Pesan Intan masuk pukul lima pagi, sebelum alarm Nirwa berbunyi, dan isinya hanya tiga kalimat pendek.
Jangan datang. Jangan menonton siarannya. Ke kantor seperti biasa.
Nirwa membalas dengan satu kata: kantor.
Pagi itu ia menjalankan urutan yang sudah menjadi kebiasaannya sejak bulan-bulan pertama. Telur. Teh. Air dingin di wastafel selama lima menit, pergelangan tangan ditahan di bawah keran sampai denyut di dadanya turun ke tempat yang bisa ia bawa ke luar rumah.
Di depan cermin, ia mengulang tiga hal yang selalu ia ulang di hari-hari besar.
Urutan. Bukan wasit. Bukan penonton.
Satpam membuka gerbang seperti biasa. Sinta sudah menunggu di mobil dengan map hari itu. Radio dimatikan sejak mesin dinyalakan, dan siaran langsung dari pengadilan sudah diblokir dari semua layar di lantai eksekutif sejak semalam — bukan atas perintah Nirwa, melainkan atas inisiatif Sinta sendiri.
Nirwa tidak meminta untuk dinyalakan.
Di basement, lorong menuju lift terasa lebih rapat dari biasanya. Orang-orang berdiri lebih dekat ke dinding, lebih banyak yang menunduk ke layar ponsel, dan ada dua kelompok kecil yang berhenti bicara ketika ia lewat.
Ia berjalan di tengah, memegang map, tidak memberikan apa pun kepada siapa pun.
Lestari muncul di ruangannya pukul delapan lewat, seperti yang sudah dijadwalkan, dan hanya butuh lima menit.
'Penahanan internal tetap berlaku,' katanya. 'Semua yang saya tahan minggu lalu, tetap tertahan hari ini.'
'Ada yang minta dilonggarkan?'
'Dua orang,' kata Lestari. 'Alasannya sama: hari ini kan hari tuntutan, jadi katanya sudah aman.'
'Dan?'
'Saya bilang tuntutan bukan izin,' kata Lestari. 'Saya tidak melonggarkan apa pun hanya karena kalender pengadilan.'
'Tahan,' kata Nirwa. 'Terima kasih tetap kaku.'
Lestari pergi tanpa basa-basi, seperti biasa. Nirwa berdiri di depan papan selama sepuluh menit sesudahnya — bukan untuk memutuskan apa pun, melainkan supaya yang pertama masuk ke matanya pagi itu adalah dua baris merah keterlambatan pengiriman, bukan bayangan ruang sidang yang tidak ia hadiri.
Kepala ritel datang pukul sembilan, membawa berita dari luar di ujung lidahnya, dan menelannya kembali ketika Nirwa langsung bertanya tentang perkiraan permintaan komponen bulan depan.
Rapat itu berlangsung tiga puluh lima menit. Membosankan. Berguna.
Menjelang siang, Dodi datang — resmi, dengan map, dan tidak duduk lama.
'Ramai di luar,' katanya. 'Jaksa sudah membacakan tuntutannya. Gilang hadir. Arman bicara di depan wartawan setelah sidang, cukup panjang.'
'Nama saya?'
'Disebut dalam konteks kesaksian yang sudah Ibu berikan. Tidak lebih dari itu, dan tidak ada yang menonjol.'
Nirwa mengangguk sekali.
'Dua hal yang mereka cari hari ini,' lanjut Dodi. 'Wajah Ibu, dan angka tahun. Kalau salah satu saja kita berikan, besok itu yang jadi judul, bukan berkasnya. Bagian hubungan investor sudah saya minta diam. Saya juga diam.'
'Vonisnya?'
'Bukan hari ini,' kata Dodi. 'Pembelaan menyusul dulu. Setelah itu masih ada tahap lain. Putusan antre.'
Nirwa menulis tiga baris di buku catatannya setelah Dodi pergi. Tiga baris itu tidak memuat satu pun angka tuntutan — bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena angka itu milik hakim nanti, dan menuliskannya di buku catatannya sendiri hari ini akan membuatnya hidup di kepalanya sepanjang minggu.
