Pagi itu Nirwa tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Yang ia buka: map delay, air dulu, kopi belum. Lorong belah, kurang rapat dari hari palu. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Palu sudah. Isi tidak ia ulang. Cerai antri. Kursi orang sudah sah. Nama ia di kop. Kertas jelek di sudut rumah. Sudut bukan agenda rapat. Rapat palet. Palet jujur. Jujur cukup. Sinta di ambang, tidak tanya wawancara. Tidak tanya belas sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai bilang Ibu sudah tenang'. Tenang judul. Judul ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku.
Pagi itu telur ia makan berdiri. Berdiri kolom. Kolom menahan jari agar tidak memotret kertas cat untuk siapa pun. Memotret kultus. Kultus ditolak. Di mobil Sinta tidak tanya sudut. Tidak tanya Dina. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Hidup tanpa raja palsu bukan berarti rumah sudah tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip. Hari ini truk. Truk noda. Noda jujur.
Siang Lestari kaku: tertahan sebagian, vendor bersih, tutup buku tidak percantik, jangan longgar. 'Saya tidak rilis pulih. Pulih waktu. Waktu belum. Ibu kelihatan punya sesuatu di luar papan. Saya tidak tanya. Saya kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih tidak tanya. Papan truk. Luar papan bukan rilis.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin satu kalimat 'stabil setelah palu'. Nirwa: 'Stabil janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu. Palu bukan forecast.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi tenang yang dikejar. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Sore Dodi: portal mulai bosan angka, pindah ke 'kehidupan pribadi ratu'. 'Ibu jangan isi. Isi naskah. IR diam. Saya diam. Kerja.' Nirwa: 'Tidak isi. Truk.' Intan: cerai antri, kelengkapan jalan, tidak dipercepat. 'Ibu kering. Jangan bawa kertas cat ke meja saya sebagai bukti damai. Damai bukan bukti. Damai antri. Gugatan kering.' Nirwa pantry, air. 'Kering. Tidak bukti damai. Tidak rujuk. Tidak sapu. Tidak nonton sisa palu.' Tutup. Ia ke delay sampai senja. Jendela. Kota. Nama di gedung ini: Nirwa Tanjung, CEO, papan delay. Nama di rumah: orang yang jelek di kertas. Dua nama. Satu dada. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam mati. Tahta masih. Sewa tidak. Pulih belum. Rumah tenang belum. Belum boleh. Boleh antri. Antri kering. Kering masih. Kering yang mulai punya sudut.
Sinta ragu. 'Bu, satu permintaan wawancara "perempuan setelah palu". Saya tolak. Format spektakel.' Nirwa: 'Tepat. Setelah palu saya papan. Papan truk. Tolak.' Sinta ketik. Nirwa kopi pahit. Pahit jujur. Empat mata 'menyusun narasi tenang' ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun. Pak Harun truk biasa. *Terima kasih.* Ia tidak ke Bekasi. Palu dan kertas bukan alasan pawai. Pawai kultus. Lorong pulang: logistik angguk, keuangan menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore ia beli kanvas kecil di toko yang sama, kasir masih tidak kenal. Bagus. Kanvas masuk sudut kamar tamu, di samping kertas yang menghadap dinding. Ia tidak lukis malam itu. Malam itu telur. Teh. Tidak TV. Tidak lemari. Cincin laci. Kanvas kosong. Kosong jujur. Jujur lebih mahal daripada naskah 'sudah pulih di rumah'. Pulih waktu. Waktu belum. Kosong boleh. Boleh antri di sudut. Sudut bukan perang. Perang sudah. Palu sudah. Raja palsu sudah di tangga orang lain. Di sini kanvas. Kanvas tidak punya vonis. Vonis milik hakim. Hakim sudah. Sudah bukan miliknya untuk diulang. Tidak.
Sebelum restoran ia berdiri di depan kanvas kosong lebih lama daripada di depan portal. Portal lapar. Kanvas tidak. Kanvas menunggu tanpa judul. Judul ditolak. Ia tidak menelepon Dina untuk 'aku beli kanvas'. Menelepon piala. Piala naskah. Naskah ditolak. Dina sudah cukup: nasi, tidak tanya. Rahmi akan tagih telur. Telur ia bayar dengan makan, bukan dengan foto sudut. Foto kultus. Kultus ditolak. Ia kunci kamar tamu dari dalam, bukan karena takut, karena sudut perlu pintu. Pintu bukan lemari Gilang. Lemari tunda. Tunda masih. Masih boleh. Boleh antri. Antri bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak.
Malam Rahmi restoran, kuah. 'Kamu tidak ke gedung Sabtu, bagus. Orang akan puji kamu tenang. Puji bunga. Bunga kembalikan. Kerja. Tidur. Enam. Palu sudah. Cerai antri. Perusahaan jujur. Jujur belum pulih. Rumah belum tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip. Kamu boleh jelek di kertas. Jelek jangan dijual.' Nirwa makan pelan. Ia tidak membawa kanvas ke restoran. Membawa piala. Piala naskah. Naskah ditolak. 'Tidak bunga. Tidak pesta. Tidak nonton. Tidak rujuk. Tidak sapu. Lima. Kerja iya. Nama di kop. Sudut di rumah. Palu bukan saya. Tiga. Tidak dicampur.' Rahmi: 'Bagus. Aku tidak memeluk. Aku tagih telur. Teman warung itu, jangan jadikan saksi. Saksi meja lain. Teman boleh lapar nasi.' Nirwa: 'Dina. Nasi. Tidak saksi. Tidak saham.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang. Dapur. Telur. Teh. Lampu mati. Kanvas kosong di sudut. Daftar: *palu tidak diulang; cerai antri; kanvas kosong; Dina bukan saksi; rantai jujur; capek terkendali.* Enam baris. Kolom: *telur restoran. teh. coba enam.* Cermin: 'Nama saya di kop kerja. Sudut saya di kamar tamu. Palu sudah. Pulih belum. Tenang belum. Kerja sekarang. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Bukan vonis di mulut. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik kalender ini: tahta yang tidak disewa, kertas yang jelek, kanvas yang masih kosong. Tahta masih. Kerja besok. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Cukup begitu. Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Palu dan sudut bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Palu hakim sudah. Isi tidak ia ulang. Kursi orang sudah sah. Nama ia di kop. Rantai jujur. Sudut di rumah. Beda. Beda ia jaga. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup. Tidak sewa. Tidak nonton. Tidak pesta. Tidak. Ya.