaca satu. Satu ia biarkan. Pintu ruang. Gelap. Ia nyala lampu meja, bukan kristal. Jaket di sandaran. Ia tidak langsung ambil. Ia ke jendela. Kota yang menyala. Kota yang sama yang ia tatap dari jendela kamar, dulu, malam ketika ia berbisik bahwa ia akan mencari tahu apa yang disiapkan suaminya.
Dulu bisik itu perang. Perang sudah. Palu sudah. Putus sudah. Rahmi sudah. Huruf sudah. Lemari sudah. Yang tersisa di kaca: perempuan yang sama, kota yang sama, tahta yang tidak pindah. Tidak pindah. Mereka yang salah menghitung — dewan yang kudeta, suami yang manis di rumah, sepupu yang peluk di restoran keluarga, portal yang lapar angka, Arman yang orkestrasi, sapu yang ditolak, judul yang merebut. Menghitung salah. Salah ia tidak ulang di rilis. Rilis diam. Diam kerja. Kerja sampai malam ini, sampai jaket, sampai jendela. Jendela jujur. Jujur cukup. Cukup untuk tertawa kecil nanti, bukan untuk pidato. Pidato ditolak. Ia napas empat. Empat. Kota. Lampu. Macet di bawah yang tidak tahu namanya. Tidak tahu belas sah. Bagus. Bagus ia tidak butuh siapa pun di samping kaca ini untuk membuktikan kursi. Kursi kerja. Kerja kop. Kop Tanjung. Tanjung ayah, Tanjung ia, Tanjung dua belas anak usaha, Tanjung dua belas ribu orang. Orang huruf. Huruf seberang. Seberang ia jaga dengan diam. Diam malam. Malam jaket.
Ia sudah mencari tahu. Ia sudah menjawabnya. Jawabannya tidak di sampul. Jawaban di palet, di Lestari yang kaku, di gudang yang baca truk, di huruf seberang yang tidak ia rilis, di pelukan yang tidak pernah, di kelas yang jelek, di nasi yang bukan saham, di rel yang tidak dijual, di makan yang pulang utuh, di lemari yang kering, di kop yang sama. Perusahaan yang tidak ia cantikkan dengan dusta. Orang yang setia tanpa kultus. Perempuan yang tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk membuktikan bahwa tahta itu memang miliknya. Tahta tidak pindah. Mereka yang salah menghitung.
Jaket masih di sandaran. Ia tidak buru. Buru naskah. Naskah ditolak. Ia berdiri di kaca lebih lama, napas empat, kota yang menyala tanpa memintanya pidato. Pidato ditolak. Dulu bisik perang. Sekarang bisik tidak. Tidak. Cukup. Cukup untuk mengambil jaket tanpa merayakan. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Tahta kerja. Kerja besok. Besok truk. Truk jujur. Jujur masih. Masih di sini, di ruang gelap, sebelum ponsel, sebelum judul, sebelum rumah. Rumah tenang antri di belakang jaket. Jaket ia ambil. Ambil pulang. Pulang seorang. Seorang sendirian. Bukan kesepian. Beda. Beda ia jaga. Jaga sampai lampu meja. Lampu masih nyala. Nyala kerja. Kerja cukup. Cukup. Ya.
Ponsel bergetar. Sinta: *Bu, majalah bisnis minta wawancara sampul. Judul draf: ratu yang merebut tahta. Boleh saya jawab ya?* Nirwa tertawa kecil di ruangan gelap. Tertawa bukan klip. Klip ditolak. Ia ketik: *Boleh. Tapi minta mereka ubah judulnya. Tahta itu tidak pernah berpindah. Mereka saja yang salah menghitung.* Kirim. Bukan darurat. Darurat ditolak. Cinta, pikirnya, mungkin akan datang lagi suatu hari. Atau mungkin tidak. Dua-duanya bukan keadaan darurat. Ia matikan lampu meja. Jaket. Lorong. Tengah. Lift. Satpam angguk. Tidak bicara.
Di mobil pulang ia tidak nyala radio. Radio judul. Judul sudah ia ubah. Ubah cukup. Cukup untuk tidak membaca draf sampul malam ini. Malam ini rumah. Rumah tenang. Tenang bukan nol perang. Nol naskah. Naskah ditolak. Tenang: tidak ada kudeta di balik pintu. Radio mati. Rumah. Lampu kecil. Meja. Bukan kristal. Cincin di laci. Laci cukup. Kanvas dinding, jelek, ia banggakan tanpa foto. Ia tidak buka portal. Dua kali duet. Ia kunci. Ranjang yang sekarang miliknya seorang. Sendirian. Bukan kesepian. Rumah yang tenang, miliknya sendiri, di mana tidak ada lagi kudeta yang disusun di balik pintu kamar. Pintu ia kunci. Kunci miliknya. Miliknya seorang. Seorang sendirian. Bukan kesepian. Beda. Beda yang ia pelajari setahun kertas, setahun truk, setahun telur, setahun keran. Keran malam ini tidak. Tidak. Enam. Enam ia coba. Coba cukup. Cukup. Ratu pulang. Pulang ke tahta yang tidak pernah pindah. Tahta masih. Kerja besok. Palet. Truk. Jujur. Cukup. Tidak sewa. Tidak nonton. Tidak pesta. Tidak raja baru. Tidak sapu. Tidak. Ya.
Ia tidur. Enam. Keran tidak. Tidak. Cukup. Ratu pulang. Pulang. Masih. Ya.
TAMAT