IR ingin paragraf 'CEO yang membersihkan nama perusahaan'. Nirwa menolak di ruang sebelah, tidak bingkai, sebelum call. 'Membersihkan nama adalah klip. Nama saya di kop yang sama, kerja yang sama, papan yang sama. Kalau rasio, rasio. Kalau diam, diam. Saya tidak di lobi sebagai sapu. Sapu naskah. Naskah Arman: lihat, ratu cuci diri di koran. Saya cuci invoice. Beda.' IR diam. Bagus. Diam lebih mahal daripada sapu. Lestari angka. Nirwa mencatat. Tidak masuk muka. Setelah call ia ke delay. Palet. Nama Tanjung di kop surat vendor. Kop itu kerja. Kerja noda. Noda jujur. Jujur ia jaga supaya tidak jadi billboard prematur. Billboard kultus. Kultus ditolak. Nama cukup di kop. Kop cukup di meja. Meja delay.
Pagi telur, teh, tidak buka portal 'CEO sapu'. Portal warung. Warung tidak. Gedung iya. Di mobil Sinta tidak tanya wawancara. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Nama di kop. Kop kerja. Kerja papan. Papan truk. Truk tidak sapu. Truk noda. Noda jujur.
Siang komite kecil — bukan Nirwa yang undang — kirim paragraf: tinjauan makan malam lanjut, kwitansi Roni masih, perpanjangan Lestari tercatat. Rahmi: *Jangan kejar yang izin. Kejar intimidasi. Nama kamu tidak perlu rilis. Kamu truk. Dewan baru nanti, sah, bukan karena palu. Palu belum. Jangan buru kursi orang.* Nirwa: *Truk. Tidak buru. Tidak rilis nama.* Ia kerja truk. Wiryo hormat dua baris, tidak menyebut sapu. Pisau halus. Nirwa tidak duet. Dessy diam. Diam mahal. Ia tidak isi. Sinta print akun, Nirwa baca sekali, folder dewan, bukan meja. Hormat pisau. Pisau tidak diasah di rilis.
Sore, sebelum Dodi, Nirwa ke delay sampai ketukan. Palet. Nama di kop surat. Kop kerja. Kerja noda. Ia tidak membuka draf wawancara yang Sinta sudah tolak. Membuka duet spektakel. Spektakel ditolak. Gelas pantry. Air. Sepuluh detik. Angguk. Pergi. Lutut menurut. Enam akan ditagih malam. Tagih ia coba tanpa cuti. Cuti jeda. Jeda gagal. Tidur kerja. Kerja tahta. Tahta masih. Nama di kop. Kop cukup.
Sore Dodi: pembelaan tiga minggu tetap; Roni angin; penyidik tidak minta CEO ke selasar. 'Ibu tetap bukan penonton. Nama di kop perusahaan jaga dengan angka. Nama di koran biar mereka. Beda kop. Beda sabun.' Nirwa: 'Beda. Truk.' Intan: cerai antri. 'Ibu jangan campur nama yang dibersihkan orang ke gugatan. Gugatan kering. Kering sudah.' Nirwa pantry, air. 'Kering. Tidak campur. Tidak sapu. Tidak nonton.' Tutup. Ia ke papan sampai senja. Jendela. Kota. Nama di gedung ini: Nirwa Tanjung, CEO, papan delay. Nama di selasar: istri, saksi sudah, bukan wasit. Dua nama. Satu dada. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam mati. Tahta masih. Sewa tidak. Pulih belum. Belum boleh. Boleh antri. Antri kering. Kering masih.
Sore, sebelum Sinta ragu, Nirwa paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon. Telepon empat mata menyamar. Format email. Kaku. Sabun. Nama di kop surat itu: Grup Tanjung, bukan sapu. Sapu naskah. Naskah ditolak. Ia berdiri di jendela, kota senja, napas empat. Nama cukup di sini. Di sini papan. Papan jujur. Jujur cukup.
Sinta ragu di ambang. 'Bu, satu permintaan wawancara profil "perempuan yang membersihkan tahta". Saya tolak. Format spektakel.' Nirwa: 'Tepat. Tahta tidak dibersihkan di wawancara. Tahta di papan. Papan truk. Tolak.' Sinta ketik, hampir tersenyum, lalu tidak. Nirwa kopi pahit. Pahit jujur. Empat mata 'menyusun narasi nama' ditolak. Email kerja. Kaku. Sabun. Pak Harun truk biasa. *Terima kasih.* Ia tidak ke Bekasi. Nama bukan alasan pawai. Pawai kultus. Lorong pulang: logistik angguk, keuangan menempel kurang. Ia tidak meratakan. Cuaca dua. Dua ia biarkan. Tengah. Map. Kerja.
Malam, sebelum restoran, ia hampir membuka lemari. Gagang. Lepas. Nama di kop bukan kunci parfum. Parfum tunda. Tunda bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Ia ke laci cincin, tidak pakai, tutup. Dapur. Urutan kecil menahan tangan agar tidak membalas puji di kepala. Puji bunga. Bunga dikembalikan. Pola. Selalu pola. Pola ia jaga.
Sore hujan kecil. Hujan sebagai hujan. Ia tidak membuka draf sapu. Sapu naskah. Naskah ditolak. Nama di kop. Kop kerja. Kerja papan. Papan truk. Truk cukup. Cukup untuk kuah. Kuah Rahmi. Rahmi tagih telur. Telur ia bayar dengan makan, bukan dengan wawancara.
Malam Rahmi, restoran, kuah. 'Nama kamu akan dipuji orang yang kemarin takut. Puji itu bunga. Bunga kamu kembalikan. Kerja. Tidur. Palu antri. Pembelaan antri. Cerai antri. Perusahaan basah yang mulai jujur. Itu cukup untuk malam. Tidak cukup untuk rumah tenang. Tenang nanti. Nanti bukan klip.' Nirwa makan pelan. 'Tidak bunga. Tidak sapu. Tidak nonton. Tidak rujuk. Empat. Kerja iya. Nama di kop. Kop kerja.' Rahmi: 'Bagus. Aku tidak memeluk. Aku tagih telur.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang. Dapur. Telur. Teh. Lampu mati. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *nama di kop bukan klip; Lestari kaku; pembelaan tiga minggu; vonis antri; rantai mulai jujur; capek terkendali.* Enam baris. Kolom: *telur restoran. teh. coba enam.* Cermin: 'Nama saya di kop yang sama. Saya tidak sapu di koran. Saya papan. Palu belum. Pulih belum. Kerja sekarang. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Bukan vonis. Bukan rujuk. Bukan rumah tenang. Yang milik kalender ini: angka yang mulai jujur, nama yang tidak diwawancara, tahta yang tidak disewa. Tahta masih. Kerja besok. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Cukup begitu. Pukul lima bangun, telur, teh, satpam. Angguk. Tidak bicara. Nama bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Palu hakim antri. Palu dewan angka sudah. Beda. Beda ia jaga. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup.