Pasar bereaksi pagi berikutnya, dan reaksinya persis seperti yang diperkirakan Lestari: goyang sebentar di jam pertama, lalu datar sepanjang sisa hari.
Beberapa analis mencari komentar pendamping dari perusahaan, tidak mendapatkannya, lalu kembali menulis tentang rasio utang dan syarat pinjaman seperti biasa.
Bagian hubungan investor tidak mengeluarkan satu kalimat pun. Nirwa tidak memberi kerangka apa-apa kepada siapa pun.
Sebelum rapat dimulai, ada satu hal kecil yang membuat Nirwa berhenti sebentar di koridor.
Papan pengumuman di dekat pantry — papan yang biasanya berisi jadwal pelatihan dan pengumuman koperasi — sudah ditempeli tangkapan layar berita pagi itu oleh entah siapa.
Ia melepasnya sendiri, melipatnya, dan membawanya ke ruangannya.
Sinta menyusul beberapa menit kemudian dengan wajah bersalah. 'Maaf, Bu. Saya belum sempat keliling.'
'Bukan salah Anda,' kata Nirwa. 'Tapi tolong sampaikan ke bagian umum: papan itu untuk pengumuman kerja. Kalau ada yang mau membaca berita, silakan di ponsel masing-masing, di luar jam kerja.'
'Perlu dibuat pengumuman resmi?'
'Jangan,' katanya. 'Pengumuman resmi akan membuat semua orang membicarakannya seminggu penuh. Cukup dilepas, dan kalau muncul lagi, dilepas lagi.'
Rapat angka digelar pukul sepuluh, dan Lestari membacakannya dengan cara yang sudah menjadi ciri khasnya — datar, tanpa satu pun kata sifat yang bisa dikutip.
Sebagian proses masih tertahan. Dua pemasok yang berkasnya bersih sudah kembali bergerak. Penutupan buku bulan ini dilakukan tanpa satu pun penyesuaian yang mempercantik tampilan. Rasio-rasio utama masih di dalam batas yang disyaratkan pemberi pinjaman.
'Mulai jujur bukan berarti sudah bagus,' kata Lestari, menutup laporannya. 'Kita masih terlambat di satu jalur, dan keterlambatan itu tetap saya tulis apa adanya.'
'Ada yang mengusulkan menulisnya lebih halus?'
'Ada,' kata Lestari. 'Saya tolak. Dan saya tidak akan mengeluarkan pernyataan apa pun yang memakai kata pulih.'
'Kenapa?'
'Karena pulih itu judul, bukan angka,' katanya. 'Kalau saya tulis pulih hari ini, tiga bulan lagi ada orang yang akan menagih janji yang tidak pernah saya buat.'
Nirwa menutup mapnya.
'Terima kasih tidak memakai kata itu,' katanya. 'Yang benar-benar pulih itu urusan waktu dan urusan palu orang lain. Waktu belum. Angkanya iya, sedikit.'
Setelah Lestari pergi, ia turun ke papan.
Satu pengiriman berjalan tepat waktu. Satu lagi terlambat dua hari — dan keterlambatan itu tercatat sebagai keterlambatan, bukan diselipkan ke kolom lain supaya papan terlihat lebih hijau.
Ia memilih membiarkannya merah.
Kepala regu gudang, yang sudah bekerja di gedung itu lebih lama daripada Nirwa sendiri, memandang papan itu sebentar dan berkomentar tanpa diminta.
'Dulu yang begini biasanya dipindah ke kolom sebelah, Bu.'
'Saya tahu,' kata Nirwa.
'Sekarang tidak?'
'Sekarang tidak,' katanya. 'Kalau papannya bohong, saya tidak bisa memutuskan apa-apa dari situ. Dan kalau saya tidak bisa memutuskan dari papan, saya akan memutuskan dari perasaan. Itu lebih mahal.'
Orang itu mengangguk pelan, dan kembali ke pekerjaannya.
