Sepuluh tahun sejak Nirwa memimpin Grup Tanjung, dan perusahaan itu memutuskan mengadakan acara peringatan.
Bukan tentang kudeta yang gagal. Bukan tentang sidang. Bukan tentang perceraian yang tinggal menunggu jadwal.
Hanya hari jadi, dengan panggung kecil di halaman gedung, kursi-kursi yang ditata rapi, dan sebuah spanduk yang kalimatnya sudah diperiksa Dodi tiga kali supaya tidak ada satu pun kata yang bisa dipelintir.
Nirwa berdiri di belakang panggung sebelum acara dimulai, sendirian.
Sendirian, bukan kesepian. Ia sudah belajar bedanya di beberapa tempat sepanjang tahun ini: di kamar tamu rumahnya sendiri, di ruang kelas anaknya yang catnya jelek, di stasiun kereta, di warung Dina, dan di sebuah restoran ketika seseorang memilih untuk tidak menawarkan bantuan apa pun.
Sinta berdiri di samping tangga panggung, bukan di dekat mikrofon. Lestari tidak hadir sama sekali — ia sedang di ruang rapat lantai empat, menutup laporan bulanan, karena begitulah pembagian yang disepakati sejak awal: yang mengurus angka tidak berdiri di panggung, dan yang berdiri di panggung tidak menyentuh angka pada hari itu.
Nirwa naik ke podium dan membaca tiga paragraf.
Yang pertama, terima kasih untuk pekerjaan — disebutkan per divisi, dengan nama bagian, bukan nama orang, supaya tidak ada yang merasa lebih dipilih.
Yang kedua, tentang rantai pasok yang mulai dibereskan: apa yang sudah membaik, apa yang masih terlambat, dan berapa lama lagi perbaikan itu diperkirakan berjalan. Angka yang ia sebut adalah angka yang sama persis dengan yang ada di laporan internal, tanpa dipoles.
Yang ketiga, satu kalimat pendek: bahwa perusahaan tidak akan berkomentar tentang urusan pribadi siapa pun, termasuk urusan pribadinya sendiri, dan bahwa ia berharap semua orang di ruangan itu ikut menjaganya.
Tidak ada satu pun kalimat tentang kemenangan. Tidak ada angka hukuman. Tidak ada nama Gilang, tidak ada nama Wiryo, tidak ada nama keluarganya.
Tepuk tangan datang di akhir, cukup panjang, dan ia tidak memperpanjangnya dengan berdiri terlalu lama di podium. Ia turun setelah tepukan kedua, menyalami dua orang di barisan depan, lalu berjalan ke pintu samping.
Sebelum naik ke panggung, ada satu perubahan kecil yang ia minta pada susunan acara.
Dalam naskah asli, namanya disebut tiga kali oleh pembawa acara: di pembukaan, sebelum pidato, dan di penutup.
'Cukup sekali,' kata Nirwa ketika membaca naskah itu setengah jam sebelumnya. 'Yang sebelum pidato saja.'
'Tapi ini acara hari jadi kepemimpinan Ibu—'
'Ini acara hari jadi perusahaan,' potong Nirwa. 'Yang sepuluh tahun itu perusahaannya, bukan saya. Saya kebetulan yang duduk di kursi itu selama sepuluh tahun terakhir.'
Naskah diperbaiki. Pembawa acara menyebut namanya satu kali.
Di lorong menuju lift, seorang karyawan dari bagian gudang — orang yang mungkin belum pernah bicara langsung dengannya selama sepuluh tahun — hampir mengucapkan sesuatu, lalu ragu.
Nirwa berhenti.
'Ya?'
'Cuma mau bilang, Bu,' kata orang itu, 'yang soal keterlambatan tadi. Terima kasih sudah disebut apa adanya. Biasanya bagian kami yang disalahkan diam-diam.'
Nirwa mengangguk sekali. 'Karena memang bukan salah bagian Anda.'
Ia tidak berpidato di lorong. Tidak ada kalimat tambahan, tidak ada janji.
