Pagi setelah huruf, Nirwa tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Yang ia buka: map delay, air dulu, kopi belum. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Rahmi sudah. Huruf seberang sudah. Putus sudah. Palu sudah. Lemari belum. Belum boleh kemarin. Kemarin tunda. Hari ini tunda ia bayar. Bayar kering. Kering bukan pesta. Pesta ditolak. Sinta di ambang, tidak tanya lemari. Tidak tanya belas sah. Lestari kaku: tertahan tetap, vendor bersih, jangan longgar. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku. Rumah bukan invoice.' Lestari tidak tanya rumah. Pemisahan. Ketukan. Kerja.
Pagi itu telur di meja, lampu kecil. Di mobil Sinta tidak tanya huruf. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh, mata yang kemarin pecah sudah keran. Keran cukup. Utuh cukup. Menang belum. Huruf sudah. Sudah bukan miliknya untuk diulang. Hari ini truk. Truk noda. Noda jujur. Siang delay. Palet. IR diam. Pasar datar. Empat mata 'menyusun narasi hari jadi' ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun.
Sore Dodi: portal pasang huruf, sumber karyawan, jangan klarifikasi jadi kampanye. Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Truk.' Intan: putus tercatat. 'Ibu mau bereskan lemari, sah. Bukan agenda saya. Jangan rilis. Jangan belas. Jangan rujuk. Kering.' Nirwa pantry, air. 'Kering. Tidak rilis. Tidak rujuk. Tidak sapu. Lemari hari ini.' Tutup. Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Pak Harun truk. *Terima kasih.* Lorong pulang lebih awal, bukan cuti. Cuti jeda. Jeda gagal dulu. Pulang kerja rumah. Rumah lemari. Lemari delapan tahun.
Sore, sebelum pulang kardus, ia masih di delay. Palet. Ketukan. Bukan karena ragu lemari, karena noda menahan dada agar tidak menjadikan kosong sebagai piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Lestari angka. Nirwa paraf. Jendela. Kota. Huruf seberang tidak ia lihat dari sini. Tidak lihat belas sah. Bagus. Rumah nanti. Nanti kardus. Kardus kering. Kering ia bayar dengan tangan, bukan dengan rilis. Rilis diam. Diam kerja. Kerja sampai senja. Senja cukup. Cukup untuk pulang tanpa Sinta. Sinta prosedur jabatan nanti. Nanti bukan lemari. Lemari sendiri. Sendirian. Bukan kesepian. Beda. Beda ia jaga. Jaga sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu. Bukan kardus. Kardus rumah. Rumah seorang. Seorang. Ya.
Sore rumah. Ia buka kamar utama. Udara. Ia buka lemari. Gagang. Isi. Bukan parfum sebagai perang. Perang sudah. Putus sudah. Ia tidak buang dengan amarah. Amarah judul. Judul ditolak. Ia taruh kardus. Kardus prosedur. Prosedur rumah. Sinta tidak ia panggil. Memanggil kultus asisten di lemari. Kultus ditolak. Ia sendiri. Sendirian. Bukan kesepian. Ada bedanya. Ia lipat, masukkan, tutup. Tidak foto. Tidak kirim Dina. Tidak kirim Rahmi. Rahmi sudah. Sudah bisik. Bisik cukup. Parfum ia buang ke sampah, bukan ke portal. Portal duet. Duet ditolak. Pintu lemari kosong. Kosong jujur. Jujur lebih mahal daripada naskah 'sudah move on'. Move on judul. Judul ditolak. Ia buka jendela. Napas empat. Kota. Kota yang sama. Beda alamat dalam rumah. Beda ia jaga.
Di lantai ia duduk sebentar, bukan lutut pantry. Lutut rumah. Rumah boleh. Boleh antri di kardus. Kardus tidak ia labeli nama. Nama judul. Judul ditolak. Delapan tahun lipatan. Lipatan jujur. Jujur cukup untuk tidak merayakan kosong. Kosong kerja. Kerja tangan. Tangan yang sama yang paraf delay, yang pegang kuas jelek, yang bayar nasi terpisah. Tangan ini lipat. Lipat kering. Kering bukan belas. Belas naskah. Naskah ditolak. Ia berdiri. Tutup lemari. Tutup pintu. Kamar tamu masih ada ranjang. Ranjang satu malam lagi. Satu malam sah. Sah bukan kalah. Kalah naskah. Naskah ditolak. Dapur. Telur. Meja. Lampu kecil. Ia makan pelan. Pelan kolom. Kolom menahan dada agar tidak foto huruf seberang sebagai pasangan lemari. Pasangan naskah. Naskah ditolak. Huruf milik karyawan. Lemari milik rumah. Rumah milik seorang. Seorang sendirian. Bukan kesepian. Beda. Beda ia jaga. Jaga sampai kardus di sudut, menunggu angkut, bukan menunggu koran. Koran biar mereka. Mejanya piring. Piring jujur. Jujur sore. Sore cukup. Cukup untuk tidak jadi judul. Judul ditolak. Tidak. Ya.
Malam ia tidak langsung pindah ranjang. Ranjang utama naskah rumah tenang. Tenang antri. Antri satu malam lagi di tamu, lalu coba. Coba sah. Sah bukan pesta. Ia masak telur, meja makan, lampu kecil. Teh. Cuci. Kunci. Cincin tetap di laci. Laci cukup. Tidak pakai. Tidak buang. Buang judul. Daftar: *lemari kering; huruf jangan rilis; Rahmi sudah; kelas Sabtu; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya bereskan lemari. Saya tidak pesta. Saya belum tidur di utama. Belum boleh malam ini. Boleh antri. Saya papan. Cukup untuk sore kardus. Tidak cukup untuk damai. Damai dekat. Dekat belum selesai. Selesai nanti. Nanti bukan klip.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Kamar tamu. Satu malam lagi. Ratu. Bukan rujuk. Yang milik malam ini: lemari yang tidak ia jual, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak judul move on. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Lemari bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Kosong di rumah. Kosong jujur. Nama di kop. Kop kerja. Kerja cukup. Tahta masih. Masih. Tidak pesta. Tidak. Ya.
Malam berikutnya ia coba ranjang utama. Bukan pesta. Bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Kasur yang sama, orang yang lain: seorang. Sendirian. Bukan kesepian. Ia tidur. Gagal pukul dua, keran singkat, kembali. Enam hampir. Rahmi akan puas sebagian, meski Rahmi sudah. Sudah. Kerja. Palet. Truk. Jujur. Rumah lebih dekat ke tenang. Dekat. Belum klip. Tidak. Masih.
Sebelum lampu mati ia dengar rumah. Rumah besar, kurang perang. Kurang bukan nol. Nol naskah. Naskah ditolak. Lemari kosong. Kosong jujur. Jujur cukup untuk tidur di utama. Utama seorang. Seorang sendirian. Bukan kesepian. Beda. Beda ia jaga. Jaga sampai enam. Enam hampir. Hampir kerja. Kerja besok. Palet. Truk. Jujur. Masih. Ya.