Pagi setelah tanggal, lantai sudah lapar palu. Sinta kanal: tidak ada keputusan vonis; kerja; jangan spekulasi. Tetap lapar. Lapar judul. Nirwa tidak mengisi lapar dengan pidato. Ia mengisi dengan papan. Palet. Lorong. Tengah. Tidak meratakan. Lestari kaku: tertahan tetap, tutup buku terkendali, tidak percantik karena 'dekat vonis'. 'Dekat bukan vonis,' kata Lestari. 'Saya tidak longgar pada dekat.' Nirwa: 'Tahan. Terima kasih kaku.' Pak Harun truk. IR diam. Pasar datar. Nirwa tidak bingkai. Empat mata 'siap-siap menang' ditolak. Email kerja. Menang naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima.
Pagi itu Nirwa makan telur, teh, tidak buka portal 'kapan vonis'. Portal lapar. Lapar warung. Warung tidak. Gedung iya. Di mobil Sinta tidak tanya tanggal. Tidak tanya belas sah. Nirwa menatap kaca sekali, muka utuh. Utuh cukup. Menang belum. Menang palu. Palu belum. Hari ini papan. Papan truk. Truk tidak lapar palu. Truk delay atau tidak. Ia pilih yang jujur.
Siang Dodi: requisitoir dua minggu tetap; saksi minggu ini selesai satu nama; Roni masih angin; Karina terkait, bukan tertangkap; Gilang terdakwa dan masih pihak cerai. 'Ibu tidak ke tiap sidang. Tidak ke requisitoir. Tidak rilis. Vonis mendekat artinya orang lapar, bukan artinya palu minggu ini. Palu hakim. Hakim antri. Antrian kelihatan. Kelihatan bukan jatuh.' Nirwa: 'Tidak nonton. Tidak segera. Tidak pesta dekat. Truk.' Dodi pergi. Nirwa ke jendela. Kota. Tanggal di kalender jaksa. Tanggal cerai di kalender Intan. Kursi di sini. Tiga. Tidak dicampur. Campur makan malam. Makan malam mati. Ia napas empat. Dada ya. Keran nanti. Sekarang angka.
Sore, sebelum Bekasi, Nirwa paraf satu surat vendor, alihkan ke Lestari, tidak telepon operasional. Telepon empat mata menyamar. Format email. Kaku. Sabun. Folder tanggal tetap di tepi, tidak di dada. Dada keran sudah. Kerja papan. Papan truk. Truk tidak baca dekat. Dekat judul. Judul ditolak.
Sore Nirwa ke gudang Bekasi sekali, bukan pawai — tanpa konvoi, setelan tidak kamera, karena ritual ditahan terlalu lama juga bisa jadi naskah sebaliknya, dan karena dekat palu membuat orang ingin karangan. Pak Harun di loading. 'Bu datang. Orang kaget. Saya bilang kerja. Orang tanya vonis. Saya bilang tidak tahu, kerja.' Nirwa: 'Bagus. Gaji sama. Kalau tanya jaksa, tidak tahu, kerja. Kalau tanya kapan ramai selesai, tidak tahu, kerja.' Teh manis kantor gudang, panas, angka delay. Satu truk mogok, vendor bersih. Ia tidak tarik mogok ke Gilang. Ratu yang menuduh setiap mogok sebagai kudeta adalah ratu lelah dan berbahaya. Ia minum, lima belas menit lapangan, pergi sebelum pawai. Bau kardus, solar, keringat. Gudang tidak berbohong dengan parfum. Beberapa pekerja menunduk terlalu dalam. Beberapa menatap terlalu lama. Nirwa tidak pidato dua belas ribu orang. Kalimat itu sudah di podium, sudah dipotong portal. Di sini cukup: kerja, gaji, truk. Sinta mengemudi. Radio mati. Nirwa tutup mata tiga menit. Buka. Kota. Rumah jauh. Gudang cukup untuk tidak jadi penonton di tangga orang lain. Penonton naskah. Naskah ditolak. Kerja diterima.
