Hari perpisahan Rahmi bukan panggung. Kop dewan, ruang kecil yang lebih besar dari biasa, air mineral, bukan sampanye. Notulen. Ucapan resmi. Independen yang tidak basah hadir. Wiryo hormat dua baris, tidak usul dampingan. Pisau sudah tumpul. Nirwa tidak duet. Ia bawa map delay, sengaja, supaya ruangan melihat palet sebelum mendengar dada. 'Catat. Saya tidak merayakan kepergian. Saya terima prosedur. Kursi ini milik independen, bukan milik rasa. Kalau Bapak ingin suasana, suasana sudah ditolak dulu. Hari ini hormat. Hormat kertas.' Rahmi ketuk. 'Diterima. Pensiun efektif sesuai tanggal. Kerahasiaan sampai rilis dewan. Bukan rilis CEO sebagai anak. Tutup.' Selesai. AC. Nirwa tidak berjabat tangan berlebihan. Jabat tangan duet. Ia kumpulkan map.
Pagi itu telur di meja makan, lampu kecil, bukan kristal. Meja masih lebar. Lebar jujur. Di mobil Sinta tidak tanya pelukan. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang naskah. Hari ini hormat. Hormat prosedur. Prosedur bukan pesta. Pesta ditolak. Gedung iya. Gedung tidak menawarkan ibu pengganti. Gedung menawarkan papan. Papan ia buka sepuluh menit sebelum ruang, noda di mata, supaya perpisahan tidak jadi naskah pahlawan. Pahlawan pecah. Pecah judul. Palet jujur. Jujur ia bawa.
Setelah notulen, di koridor yang bukan selasar, Rahmi menahan Nirwa. Bukan empat mata rahasia. Pintu terbuka. Sinta jauh. Rahmi memeluknya. Pelukan yang tidak pernah. Perempuan besi, enam puluh tiga, yang tagih telur dan enam jam, yang tidak memeluk siapa pun di kop. Nirwa kaku dulu, lalu menurut. Menurut bukan damai. Damai antri. Antri yang lebih jujur daripada pidato anak. Rahmi berbisik, tidak untuk notulen: 'Ayahmu akan sangat bangga. Bukan karena kamu menang. Karena kamu menang tanpa menjadi seperti mereka.' Nirwa tidak menangis. Tangis klip. Ia angguk, sekali, di bahu yang kaku. 'Telur. Enam. Saya coba. Saya tidak jadi mereka. Truk.' Rahmi: 'Bagus. Aku tidak abadi. Kamu jangan cari ibu di koran. Koran darurat. Darurat ditolak. Kerja.' Mereka lepas. Bayar terpisah tidak ada di koridor. Hormat cukup. Cukup untuk tidak merayakan ibu. Ibu naskah. Naskah ditolak. Rahmi pergi ke lift lebih dulu. Nirwa ke papan. Palet. Ketukan. Kerja.
Di lift cermin Nirwa utuh. Utuh cukup. Menang belum. Pelukan bukan piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Dada hangat, bukan pecah. Pecah klip. Klip ditolak. Ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak menulis rilis anak. Rilis dewan. Dewan prosedur. Prosedur Rahmi jaga sampai menit terakhir. Terakhir bukan malam ini di koran. Koran biar mereka. Mejanya palet. Palet ia buka. Buka kerja. Kerja truk. Truk jujur. Jujur lebih mahal daripada bisik yang diulang. Bisik sekali. Sekali cukup. Dua kali duet. Duet ditolak. Nama di kop. Kop kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Ayah bangga bukan judul. Judul ditolak. Ia paraf satu angka, jendela, kota. Kota tidak tahu pelukan. Tidak tahu belas sah. Bagus. Bagus ia tidak jual. Jual bunga. Bunga dikembalikan. Kerja. Forecast. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi ibu. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Siang Lestari lima belas menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'hari perpisahan'. 'Perpisahan bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak tanya pelukan. Saya kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih. Kursi dewan bukan invoice. Invoice kamu. Papan saya. Beda.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa nasi kotak. Empat mata selamat ditolak. Email: *Prosedur. Kerja. Jangan spekulasi pengganti di lobi.* Kaku. Sabun. Kepala ritel pilih delay. Ketukan. Bukan pesta ibu.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh, dada yang tadi bahu Rahmi. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Rahmi untuk ulang bisik. Ulang duet. Duet ditolak. Bisik sekali. Sekali cukup. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di pelukan. Pelukan milik koridor. Koridor bukan koran. Koran biar mereka. Mejanya delay. Delay kerja. Kerja tahta. Tahta masih.
Sore Dodi: rilis dewan kop dewan; IR diam; jangan wawancara 'kehilangan'. Nirwa: 'Tidak wawancara. Truk.' Intan: putus sudah, tidak ada yang perlu dicampur. 'Ibu kering. Jangan belas. Jangan rujuk. Pelukan bukan bukti damai di koran.' Nirwa pantry, air, napas empat. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul perpisahan. Pak Harun truk. *Bagus.* Lorong pulang: logistik angguk, keuangan menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Malam dapur. Meja makan, lampu kecil. Telur. Teh. Ia tidak nyala kristal. Kristal rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Kanvas dinding. Daftar: *Rahmi pensiun prosedur; pelukan bukan klip; tidak jadi mereka; kelas Sabtu; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak jadi mereka. Saya papan. Pelukan bukan pesta. Cukup untuk hari hormat. Tidak cukup untuk damai. Damai antri. Antri rumah. Rumah belum tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Kamar tamu. Ratu. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: bisik yang tidak ia jual, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak judul ibu. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Pelukan bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Rahmi sudah. Sudah prosedur. Nama ia di kop. Kop kerja. Kerja cukup. Tahta masih. Masih. Tidak jadi mereka. Tidak. Ya.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala TV. TV perpisahan. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak merayakan ibu. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Ayah bangga bukan judul. Judul ditolak. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di bisik. Ia tidak menelepon Rahmi untuk ulang. Ulang duet. Duet ditolak. Tidur. Coba enam. Coba cukup. Kerja. Palet. Truk. Jujur. Masih.