Undangan komite tata kelola datang pagi, kop sah, bukan dampingan. Agenda: perpanjangan CFO interim, jalur audit, covenant. Bukan sewa kursi CEO. Nirwa membacanya di meja, kopi masih panas, dada dingin dari keran. Ia tidak membalas dengan pesta. Pesta perpanjangan adalah naskah 'sudah aman'. Aman cantik. Cantik ditolak. Sinta di ambang. 'Bu Rahmi minta Ibu datang. Bukan empat mata. Notulen. Lestari yang baca angka. Ibu jangan bela diri. Bela covenant.' Nirwa: 'Datang. Angka. Tidak pesta. Tidak longgar.' Ia buka folder Lestari — kaku, rasio, telat yang sudah jujur, risiko longgar lebih tinggi daripada reputasi 'dekat vonis'. Reputasi dekat bukan metrik. Covenant iya.
Sebelum komite ia ke papan sepuluh menit. Bukan kampanye. Kampanye tidak. Ia perlu noda di mata sebelum angka covenant, supaya perpanjangan tidak jadi naskah pahlawan. Pahlawan pecah. Pecah judul. Palet jujur. Jujur ia bawa ke ruang. Ruang notulen. Notulen sabun. Sabun dua kop, bukan satu naskah meja CEO.
Rahmi telepon, tidak teratur. 'Ini bukan dampingan. Ini menahan orang kaku di meja angka. Kalau dewan ganti CFO sekarang karena lapar palu, yang masuk bisa basah. Kamu datang. Kamu jangan marah. Aku jaga independen. Komisaris muda masih izin. Kekosongan tercatat. Dessy diam. Jangan telepon.' Nirwa: 'Datang. Tidak marah. Tidak telepon. Tidak nonton requisitoir sebagai alasan cuti. Cuti jeda. Jeda gagal dua kali. Kerja.' Tutup. Ia ke jendela. Kota. Perpanjangan bukan kemenangan. Perpanjangan kerja. Kerja tahta. Tahta masih.
Siang ruang komite, air mineral, bukan sampanye. Lestari membaca kaku: interim berjalan, rantai basah, jangan ganti di tengah antrian hakim, perpanjangan enam bulan, evaluasi tertulis, bukan janji cantik. Dodi jejak: kop keuangan, kop legal, bukan satu naskah meja CEO. Wiryo hadir, hormat, tidak usul dampingan. Pisau di sela diam. Nirwa tidak duet. Ia buka map delay, sengaja, supaya ruangan melihat palet sebelum mendengar dada. 'Catat. Saya dukung perpanjangan karena angka, bukan karena sidang. Sidang milik hakim. Meja ini milik covenant. Kalau Bapak ingin suasana, suasana sudah ditolak voting dua kali. Hari ini angka.' Rahmi: 'Usul perpanjangan. Bukan suasana. Voting.' Wiryo: tidak menolak, mencatat keberatan tempo. Independen yang tidak basah: setuju. Loyalis: setuju. Dessy: setuju, suara kecil, cukup. Nirwa tidak berterima kasih. Terima kasih undangan. Rahmi ketuk. 'Diterima. CFO interim enam bulan. Jalur audit lanjut. Kerahasiaan lanjut. Tutup.' Selesai. AC. Nirwa tidak berjabat tangan. Jabat tangan duet. Ia kumpulkan map, keluar lebih dulu, tidak berfoto.
Di koridor Wiryo tidak menyusul. Dessy tidak menyusul. Kekosongan itu sudah ia kenal: faksi kehabisan jas dokter, belum kehabisan naskah. Naskah akan pindah ke portal sebagai hormat. Hormat nanti. Sekarang lift. Lift cermin: utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang kata portal. Notulen: perpanjangan. Itu yang ia beli. Beli angka. Bukan pesta. Pesta ditolak.
