Pesan Dina masuk pagi-pagi, ditulis dengan cara yang khas dirinya — langsung, tanpa pembukaan, dengan pintu keluar yang sudah disiapkan di kalimat terakhir.
Warung malam ini. Aku bawa satu orang, teman SMA-ku, bukan orang bisnis. Dia tidak baca portal, tidak tahu apa-apa soal kamu. Kalau kamu batal, aku tidak akan marah.
Nirwa membacanya di depan papan keterlambatan, dengan bunyi mesin dari lantai bawah masih terdengar samar di telinganya.
Ia membalas dalam tiga baris: malam. Satu jam. Tidak bawa map, tidak bahas berita.
Lalu ia menaruh ponselnya menghadap ke bawah dan menandatangani perkiraan permintaan bulan depan, karena satu janji makan malam bukan alasan untuk menunda pekerjaan siang.
Pagi itu ada satu keputusan kecil yang harus diambil sebelum apa pun yang lain.
Seorang kepala regu mengajukan izin memakai satu truk cadangan untuk pengiriman yang sebenarnya tidak mendesak — pelanggan lama, hubungan baik, permintaan yang disampaikan dengan sangat sopan.
Nirwa membaca permintaannya dua kali.
'Kalau truk ini dipakai,' katanya, 'yang jadwal Kamis bagaimana?'
'Mundur sehari, Bu.'
'Dan pelanggan yang Kamis itu sudah pernah kita mundurkan?'
Kepala regu itu memeriksa catatannya. 'Sudah. Dua kali bulan lalu.'
'Kalau begitu tidak,' kata Nirwa. 'Yang sudah dua kali mundur tidak boleh mundur lagi hanya karena yang satu lagi lebih pandai meminta.'
Ia menandatangani penolakan itu sendiri, dan menuliskan alasannya di kolom keterangan — bukan supaya terlihat adil, melainkan supaya kalau ada yang mempertanyakannya tiga bulan lagi, alasannya bisa dibaca tanpa perlu mengingat-ingat.
Lestari datang pukul sebelas, seperti biasa, dan tetap sekaku biasanya.
'Yang saya tahan minggu lalu tetap tertahan,' katanya. 'Tidak ada yang saya longgarkan.'
'Ada yang mendorong?'
'Selalu ada,' kata Lestari. 'Sekarang alasannya lebih halus. Katanya suasananya sudah membaik.'
'Dan jawaban Anda?'
'Suasana bukan angka,' katanya.
'Tahan,' kata Nirwa. 'Terima kasih tetap kaku.'
Ada satu permintaan yang masuk siang itu, dan Nirwa menolaknya tanpa berpikir lama: pertemuan empat mata dengan seorang anggota dewan yang ingin, katanya, membicarakan cara menyikapi kehidupan pribadi seorang pemimpin di tengah sorotan.
Ia membalasnya lewat surel resmi, tiga kalimat, dengan tembusan ke sekretariat.
Kalau ada usulan tentang tata kelola, silakan diajukan lewat agenda komite. Kalau ada usulan tentang hidup saya, saya tidak menerima usulan.
Sinta membaca balasan itu sebelum dikirim dan tidak berkomentar apa-apa, hanya menekan tombol kirim.
Sore harinya Dodi mampir dengan kabar yang lebih pendek dari biasanya. Nama Roni sempat beredar lagi di kalangan tertentu, tapi hanya sebagai gosip; penyidik tidak meminta keterangan apa pun dari jajaran direksi.
'Ibu tetap bukan wasit di perkara ini,' katanya menutup. 'Nama Ibu ada di kop perusahaan, bukan di daftar pihak. Jangan mengisi kekosongan berita dengan urusan pribadi.'
'Tidak akan,' kata Nirwa.
Sebelum berangkat, ada satu hal yang hampir membatalkan semuanya.
Pukul enam sore, ketika Nirwa sudah mengambil kunci mobil, bagian hubungan investor menelepon: seorang analis besar meminta panggilan mendadak malam itu juga, katanya penting.
