Rahmi pesan Jumat: *Sabtu kelas. Minggu jangan ke gedung. Kalau kamu bisa, pergi ke kota yang tidak ada rapat. Satu malam. Bukan pesta. Bukan wawancara. Kembalikan bunga. Tidur. Enam.* Nirwa: *Kelas. Minggu coba. Tidak pesta. Tidak wawancara.* Ia tidak menelepon Sinta untuk 'siapkan itinerary'. Itinerary naskah CEO. Naskah ditolak. Ia beli tiket kereta sendiri, inisial, bukan kop. Kop Senin. Minggu kota. Beda. Beda sabun.
Jumat sore, sebelum tiket, ia ke delay. Palet. Ketukan. Bukan karena ragu pergi, karena noda menahan dada agar tidak menjadikan rel sebagai piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Lestari lima menit: tertahan tetap, jangan longgar karena 'Ibu cuti'. 'Bukan cuti angka. Minggu rel. Senin truk. Invoice kamu,' kata Nirwa. Lestari: 'Tahan. Terima kasih kaku. Saya tidak tanya kota.' Pemisahan. Nirwa paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Rel belum. Belum malam ini. Malam ini telur. Telur kolom. Kolom menahan jari agar tidak foto tiket. Foto kultus. Kultus ditolak. Ia pulang. Dapur. Kunci. Kamar tamu. Tiket di laci, bukan di meja makan delapan tahun. Meja makan gelap. Laci jujur. Jujur cukup.
Sabtu kelas. Guru kaku cat. Nirwa jelek lagi, kuning yang terlalu kental. Jelek ia biarkan. Tidak foto. Tidak rapikan. Ponsel mati. Dua jam. Bak keruh. Trotoar. Nasi bungkus. Rumah. Kanvas ke dinding. Telur. Teh. Tidak TV. Ia packing kecil: kaos, kuas, tiket. Bukan setelan. Setelan papan. Papan Senin. Minggu rel.
Minggu pagi, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Ia tidak jelaskan. Menjelaskan judul. Judul ditolak. Kereta. Jendela. Sawah. Tidak map delay. Map delay di meja CEO. Meja Senin. Hari ini kota yang tidak memanggilnya Bu. Stasiun. Kopi buruk. Jalan kaki. Hotel kecil, bukan suite. Suite naskah ratu. Naskah ditolak. Ia duduk di teras, coret kertas, lebih jelek daripada kelas. Jelek jujur. Jujur cukup. Tidak ada jadwal rapat. Tidak ada selasar. Tidak ada belas. Ada angin. Angin sebagai angin. Tanda sudah cukup di tiket. Ia tidak menelepon Intan untuk 'apakah saya boleh pergi'. Boleh bukan izin palu. Palu sudah. Cerai antri. Antri tidak batal karena kereta. Kereta bukan percepat. Percepat ditolak.
Di teras ia hampir buka portal. Tidak. Dua kali duet. Ia coret lagi, kuning, air terlalu banyak, sama seperti kelas. Sama jelek. Jelek ia biarkan. Tidak foto. Tidak kirim Rahmi. Tidak kirim Dina. Kertas milik teras. Teras bukan koran. Koran biar mereka. Mejanya kopi buruk. Kopi jujur. Jujur lebih mahal daripada suite. Suite ditolak. Seseorang di meja sebelah bicara motor. Motor bukan saham. Nirwa tidak menyapa. Menyapa naskah ramah ratu. Naskah ditolak. Ia duduk. Napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak menjadi Bu di kota orang. Kota orang. Orang tidak kenal kop. Tidak kenal belas sah. Bagus. Bagus ia tidak jual. Jual bunga. Bunga dikembalikan. Kerja cat. Cat jelek. Jelek boleh. Boleh antri di kertas yang akan ia bawa pulang menghadap dinding. Dinding rumah. Rumah malam. Malam rel.
Siang ia makan di warung yang tidak kenal kop. Nasi, sambal, sendirian. Sendirian bukan kesepian. Kesepian antri. Antri yang lebih jujur daripada pesta palu. Ia tidak buka portal. Dua kali duet. Ia jalan sampai kaki berat, kembali, keran singkat di kamar kecil, tidur sore. Enam jam hampir. Rahmi akan puas sebagian. Sore ia ke stasiun lagi, tiket pulang. Kota tidak ia taklukkan. Takluk naskah. Naskah ditolak. Kota ia lewati. Lewat cukup. Cukup untuk tahu ada alamat yang bukan gedung. Bukan rumah delapan tahun. Bukan selasar. Rel. Rel jujur. Jujur Minggu. Minggu cukup. Cukup. Tidak pesta. Tidak. Ya.
Sebelum kereta pulang ia berdiri di peron, tidak foto rel. Foto piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Angin. Pengumuman. Ia naik. Jendela. Sawah balik. Map delay tidak. Kepala palet tidak. Kepala kertas jelek, nasi warung, kaki berat. Berat jujur. Jujur cukup untuk tidak merayakan liburan. Liburan judul. Judul ditolak. Rel sebagai rel. Tanda sudah cukup di tiket yang akan ia buang. Buang bukan malu. Malu naskah ratu yang tidak menyimpan bukti damai. Bukti meja Intan. Intan kering. Kering ia jaga. Jaga sampai stasiun asal. Satpam komplek angguk. Tidak bicara. Tidak bicara belas sah. Bagus. Rumah. Dapur. Telur.
Malam rumah. Dapur. Telur. Teh. Kanvas dinding. Cincin laci. Tidak lemari. Daftar: *kota tanpa rapat; kelas jelek; cerai antri; tidak percepat; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *nasi kereta. telur. coba enam.* Cermin: 'Saya pergi tanpa kop. Saya pulang tanpa pesta. Saya papan Senin. Cukup untuk Minggu. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Kesepian antri di belakang rel yang sudah ia naiki sekali. Ia tidur. Kamar tamu. Palu sudah. Isi tidak ia ulang. Nama di kop. Sudut di rumah. Kota yang tidak ada rapat. Beda. Beda ia jaga. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak judul liburan ratu. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima Senin bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Kereta kemarin bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Kota tanpa rapat sudah. Sudah bukan miliknya untuk dijual. Tidak. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup. Tidak sewa. Tidak nonton. Tidak pesta. Tidak. Ya.
Rumah malam pulang rel itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'liburan CEO'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Rel milik Minggu. Palet milik Senin. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Kerja. Palet. Tidak jual tiket. Tidak. Masih. Kertas jelek dari teras ia taruh menghadap dinding, sama seperti kanvas kelas. Dinding cukup. Tidak pamer. Pamer kultus. Kultus ditolak. Kota yang tidak ada rapat cukup dilewati sekali. Sekali bukan pesta. Pesta ditolak. Senin truk. Truk jujur. Jujur masih.