Senin. Lorong kurang rapat. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Sinta di ambang, tidak tanya kelas. Tidak tanya belas sah. Lestari lima belas menit: tertahan tetap, vendor bersih, satu telat jujur, covenant terkendali, jangan longgar karena 'pasar sudah lupa palu'. 'Lupa bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak percantik. Ibu kelihatan punya Sabtu. Saya tidak tanya. Saya kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih tidak tanya. Sabtu bukan cuti angka. Palu bukan forecast. Tahan.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin 'stabil'. Nirwa: 'Stabil janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi tenang. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Pagi itu telur, air, kopi belum. Tangan masih ingat kuas. Ingat bukan alasan longgar. Di mobil Sinta tidak tanya inisial. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Palu sudah. Kelas jelek. Jelek bukan rilis. Rilis diam. Diam kerja.
Siang, sebelum Intan, Nirwa ke delay sepuluh menit. Bukan kampanye. Ia perlu noda di mata sebelum kertas cerai, supaya antri tidak jadi naskah kalah. Kalah judul. Palet jujur. Jujur ia bawa ke ruang kecil. Ruang Intan. Kop Intan, bukan kop Tanjung. Beda sabun. Sabun dua forum, bukan satu naskah meja CEO.
Siang Intan, resmi: kelengkapan cerai jalan, Arman tanam 'percepat karena palu sudah'. 'Kita tidak percepat. Percepat naskah kalah atau naskah pesta, sama-sama campur. Forum. Antri sah. Ibu kering. Jangan bawa kelas cat ke meja saya sebagai bukti damai. Damai antri. Gugatan kering.' Nirwa: 'Tidak percepat. Tidak bukti damai. Tidak rujuk. Tidak cabut. Forum. Kering. Kerja.' Intan: 'Enam. Telur. Tanggal berikutnya masih antri, bukan putus. Putus hakim cerai. Hakim cerai belum. Palu pidana sudah. Beda. Beda Ibu jaga.' Nirwa: 'Beda. Tidak campur.' Tutup. Pantry. Air. Napas empat. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan puas sebagian.
Setelah Intan ia tidak membuka draf Arman. Membuka duet. Duet ditolak. Ia ke gedung, lorong, tengah. Tidak meratakan. Seseorang hampir 'turut, Bu, semoga cepat selesai'. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato cerai di lift kultus meja orang lain. Meja milik Intan. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun. Ia nasi kotak, pintu ke Sinta. 'Kalau lantai bilang cerai ikut palu, ulang kanal. Jangan tambah. Tambah judul.' Sinta: 'Siap. Kopi?' Nirwa: 'Pahit. Bukan pesta antri.' Ia minum. Pahit jujur. Jujur kolom.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Dina untuk 'kelas tadi jelek'. Menelepon piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Dina sudah cukup: jelek jangan dijual. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di kanvas. Kanvas milik Sabtu. Sabtu bukan rilis. Rilis diam. Diam kerja.
Sore Dodi: portal bosan palu, lapar 'kapan putus cerai'. 'Ibu jangan isi. Isi naskah. IR diam. Proses hukum rumah tangga bukan rilis perusahaan. Beda kop. Beda sabun.' Nirwa: 'Tidak isi. Truk.' Ia ke delay sampai senja. Jendela. Kota. Palu sudah. Cerai antri. Kelas Sabtu. Tiga. Tidak dicampur. Sinta tahan dua wawancara 'istri setelah palu, kapan menikah lagi'. Tolak. Format spekulasi. Nirwa kopi pahit. Empat mata 'menyusun narasi damai' ditolak. Email: *Tidak ada pernyataan rumah tangga. Kerja.* Kaku. Sabun. Pak Harun truk. *Bagus.* Ia tidak ke Bekasi. Antri bukan alasan pawai.
Sore, sebelum pulang, ia lewat logistik sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi sebelum muka belas. Belas 'Bu sudah tenang'. Tenang judul. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya cerai. Cerai milik Intan. Intan antri. Antri ia jalani di papan. Di keuangan kaca, menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Email kaku. Sabun. Ia berdiri di jendela, kota senja, napas empat. Percepat ditolak. Antri sah. Sah bukan kalah. Kalah naskah. Naskah ditolak. Nama cukup di kop. Kop kerja. Kerja truk. Truk jujur. Jujur cukup untuk tidak menjual Sabtu sebagai bukti. Bukti meja Intan. Intan kering. Kering ia bawa pulang.
Malam dapur, telur, teh, tidak TV. Ia tidak buka kanvas. Senin bukan Sabtu. Sabtu kelas. Senin truk. Beda. Beda ia jaga. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *cerai tidak dipercepat; kelas tidak dijual; palu tidak diulang; rantai jujur; capek.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak percepat. Saya tidak campur. Saya papan. Kelas milik Sabtu. Cukup untuk Senin. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Gagal pukul dua, keran singkat, kembali. Palu hakim pidana sudah. Palu cerai belum. Beda. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak judul putus. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Antri bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Palu sudah. Cerai antri. Nama di kop. Kop kerja. Kerja cukup. Tahta masih. Masih. Tidak percepat. Tidak. Ya.
Sebelum lift ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak membawa kelas ke meja Intan sebagai bukti. Bukti naskah. Naskah ditolak. Kepala papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur Senin. Senin kerja. Kerja tahta. Tahta masih.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala TV. TV kapan putus. Mejanya ranjang tamu. Ranjang kerja. Kerja cukup. Cukup untuk tidak mempercepat. Percepat naskah. Naskah ditolak. Palu pidana sudah. Cerai antri. Antri ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di kop Intan. Ia tidak menelepon Intan untuk 'kita menang tempo'. Menang bunga. Bunga dikembalikan. Tidur. Coba enam. Coba cukup.