Pagi itu, setelah gudang kemarin, Nirwa tidak membawa bau solar sebagai pidato. Bau sudah turun di mandi. Yang ia bawa ke gedung: map delay, kopi belum, air dulu. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Tanggal requisitoir bukan di mejanya. Mejanya suku cadang. Suku cadang jujur. Jujur cukup. Palu belum. Kursi iya. Sinta sudah siaga di ambang, tidak tanya vonis. Tidak tanya adalah belas yang sah. Belas yang tidak sah: 'Bu, lantai lapar palu'. Lapar judul. Judul ditolak. Kanal sudah tertulis. Tertulis kaku.
Pagi itu Nirwa makan telur lebih pelan dari kemarin. Pelan kolom. Kolom menahan jari agar tidak membuka portal 'kapan vonis'. Portal lapar. Lapar warung. Warung tidak. Gedung iya. Di mobil Sinta tidak tanya gudang. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Hari ini rantai. Rantai basah. Basah jujur. Jujur ia bawa ke papan.
Lestari lima belas menit, resmi, notulen, Dodi hadir sebentar. Invoice jembatan tetap tertahan. Satu vendor bersih di Cikarang akhirnya bergerak, telat dua hari, bukan cangkang. Satu nama baru di lampiran kecil — bukan Roni, bukan Karina, staf ex yang sudah mundur — ke forensik, ke Sari, bukan ke rilis. 'Saya tidak longgar karena tanggal jaksa,' kata Lestari. 'Longgar menunggu orang capek dan lapar palu. Ibu kelihatan capek. Saya tetap kaku. Rantai basah. Basah bukan alasan cantik. Cantik covenant yang berbohong.' Nirwa: 'Kaku. Terima kasih. Kalender jaksa bukan izin invoice. Kalender Intan bukan covenant. Gudang kemarin bukan pawai. Pawai ditolak. Kerja iya.' Lestari pergi makan di lantainya. Pemisahan. Nirwa nasi kotak nanti. Sekarang papan. Palet. Kepala ritel ingin satu kalimat 'kita sudah bersih'. Nirwa: 'Bersih janji. Terkendali. Atau diam. Pilih diam kalau ragu. Satu vendor bergerak bukan bersih. Bersih palu orang lain dan angka kita yang jujur. Angka belum selesai. Selesai cantik. Cantik ditolak.' Mereka pilih delay. Ketukan. Bunyi yang ia kejar.
Siang Sinta: dua media minta 'sikap CEO setelah dekat vonis'. Tolak. Format spekulasi. IR diam. Pasar datar. Nirwa ruang sebelah, tidak bingkai. Pertanyaan mundur. Tidak. Ia mencatat. Tidak masuk muka. Setelah call lutut berat, bukan lantai. Pantry, air, pegang wastafel, napas empat, gelas, kembali. Sinta kopi pahit. 'Warna Ibu manusia.' Nirwa: 'Jangan rilis kesehatan. Kesehatan dada. Kerja. Jangan rilis basah. Basah metrik Lestari, bukan judul.' Sinta angguk. Nirwa ke jendela. Kota. Rantai masih basah. Basah ia jaga di papan, bukan di koran. Koran lapar palu. Palu hakim. Hakim antri. Antri bukan selesai. Selesai naskah. Naskah ditolak.
Sore, sebelum Pak Harun, Nirwa ke lantai operasional sekali, bukan parade. Satu pertanyaan suku cadang, jawaban angka, pergi. Orang menatapnya seperti orang menatap yang seharusnya merayakan dekat palu. Ia tidak isi tatapan itu. Mengisi pidato. Pidato 'kita hampir selesai' judul yang sama dengan 'kita sudah menang', hanya lebih malu. Ia pilih diam. Diam kerja. Kerja palet. Palet tidak punya vonis. Vonis milik hakim. Hakim antri. Antri ia jalani di papan.
Sore Pak Harun: *Truk bergerak yang kemarin mogok. Vendor bersih. Orang tanya vonis. Saya bilang tidak tahu, kerja.* Nirwa: *Bagus. Gaji sama.* Ia ke delay lagi, berdiri lebih lama daripada duduk. Satu truk tepat. Tepat bukan pesta. Tepat kerja. Empat mata 'merayakan gerak' ditolak. Email: *Prosedur. Kerja. Jangan spekulasi pidana.* Kaku. Sabun. Di keuangan kaca, kepala ke layar, menempel, kurang rapat. Ia tidak masuk. Tidak meratakan. Capek di bahu. Bahu tidak ia serahkan ke ucapan kuat. Kuat naskah ratu yang sudah menang. Menang palu. Palu belum. Ia paraf satu angka, jendela, napas empat. Tahta masih. Meja tidak sewa. Rantai basah. Basah jujur. Jujur lebih mahal daripada judul dekat.
Sore ia cuci muka di kamar kecil CEO. Cermin: pucat, utuh. Utuh cukup. Menang belum. Ia tidak telepon Intan untuk 'apakah saya harus datang kalau tuntutan disebut'. Datang naskah. Naskah selasar. Selasar ditolak. Intan sudah cukup: jangan datang. Ia buka pintu, muka kerja. Kerja palet. Palet jujur.
Malam Rahmi restoran, kuah, tagih telur dan enam jam. 'Perusahaan masih basah. Itu pekerjaanmu sekarang, bukan wasit sidang. Lestari kaku, bagus. Jangan ganti kaku dengan cantik karena orang lapar palu. Palu hakim. Kamu truk. Tidur. Dessy diam. Wiryo elegan. Jangan isi. Jangan telepon.' Nirwa makan pelan. 'Tidak wasit. Tidak cantik. Tidak nonton. Tidak telepon. Empat. Kerja iya. Rantai basah. Basah saya jaga.' Rahmi: 'Bagus. Nama kamu akan dibersihkan orang dengan klip. Kamu bersihkan dengan angka. Beda. Beda itu tahta.' Mereka bayar terpisah. Nirwa pulang, radio mati. Rumah. Dapur. Nasi. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *rantai basah; vendor bersih satu; nama kecil forensik; requisitoir antri; capek bahu.* Lima baris. Kolom: *telur restoran. nasi. coba enam.* Cermin: 'Saya tidak wasit. Saya tidak cantik. Saya jaga rantai. Rantai basah. Basah kerja. Cukup untuk hari setelah gudang. Tidak cukup untuk damai.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di kamar tamu. Palu belum. Kursi iya. Kerja besok. Palet. Tidak balkon. Tidak judul bersih. Kertas. Truk. Satu dada. Masih.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Gudang kemarin bukan alasan pawai. Rantai basah bukan alasan cantik. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Basah jujur. Jujur cukup. Palu belum. Kursi iya. Iya. Tahta masih. Masih.
Malam hujan. Hujan sebagai hujan. Ia tidak membuka portal 'bersih'. Membuka duet. Duet ditolak. Ia cuci piring, kunci, kamar tamu. Rumah besar. Perang. Belum kesepian. Rantai basah milik papan. Palu milik hakim. Beda. Beda ia jaga sampai tidur. Tidur tagihan. Tagihan ia coba. Coba cukup.
Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap. Satpam angguk. Tidak bicara. Gudang kemarin bukan alasan pawai. Rantai basah bukan alasan cantik. Ia ke gedung. Lorong. Tengah. Palet. Kerja. Basah jujur. Jujur cukup. Palu belum. Kursi iya. Iya. Tahta masih. Masih. Kerja. Truk. Cukup. Ya.