Menjelang pukul tiga, Rahmi menelepon dari komite tata kelola — bukan soal sidang, melainkan soal jadwal perpanjangan pejabat keuangan sementara yang akan dibahas pekan depan.
'Saya sengaja menelepon hari ini,' katanya. 'Supaya kamu tahu bahwa agenda komite berjalan tanpa peduli apa yang terjadi di pengadilan.'
'Saya hargai itu.'
'Dan satu hal,' lanjut Rahmi. 'Ada yang mengusulkan agar pembahasan ditunda sampai putusan keluar. Alasannya supaya suasananya lebih tenang.'
'Ditolak?'
'Ditolak,' kata Rahmi. 'Kalau kita menunda keputusan tata kelola sampai ada palu, artinya kita mengakui bahwa tata kelola kita bergantung pada perkara. Itu justru yang selama ini dituduhkan orang.'
Nirwa menutup telepon dan menuliskan satu baris di catatannya: agenda komite tidak ditunda; alasan penundaan ditolak dengan alasan yang benar.
Kalimat itu, kalau dibaca orang lain, terdengar seperti catatan rapat biasa. Baginya itu satu-satunya kabar baik hari itu.
Sore harinya seorang wartawan menelepon langsung ke saluran ruangannya — entah dari mana mendapat nomornya.
Nirwa mengangkat, mendengar pertanyaan pertama, dan menjawab dengan satu kalimat yang sudah disiapkan berbulan-bulan lalu.
'Perusahaan tidak berkomentar tentang perkara yang sedang berjalan.'
'Tapi ini pertanyaan pribadi, Bu, bukan soal perusahaan.'
'Jawabannya sama,' katanya, lalu menutup telepon dengan sopan.
Ia meminta Sinta memeriksa dari mana nomor itu bocor. Bukan untuk menghukum siapa pun — untuk menutup celahnya.
Sebelum pulang, Sinta masuk membawa satu map tipis yang tidak ada dalam agenda hari itu.
'Dari bagian umum, Bu,' katanya. 'Daftar karyawan yang mengambil cuti mendadak minggu ini. Naik tiga kali lipat dibanding minggu biasa.'
Nirwa membacanya. Sebagian besar dari divisi yang paling sering disebut dalam berkas.
'Mereka takut dipanggil?'
'Sebagian iya,' kata Sinta. 'Sebagian lagi cuma capek ditanya-tanya tetangga.'
Nirwa menutup map itu. 'Sampaikan ke bagian umum: cuti mereka disetujui tanpa pertanyaan tambahan. Jangan ada yang diminta menjelaskan alasannya.'
'Baik, Bu.'
'Dan tolong pastikan tidak ada catatan apa pun soal ini di berkas kepegawaian mereka,' tambahnya. 'Orang yang butuh menghilang seminggu dari keramaian tidak boleh membayarnya sepuluh tahun ke depan.'
Pukul tujuh malam ia pulang. Radio tetap mati sepanjang jalan.
Di rumah, ia makan sisa nasi siang, mencuci piringnya sendiri, dan tidur lebih awal dari biasanya.
Hari itu tuntutan dibacakan di sebuah ruangan yang tidak pernah ia masuki, tentang perkara yang telah mengubah seluruh hidupnya, dan ia melewatinya dengan memeriksa jadwal pengiriman suku cadang.
Itu bukan ketidakpedulian. Itu satu-satunya cara yang tersisa untuk tidak kehilangan dirinya sendiri di ruangan yang bukan miliknya.
Menjelang tidur, ponselnya menyala sekali — pesan dari Intan, dikirim jauh lebih malam dari kebiasaan perempuan itu.
Isinya cuma satu baris: hari ini Ibu tidak melakukan satu pun kesalahan.
Nirwa membacanya dua kali, lalu meletakkan ponselnya menghadap ke bawah. Ia tidak membalas. Bukan karena tidak menghargai — karena membalas akan membuatnya terjaga sampai pukul satu, dan besok masih ada dua rapat sejak pagi.