Nirwa menahan diri sebentar sebelum menjawab.
'Materinya apa?'
'Belum disebutkan, Bu. Katanya soal arah perusahaan setelah semua ini.'
'Kalau materinya belum disebutkan, artinya belum penting,' kata Nirwa. 'Jadwalkan besok pagi, dengan agenda tertulis. Kalau beliau menolak menulis agendanya, berarti memang bukan soal arah perusahaan.'
'Baik, Bu. Kalau beliau tersinggung?'
'Biar tersinggung,' katanya. 'Yang penting kita tidak membiasakan orang menelepon di luar jam dan menyebutnya penting.'
Ia menutup telepon, menaruhnya di dalam tas, dan berangkat.
Warung itu berada di ujung gang, dengan tiga meja panjang dan kipas angin yang berputar terlalu pelan. Dina sudah di sana lebih dulu, bersama seorang perempuan berambut pendek yang langsung mengulurkan tangan tanpa sedikit pun tanda mengenali siapa yang disalaminya.
'Wulan,' katanya. 'Teman satu bangku Dina waktu SMA. Sekarang guru.'
'Nirwa.'
'Kerja di mana?'
Dina hampir tersedak minumannya.
'Di perusahaan angkutan dan suku cadang,' kata Nirwa. 'Bagian yang mengurus supaya barang sampai tepat waktu.'
'Susah, ya, kalau macet begini,' kata Wulan.
'Susah sekali,' kata Nirwa, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia menjawab sebuah pertanyaan tentang pekerjaannya tanpa perlu menghitung akibat dari setiap kata.
Mereka makan nasi dengan lauk yang dipilih dari etalase kaca. Percakapan berputar di seputar murid-murid Wulan yang tidak mau membaca, harga cabai, dan sebuah film yang menurut Dina jelek tapi tetap ditontonnya sampai habis.
Tidak ada satu pun kalimat tentang saham, dewan, sidang, atau nama siapa pun yang selama lima bulan ini memenuhi kepala Nirwa.
Satu jam kemudian, seperti yang ia janjikan sendiri, ia pamit.
Di parkiran, Dina menahannya sebentar.
'Kamu makan lebih banyak dari biasanya,' katanya.
'Masakannya enak.'
'Bukan itu,' kata Dina. 'Kamu makan tanpa memeriksa ponsel sekali pun. Aku hitung.'
Nirwa berhenti sebentar di depan pintu mobil.
'Terima kasih sudah membawa orang yang tidak tahu apa-apa,' katanya.
'Aku sengaja,' kata Dina. 'Kamu butuh satu meja di kota ini yang tidak tahu kamu siapa.'
Di perjalanan pulang, ia melewati kantor pusat perusahaan sendiri — gedung yang lampunya masih menyala di beberapa lantai, seperti biasa.
Dulu, pemandangan itu selalu membuatnya menghitung: siapa yang masih di dalam, sedang mengerjakan apa, apakah ada yang tinggal karena pekerjaan atau karena ingin terlihat tinggal.
Malam itu ia melewatinya tanpa menghitung apa pun.
Di lampu merah terakhir sebelum rumah, ponselnya bergetar sekali. Pesan dari Wulan, nomor yang baru saja disimpan Dina di grup kecil bertiga: senang kenal, kapan-kapan makan lagi, aku traktir kalau gajian.
Nirwa membacanya dua kali.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang menawarinya sesuatu tanpa mengharapkan apa-apa — dan yang paling ganjil, tawaran itu datang dari orang yang sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang ditawarinya bisa membeli seluruh warung itu tanpa memeriksa harga.
Ia membalas dengan satu kata dan satu tanda: boleh.
Di rumah, sebelum tidur, Nirwa menulis satu baris di catatannya — bukan tentang angka, bukan tentang perkara.
Makan satu jam. Tidak ada yang bertanya tentang perusahaan. Ternyata masih bisa.