Ada satu bagian dari acara itu yang tidak masuk susunan mana pun, dan justru itu yang paling lama diingat orang-orang di gedung tersebut.
Ketika Nirwa turun dari panggung, seorang petugas kebersihan yang sudah bekerja di situ sejak sebelum ia menjabat berdiri di dekat pintu samping sambil memegang sapu, menunggu acara selesai supaya bisa mulai membersihkan.
Nirwa berhenti dan menyalaminya.
Bukan gerakan besar, tidak ada yang memotret, dan tidak satu pun kalimat diucapkan selain sapaan biasa.
Tapi tiga orang di dekat situ melihatnya, dan cerita itu beredar di gedung sampai dua minggu kemudian — jauh lebih lama daripada isi pidatonya sendiri, yang sudah dilupakan orang pada hari Senin berikutnya.
Ketika Sinta menyampaikan hal itu beberapa hari kemudian, Nirwa mengerutkan kening.
'Kenapa itu jadi cerita?'
'Karena Ibu tidak melakukannya di depan kamera,' kata Sinta.
'Saya menyalaminya karena beliau berdiri di situ,' kata Nirwa. 'Kalau saya harus memikirkan kamera dulu sebelum menyalami orang, berarti ada yang salah dengan cara saya bekerja.'
Sinta tidak membalas, tapi ia mencatat kalimat itu — bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk dirinya sendiri.
Sore harinya, setelah acara selesai dan halaman gedung sudah dibereskan, Sinta menahannya sebentar di basement dengan wajah yang jelas menyimpan sesuatu.
'Ada apa?'
'Dua permintaan wawancara masuk selama acara,' kata Sinta. 'Keduanya bukan soal hari jadi.'
'Ditolak?'
'Sudah saya tolak. Tapi ada satu lagi yang saya tidak berani putuskan sendiri.' Ia menyerahkan selembar kertas. 'Dari kanal internal. Mereka mau membuat tulisan sepuluh tahun kepemimpinan Ibu.'
Nirwa membacanya sampai habis, lalu mengembalikannya.
'Tolak,' katanya.
'Boleh saya tahu alasannya, Bu? Supaya saya bisa menjawab kalau mereka bertanya.'
Nirwa berpikir sebentar.
'Karena sepuluh tahun itu belum selesai,' katanya. 'Dan orang yang menulis riwayatnya sendiri di tengah jalan biasanya berhenti mengerjakan sisanya.'
Sebelum naik ke mobil, Sinta menyampaikan satu hal lagi — kali ini bukan permintaan, melainkan kabar.
'Bu Lestari titip pesan,' katanya. 'Laporan bulanannya sudah ditutup. Satu jalur masih terlambat, dan beliau tetap menulisnya terlambat. Katanya Ibu pasti akan menanyakan itu besok pagi, jadi lebih baik dijawab sekarang supaya Ibu tidak memikirkannya semalaman.'
Nirwa hampir tertawa.
'Beliau bilang begitu?'
'Persis begitu, Bu.'
'Sampaikan terima kasih,' kata Nirwa. 'Dan sampaikan juga bahwa saya memang akan menanyakannya besok pagi, jadi jawaban hari ini tidak membatalkan pertanyaan besok.'
Sinta mencatat, lalu menahan senyum. 'Baik, Bu.'
Ia masuk ke mobil, dan sepanjang perjalanan pulang memikirkan bukan panggung tadi, melainkan satu baris merah di papan yang sampai sore itu belum berubah warna.
Di rumah, ia membuka lemari, menggantung pakaian yang tadi dipakainya ke panggung, dan berdiri sebentar memandang deretan baju kerja yang semuanya berwarna serupa.
Sepuluh tahun. Ia mencoba mengingat bagaimana rasanya hari pertama di kursi itu, dan yang muncul justru hal yang paling remeh: bahwa hari itu ia datang empat puluh menit lebih awal karena takut terjebak macet, lalu duduk sendirian di ruang kerja yang belum ada isinya sama sekali.
Ruangan itu sekarang penuh — bukan dengan penghargaan, melainkan dengan map.
Besok pagi, urusan itu yang akan ia tangani lebih dulu.