Sabtu kedua. Nirwa tidak ke gedung. Sinta: *Lantai kerja. Ibu jangan masuk.* Nirwa: *Tidak masuk. Kelas. Bukan wawancara.* Telur. Teh. Keran singkat. Cermin: 'Bukan wasit. Bukan pesta. Kertas orang lain.' Ia bawa kanvas kecil, kuas murah, kaos yang bukan setelan. Alamat dari toko cat: kelas pagi, ruang lantai dua, tidak ada kop Tanjung. Bagus. Tidak ada kop belas sah.
Pagi itu mobil sendiri, radio mati. Ia tidak latihan muka di kaca. Latihan naskah ratu di kelas. Naskah ditolak. Badan lebih utuh dari lutut pantry. Enam jam semalam hampir. Cukup untuk duduk di bangku kayu yang goyang. Tidak damai. Damai antri. Antri kertas. Kertas milik guru yang tidak kenal kop. Guru perempuan, nada kaku, bukan kaku Lestari: kaku cat. 'Nama boleh inisial. Hari ini bentuk. Jelek boleh. Jelek yang dipaksa cantik saya potong.' Nirwa: 'Inisial. Jelek. Tidak foto.' Dua orang lain tidak menoleh. Tidak menoleh belas sah. Ia duduk di tepi, kanvas, biru yang terlalu banyak air lagi. Jelek. Jelek ia biarkan. Ponsel mati di tas. Mati bukan jeda. Jeda gagal dulu. Mati kelas. Kelas bukan papan. Papan Senin. Sabtu bentuk.
Sebelum kuas, ia hampir keluar. Keluar naskah takut. Takut boleh di keran. Tidak di tangga kayu. Ia napas empat. Empat cukup. Cukup untuk tidak menjadi Bu CEO di bangku goyang. Bangku goyang milik inisial. Inisial jujur. Jujur lebih mahal daripada kop. Kop Senin. Sabtu bentuk. Bentuk yang jelek. Jelek ia kejar seperti orang kejar delay: ketukan, bukan tepuk. Tepuk kultus. Kultus ditolak. Guru lewat, lihat biru, tidak puji. Tidak puji belas sah. 'Air. Kurangi. Atau biarkan. Biarkan juga keputusan.' Nirwa kurangi. Kurangi kerja. Kerja cat. Cat bukan invoice. Invoice Lestari. Lestari Senin. Sabtu air. Ia duduk sampai bahu kurang sakit daripada pantry. Pantry kerja. Bangku goyang bukan kerja. Bukan kerja aneh. Aneh ia biarkan. Aneh bukan naskah. Naskah ditolak.
Siang, setelah dua jam, guru: 'Cukup. Jangan rapikan di rumah supaya jadi piala. Piala bukan kerja cat.' Nirwa angguk. Ia tidak berterima kasih berlebihan. Terima kasih naskah kuat. Kuat ditolak di ruang goyang. Ia cuci kuas di bak kecil, air keruh, bukan keran dada. Keran dada rumah. Rumah nanti. Nanti telur. Sekarang tangga kayu, siang, kota yang bukan selasar. Selasar palu sudah. Sudah bukan miliknya untuk diulang. Tidak. Ia makan nasi bungkus di trotoar, berdiri, seperti orang yang tidak punya meja delapan tahun. Meja delapan tahun masih gelap. Trotoar jujur. Jujur cukup untuk Sabtu.
Di trotoar ia tidak buka ponsel. Membuka duet. Duet ditolak. Nasi bungkus, sambal kertas, angin. Angin sebagai angin. Seseorang lewat, tidak kenal. Tidak kenal belas sah. Bagus. Ia kunyah pelan. Pelan kolom. Kolom menahan dada agar tidak mengulang palu. Palu sudah. Sudah bukan mulutnya. Tidak. Satu kata. Cukup untuk trotoar. Tidak damai. Damai antri. Antri yang lebih jujur daripada pesta. Pesta ditolak. Ia buang kertas nasi, cuci tangan di warung sebelah, pulang. Radio mati. Kanvas di jok, menghadap bawah. Bawah cukup. Tidak pamer di kaca. Pamer kultus. Kultus ditolak.
Sore rumah. Kanvas basah ia taruh menghadap dinding, sama seperti kertas dulu. Dinding cukup. Tidak pamer. Pamer kultus. Kultus ditolak. Dina pesan: *Warung? Tidak harus.* Nirwa: *Tidak hari ini. Kelas. Jelek. Lain kali nasi.* Dina: *Bagus. Jelek jangan dijual.* Tutup. Nirwa tidak kirim foto. Foto judul. Judul ditolak. Ia masak telur, teh, tidak TV. TV sisa palu. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *kelas tidak kenal kop; jelek boleh; cerai antri; tidak rilis tenang; capek terkendali.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak ke gedung. Saya jelek di kelas. Kelas bukan tahta. Tahta di kop Senin. Cukup untuk Sabtu. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Kesepian antri di belakang kanvas yang menghadap dinding. Ia tidur. Kamar tamu. Kuas di gelas. Air keruh. Keruh jujur. Jujur Sabtu. Senin truk.
Sore hujan kecil. Hujan sebagai hujan. Ia tidak membuka portal 'hobi ratu'. Membuka duet. Duet ditolak. Ia cuci kuas di wastafel kamar tamu, air biru, bukan keran dada. Keran dada nanti. Nanti singkat. Singkat ia coba. Coba cukup. Guru bilang jangan rapikan jadi piala. Ia patuh. Patuh cat, bukan patuh koran. Koran biar mereka. Mejanya piring. Piring jujur. Jujur Sabtu. Sabtu cukup untuk tidak jadi naskah. Naskah ditolak.
Malam ia hampir buka portal 'kelas melukis selebritas'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Palu sudah. Isi tidak ia ulang. Cerai antri. Nama di kop. Sudut di rumah. Kelas yang tidak kenal kop. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Kerja Senin. Palet. Tidak selasar. Tidak judul hobi ratu. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima Minggu bangun, kebiasaan. Telur. Teh. Tidak gedung. Ia tidak rapikan kanvas. Rapikan piala. Piala ditolak. Ia duduk di bangku rendah, kota di jendela kamar tamu. Sama kota. Beda alamat dalam rumah. Beda ia jaga. Minggu ini bukan papan. Papan Senin. Senin kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Masih. Jelek. Jelek boleh. Boleh antri di dinding. Dinding bukan koran. Koran biar mereka. Mejanya piring. Piring jujur. Jujur cukup. Cukup untuk tidak jadi naskah. Naskah ditolak. Tidak. Ya. Kerja. Palet. Jelek boleh. Masih. Ya.
Rumah malam Sabtu itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'kelas melukis'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Kelas milik guru yang tidak kenal kop. Palet milik Senin. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Kerja. Palet. Jelek boleh. Tidak. Masih.