Di jalan pulang dari Bekasi, Nirwa tidak membuka kalender. Kalender sudah cukup di kertas Dodi. Kertas bukan di tas gudang. Kertas Dodi dan Intan. Beda kop. Beda sabun. Bau solar masih di lengan setelan. Bau itu jujur. Jujur lebih mahal daripada judul dekat. Ia biarkan bau. Radio mati. Mata tertutup tiga menit. Buka. Kota. Gudang cukup untuk tidak jadi penonton. Penonton naskah. Naskah ditolak.
Rahmi telepon di jalan pulang. 'Kamu ke gudang, bagus, asal bukan pawai. Blok belum mati. Elegansi masih akun. Publik lapar palu. Kamu jangan jadi wasit. Wasit hakim. Kamu kursi. Kursi kerja. Tidur. Enam. Perusahaan masih basah. Jangan kira tanggal sama dengan selesai. Selesai palu. Palu belum.' Nirwa di mobil, radio mati. 'Tidak wasit. Tidak pesta. Tidak nonton. Kursi. Telur. Tidur.' Ia tidak tersenyum. Senyum judul. Bau solar di lengan. Bau jujur. Jujur lebih mahal daripada judul dekat.
Sampai rumah ia mandi, bukan keran lima belas menit. Mandi, lalu keran singkat. Bau solar turun. Kolom. Badan. Kursi besok. Besok truk. Truk ia pilih. Pilih itu yang menjaga supaya ia tidak jadi wasit di koran.
Malam, sebelum telur, ia hampir membuka lemari Gilang. Gagang. Lepas. Tanggal jaksa bukan kunci parfum. Parfum tunda. Tunda bukan rujuk. Rujuk naskah. Naskah ditolak. Ia ke laci cincin, tidak pakai, tutup. Dapur. Wajan. Urutan kecil menahan tangan agar tidak mencari 'kapan vonis' di kepala. Mencari penonton. Penonton ditolak. Pola. Selalu pola. Pola ia jaga.
Malam dapur, telur, teh, lampu mati. Tidak lemari. Cincin laci. Daftar: *requisitoir dua minggu; vonis mendekat belum jatuh; cerai antri; Roni angin; Wiryo elegan; capek terkendali.* Enam baris. Kolom: *teh gudang. telur. coba enam.* Cermin: 'Saya saksi sudah. Saya penggugat masih. Saya CEO masih. Palu belum. Tanggal iya. Tanggal bukan palu. Empat. Tidak dicampur. Tidak sewa. Tidak pesta. Tidak belas. Tidak penonton. Cukup untuk malam. Tidak cukup untuk rumah tenang.' Cermin tidak berdebat. Ia tidur. Ratu di ranjang tamu. Bukan vonis. Bukan rujuk. Bukan rumah yang tenang. Yang milik kalender ini: tangga yang kelihatan, truk yang masih noda, tahta yang tidak disewa. Tahta masih di sini. Kerja besok. Tidak gerbang. Tidak balkon tiap hari. Tidak judul segera. Kertas. Truk. Dua jalur. Satu dada. Masih. Cukup begitu. Pukul lima bangun, telur, teh, komplek gelap, satpam angguk. Tidak bicara. Gudang kemarin bukan alasan pawai hari ini. Pawai kultus. Ia ke gedung. Lorong belah. Tengah. Lampu. Jaket. Kota. Palet. Kerja. Tanggal bukan di mejanya. Mejanya delay. Delay jujur. Jujur cukup. Palu belum. Belum. Kursi iya. Iya. Tahta masih. Masih. Kerja. Cukup. Mendekat. Belum jatuh. Beda itu masih ia jaga. Jaga itu kerja. Kerja itu tahta. Tahta masih. Masih. Palet. Truk. Kering. Kerja. Cukup. Masih. Noda. Jujur. Ya.