Pagi Rahmi kirim, kop dewan, bukan restoran: niat pensiun, prosedur, tanggal evaluasi, bukan pesta, bukan malam ini. Sah. Bukan buru karena cerai. Bukan hadiah untuk CEO. 'Kamu tidak usul pengganti di lobi. Kamu tidak telepon. Aku jaga independen. Kursi ini lubang kalau diam. Kita tidak diam di prosedur. Kita diam di lobi. Beda. Nanti. Nanti punya tanggal. Tanggal bukan bunga.' Nirwa membaca di meja, roti karena kolom tubuh, bukan karena nyaman. 'Tidak usul. Tidak telepon. Tidak pesta. Prosedur. Truk. Kalau ditanya, pensiun prosedur, bukan karena sidang cerai.' Ia paraf terima sebagai bahan, nada datar. Sinta yang kirim. Marah tidak tercatat di kop. Marah tidak ada. Yang ada: hati-hati. Hati-hati keran nanti. Sekarang kertas.
Pagi itu telur ia makan di meja makan lagi, lampu kecil. Meja masih lebar. Lebar jujur. Ia tidak nyala kristal. Di mobil Sinta tidak tanya pensiun. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Tanggal cerai antri. Surat Rahmi antri. Dua antrian. Satu dada. Tidak dicampur. Hari ini truk. Truk noda. Noda jujur.
Sebelum Lestari, ia ke delay sepuluh menit. Bukan kampanye. Ia perlu noda di mata sebelum surat dewan, supaya niat pensiun tidak jadi naskah anak yang kehilangan ibu. Kehilangan judul. Palet jujur. Jujur ia bawa ke angka. Angka Lestari. Lestari kaku. Kaku ia pilih. Pilih bukan pesta. Pesta ditolak. Nama di kop. Kop kerja. Kerja truk. Truk cukup untuk tidak mengisi lubang kursi di lobi. Lobi ditolak. Prosedur Rahmi. Rahmi jaga independen. Nirwa jaga palet. Beda kop. Beda sabun.
Siang Lestari lima belas menit: tertahan tetap, vendor bersih, covenant terkendali, jangan longgar karena 'dewan akan ganti'. 'Ganti prosedur. Prosedur bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak tanya surat. Saya kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih. Kursi dewan bukan invoice. Invoice kamu. Kursi Rahmi. Papan saya. Tiga. Tidak dicampur.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin 'stabil'. Nirwa: 'Stabil janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi perpisahan. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Sore Dodi: tanggal cerai tetap; surat Rahmi kop dewan, bukan kop CEO. 'Ibu tidak wawancara "kehilangan ibu". Kehilangan naskah. IR diam. Kalau portal pasang pensiun di samping tanggal cerai, kita tidak klarifikasi. Klarifikasi campur. Campur makan malam.' Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Tidak pesta. Truk.' Intan: tiga minggu tetap. 'Ibu jangan campur surat dewan ke gugatan. Gugatan kering. Kering sudah.' Nirwa pantry, air, napas empat. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Ia ke delay sampai lampu lorong ganti. Palet. Pak Harun: *Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Empat mata 'menyikapi pensiun' ditolak. Email: *Prosedur dewan. Kerja. Jangan spekulasi nama.* Kaku. Sabun. Capek bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah ratu yang kehilangan ibu. Kehilangan naskah. Naskah ditolak. Ia paraf satu angka, jendela, napas. Tahta masih. Surat orang tidak ia pesta. Tidak. Satu kata. Cukup untuk sore.
Sore ia cuci muka. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai senja. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di surat pensiun. Surat milik Rahmi. Rahmi prosedur. Prosedur bukan pesta. Pesta ditolak. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Angguk. Pergi. Lutut menurut.
Sore ia lewat logistik sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi sebelum muka belas. Belas 'Bu, Bu Rahmi...' Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato pensiun di lift kultus kursi orang lain. Kursi milik prosedur. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun. Di keuangan kaca, menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Malam Rahmi restoran, kuah, tagih telur. 'Surat itu prosedur, bukan pelukan. Kamu truk. Jangan senang. Senang buru. Buru Wiryo baca. Tidur. Enam. Cerai antri. Kursi antri. Dua. Satu badan. Badan dibayar tidur, bukan pidato anak.' Nirwa makan pelan. 'Tidak buru. Tidak usul. Tidak pesta. Tidak sapu. Empat. Kerja iya. Kursi bukan saya. Tanggal cerai bukan pesta.' Rahmi: 'Bagus. Nama kamu di kop. Kop kerja. Kursi dewan kop dewan. Beda. Beda itu tahta. Aku tidak memeluk. Aku tagih telur. Nanti aku pergi. Pergi bukan malam ini. Malam ini kuah.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Meja makan, lampu kecil. Telur. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *surat pensiun prosedur; cerai tiga minggu; tidak pesta; rantai jujur; capek bahu.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak pesta surat orang. Saya papan. Papan truk. Cukup untuk hari prosedur. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu cerai belum. Surat iya, yang bukan miliknya untuk dirayakan. Kerja besok. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Surat bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Nama di kop. Kursi orang di prosedur. Tanggal cerai antri. Tiga. Tidak dicampur. Tidak. Tahta masih.
Sebelum lift ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak mengisi lubang kursi di kepala. Kepala palet. Palet truk. Truk jujur. Jujur Senin. Surat prosedur. Prosedur bukan pesta. Pesta ditolak. Tidak. Ya.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala TV. TV perpisahan. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak merayakan surat orang. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Cerai antri. Surat antri. Antri ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di kop dewan. Ia tidak menelepon Rahmi untuk 'jangan pergi'. Pergi nanti. Nanti bukan malam ini. Malam ini tidur. Coba enam. Coba cukup. Kerja. Palet. Tidak pesta surat. Tidak. Masih. Ya.