Amplop itu kop pengadilan perdata, bukan pidana, bukan bunga. Sinta tidak buka. Intan datang sendiri, resmi, ruang kecil. Bukan putus. Penetapan jadwal: pembacaan putusan cerai, tiga minggu. Bukan pesta. Bukan rujuk. Tangga baru. Palu pidana sudah; palu rumah tangga antri di tanggal itu. Dua palu. Satu dada. Tidak dicampur.
Nirwa tidak menyentuh amplop lebih dari sekali. Sekali cukup. Dua kali duet dengan lapar selesai. Lapar boleh di keran. Tidak di lobi. Kertas di meja, tidak di dada. Dada keran nanti. Ruang kecil AC-nya terlalu dingin. Dingin jujur. Jujur cukup. Ia duduk tegak, bukan karena kuat, karena lutut sudah belajar tidak ke lantai di depan orang. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk mendengar tanggal tanpa merayakannya.
'Ibu datang kalau dipanggil. Datang kering. Bukan selasar. Bukan pidato bebas. Dodi jaga kop perusahaan: cerai bukan rilis. Saya jaga meja. Ibu jaga tidak campur dan jaga badan. Enam jam. Telur. Ini bukan selesai. Ini tanggal. Tanggal bukan pesta. Arman akan tanam cabut atau percepat. Kita tidak cabut. Kita tidak percepat. Kita datang.' Nirwa: 'Datang. Kering. Tidak pesta. Tidak rujuk. Tidak rilis. Tidak sapu. Tidak jual kelas. Lima. Tiga minggu. Saya papan. Saya tidak merayakan tanggal.' Intan: 'Bagus. Harta sesuai hukum, dingin, sudah di kertas. Ibu tidak mengambil dendam. Tidak memberi belas. Pembukuan. Pembukuan bukan bunga.' Nirwa: 'Pembukuan. Kering. Kerja.' Sinta dipanggil untuk jadwal — tahu tanggal, bukan untuk rilis. Pucat, kerja. Nirwa menatap kertas lama, tidak membuka lagi.
Siang Nirwa ke papan delay, sengaja, sebelum portal menebak amplop. Palet. Lestari kaku, lima belas menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'cerai akan putus jadi aman'. 'Tanggal bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak tanya kertas Ibu. Saya kaku.' Nirwa: 'Jangan longgar. Terima kasih kaku. Tanggal bukan forecast.' Pak Harun truk. IR siaga diam. Wiryo belum akun — masih siang. Nirwa pantry, air, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Rahmi pesan: *Jangan pesta tanggal. Jangan cabut. Telur. Aku jaga kursi. Kamu truk. Dessy diam. Jangan telepon. Pensiunku nanti. Nanti bukan tiga minggu ini.* Nirwa: *Tanggal. Bukan pesta. Telur. Tidak cabut. Truk.* Satu dada, dua palu, sekarang tanggal cerai di kepala, masih bukan isi. Ia tulis di kertas pribadi, bukan rilis: tanggal, kop Intan, bukan kop Tanjung. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam sudah mati.
Sore portal bocor tanggal, sumber dekat. Arman tanam 'akhirnya'. Intan satu kalimat: proses hukum, tidak berkomentar. Nirwa tidak tambah. Pasar datar. Ruang sebelah. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Lestari angka. Nirwa delay. Lorong menempel kurang. Tidak meratakan. Bunga tidak. Tanggal bukan pesta. Kepala ritel menelan berita, pilih palet. Nirwa minta forecast. Ketukan. Sinta tahan tiga wawancara 'kapan bebas'. Tolak. Bebas naskah. Naskah ditolak. Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul tanggal.
Sore, sebelum pulang, ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Email kaku. Sabun. Ia berdiri di jendela, kota senja, napas empat. Tanggal cerai milik kop Intan. Kop Tanjung milik truk. Beda. Beda ia jaga. Jaga cukup untuk tidak merayakan pintu. Pintu tiga minggu. Tiga minggu ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur cukup. Di keuangan kaca, menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Angguk. Pergi. Lutut menurut. Enam akan ditagih malam. Tagih ia coba tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal dua kali. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih.
Sore ia cuci muka. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Tanggal hanya pintu. Pintu ia naiki kering, bukan sebagai penonton palu orang lain. Palu ini mejanya. Meja Intan. Kop Intan. Beda sabun dari pidana. Beda ia jaga. Ia buka pintu kamar kecil, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur cukup untuk tidak merayakan kalender rumah tangga.
Malam dapur. Ia tidak makan berdiri. Ia duduk di meja makan yang delapan tahun gelap, lampu kecil, bukan kristal. Kristal rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Telur. Teh. Meja terlalu lebar untuk seorang. Lebar jujur. Jujur cukup. Bukan pesta. Bukan rumah tenang. Tenang antri di belakang tanggal. Ia cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Kanvas dinding. Daftar: *cerai tiga minggu tanggal; isi belum; tidak pesta; tidak rilis; kelas Sabtu; capek.* Enam baris. Kolom: *telur meja. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak pesta tanggal. Saya datang kering. Saya papan. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Kamar tamu. Ratu. Bukan putus. Bukan rujuk. Yang milik malam ini: tanggal, telur di meja yang gelap, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Truk. Tidak gerbang. Tidak judul segera. Kertas. Antri. Kering. Cukup. Tidak damai. Damai antri di belakang palu rumah tangga yang belum jatuh. Palu itu tangga. Tangga ia naiki tanpa sewa, tanpa pesta. Tidak. Satu kata. Cukup. Ratu kerja. Jendela. Kota. Angka. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Tanggal bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Tanggal antri. Isi belum. Palu cerai belum. Belum. Tahta masih.
Sebelum lift ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak membawa tanggal ke rilis. Rilis diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet truk. Truk jujur. Jujur Senin. Senin kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Tiga minggu. Tiga minggu ia jalani di papan. Papan bukan pesta. Pesta ditolak. Tidak. Ya.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala TV. TV bebas. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak merayakan tanggal. Merayakan pesta. Pesta ditolak. Tiga minggu ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di amplop. Ia tidak menelepon Intan untuk 'kita menang'. Menang bunga. Bunga dikembalikan. Tidur. Coba enam. Coba cukup.