Minggu sebelum pembelaan, lantai lapar tangga. Sinta kanal: tidak ada keputusan vonis; kerja; jangan spekulasi. Tetap lapar. Lapar judul. Nirwa tidak mengisi lapar dengan pidato. Ia mengisi dengan papan. Palet. Lorong. Tengah. Tidak meratakan. Lestari kaku: tertahan tetap, dua vendor bersih, satu telat jujur, jangan longgar karena 'minggu pembelaan'. 'Pembelaan orang lain bukan izin invoice,' kata Lestari. Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk. IR diam. Pasar datar. Nirwa tidak bingkai. Empat mata 'siap-siap menang' ditolak. Email kerja. Menang naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima.
Pagi itu telur, air, kopi tidak. Tangan. Di meja ia tidak membuka folder pembelaan. Folder bukan miliknya. Miliknya delay. Delay ia susun ulang, bukan karena berubah, karena jari butuh kerja yang tidak menonton mulut orang. Mulut Arman. Arman akan panjang. Panjang orkestrasi. Orkestrasi naskah. Naskah ia tidak hafal. Menghafal jadi wasit. Wasit ditolak. Sinta kopi pahit. 'Warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja. Jangan rilis tenang. Tenang janji.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota. Minggu ini bukan balkon. Balkon penonton. Penonton naskah. Naskah ditolak.
Siang Nirwa ke ruang sebelah IR hanya sebagai pendengar. Tidak bingkai. Pertanyaan mundur tidak. Rasio. Diam. Setelah call ia tidak minta kalimat 'dewan solid' atau 'CEO tenang'. Tenang janji. Janji peluru. Ia kembali ke delay. Palet. Folder pembelaan bukan di mejanya. Mejanya suku cadang. Suku cadang jujur. Jujur cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Hari ini truk. Truk delay atau tidak. Ia pilih yang jujur.
Setelah ruang sebelah lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, pegang wastafel, napas empat, gelas, kembali. Lorong lebih rapat menempel karena lapar tangga. Dua cuaca. Ia di tengah. Tidak meratakan. Seseorang hampir, 'Bu, minggu depan...' Tidak selesai. Nirwa angguk, tidak pidato. Pidato pembelaan di lift kultus data orang lain. Data milik ruang sidang. Lift milik orang yang mau ke lantainya. Beda. Beda sabun.
Sore Dodi: Arman akan panjang, orkestrasi, motif kuasa, 'istri merampas'. 'Ibu tidak datang. Tidak rilis bantahan. Bantahan duet. Duet ditolak. Kalau analis tanya, angka atau diam. Pembelaan milik pengadilan. Pengadilan bukan lobi.' Nirwa: 'Tidak datang. Tidak bantah. Truk.' Intan: cerai tidak dipercepat. 'Arman akan bawa pembelaan ke meja cerai. Kita forum. Ibu kering. Sekarang papan.' Nirwa pantry, air, pegang wastafel, napas empat, tidak duduk di lantai. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi pesan: *Jangan nonton. Jangan wasit. Makan. Enam. Kursi prosedur jalan. Kamu jangan masuk. Masuk kejar.* Nirwa: *Papan. Telur. Tidak nonton. Tidak masuk kursi.* Ia ke operasional sebentar, bukan parade: satu pertanyaan, angka, pergi sebelum muka belas. Supervisor tidak sempat doa. Nirwa suka itu. Muka kerja lebih mahal daripada judul tenang.
Sinta tahan tiga wawancara 'sikap sebelum pembelaan'. Tolak. Format spekulasi. Nirwa ke delay sampai senja. Jendela. Kota. Minggu ini bukan balkon. Balkon penonton. Penonton naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima. Diterima cukup untuk sore. Tidak damai. Damai antri. Antri pembelaan. Pembelaan orang lain. Orang lain Arman. Arman bukan papan. Papan ia jaga. Jaga kaku Lestari, gudang yang baca truk, kanal yang tidak spekulasi. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih.
Sore, sebelum lampu ganti, ia paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Telepon empat mata menyamar. Email kaku. Sabun. Ia berdiri di jendela, kota senja yang tidak memberitahu apakah Arman sudah selesai menulis naskah. Kota hanya panas yang turun. Panas jujur. Jujur cukup. Ramai milik selasar minggu depan. Selasar bukan sini. Sini palet. Palet ia buka lagi. Satu kolom delay mundur sehari, alasan jujur, bukan cantik. Cantik ditolak. Ia catat. Catat kerja.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Intan untuk 'apakah saya harus datang kalau Arman panjang'. Datang naskah. Naskah selasar. Selasar ditolak. Intan sudah cukup: jangan datang. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur. Jujur ia bawa sampai lampu lorong ganti. Palet. Suku cadang. Dua belas ribu orang di angka, bukan di kamera. Kamera selasar belum. Belum minggu ini. Minggu ini truk.
Sebelum pulang ia lewat logistik sekali lagi, bukan karena ragu, karena noda menahan dada agar tidak membuka portal. Portal akan pasang muka. Muka Gilang atau muka Arman. Sama-sama bukan palet. Palet ia jaga. Jaga kaku. Kaku cukup. Cukup untuk tidak jadi penonton. Penonton naskah. Naskah ditolak. Ia angguk ke supervisor, tidak pidato. Pidato 'kita siap' judul yang sama dengan 'kita sudah menang', hanya lebih malu. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya pembelaan. Pembelaan milik pengadilan. Pengadilan antri. Antri ia jalani di papan.
Malam dapur, telur, teh, tidak TV. TV akan pasang muka Gilang atau muka Arman, sama-sama bukan piring. Piring jujur. Cuci. Kunci. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *pembelaan minggu depan; tidak nonton; kursi tidak dikejar; rantai jujur; capek.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya bukan penonton pembelaan. Saya bukan wasit. Saya papan. Minggu ini truk. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Gagal pukul dua, keran singkat, kembali. Palu hakim antri. Pembelaan antri di depan palu. Depan bukan jatuh. Jatuh hakim. Hakim belum. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak judul tenang. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Minggu pembelaan bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Bukan balkon. Bukan wasit. Papan truk. Truk jujur. Jujur cukup. Palu belum. Belum. Tahta masih.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'pembelaan'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Pembelaan milik pengadilan. Palet milik papan. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup. Kerja. Palet. Tidak nonton. Tidak. Masih.