Pagi setelah putus, lantai lapar bebas. Sinta kanal: tidak ada pernyataan perusahaan soal rumah tangga; kerja; jangan spekulasi. Tetap lapar. Lapar judul. Nirwa tidak mengisi lapar dengan pidato. Ia mengisi dengan papan. Palet. Lorong. Tengah. Tidak meratakan. Lestari kaku: tertahan tetap, jangan longgar karena 'Ibu sudah bebas jadi aman'. 'Bebas naskah. Putus bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku. Jangan rilis bebas. Jangan rilis pulih.' Pak Harun truk. IR diam. Pasar datar. Nirwa tidak bingkai. Empat mata 'menyusun narasi bebas' ditolak. Email kerja. Bebas naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima.
Pagi itu telur di meja makan, lampu kecil. Meja masih lebar. Lebar jujur. Di mobil Sinta tidak tanya cincin. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Putus sudah. Sudah bukan miliknya untuk di pidato. Hari ini truk. Truk noda. Noda jujur.
Siang IR ingin paragraf 'CEO yang merampungkan babak pribadi'. Nirwa menolak di ruang sebelah, tidak bingkai. 'Merampungkan adalah klip. Nama saya di kop yang sama, kerja yang sama, papan yang sama. Putus milik hakim perdata. Kalau rasio, rasio. Kalau diam, diam. Saya tidak di lobi sebagai bebas. Bebas naskah. Naskah Arman: lihat, ratu pesta. Saya cuci invoice. Beda.' IR diam. Bagus. Lestari angka. Nirwa mencatat. Tidak masuk muka. Setelah call ia ke delay. Palet. Nama Tanjung di kop surat vendor. Kop itu kerja. Kerja noda. Noda jujur. Jujur ia jaga supaya tidak jadi pesta prematur. Pesta kultus. Kultus ditolak.
Sore Dodi: portal lapar 'rumah baru'. 'Ibu jangan isi. Isi naskah. IR diam. Kerja.' Nirwa: 'Tidak isi. Truk.' Intan: putus tercatat, salinan jalan, tidak ada yang perlu dirayakan. 'Ibu kering. Jangan bawa putus ke rilis. Jangan rujuk. Jangan belas. Lemari bukan agenda saya. Agenda saya kertas yang sudah dingin. Ibu jaga badan. Enam.' Nirwa pantry, air. 'Kering. Tidak rilis. Tidak rujuk. Tidak sapu. Lemari tunda. Tunda masih.' Tutup. Ia ke papan sampai senja. Jendela. Kota. Putus sudah. Nama di gedung ini: Nirwa Tanjung, CEO, papan delay. Nama di rumah: orang yang putus, belum pindah ranjang. Dua nama. Satu dada. Tidak dicampur.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Dina untuk 'aku putus'. Menelepon piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Dina akan nasi nanti, tanpa berita. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di lemari. Lemari milik rumah. Rumah tunda. Tunda masih. Masih boleh. Boleh antri. Antri bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Lutut menurut. Enam akan ditagih malam. Tagih ia coba tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih.
Sinta ragu. 'Bu, satu permintaan wawancara "perempuan setelah putus". Saya tolak. Format spektakel.' Nirwa: 'Tepat. Setelah putus saya papan. Papan truk. Tolak.' Sinta ketik. Nirwa kopi pahit. Pahit jujur. Empat mata 'menyusun narasi rumah' ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun. Pak Harun truk. *Terima kasih.* Ia tidak ke Bekasi. Putus bukan alasan pawai. Lorong pulang: logistik angguk, keuangan menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore rumah. Ia buka pintu kamar utama, bukan untuk tidur. Untuk udara. Udara delapan tahun. Ia tidak buka lemari. Gagang. Lepas. Putus bukan kunci parfum. Parfum tunda. Tunda masih. Masih boleh. Ia buka jendela, napas empat, tutup pintu lagi. Kamar tamu. Kanvas. Kuas. Kelas Sabtu masih. Jelek masih. Jelek ia banggakan tanpa foto. Foto kultus. Kultus ditolak. Dina pesan: *Nasi? Tidak harus.* Nirwa: *Nasi. Tidak berita. Tidak putus di mulut.* Dina: *Sambal. Aku bayar.* Warung. Nasi. Tidak saham. Tidak saksi. Satu jam. Pulang. Teh. Cuci. Kunci. Cincin laci. Daftar: *putus tidak dijual; lemari belum; kamar utama udara; kelas; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *nasi Dina. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya putus. Saya tidak pesta. Saya belum selesai di lemari. Belum boleh. Boleh antri. Saya papan. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Kamar tamu. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: udara di kamar yang belum ia huni, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Di kamar utama ia berdiri lebih lama daripada di portal. Portal lapar. Kamar tidak. Kamar menunggu tanpa judul. Judul ditolak. Debu. Debu jujur. Jujur delapan tahun yang berembun. Embun sudah. Sudah pecah. Pecah bukan alasan pesta. Pesta ditolak. Ia tutup jendela. Tutup pintu. Kamar tamu. Ranjang yang sudah ia kenal. Kenal cukup. Cukup untuk tidak pindah malam ini. Pindah naskah rumah tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip. Nanti bukan darurat. Sekarang telur, atau nasi Dina, atau teh. Teh kolom. Kolom menahan tangan agar tidak buka lemari. Lemari tunda. Tunda masih. Masih. Ya. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Udara cukup. Cukup untuk malam. Tidak damai. Damai antri. Antri lemari. Lemari belum. Belum. Kerja. Palet. Truk. Jujur. Tidak. Masih. Ya. Cukup. Rumah. Tamu. Bukan utama. Tidak. Ya.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Putus kemarin bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Lemari tunda. Tunda masih. Nama di kop. Kop kerja. Kerja cukup. Tahta masih. Masih. Tidak pesta. Tidak. Ya.
Sebelum lift ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak membawa udara kamar utama ke rilis. Rilis diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet truk. Truk jujur. Jujur Senin. Senin kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Lemari belum. Belum boleh. Boleh antri. Antri sah. Sah bukan kalah. Kalah naskah. Naskah ditolak. Kerja. Palet. Udara. Bukan huni. Tidak. Masih. Ya.