Undangan itu datang dalam amplop, bukan surel, dan sudah diperiksa Sinta sebelum sampai ke meja.
Bukan dari Wiryo. Bukan dari Arman. Bukan dari siapa pun yang pernah menekan atau berpura-pura mengasihani.
Nama di dalamnya seorang pengusaha di bidang yang berbeda, seusia, duda sejak beberapa tahun lalu, tidak punya kaitan dengan faksi mana pun di dewan, dan tidak pernah sekali pun muncul di berita tentang perkara itu. Sinta sudah memeriksanya sampai tiga lapis, karena itu memang tugasnya.
Isi undangannya sederhana: makan malam, di sebuah restoran yang bukan tempat biasa orang-orang itu berkumpul.
Sinta berdiri di ambang pintu dengan wajah ragu.
'Bu, kalau ada yang melihat, bentuknya bisa jadi judul,' katanya. 'Saya bisa tolak atas nama jadwal.'
Nirwa membaca kartu itu sekali lagi, lalu meletakkannya di meja.
'Saya yang putuskan,' katanya.
'Baik, Bu.'
'Dan keputusannya: saya datang.' Ia mengangkat wajah. 'Dengan syarat yang saya tentukan sendiri. Satu jam. Tidak membawa map. Tidak membahas perusahaan, tidak membahas perkara, tidak membahas dewan. Kalau makan malam itu berubah jadi wawancara, saya berdiri dan pulang.'
'Kalau ada yang memotret?'
'Maka ada foto dua orang makan malam,' kata Nirwa. 'Saya sudah difoto dalam keadaan yang jauh lebih buruk dari itu.'
Sinta mencatat, lalu bertanya seperti biasa. 'Kopi?'
'Yang pahit.'
Yang menarik dari hari itu bukan undangannya, melainkan betapa sedikitnya undangan itu mengubah apa pun.
Pagi tetap dimulai dengan telur dan teh. Lorong menuju lift tetap dilewati di tengah, tanpa memberi apa pun kepada siapa pun. Lestari tetap datang dengan laporan yang sama kakunya.
'Yang tertahan tetap tertahan,' katanya.
'Tahan,' kata Nirwa. 'Terima kasih tetap kaku. Dan makan malam saya nanti bukan alasan untuk melonggarkan apa pun besok pagi.'
Lestari tidak bertanya tentang makan malam. Tidak bertanya tentang apa pun yang bukan angka. Itu salah satu alasan Nirwa memercayainya.
Permintaan pertemuan empat mata masuk lagi hari itu, kali ini dengan alasan yang lebih halus: seseorang ingin memberi masukan tentang bagaimana sebaiknya seorang pemimpin perempuan menyikapi undangan-undangan pribadi di masa seperti ini.
Ditolak, lewat surel, dengan tembusan.
Siang harinya Nirwa turun ke papan sampai bunyi mesin di lantai bawah berhenti untuk istirahat. Satu pengiriman tepat waktu, satu terlambat sehari. Yang tepat tidak dirayakan; yang terlambat dicatat sebagaimana adanya.
Ia tidak membuka kartu undangan itu untuk kedua kalinya. Sekali sudah cukup untuk memutuskan, dan membacanya berulang-ulang hanya akan membuat benda kecil itu tumbuh lebih besar daripada seharusnya di kepalanya.
Menjelang sore, sebelum ia berangkat, Dodi menyempatkan diri mampir dengan satu berkas tipis.
'Bukan hal mendesak,' katanya. 'Cuma pengingat.'
Isinya daftar jadwal beberapa minggu ke depan: sidang pembelaan, agenda komite, dan tanggal sidang perceraian yang sudah keluar.
'Ketiganya berdekatan,' kata Dodi. 'Dalam rentang sebelas hari.'
Nirwa memandang daftar itu agak lama.
'Ada yang bisa digeser?'
'Yang perkara pidana tidak. Yang komite bisa, tapi saya sarankan jangan — nanti kelihatan seperti kita menghindar.'