Ada satu keputusan yang harus diambil hari itu, dan bobotnya jauh lebih besar daripada kelihatannya.
Seorang pemasok lama — yang berkasnya bersih dan yang selama ini sabar menunggu — mengajukan permintaan pembayaran dipercepat. Alasannya wajar: arus kasnya sedang sempit karena keterlambatan dari pihak lain.
Bagian keuangan mengusulkan menolak, dengan alasan menjaga posisi kas di tengah ketidakpastian.
Nirwa membaca berkasnya dua kali.
'Kita bayar,' katanya akhirnya.
'Posisi kas kita—'
'Masih di dalam batas,' potong Nirwa. 'Saya sudah lihat angkanya tadi pagi.'
'Kenapa harus sekarang, Bu?'
'Karena orang ini menunggu tanpa mengancam apa pun selama lima bulan terakhir, waktu semua orang lain menekan,' kata Nirwa. 'Kalau saya perlakukan dia sama dengan yang menekan, saya sedang mengajari semua pemasok bahwa satu-satunya cara didengar di sini adalah dengan menekan.'
Keputusan itu ditandatangani sebelum makan siang.
Menjelang siang, kata itu mulai terdengar lagi di lantai — bukan kemenangan kali ini, melainkan pulih. Beberapa orang mengucapkannya dengan nada lega, sebagian dengan nada ingin dilegakan.
Nirwa memanggil Sinta ke pintu ruangannya, bukan untuk pembicaraan tertutup.
'Kalau ada yang bilang perusahaan sudah pulih,' katanya, 'ulangi saja isi kanal resmi yang sudah ada. Jangan ditambah satu kalimat pun.'
'Kenapa jangan ditambah, Bu?'
'Karena tambahan apa pun akan jadi judul,' kata Nirwa. 'Dan judul selalu lebih cepat daripada koreksi.'
Sinta mencatat, lalu bertanya seperti biasa. 'Kopi?'
'Yang pahit,' kata Nirwa. 'Bukan yang manis.'
Ia meminumnya di depan jendela, memandang kota yang sedang sibuk dengan urusannya sendiri, dan menyadari sesuatu yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun hari itu: bahwa untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia melewati satu hari penuh tanpa satu kali pun memeriksa apakah namanya disebut di suatu tempat.
Bukan karena namanya sudah aman. Karena hari itu, kebetulan, ada terlalu banyak pekerjaan yang lebih pantas mendapat perhatiannya.
Menjelang sore, Intan menelepon dengan kabar yang tidak berhubungan dengan sidang sama sekali.
'Jadwal sidang cerai Ibu keluar,' katanya. 'Tiga minggu lagi. Tidak dipercepat, tidak ditunda, persis seperti antreannya sejak awal.'
Nirwa menerima kabar itu dengan cara yang mengejutkan dirinya sendiri: tanpa rasa apa pun yang perlu ditahan.
'Ada yang mencoba menggeser?'
'Ada,' kata Intan. 'Ditolak petugas, karena alasannya tidak masuk akal secara hukum. Saya cuma memastikan Ibu dengar dari saya, bukan dari orang lain.'
'Terima kasih.'
'Satu hal lagi,' kata Intan. 'Di hari itu nanti, jangan bawa siapa pun dari kantor. Bukan karena ada yang salah. Karena begitu ada orang kantor di ruang sidang keluarga, dua urusan itu bercampur di mata orang.'
'Tiga jalur,' kata Nirwa.
'Tiga jalur,' Intan mengiyakan.
Sore harinya ia menandatangani dua keputusan kecil, menolak satu permintaan wawancara, dan pulang pukul delapan.
Di mobil, Sinta tidak bertanya tentang putusan, tidak bertanya tentang sidang, tidak bertanya tentang apa pun yang tidak ada di dalam map hari itu.
Nirwa menatap kaca spion sekali, melihat wajahnya sendiri, dan tidak menemukan apa pun yang perlu diperbaiki sebelum sampai di rumah.