Hari tanggal. Intan: *Datang. Kering. Bukan selasar. Pintu yang saya bilang.* Nirwa: *Datang.* Telur. Teh. Keran lima menit. Cermin: 'Kering. Bukan pesta. Bukan rujuk. Bukan wasit pidana. Meja ini cerai.' Satpam. Sinta di gedung, bukan di selasar. Radio mati. Nirwa tidak meminta dinyalakan. Hampir dada. Dada keran sudah. Ia tidak ke papan dulu. Papan sore. Pagi kop Intan. Beda sabun. Beda ia jaga.
Pagi itu Nirwa makan telur, air, kopi tidak. Tangan. Di mobil Intan ia tidak latihan muka di kaca. Latihan naskah bebas. Naskah ditolak. Badan lebih utuh dari lutut lantai. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk duduk kering. Tidak damai. Di tas map Intan, bukan map delay. Map delay di Sinta. Mulut Nirwa tutup. Pintu belakang. Bukan studio. Studio ditolak.
Sebelum ruang, Intan ulang: 'Tidak pidato. Tidak menatap lama. Tidak jawab judul. Kalau ditanya media di pintu, diam. Diam saya yang isi kalau perlu. Ibu kering.' Nirwa: 'Kering. Diam. Tidak rujuk. Tidak belas. Tidak pesta.' Ia napas empat di koridor yang bukan selasar. Empat cukup. Cukup untuk tidak membawa palet ke kepala. Kepala kertas. Kertas putus. Putus belum. Belum di dalam. Di dalam nanti. Nanti hakim. Hakim bukan portal. Portal biar mereka. Mejanya punggung tegak. Punggung kerja. Kerja kering.
Siang ruang. AC. Hakim. Kertas. Arman ada. Gilang ada. Nirwa tidak menatap lama. Menatap duet. Duet ditolak. Ia duduk, punggung tegak, lutut menurut. Putusan dibacakan. Putus. Ikatan selesai menurut hukum. Harta sesuai kertas yang sudah dingin. Tidak dendam di mulut. Tidak belas di mulut. Pembukuan. Ia tidak tersenyum. Senyum judul. Ia tidak menangis. Tangis klip. Ia angguk, sekali, pada hakim, bukan pada Gilang. Angguk kerja. Kerja kering. Intan: pelan, resmi, selesai. Di luar bukan selasar yang ia pilih. Pintu. Mobil. Radio mati. Nirwa: 'Kering. Tidak rilis. Tidak pesta. Tidak rujuk. Tidak sapu. Gedung sore. Palet.' Intan: 'Enam. Telur. Ibu tidak wajib pidato. Pidato naskah. Saya jaga kalimat kalau aparat tanya. Perusahaan diam. Dodi diam.' Nirwa: 'Diam. Truk.' Tutup. Napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak menjadi istri di koran. Istri sudah putus. CEO sore. Beda. Beda sabun.
Sore gedung. Lorong belah, menempel karena lapar bebas. Dua cuaca. Ia di tengah. Tidak meratakan. Lestari lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'hari putus'. 'Putus Ibu bukan izin cangkang,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku. Jangan rilis bebas. Jangan rilis menang. Kerja.' Lestari: 'Saya kaku. Terima kasih tidak menjadikan saya kemenangan Ibu.' Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel menelan berita, pilih suku cadang. Nirwa minta forecast. Ketukan. Kerja. Bukan balkon pengadilan.
Sore, sebelum Sinta ragu, ia paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Putus milik hakim. Palet milik papan. Beda. Beda sabun. Sabun ia jaga. Jaga cukup untuk tidak pidato di lift. Lift seseorang hampir 'turut'. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato bebas di lift kultus data orang lain. Data milik ruang perdata. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda ia jaga. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Lutut menurut. Enam akan ditagih malam. Tagih ia coba. Coba kerja. Kerja truk. Truk jujur. Jujur sore. Sore cukup. Cukup untuk tidak merayakan kertas. Kertas putus. Putus kering. Kering ia bawa ke delay. Delay ia buka. Buka kerja.
Sinta ragu. 'Bu, portal sudah pasang. Saya tidak tampilkan. Tiga wawancara "perempuan bebas". Tolak.' Nirwa: 'Tepat. Bebas naskah. Kerja. Kalau ingin dukung, palet tepat, bukan selasar.' Sinta ketik. Nirwa pantry, air, sepuluh detik, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Ia kembali ke meja. Jendela. Kota. Putus ramai. Ramai bukan undangan. Undangan yang sah: delay. Delay ia buka. Buka kerja. Pak Harun: *Orang tanya TV. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus.* Rahmi pesan: *Aku tidak nonton. Kamu di papan, bagus. Jangan pesta putus. Jangan rujuk di kepala. Makan. Enam. Wiryo sepi. Jangan isi. Suratku bukan malam ini.* Nirwa: *Papan. Telur. Tidak pesta. Tidak rujuk. Tidak isi.* Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul bebas.
Malam dapur. Meja makan, lampu kecil, bukan kristal. Telur. Teh. Cuci. Kunci. Ia buka laci cincin, lihat, tutup. Tidak pakai. Tidak buang. Buang judul. Judul ditolak. Laci cukup. Tidak lemari. Lemari tunda. Tunda masih. Masih boleh. Boleh antri di belakang putus yang kering. Kanvas dinding. Daftar: *putus kering; tidak pesta; tidak rilis; tidak rujuk; kelas Sabtu; capek.* Enam baris. Kolom: *telur meja. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya putus. Saya tidak pesta. Saya papan. Cukup untuk hari kertas. Tidak cukup untuk damai. Damai antri. Antri rumah. Rumah belum tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Kamar tamu. Ratu. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik malam ini: putus yang tidak ia jual, tahta yang tidak ia sewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak judul segera. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Tidak damai. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Putus bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Putus sudah. Isi tidak ia pidato. Nama ia di kop. Rantai jujur. Sudut di rumah. Beda. Beda ia jaga. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup. Tidak pesta. Tidak rujuk. Tidak. Ya.
Rumah malam putus itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Dapur cukup. Meja makan lampu kecil. Setelah cuci ia hampir cek portal 'bebas'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Putus milik hakim. Palet milik papan. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Kerja. Palet. Tidak pesta. Tidak. Masih. Cincin di laci. Laci cukup. Cukup untuk tidak jadi judul. Judul ditolak.