'Dan yang ketiga?'
'Itu hak Ibu untuk minta ditunda,' kata Dodi. 'Tapi saya sarankan juga jangan. Semakin lama antre, semakin lama nama Ibu tinggal di dua daftar sekaligus.'
Nirwa menutup berkas itu dan mengembalikannya.
'Jalan semua,' katanya. 'Sebelas hari itu akan lewat juga, sama seperti sebelas hari yang lain.'
Dodi mengangguk, dan sebelum keluar ia mengatakan satu hal yang tidak biasa keluar dari mulutnya.
'Ibu makan malam nanti, ya. Yang betul-betul makan, bukan sambil membaca berkas.'
Sebelum berangkat, Nirwa berdiri sebentar di depan cermin di ruang ganti kantornya.
Ia sudah berganti pakaian, dan sedang mempertimbangkan untuk menggantinya lagi — bukan karena tidak pantas, melainkan karena tiba-tiba terpikir bagaimana pakaian itu akan terbaca kalau ada yang memotret.
Ia berhenti di tengah pikiran itu.
Selama lima bulan terakhir, hampir setiap keputusan kecil dalam hidupnya melewati saringan yang sama: bagaimana ini akan terlihat, bagaimana ini bisa dipelintir, siapa yang bisa memakainya.
Ia menutup lemari, tetap dengan pakaian yang pertama.
Bukan pernyataan, bukan perlawanan. Hanya satu keputusan kecil yang untuk pertama kalinya diambil tanpa melewati saringan itu.
Makan malam itu berlangsung persis satu jam.
Lelaki itu sopan, tidak sekali pun menyinggung perkara, dan bercerita tentang usahanya sendiri dengan cara yang tidak menjual apa pun. Ketika ia bertanya, pertanyaannya tentang pekerjaan Nirwa, bukan tentang keadaannya.
Di akhir, ia mengatakan satu hal yang membuat Nirwa mengingatnya lebih lama daripada isi percakapan mana pun malam itu.
'Saya tidak akan menawarkan bantuan,' katanya. 'Bukan karena tidak mau. Karena setiap orang yang menawarkan bantuan kepada Anda tahun ini pasti sedang meminta sesuatu, dan saya tidak mau ikut daftar itu.'
'Terima kasih,' kata Nirwa, dan itu tulus.
Ketika mereka berdiri hendak pulang, lelaki itu menanyakan satu hal yang wajar, dan Nirwa menjawabnya lebih jujur dari yang ia rencanakan.
'Apakah saya boleh mengundang lagi?'
'Boleh,' katanya. 'Tapi saya tidak bisa menjanjikan kapan.'
'Karena sibuk?'
'Karena tahun ini saya belum selesai,' kata Nirwa. 'Dan saya sudah pernah membuat keputusan besar di tengah tahun yang belum selesai. Hasilnya tidak bagus.'
Lelaki itu mengangguk tanpa tersinggung, dan tidak menawar.
'Kalau begitu saya tunggu tahun yang sudah selesai,' katanya.
Nirwa tidak menjawab, tapi ia mengingat kalimat itu sampai di dalam mobil.
Ia pulang sebelum pukul sembilan, mengemudi sendiri, dengan radio yang tetap mati.
Sinta menelepon sekali menjelang pukul sembilan, singkat, hanya untuk memastikan.
'Semua aman, Bu?'
'Aman,' kata Nirwa. 'Dan tidak ada yang perlu dicatat.'
'Baik, Bu. Sampai besok.'
Panggilan itu berlangsung dua puluh detik, dan Nirwa menghargainya justru karena sesingkat itu.
Malam itu ia tidak menuliskan apa pun tentang makan malam itu di catatannya. Bukan karena tidak berarti. Karena ia sudah belajar bahwa hal-hal yang ia catat cenderung berubah menjadi perkara, dan malam itu ia memutuskan ada satu hal dalam hidupnya yang boleh tetap menjadi makan malam biasa.