Pagi setelah nama di kop, Nirwa tidak membuka draf sapu. Sapu sudah ditolak. Yang ia buka: map delay, air dulu, kopi belum. Lorong belah, kurang rapat. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Pembelaan tiga minggu bukan di mejanya. Mejanya suku cadang. Suku cadang jujur. Jujur cukup. Palu hakim antri. Palu dewan angka sudah. Beda. Sinta di ambang, tidak tanya wawancara. Tidak tanya belas sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai bilang dewan akan diisi Ibu'. Isi kejar. Kejar intimidasi yang dijual. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku.
Pagi itu telur ia makan berdiri, bukan karena buru, karena duduk terlalu lama terasa seperti menunggu undangan yang tidak ia kirim. Undangan kursi. Kursi orang. Orang komisaris muda yang izinnya berkepanjangan. Kekosongan itu sudah lama ia lihat di notulen, seperti lubang di lantai yang orang lain lewati dengan sopan. Sopan Wiryo. Wiryo bisa mengisi kalau semua diam. Diam di lobi ditolak. Diam di prosedur tidak. Prosedur milik Rahmi. Meja Nirwa milik palet. Palet tidak memilih siapa duduk di dewan. Palet memilih truk datang atau tidak.
Di mobil radio mati. Sinta tidak mengulang rumor lantai. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Hari ini kertas. Kertas prosedur. Prosedur bukan pesta. Pesta ditolak. Gedung iya. Gedung tidak menawarkan kursi. Gedung menawarkan papan. Papan ia buka.
Rahmi kirim, kop dewan, bukan restoran: prosedur pengisian kursi komisaris muda yang izin berkepanjangan. Sah. Bukan buru karena palu. Bukan hadiah untuk CEO. 'Kamu tidak usul nama. Kamu tidak telepon. Aku jaga independen. Kekosongan tercatat terlalu lama jadi lubang. Lubang itu bisa diisi Wiryo kalau kita diam. Kita tidak diam di prosedur. Kita diam di lobi. Beda.' Nirwa membaca di meja, roti karena kolom tubuh, bukan karena nyaman. 'Tidak usul. Tidak telepon. Tidak buru. Prosedur. Truk. Kalau ditanya, dewan sah, bukan karena sidang.' Ia paraf terima sebagai bahan, nada datar. Sinta yang kirim. Marah tidak tercatat di kop. Marah tidak ada. Yang ada: hati-hati. Hati-hati keran nanti. Sekarang kertas.
Setelah paraf ia berdiri di jendela lebih lama dari biasanya. Kota siang tidak memberitahu siapa yang pantas duduk. Kota hanya panas. Panas jujur. Jujur cukup. Nama-nama yang bisa ia usul sudah ada di kepala, seperti barang di laci yang tidak ia buka. Membuka usul. Usul CEO ke kursi independen adalah tekanan. Tekanan naskah. Naskah Wiryo: lihat, dendam. Dendam ia tidak kirim. Ia tutup jendela. Kembali ke delay.
Siang Lestari lima belas menit, resmi: tertahan sebagian, vendor bersih dua, covenant terkendali, jangan longgar karena 'dewan akan diisi jadi aman'. 'Isi kursi bukan izin cangkang,' kata Lestari. 'Saya tidak percantik. Ibu kelihatan lebih utuh. Saya tetap kaku.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih. Kursi dewan bukan invoice. Invoice kamu. Kursi Rahmi. Papan saya. Tiga. Tidak dicampur.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa ke papan. Palet. Kepala ritel ingin satu kalimat 'stabil'. Nirwa: 'Stabil janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar. Bukan bunyi kursi yang dikejar. Kejar naskah. Naskah ditolak.
Sore, sebelum Dodi, ia lewat logistik sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi sebelum muka belas. Belas 'Bu pasti masuk dewan'. Masuk kejar. Kejar ia tidak isi. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul kursi. Di keuangan kaca, kepala ke layar, menempel kurang. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Sore Dodi: pembelaan tetap, belum minggu ini. 'Ibu tidak datang. Tidak usul komisaris. Usul CEO ke kursi independen adalah tekanan. Tekanan naskah Wiryo: lihat, dendam. Prosedur Rahmi. Nama ke Sari kalau forensik. Beda kop.' Nirwa: 'Tidak usul. Tidak nonton. Truk.' Intan: cerai antri. 'Jangan campur kursi dewan ke gugatan. Gugatan kering.' Nirwa pantry, air, napas empat. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Ia ke delay lagi sampai lampu lorong ganti. Palet. Pak Harun: *Gudang baca truk.* Nirwa: *Bagus.* Dua kata. Gudang tidak nonton kursi. Gudang nonton palet. Itu yang ia jaga. Empat mata 'menyikapi dewan baru' ditolak. Email: *Prosedur dewan. Kerja. Jangan spekulasi nama.* Kaku. Sabun. Capek bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah ratu yang mengisi kursi. Mengisi kejar. Kejar ditolak. Ia paraf satu angka, jendela, napas. Tahta masih. Kursi orang tidak ia kejar. Tidak. Satu kata. Cukup untuk sore.
Malam Rahmi restoran, kuah, tagih telur. 'Kursi itu lubang. Lubang saya jaga dengan prosedur, bukan dengan namamu. Kamu truk. Jangan senang. Senang buru. Buru Wiryo baca. Tidur. Enam. Pembelaan antri. Palu antri. Cerai antri. Tiga antrian. Satu badan. Badan dibayar tidur, bukan kursi orang.' Nirwa makan pelan. 'Tidak buru. Tidak usul. Tidak nonton. Tidak sapu. Empat. Kerja iya. Kursi bukan saya.' Rahmi: 'Bagus. Nama kamu di kop. Kop kerja. Kursi dewan kop dewan. Beda. Beda itu tahta yang kamu rebut: hak tidak dicampur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *kursi tidak dikejar; prosedur Rahmi; pembelaan antri; rantai jujur; capek bahu.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak buru kursi orang. Saya papan. Papan truk. Cukup untuk hari prosedur. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu belum. Kursi iya, yang miliknya. Yang bukan miliknya tidak ia kejar. Kerja besok. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Prosedur kursi bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Nama di kop. Kursi orang di prosedur. Palu hakim antri. Tiga. Tidak dicampur. Tidak. Tahta masih.