Basement. Sinta. Nirwa: 'Kanal: tidak ada perubahan jabatan CEO. CFO interim diperpanjang, prosedur. Kerja. Jangan spekulasi vonis. Jangan kata menang.' Sinta ketik. Nirwa mobil, radio mati, napas empat. Palu hari ini notulen angka. Bukan palu hakim. Beda. Beda sabun. Gedung. Lorong. Seseorang hampir selamat. Nirwa tidak meratakan. Lestari mampir lima menit, resmi: 'Saya tidak percantik karena diperpanjang. Invoice berbau tetap tertahan. Terima kasih tidak menjadikan saya kemenangan Ibu.' Nirwa: 'Bukan kemenangan. Angka. Tahan. Terima kasih kaku.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan tetap. Nirwa nasi kotak. Empat mata selamat ditolak. Email: *Diterima. Kerja.* Kaku. Sabun. Ia ke papan. Palet. Kepala ritel pilih delay. Ketukan. Kerja. Bukan pesta kaku.
Sore Dodi: requisitoir minggu depan tetap. 'Ibu tidak datang. Tidak kirim pendukung. Pendukung kultus. Kultus dibaca intimidasi. IR diam. Kalau portal pasang perpanjangan CFO di samping klip jaksa, kita tidak klarifikasi. Klarifikasi campur. Campur makan malam.' Nirwa: 'Tidak klarifikasi. Tidak nonton. Truk.' Intan: cerai antri, tidak dipercepat. 'Jangan campur notulen CFO ke cerai. Ibu kering. Makan. Enam.' Nirwa: 'Kering. Telur. Tidak nonton.' Tutup. Pantry. Air. Lutut menurut. Enam jam semalam hampir. Rahmi akan puas sebagian.
Sore ia tidak ke Bekasi. Ritual ditahan. Perpanjangan bukan alasan pawai. Pawai kultus. Ia lewat logistik, noda, angguk, pergi. Supervisor angka. Nirwa suka angka. Angka tidak mengucapkan selamat. Selamat naskah. Naskah ditolak. Ia paraf forecast, jendela, napas empat. Tahta masih. Kaku di meja. Meja covenant. Covenant jujur. Jujur cukup untuk kuah. Kuah nanti. Nanti telur. Telur kolom.
Malam dapur, telur, teh, lampu kristal mati. Tidak TV. TV kaku yang dijadikan menang. Mejanya piring. Cuci. Kunci. Cincin laci. Daftar: *Lestari enam bulan; bukan dampingan; requisitoir minggu depan; rantai basah; capek.* Lima baris. Kolom: *telur. teh. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak longgar. Saya tidak pesta kaku. Kaku angka. Angka kerja. Cukup untuk hari komite. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Rumah besar. Perang. Ia tidur. Palu hakim antri. Palu dewan angka sudah. Beda. Kerja besok. Palet. Tidak selasar. Tidak judul aman. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh. Satpam. Komite bukan alasan pawai. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Kaku angka. Angka kerja. Kerja cukup. Palu hakim antri. Antri ia jalani di papan. Papan truk. Truk jujur. Jujur masih.
Rumah malam itu besar. Ia tidak nyala lampu kristal. Menyala rujuk lampu. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Dapur cukup. Setelah cuci ia hampir cek portal 'CFO interim'. Tidak. Dua kali duet. Ia kunci. Kamar tamu. Perang. Belum kesepian. Kaku milik angka. Palu milik hakim. Beda. Beda ia jaga. Jaga cukup. Cukup untuk tidur. Kerja. Palet. Kaku. Masih. Truk. Cukup.
Sebelum lampu mati ia duduk di bangku rendah, undangan komite tidak di pangkuan — undangan sudah notulen. Notulen angka. Angka kaku. Kaku ia pilih. Pilih bukan pesta. Pesta ditolak. Ia dengar hujan. Hujan sebagai hujan. Tanda sudah cukup di kop sah. Ia tidak menelepon Lestari untuk 'selamat'. Selamat bunga. Bunga dikembalikan. Tidur. Coba enam. Coba cukup.